Dewi keluar dari rumahnya, sengaja berpura-pura belanja di warung tetangga untuk memulai kedekatan. Dia tahu persis di sana banyak ibu-ibu yang suka bergosip ria.
Sedikit menoleh kisah ke belakang, di sana adalah tempat ibunya Raka duduk dan bergosip ria, termasuk membicarakan perihal hubungannya dengan Melati. Sehingga terciptanya gosip-gosip miring dan banyak lagi cerita lainnya.
Tak ayal ketika ibu-ibu bertemu maka cerita sepotong ubi akan terasa hangat dan menarik, lalu ketika masing-masing membawa ingatan tentang rasanya, maka yang terdengar adalah ungkapan yang berbeda. Dan yang menjadi korban adalah sepotong ubi yang tak bersalah, karena semakin banyak orang yang mengolahnya, maka akan semakin banyak pula rasa dan masakan yang berbeda.
Dua tanganmu tak akan mampu mencegah banyaknya mulut yang bercerita tentang dirimu.
Bunga bak sepotong ubi berasal dari kebun ketika itu, tak punya pilihan dan tak bisa melawan, sehingga pada akhirnya berpisah untuk membebaskan diri dari hujatan dan pandangan rendah terhadap dirinya. Lagi pula, perihal jodoh tak bisa di paksa, jika jodoh bisa memilih, tentu semua orang sudah bahagia dengan pilihannya.
"Nanti malam ada rapat di balai desa." ibu-ibu itu sudah memulai cerita ketika Dewi membeli makanan ringan dan sengaja duduk membaginya dengan beberapa anak-anak tetangga yang ikut duduk di sana.
"Rapat apa ya Bu?" tanya Dewi menyahut, seraya mencolek pipi seorang anak kecil.
"Rapat untuk para tokoh masyarakat dan orang berpengaruh. Salah satunya Mas Raka, juga si Iyan suaminya Bunga." jelas ibu itu terlihat bersemangat.
"Undangannya dititip di sini Mbak Dewi." ibu pemilik warung memberikan kertas bertuliskan undangan kepada Dewi.
Dewi mengambil kertas tersebut, dan benar saja nama Raka Wijaya tertulis di sana.
"Suaminya Mbak Dewi termasuk orang berpengaruh sekarang, malam kemarin sudah berhasil melukai pencuri." seorang ibu menyahut dengan mata mendelik saking serunya bercerita.
"Dengar-dengar tak hanya Mas Raka yang bertarung dengan pencuri, tapi Gibran juga Bu, suaminya Bunga juga terkenal memiliki kemapuan hebat." si ibu pemilik warung menyahut.
"Iya, itu dulu ceritanya pernah bertarung dengan Mas Raka juga ketika masih pacaran sama Bunga." seorang ibu lagi bercerita tanpa peduli, tapi kemudian menutup mulutnya menyadari ada Dewi diantara mereka.
Dewi tertarik dengan nama Bunga yang sudah berulang kali di sebut.
"Boleh tahu, rumahnya Bunga itu ada dimana?" tanya Dewi tak mau kentara soal keingintahuan juga penasaran.
"Di ujung sana Mbak Dewi." ibu muda yang lainnya menyahut. "Eh, tapi buat apa Mbak ingin tahu? Dia kan mantan pacarnya Mas Raka."
Dewi tersenyum, tak mau memperlihatkan isi hatinya. "Sudah tahu Bule." jawabnya halus.
"Baguslah kalau sudah tahu. Mereka berpacaran sangat lama, tapi akhirnya putus karena dia selingkuh dengan Gibran dan menikah. Tapi tidak hanya itu, tapi juga karena ibu mertuamu tidak setuju. Begitu yang kita tahu."
Dewi mengangguk-angguk mengerti, dalam hatinya dia mulai paham penyebab apa Raka masih begitu memikirkan wanita itu.
"Bunga anaknya pak...?" Dewi sengaja memancing jawaban dari ibu-ibu bersemangat itu.
"Pak Gutama." jawab mereka cepat.
"Ah." Dewi tersenyum senang.
'Akhirnya aku tahu siapa nama ayahmu! Jika Mas Raka tidak bisa menyingkirkan namamu di hatinya, maka aku yang akan membuatmu menyingkir untuk selamanya.' Dewi masih tersenyum, tangannya mencoba bermain-main dengan anak-anak agar tawa dan senyumnya tidak terlalu di perhatikan.
"Aku harus bisa mengambil salah satu foto wanita itu." Dewi bergumam sendiri ketika sudah pulang dan masuk ke rumahnya.
"Dari mana Wi?" tanya Raka yang baru saja pulang dari kebun miliknya.
