Jodoh tak bisa di rebut.

"Dia tidak menyukaimu." ucap Gibran meraih tangan Bunga yang masih berdiri terpaku melihat Dewi dan Raka keluar dari pintu.

"Benar Mas." jawab Bunga tersenyum, kembali duduk di samping Gibran.

*

*

*

Hari-hari berlalu begitu cepat, namun luka dalam yang dialami Gibran masih belum pulih sepenuhnya. Terlalu memaksa dan menguras tenaga saat berkelahi, lalu mendapat serangan lagi ketika dia tidak siap membuatnya kesulitan untuk sembuh seperti sedia kala.

"Mas tidak usah bekerja, biar Bunga saja yang mengawasi toko kita." Bunga meminta Gibran beristirahat.

"Sebenarnya Mas sudah bisa pergi ke toko, cuma terkadang terasa pusing." ucap Gibran menyandar di ranjang.

"Mas belum pulih. Jujur Bunga keberatan dengan perkelahian seperti itu, kalau terluka dokter tak bisa menyembuhkannya." Bunga menyelimuti hingga ke perut Gibran.

"Ya, sudah resiko Sayang, Allah titipkan kekuatan yang tanpa diminta ini, Mas harus pergunakan untuk menjaga banyak orang, terutama kamu dan Tiara." Gibran mengelus wajah Bunga, mereka selalu mesra sejak dulu hingga sekarang tak pernah berubah.

Bunga hanya bisa menarik nafas dengan jawaban Gibran. Tentu ia mendukung jika itu untuk kebaikan, tapi jika sampai seperti ini rasanya dia tidak rela.

"Bunga berangkat dulu ya Mas." Bunga meraih tangan Gibran dan menciumnya.

"Ya, hati-hati Sayang." Gibran meraih Bunga hingga menempel, mengecup keningnya.

"Mas masih saja seperti itu." Bunga tersipu malu mendapat ciuman hangat itu.

Toko bangunan Tiara terletak lumayan jauh dari rumah Gibran, tepatnya dekat dengan pasar. Toko bangunan satu-satunya yang lumayan besar, omset mereka tak tanggung-tanggung di tengah perkembangan wilayah dan banyak pembangunan rumah-rumah masyarakat, tentu membuat mereka mendapatkan keuntungan yang lumayan banyak.

"Mbak Bunga, Mas Gibran

kemana?" tanya seorang pelanggan yang mengenal baik Bunga.

"Mas Gibran sedang kurang enak badan, biar istirahat di rumah." jawab Bunga.

"Oh, kalau begitu semoga cepat sembuh." ucap bapak-bapak itu kemudian membayar barang-barang yang di belinya.

"Terimakasih Pak." Bunga tersenyum ramah.

Hingga menjelang siang, Bunga meminta tiga orang penjaga tokonya beristirahat lebih dulu.

"Apa sebaiknya Mbak saja yang beristirahat dan makan lebih dulu?" ucap Rozak, anak mudah yang sudah lama bekerja di toko tersebut.

"Kalian saja, lagi pula kalian capek sejak pagi belum istirahat. Kalau ada pembeli nanti biar menunggu sampai kalian selesai." jawab Bunga.

"Kalau begitu kami permisi Mbak, mau makan di belakang." ucap Rozak diikuti yang lainnya.

"Monggo." Bunga memberikan beberapa kotak makanan yang memang sudah di pesan untuk mereka.

Suasana ramai orang berlalu lalang, ternyata di tengah kecamatan seperti ini cukup melelahkan walau hanya sekedar berjualan, apalagi para penjual asongan atau kaki lima yang mendorong gerobak mereka, Bunga memperhatikan semuanya.

Jadi teringat dulu ketika ia belum mengenal Bunga, betapa susahnya hidup miskin dan tak memiliki apa-apa, sehingga kisah cinta-pun di tolak oleh ibunya Raka.

"Bunga." suara itu mengejutkan lamunan masa lalu.

"Iya Mas Raka." jawabnya begitu saja.

Benar, di hadapannya adalah Raka yang entah bagaimana ia sudah ada di sana. Bunga bahkan tak menyadari ada kendaraan yang berhenti di depan.

Raka tersenyum tipis. 'Aku yakin sekali kau juga masih sering memikirkan aku Bunga.'

"A...ada apa Mas?" tanya Bunga gugup.

"Oh, aku hanya ingin membeli beberapa Besi untuk membuat pagar di belakang rumah." jawabnya terlihat tenang, tapi hatinya senang.

