Ingat Sesuatu?

Luna masih perawan??

Bercak darah di sprei putih hotel membuat Dimas tercengang. Sungguhkah ia baru saja menjebol segel yang mati-matian dijaga oleh Luna untuh untuk suaminya? Dan Dimas membobolnya tepat di malam pertama yang seharusnya Luna nikmati bersama dengan Surya.

Dimas menggosok wajahnya kasar, ia harus bergegas pergi dari sana. Biar saja, toh memang ini yang dia inginkan, Papanya menceraikan Luna.

Luna mengerjap pelan, ia merasakan area kewa-nitaannya begitu perih dan sakit. Luna merasa sudah menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri karena Luna kira Suryalah yang telah bercinta dengannya barusan. Luna merasa sangat lelah dan ingin tidur, namun sebuah tangan kasar menyentuh punggungnya yang terbuka.

"Luna ... istriku yang cantik ... hik ... hik!!" Surya merancau. Ia baru saja kembali dari pesta. Aroma alkohol tercium pekat, sepertinya ia sungguh tenggelam dalam kebahagiaan malam pengantin bersama dengan para teman dan kolega sampai mabuk berat.

"Maafin Mas yang membuatmu kedinginan." Surya mengecup pundak Luna yang terbuka. Luna sedikit kaget saat tangan Surya bergrilya masuk ke dalam selimut dan mengelus tubuhnya.

Bukankah barusan Surya sudah bercinta dengannya? Rasa ngilunya saja masih belum hilang dan Surya sudah kembali meminta jatah. Neyya tak bisa ingat karena terpengaruh dengan efek alkohol, ia tak bisa mengingat wajah pria yang baru saja menyentuhnya. Neyya hanya bisa merasakan rasa sakit dan perih yang menghujamnya di bawah sana, meski pun seketika rasa itu beralih menjadi nikmat begitu gerakan persatuan mereka semakin cepat. Luna bahkan ikut terhanyut dalam tempo dan membalasnya.

"Eum!!" Tangan Surya mulai semakin nakal, menyentuh ke sana kemari, membuat Luna kembali belingsatan.

Surya melucuti semua pakaiannya sebelum kembali menerjang ke arah Luna. Luna memejamkan matanya pasrah menerima serangan sang suami. Luna perlahan mulai menyadari kalau percintaan pertamanya bukan dengan Surya. Lalu dengan siapa?

Luna tak kuasa menahan air matanya, ia memilih diam, menggigit bibir bagian bawah dan mencengkram erat spreinya saat Surya kembali menghujani Luna dengan kenikmatan. Tangannya mengukup dada sekal Luna sementara bibirnya mencium perutnya hendak turun ke bawah.

"Tidak!! Jangan, Mas!! Luna malu!!" Luna berusaha menahan kepala Surya agar tidak masuk ke dalam selimutnya. Luna tak ingin Surya mengetahui darah keperawanannya telah bercecer.

"Baiklah, Mas akan lembut kok." Surya mengangguk, ia mulai melebarkan kedua paha Luna hendak menghujamkan miliknya. Namun, efek alkohol membuat Surya kesusahan mencari lubang yang pas.

Surya bergeleng pelan, ia sangat pusing ... tiba-tiba, tubuhnya ambruk di atas tubuh Luna. Surya mendengkur.

"Mas ... Mas Surya!!" Luna kaget saat suaminya tak sadarkan diri. Luna berusaha membangunkan Surya, tapi nampaknya pengaruh alkohol jauh lebih kuat. Luna menghela napas lega. Ia pun meloloskan diri dari pelukan Surya dan lari ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

Di bawah rintikan shower, Luna memikirkan kejadian barusan. Siapa yang tadi menyentuhnya?

.

.

.

Pagi yang cerah, secerah hati Surya saat bangun tidur dan mendapati istrinya sudah wangi dan cantik. Luna tersenyum, ia menyuguhkan secangkir teh hangat supaya pegar Surya menghilang.

"Minum terus mandi dulu, Mas." Luna beranjak dan menyiapkan pakaian ganti untuk Surya.

"Iya."

Surya terlihat gembira, Luna sungguh istri yang pengertian sama seperti mendiang istrinya dulu. Surya menyibakkan selimut, matanya melirik ke arah kasur, bercak darah membuktikan bahwa semalam ia telah membobol keperawanan sang istri.

