Takut kehilangan Raka

Tatapan tajam dan penuh selidik Raka membuat laki-laki tersebut bingung.

"Ada apa ya Mas?" tanya pemuda itu menunduk hormat.

"Lenganmu terluka?" tanya Raka masih menajamkan matanya.

"Iya Mas, kemarin mengambil bambu dan tak disangka bambu yang saya potong bagian tengahnya malah jatuh mundur mengenai lengan saya." ungkapnya dengan wajah polos khas pemuda kampung.

Raka masih memperhatikan pemuda tersebut. Jika di lihat dari penampilannya, benar sekali jika dia adalah petani biasa, kulitnya tidak terlalu bersih, bahkan hitam di bagian ujung kukunya. Telapak tangannya kasar terlihat sedikit mengelupas alias kapalan.

"Lalu kakimu?" tanya Raka masih menyelidik.

"Ya karena luka di lengan ini Mas, aku jatuh dan terkilir, musim hujan begini di bawah pohon bambu licin." jawabnya tidak terlihat mencurigakan.

"Kau tidak bohong?" tanya Raka terdengar menyeramkan.

"Tidak Mas, memangnya ada apa?" tanya pemuda itu lagi.

Raka tersenyum sinis, sudah umum pertanyaan model begitu, untuk orang yang menghindari kesalahan dan memilih pura-pura tidak tahu. "Tidak apa-apa." jawab Raka

Pemuda itu berlalu berjalan keluar, namun tak terduga Raka menendang kaki pemuda itu hingga tersungkur. Dan kehebohan terjadi karena ada satpam dan petugas puskesmas yang lain melihat aksi Raka tersebut.

"Stop Mas, ada apa ini?" salah satu satpam membantu pemuda yang terjatuh, dan satunya menanyai Raka.

"Aku curiga dia adalah pencuri yang bertarung denganku semalam. Kakinya ku injak dan tangannya terluka karena pisaunya sendiri." Raka menunjuk lengan juga kaki pemuda tersebut.

"Ya Alloh Mas, aku tidak bisa silat, mana bisa berkelahi." jawabnya meringis menahan sakit di punggungnya karena tendangan Raka.

Kedua satpam tersebut tetap siaga mencegah serangan Raka kembali.

"Aku hanya ingin memastikan jika dia berkata sebenarnya, atau sedang berbohong." Raka kembali menyerang tapi terhalang kedua satpam dan lagi beberapa perawat meminta pemuda tersebut segera pergi.

"Tenang Mas, kalau salah orang bisa berabe." ucap Seorang satpam puskesmas tersebut.

"Aku yakin sekali dia orangnya." jawab Raka menatap tajam pemuda yang sudah menjauh bersama ojek yang ditumpanginya.

"Sebaiknya kita selidiki dulu Mas Raka. Aku juga sudah tahu tentang perkelahian Mas Raka dengan pencuri semalam. Cepat atau lambat kita akan mengetahui siapa orangnya, terlebih lagi Mas Raka sudah pernah melukai dan mengalahkannya meskipun belum bisa menangkap mereka." seorang satpam senior berbicara.

"Ya, aku pasti bisa menangkap mereka semua." jawab Raka dengan bangga, sungguh mudah menarik perhatian warga.

'Dengan begini, bebas mengambil anak perempuan orang dan membunuh Gibran.' Raka tertawa senang di dalam hati.

Sementara Dewi sudah selesai dan mencari Raka.

"Mas." panggilnya mendekati Raka yang sedang mengobrol di keliling beberapa orang.

"Apakah sudah selesai?" tanya Raka kepada istrinya.

"Sudah Mas." jawab Dewi.

"Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu." ucap Raka kepada orang-orang di puskesmas tersebut.

"Iya Mas Raka, hati-hati di jalan, dan terimakasih sudah kembali ke kampung ini." ucap salah satu dari mereka.

"Tentu saja, ini adalah kampung halamanku juga. Jauh tapi tak bisa aku lupakan, maka dari itu aku kembali dan akan melindungi semuanya." ucapnya dengan sangat bangga.

Dewi hanya bisa menoleh suaminya, tak berani menyahut tapi hatinya bersungut-sungut. 'Bukan kampung ini yang membuatmu ingin kembali Mas, tapi wanita itu. Kau belum bisa melupakan walaupun semua hidupku sudah aku berikan.'

Dewi hanya bisa menarik nafas, tapi baginya sangat beruntung memiliki Raka, selain tampan dan gagah, dia juga anak orang berduit.