"Oh, kalau begitu Mas Raka harus menunggu. Rozak dan yang lainnya sedang makan dan istirahat sebentar." jawab Bunga mencoba menghindari tatapan Raka.

"Bukankah biasanya suamimu yang menjadi Toko?" tanya Raka lagi sedikit penasaran.

"Emm, Mas Gibran belum pulih sejak malam itu. Aku memintanya untuk beristirahat saja di rumah." jawab Bunga.

Raka mengangguk-angguk, tak lagi membahas Gibran, tapi sedang banyak pikiran. 'Bagaimana jika Gibran mati saja?'

Bunga Berpura-pura sibuk dengan catatan di buku tebalnya, berjarak meja ia tak mau terlalu banyak bercerita dengan Raka.

"Semoga Gibran cepat sembuh kalau begitu." ucap Raka kemudian.

Bunga menatap pria tersebut. "Iya Mas, terimakasih." Bunga tersenyum kaku. "Ah Iya, apa kabar Mbak... Istrimu Mas?" tanya Bunga berbasa-basi.

"Dia baik-baik saja, dia adalah orang yang pendiam dan tidak terlalu suka bicara apalagi bercanda." Raka sedikit bercerita.

"Oh." Bunga mengangguk. "Artinya dia adalah istri yang baik." sambung Bunga berniat memuji.

"Ya, tapi bagiku tidak ada yang lebih baik darimu." ucapnya menatap lurus Bunga, bola mata yang sangat dihafal Bunga itu tampak sama seperti dulu, masih ada cinta dan ambisi.

"Maaf Mas, kita sudah sama-sama menikah. Jadi, lupakan saja." Bunga menghindari tatapan Raka.

"Sudah ku coba, tapi sulit." tegas Raka.

"Sulit bukan berarti tak bisa."

"Mana bisa, karena kita sudah terlalu jauh saat itu. Dan semuanya semakin jelas ketika aku mencoba melarikan kesepian ku pada istriku, bayanganmu malah tak pernah pergi." Raka semakin mengungkap apa yang ada di dalam hatinya.

"Kau pasti bisa Mas." ucap Bunga memilih pergi ke belakang.

Tapi Raka malah mencegahnya. "Bohong kalau kamu sudah melupakan aku Bunga." ucapnya menahan lengan Bunga.

"Aku tidak lupa Mas, hanya berdosa jika selalu mengingatnya. Kita sudah selesai dan aku hanya mencintai suamiku saja." tegas Bunga membuat longgar tangan yang memegang tangannya.

Raka terdiam dengan ungkapan itu. Lagi-lagi ia harus kecewa dengan ucapan yang sama, seperti dulu ketika mereka masih berpacaran Bunga memilih Gibran. Itu sungguh-sungguh menyakitkan terasa sampai saat ini.

Pembicaraan singkat dan tak sengaja itu ternyata berdampak besar bagi Raka. Malam itu ia tak bisa tidur dengan banyak pikiran mengganggu dirinya.

Gelisah dengan perasaan masa lalu tapi juga masa sekarang yang semakin membuatnya tak tenang. Dewi istrinya, tapi Bunga di hatinya. Dia yang mencintainya, tapi Gibran yang memilikinya.

Hingga malam beberapa Minggu kemudian.

Kali ini tak hanya pencurian tapi juga kekerasan terjadi di rumah warga. Pencuri-pencuri tersebut semakin beringas tak kenal rasa kasihan. Lebih tepatnya mereka sedang balas dendam dengan kematian empat orang yang di habisi Raka.

"Ini sudah waktunya." Raka tersenyum penuh arti.

"Kau sudah pulih?" tanya Raka kepada Gibran di malam itu, berjaga bersama beberapa orang lainnya.

"Ya. Aku harap kita bisa menyelesaikan ini." ucap Raka menatap sekitar.

"Ya, memang semua yang sudah kita mulai harus selesai." jawab Raka mengandung banyak makna.

Gibran menoleh laki-laki gagah dan lebih tinggi darinya tersebut.

"Mas Raka,maafkan aku sudah merebut Bunga. Tapi yakinlah jodoh itu pemberian Tuhan yang tak bisa di rebut atau di tukar." ucap Gibran dengan tulus kepada Raka.

Raka menoleh Gibran. "Kau bicara apa?" Raka terkekeh.

Gibran tersenyum namun ada kelegaan tersendiri sudah mengucapkannya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!