Meski pun lupa karena pengaruh alkohol, Surya tidak menyangkal kalau ia telah meniduri Luna. Buktinya ia bangun dengan tubuh telanjang bulat. Sudah pasti mereka bermain semalaman.

"Masih sakit nggak, Sayang?" Surya memeluk Luna dari belakang

"Eum ... kenapa Mas harus nanya hal begituan pagi-pagi?" Luna merasa kikuk saat tangan Surya menggerayangi tubuhnya.

"Iya donk. Soalnya Mas maunya kita sama-sama enak, sama-sama bahagia." Surya memutar tubuh Luna, hendak mencium bibir ranumnya. Luna mengelak dengan menaruh kedua telapak tangannya di depan bibir Surya.

"Mas mandi dulu!! Lalu kita sarapan, Luna sudah lapar sekali." Luna berkelit.

"Iya deh." Dengus Surya menghela napas.

.

.

.

Perjalanan menuju ke restoran hotel. Surya bertemu dengan putranya yang juga ingin sama-sama menuju ke restoran.

"Dimas!!" Panggil Surya.

"Papa? Sudah bangun? Kirain pengantin baru bakalan bangun siangan." Dimas melirik ke arah Luna, gadis itu menunduk dan enggan untuk menatap balik Dimas. Kedua mata Dimas sungguh membuatnya kikuk.

"Mama kamu bilang lapar, pengen sarapan. Ya papa ngalah donk." Surya terkikih, ia langsung merangkul bahu Luna dan bahu putranya lalu kembali berjalan selayaknya keluarga.

Restoran terlihat ramai seperti biasanya, semua adalah tamu hotel yang menginap malam kemarin. Tak berbeda dari kebanyakan restoran bintang lima yang menyediakan menu buffe lengkap, restoran ini juga sama dan membuat air liur Luna menetes.

Luna memang sangat lapar, efek mabuknya semalam membuat Luna tak bisa makan apa pun hidangan pesta dan bangun dengan perut keroncongan.

Setelah memilih beberapa menu makanan, Surya dan Luna kembali ke meja. Dimas menyusul kemudian, meletakan piring dan segelas susu.

Surya yang sudah menyuap makanannya melotot ke arah putranya dengan heran. Sorot matanya seakan bertanya. Kenapa Dimas bergabung dengan mereka?

"Kenapa? Nggak boleh gabung? Katanya disuru akrab sama mama baru." Dimas nyengir, ia masa bodoh dengan gelagat papanya yang sudah kasih kode-kode supaya Dimas ganti meja. Enak aja gangguin pengantin baru memadu kasih. Surya kan juga pengen bermesraan dengan Luna.

"Ngeselin banget sih." gumam Surya. Luna hanya diam dan pura-pura makan. Ia juga tak tahu tujuan Dimas duduk bersama dengan mereka. Bukankan baru beberapa hari yang lalu Dimas begitu gencar ingin menyingkirkan Luna?

Makanan yang seharusnya lezat menjadi hambar saat masuk ke mulut Luna. Luna merasa kikuk dengan keberadaan Dimas dan cara ia menatap Luna.

Tring ...

Bunyi ponsel Surya memecah keheningan.

"Halo, hahaha ... iya, gapapa!!" Surya menerima panggilan dari rekan kerja yang mengucapkan selamat.

"Papa terima telepon dulu." Surya beranjak begitu Luna dan Dimas mengangguk.

Kini hanya tinggal Luna dan Dimas yang ada di meja itu. Luna mengubur wajahnya di gelas kopi, meski gelas itu tak bisa menyembunyikan keseluruhan wajahnya, setidaknya ia tak harus bertatapan langsung dengan Dimas.

"Tidurmu nyenyak?" tanya Dimas. Pria itu menyahut gelas kopi Luna, ia tahu Luna hanya pura-pura minum sampai Surya kembali.

"Lumayan," jawab Luna.

"Aku kira kamu tidur dengan nyenyak setelah bercinta dengan papaku." Dimas mendekatkan wajahnya dengan wajah Luna. Luna mencoba menghindari tatapan tajam Dimas dengan menundukkan kepala hingga membuat pandangannya beralih ke leher Dimas.

"Eh, hlo." Luna kaget saat melihat goresan kukunya di leher Dimas. Dimas menyeringai, lalu mengangkat dagu Luna agar fokusnya kembali. "Kenapa? Inget sesuatu tentang semalam??"

...--BERSAMBUNG--...