Tapi, berada di kampung ini malah semakin mengganggu perasaan Dewi. Sebagai seorang wanita tentu akan terganggu jika suaminya masih memikirkan orang lain, apalagi dengan sikap yang tidak mau di atur, tidak mau mendengarkan apapun yang di ucapkan Dewi, cenderung keras kepala dan semaunya.

"Kamu istirahat saja ya, makan dan minum vitaminnya. Mas mau lihat perkebunan di belakang yang di garap Mang Udin." ucap Raka kepada Dewi.

"Mas tidak makan siang dulu?" tanya Dewi kepada suaminya.

"Nanti saja, Mas masih kenyang." Raka meraih topi dan keluar lewat pintu belakang, karena area perkebunan miliknya memang sangat dekat.

Dewi menutup pintu dan kembali masuk ke dalam, dia butuh tidur sebentar sebelum makan dan melakukan aktifitas lainnya. Selain punggungnya terasa pegal, perutnya sedikit kram karena terlalu lama duduk di mobil.

Sendiri dan sepi membuat ia teringat dengan ibunya, Dewi meraih ponsel dan menghubungi wanita yang di rindukannya tersebut.

"Halo Nduk? Kamu lagi apa?" Suara ibunya terdengar bahagia di seberang sana. Apalagi Dewi merupakan anak satu-satunya sama seperti Raka.

"Lagi istirahat saja Bu, baru pulang jalan-jalan bersama Mas Raka." jawabnya semakin membuat senang ibunya.

"Ah senangnya, Ibu ikut bahagia mendengar kebahagiaan kalian di sana." Ibunya tertawa gemas.

"Iya Bu, tapi ada yang membuat Dewi sedikit terganggu." ucap Dewi pada akhirnya mengungkapkan kegundahannya.

"Terganggu bagaimana to Wi? Perasaan pernikahan kalian itu yang paling sempurna, tidak perlu lelah dan capek-capek bekerja."

"Iya Bu, tapi masalahnya bukan itu." ungkap Dewi lagi.

"Kalau bukan itu terus apa?" tanya Ibunya penasaran sekaligus khawatir.

"Di sini ada seorang wanita cantik yang merupakan mantan kekasih Mas Raka Bu, dan sepertinya Mas Raka masih mencintainya." ungkap Dewi terdengar sedih.

"Wanita?" ucap ibunya sangat terkejut.

"Ya, dia sudah menikah Bu. Tapi Mas Raka masih menyimpan banyak sekali foto dan barang-barang kenangan bersama wanita itu. Aku cemburu Bu." ungkapnya terisak.

"Benar-benar si Raka." geram ibunya. "Ini tidak bisa di biarkan." kesalnya lagi.

"Aku takut kehilangan Mas Raka Bu." Dewi semakin menangis mengadukan kegelisahannya.

"Kamu tenang saja, Ibu akan mencari jalan terbaik untuk kamu dan rumah tanggamu. Ibu pastikan kamu tidak akan kehilangan Raka." Ibunya menenangkan Dewi.

"Tapi bagaimana caranya Bu? Dewi benar-benar bingung." ungkapnya lagi.

"Wes Ndak usah bingung, kamu tenang saja dan jalani semuanya dengan bahagia. Nanti ibu akan tanyakan dengan orang pintar tentang bagaimana dan seperti apa hubungan mereka." jawab ibunya.

"Baiklah Bu, tanyakan juga bagaimana pernikahanku ini akan seperti apa nantinya." pinta Dewi tertarik dengan apa yang akan di lakukan ibunya.

"Ya Nduk, itu pasti. Pokoknya kamu tenang saja, jangan banyak pikiran, fokus saja sama kehamilan mu. Ibu sudah tidak sabar ingin menimbah cucu. Lagipula Ibu mertuamu akan sangat bangga jika kamu memberinya cucu. Jangan pikirkan wanita itu ya." nasehat ibunya sekaligus memberi semangat untuk Dewi.

"Iya Bu." Dewi mengusap air matanya.

"Ibu pasti akan melakukan yang terbaik untukku." ucap Dewi setelah panggilannya terputus.

"Aku tidak mau kehilangan Mas Raka. Sepertinya aku harus keluar dan mencari tahu siapa wanita itu. Aku yakin tetangga pasti tahu."

Dewi beranjak dari ranjangnya tersebut, ia akan mulai mendekat tetangga.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!