Ilmu pengasih

Suasana pemakaman penuh duka, ayah kandung dan ayah angkat, juga mertuanya bersama-sama memakamkan jenazah Gibran, meskipun Yanto juga memiliki Angga tapi yang selalu ada bersama mereka adalah Gibran. Pemuda baik, sopan dan tidak neko-neko, ketiga bapak-bapak itu sangat menyayanginya.

Tepat di pusara Gibran ada Bunga dan Tiara, di dampingi Ibu dan ibu mertuanya, dia menangis hingga sembab wajah cantiknya.

"Ibu, kapan kita bertemu Ayah?" tanya Tiara dengan wajah sendu, dia tahu jika Gibran sudah meninggal, tapi separuh hatinya masih tidak terima. Berpikir jika masih punya kesempatan untuk bertemu Gibran ayahnya.

Bunga semakin menangis, merangkul tubuh kecil itu dan memeluknya dengan hati yang pilu. "Nanti Nak, kita akan bertemu Ayah. Asal Tiara rajin mengaji dan sholat, Ayah sudah menunggu." jawabnya semakin teriris perih.

Semua orang sudah pulang ke rumah masing-masing, menyisakan keluarga inti saja, dan beberapa saat kemudian, beberapa orang tua itu meninggalkan Bunga sendiri, memberi waktu sejenak, mereka menunggu di mobil.

"Mas, aku yakin surga sudah menantimu. Walaupun tidak menyangka tugasmu sudah selesai dalam waktu sesingkat ini, aku akan berusaha mengikhlaskan kepergian mu meskipun berat." ucapnya menangis lagi.

Air mata itu tak pernah bisa berhenti mengenang cinta dan kasih sayang tulus dari Gibran Dwiyanto Sejak pertama memutuskan untuk mencintainya, hingga saat ini maut memisahkan mereka, cinta itu masih sama, besar dan tidak berubah. Gibran adalah sosok yang paling sempurna.

"Bunga sangat mencintaimu Mas Gibran." ucapnya terus saja mengusap pipi yang halus itu hingga merah dan panas.

"Kata orang, ketika suami meninggal maka istri harus menunggu sejenak setelah semua orang pergi meninggalkan pemakaman, dan aku sedang melakukannya." Dia semakin terisak, lalu mendongak ke atas. "Ya Allah, katakan pada malaikat yang menanyai suamiku, jangan membentak atau kasar padanya, apalagi sampai memarahinya. Karena sepanjang aku menjadi istrinya dia tidak pernah marah kepadaku, dia tidak pernah membentak atau kasar kepadaku. Dia suami yang Sholeh dan sangat menyayangi ku. Beri dia tempat yang paling baik."

Bunga memeluk makam yang masih basah itu tidur beralaskan lengan agar air matanya tak ikut jatuh. Dadanya sesak dan sedih.

"Bunga." suara seorang laki-laki mengejutkan Bunga yang sedang lemas memeluk makam Gibran tersebut.

Bunga menoleh, melepaskan pelukannya dan berhenti terisak.

"Mengapa masih di sini, hari akan hujan." ucapan halus dari Raka Wijaya membuat Bunga berhenti menangis karena enggan berbicara apalagi saat ini mereka hanya berdua.

Bunga berdiri memaksakan lutut yang lemas itu untuk menahan tubuhnya. "Aku ingin tahu bagaimana Mas Gibran bisa meninggal?" tanya Bunga kepada Raka.

Raka-pun menatap wajah ayu Bunga melangkah pelan dengan masih memperlihatkan tubuh lemas di temani Dudung. "Kami bertarung bersama-sama, hanya ketika aku tersudut oleh senjata tajam, Gibran melawan dan bertarung sendirian. Sementara aku tak berdaya, Gibran di keroyok mereka hingga akhirnya..." Raka menunduk.

"Apakah kau terlibat Mas Raka?" tanya Bunga tidak bisa menahan rasa penasarannya.

"Kau menuduhku?" tanya Raka terlihat sedih, ia menatap sendu pada Bunga.

"Aku hanya merasa kepergian Mas Gibran terlalu cepat, tapi jika benar itu semua, aku tidak akan pernah memaafkan mu mas Raka."

"Aku bersumpah tidak melakukan apapun, percayalah aku tidak sejahat itu. Lihatlah aku juga terluka parah Bunga, aku merasa bersalah karena tidak bisa menyelamatkan Gibran, aku-pun tak bisa tenang dengan meninggalnya suamimu, meski aku sudah membalas mereka." ucapnya seraya terbatuk-batuk memegang dadanya.