"Dari warung Mas, membeli makanan ringan dan ini." ucapnya memberikan undangan kepada Raka.
"Undangan?" Raka membuka kertas tersebut. Membacanya sejenak dan tersenyum setelahnya.
Malam itu Raka mendatangi perkumpulan warga inti di kampung tersebut, berjalan dengan angkuh sesekali melirik ke kanan dan kiri jalan. "Kehebatanmu sudah tak menakutkan. Hanya menunggu waktu Gibran Dwiyanto." gumam Raka.
"Silahkan Bapak melakukan musyawarah dan memutuskan apa yang terbaik, saya dan Mas Raka akan berjaga di luar karena alasan yang sulit di jelaskan." Gibran memahami apa yang sedang di rasakan Raka, mengikuti laki-laki yang merupakan saingannya tersebut.
"Aku merasa dia ada di sebelah kiri kita." ucap Raka berdiri dekat dengan Gibran, sambil menikmati sebatang rokok agar nyamuk tidak terlalu mendekat.
"Iya Mas." Gibran setuju.
"Aku sudah mencurigai seseorang, dan aku butuh bantuanmu untuk menyelidiki mereka." ungkap Raka menoleh Gibran yang juga sepemikiran dengan Raka.
"Aku juga Mas, dan selama ini aku kesulitan karena tidak ada yang bisa di ajak bergerak. Rata-rata orang berilmu di kampung ini sudah sepuh dan tidak bisa diajak sembunyi-sembunyi." jelas Gibran mengungkapkan keluhannya selama ini.
"Sekarang ada aku." jawab Raka yakin, bangga sekali rasanya dibutuhkan oleh Gibran Dwiyanto.
"Ya." Gibran tersenyum yakin, dia tahu Raka bisa diandalkan.
Lama keduanya hanya duduk dan pura-pura tidak tahu, sengaja hanya terlihat seperti mengobrol biasa. Tapi kemudian seseorang mendekat dan ikut masuk begitu saja.
Gibran melompat dan meraih bahu pemuda tersebut. "Maaf, di dalam sedang ada pembicaraan penting, dan semuanya para tokoh masyarakat dan tokoh agama saja. Yang muda hanya di luar." ucap Gibran tak mengurangi sikap sopan.
"Aku diminta salah seorang istri dari mereka untuk memberikan kabar bahwa ada tamu penting yang datang." Pemuda itu berkata dengan serius.
"Apakah istrinya sedang menunggu di bawah pohon itu?" Raka menunjuk seseorang yang terkesan bersembunyi di tempat gelap.
Pemuda itu langsung melarikan diri, takut ketahuan juga takut di hajar kedua orang tersebut.
"Kau disini saja." ucap Raka meninggalkan Gibran , sengaja melepaskan anak muda tersebut, Raka dan Gibran punya rencana untuk mencari tahu keberadaan dari beberapa orang pencuri tersebut. Mereka yakin sekali mereka tak hanya satu, dua atau tiga, tapi ada banyak.
Gibran mengawasi sekitar yang sepertinya sudah aman, lagipula di dalam sepertinya akan segera selesai. Ia mengikuti Raka,menjaga kemungkinan yang buruk. Bisa jadi laki-laki egois dan penuh emosi itu berkelahi tanpa berpikir lagi, dan akan kesulitan jika mereka tidak sendiri.
Benar saja, Raka mengejar dan menyerang dua orang yang berlari, tapi pemuda kampung yang dia temui malah sudah jatuh tergeletak di jalan, pingsan di pukul pencuri yang lainnya.
"Berhenti atau mati!" suara Raka terdengar mengerikan.
Kedua orang tersebut berhenti dan terpaksa menghadapai Raka yang sudah menghadang mereka.
Perkelahian tak lagi bisa di hindarkan, terlihat sangat seru dengan dua melawan satu, tampak seimbang tapi kemudian datang lagi yang lainnya.
Dua orang lagi datang dengan senjata di tangan masing-masing, dapat dipastikan akan mengeroyok Raka.
'Sial, mengapa aku jadi yang di keroyok.' kesal Raka di dalam hati.
Gibran menghubungi orang-orang yang masih bermusyawarah, berharap mereka datang membantu.
Dan mau tak mau Gibran ikut berkelahi bersama Raka, dua lawan lima. Sama sekali tidak seimbang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments
MasWan
aku masih blm faham nih, antara arka dan orang misterius tempo hari yg bertemu arka, tapi ada yg menarik, dari obrolan itu bahwa si orang misterus ingin mengalahkan 3saudara seperguruannya. apakah para maling berpakaian hitam² yg bertarung dgn arka dan iyan kah orangnya?
2023-03-21
1