Terpopuler

Comments

Erna Fadhilah

Erna Fadhilah

pasti luna shock tu lihat keindahan karyanya tadi malam 😅😅😅

2023-11-16

0

lihat semua
Episodes
1 Keinginan Untuk Menikah Kembali
2 Menikahi Sahabat Papa
3 Pengagum Rahasia
4 Amarah Dimas
5 Terbawa Emosi
6 Berhenti, Dimas!
7 Gelisah
8 Rencana Dimas
9 Kesedihan Luna
10 Seorang Teman
11 Kenapa Mau Menikahinya?
12 Mabuk
13 Rencana Baru
14 Malam Pertama
15 Ingat Sesuatu?
16 Sisa Percintaan Semalam
17 Dimas ikut!
18 Bercinta Dengan Anak Tiri
19 Tak Menemukan Jawaban
20 Debaran Itu Kembali
21 Mengubur Perasaan
22 Perasaan Yang Meluap
23 Terlambat
24 Tekat Dimas
25 Dimas Kecelakaan
26 Sini Deh, Ma!
27 Belalai Gajah
28 Bimbang
29 Panik
30 Beralih Ke Sisi Tergelap
31 Luapan Cinta
32 Bermain Di Belakang Suami
33 Hubungan Terlarang
34 Sayang Yang Mana?
35 Semakin Berani
36 Kekasih?
37 Jangan Bermain Api!
38 Kamu Menjijikan, Luna!
39 Kenapa Menikahi Papaku?
40 Selalu Ada Untukmu
41 Kepindahan Dimas
42 Curiga
43 Sepi
44 Kawin Lari
45 Keputusan Berat
46 Indah Sekali
47 Bahagia Bersamamu
48 Kabur
49 Kabur II
50 Luna Menghilang
51 Apa Papa Mencintai Luna?
52 Bercerai Saja
53 Jalan Tengah
54 Jerat Berduri
55 Hamil
56 Benih Kebahagiaan
57 Ketahuan
58 Tanpa Arah dan Tujuan
59 Jangan Pergi
60 Pengakuan Dimas
61 Bertemu Kembali
62 Terbongkar
63 Tak Kuasa
64 Penyesalan Dimas
65 Obat Terbaik
66 Rindu
67 Bayiku!
68 Maafkan Aku
69 End
Episodes

Updated 69 Episodes

1
Keinginan Untuk Menikah Kembali
2
Menikahi Sahabat Papa
3
Pengagum Rahasia
4
Amarah Dimas
5
Terbawa Emosi
6
Berhenti, Dimas!
7
Gelisah
8
Rencana Dimas
9
Kesedihan Luna
10
Seorang Teman
11
Kenapa Mau Menikahinya?
12
Mabuk
13
Rencana Baru
14
Malam Pertama
15
Ingat Sesuatu?
16
Sisa Percintaan Semalam
17
Dimas ikut!
18
Bercinta Dengan Anak Tiri
19
Tak Menemukan Jawaban
20
Debaran Itu Kembali
21
Mengubur Perasaan
22
Perasaan Yang Meluap
23
Terlambat
24
Tekat Dimas
25
Dimas Kecelakaan
26
Sini Deh, Ma!
27
Belalai Gajah
28
Bimbang
29
Panik
30
Beralih Ke Sisi Tergelap
31
Luapan Cinta
32
Bermain Di Belakang Suami
33
Hubungan Terlarang
34
Sayang Yang Mana?
35
Semakin Berani
36
Kekasih?
37
Jangan Bermain Api!
38
Kamu Menjijikan, Luna!
39
Kenapa Menikahi Papaku?
40
Selalu Ada Untukmu
41
Kepindahan Dimas
42
Curiga
43
Sepi
44
Kawin Lari
45
Keputusan Berat
46
Indah Sekali
47
Bahagia Bersamamu
48
Kabur
49
Kabur II
50
Luna Menghilang
51
Apa Papa Mencintai Luna?
52
Bercerai Saja
53
Jalan Tengah
54
Jerat Berduri
55
Hamil
56
Benih Kebahagiaan
57
Ketahuan
58
Tanpa Arah dan Tujuan
59
Jangan Pergi
60
Pengakuan Dimas
61
Bertemu Kembali
62
Terbongkar
63
Tak Kuasa
64
Penyesalan Dimas
65
Obat Terbaik
66
Rindu
67
Bayiku!
68
Maafkan Aku
69
End

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!