"Baiklah Mas, aku pergi dulu." Bunga berbalik meninggalkan Raka, enggan berbicara dengan pria itu.

"Tunggu Bunga." Raka meraih lengan Bunga.

"Maaf Mas, aku lelah sekali." Bunga melepaskan lengannya dari tangan Raka.

"Oh, baiklah. Istirahat dan jangan terlalu bersedih. Ingatlah ini sudah takdir yang maha kuasa, kau harus sabar." ucap Raka lembut penuh perhatian.

"Terimakasih Mas." Bunga melanjutkan langkahnya menuju mobil dimana Tiara dan orang tuanya sudah menunggu.

Sementara di belakang, Raka menatapnya dengan senyum penuh arti. "Aku pasti akan mendapatkan mu Bunga."

Raka menatap makam yang masih basah itu, ia tersenyum sinis. "Lihatlah bagaimana Bunga akan mencintaiku dan memujaku. Dia akan menuruti apa yang aku mau seperti sebelum kau merebutnya. Aku pastikan kau akan menangis di dalam sana, menyaksikan bagaimana aku menikmati istrimu sepuas hatiku, Bunga milikku." Raka tertawa keras seiring dengan mendung tebal menutupi mata hari, hujan segera turun dengan petir menyambar.

Hari yang biasanya cerah berubah menjadi hujan lebat luar biasa menjelang sore itu. Tak ada satu orangpun yang keluar dari rumah, memakai payung-pun rasanya tidak bisa membendung butir hujan luar biasa tersebut.

Kabar duka tersebut menyebar luas hingga seluruh desa, tak terkecuali Dewi yang tidak ikut melayat hari itu, ia duduk di kamarnya menatap hujan lebat itu dengan banyak berpikir.

"Jika dia menjadi janda, artinya Mas Raka akan memiliki peluang untuk mendekatinya kembali. Apalagi masa lalu mereka masih melekat erat di kepala Mas Raka." dia menjadi gelisah.

Hingga Maghrib menjelang Raka tak juga pulang. Dewi tak heran, tapi saat Ini sedikit khawatir sekaligus curiga.

"Jangan-jangan dia ada di rumah Bunga" pikirannya mengusik.

Dewi meraih ponsel dan mengubungi ibunya, dia ingin memberitahukan kabar meninggalnya suami wanita yang dicintai suaminya.

Sedangkan Raka sedang berada di satu tempat, gubuk tua almarhum gurunya.

Dia sedang bersemedi, meminta Nyai Roro Ayu datang, konon wanita iblis itu juga punya ilmu pelet maha dahsyat, sekali ia mengamalkan menteranya maka wanita yang diinginkannya akan terpanggil, sulit berpaling dari wajah tampan Raka.

"Apa lagi yang kau inginkan Raka." ucapnya mendekat, berjalan menggoda seraya tersenyum manis, dia tahu apa yang akan mereka lakukan setelah pertemuan ini, ritual penuh dosa itu akan terulang, namun hasilnya tentu tak akan mengecewakan.

"Gibran sudah mati, tidak akan ada orang yang bisa melindungi Bunga. Aku ingin menjeratnya dengan ilmu pengasih, berikan padaku." pintanya sudah tidak sabar menyerang wanita yang terlihat cantik dimatanya itu.

"Tentu saja Raka, dan aku akan memberikan semuanya padamu." Nyi Roro Ayu mukai mengusap dada Raka, tersenyum menggoda.

"Jika boleh aku tahu, apa yang membuatmu awet muda?" tanya Raka kepada wanita yang mulai melepaskan baju Raka dengan tangan lentiknya.

"Setelah kita menyatukan keringat kita, aku akan terlihat lebih muda, semakin sering maka aku akan semakin muda. Apalagi mendapatkan yang masih perjaka." Dia terkekeh senang.

"Lalu bagaimana dengan aku? Apakah aku akan terlihat awet muda sepertimu?" tanya Raka menyukai sentuhan iblis tersebut.

"Sering-seringlah membasahi tubuhmu dengan keringatku."

Terpopuler

Comments

⍣⃝ꉣꉣAndini Andana

⍣⃝ꉣꉣAndini Andana

iiih muka ganteng, kaya pula, tapi main nya pelet, tanda ga percaya diri tuh si Arka 😝😝

2023-03-18

6

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!