Semua Tegantung Niat

Vita ... Vita ... Vita ... dari tadi kok pikiranku ke Vita terus? Aku semakin penasaran dengan dia. Dia benar-benar sosok perempuan yang mandiri, tutur katanya lugas, sopan, dan bisa menempatkan diri dengan siapa lawan bicaranya. Seperti tadi, saat dengan kliennya dia benar-benar menunjukkan sosok pemimpin yang sempurna. Tidak salah papa memilih dia untuk berkiprah membesarkan perusahaannya. Benar yang papa katakan, aku ini tidak bisa apa-apa, tapi dengan tulus Vita selalu bilang pada papa, dan selalu membela aku di depan papa, kalau aku adalah sosok pencetak anak bangsa yang cerdas.

Hanya Vita yang berani membelaku di depan papa, dan papa hanya diam saat Vita sudah angkat bicara, seperti Vita punya mantra sihir yang dapat memikat hati  mama dan papa. Dia wanita hebat, tapi kenapa aku tidak pernah bisa menyentuh hatinya? Padahal aku sudah berusaha belajar, dan hanya Nadira yang selalu ada di ingatanku, di hatiku, dan di setiap embusan napasku.

^^^

Kami baru keluar dari kamar. Pandangan kami saling bertemu di depan pintu kamar kami masing-masing. Ya kamar kami saling berdapan. Vita masih memakai baju tidurnya, dress tanpa lengan berwarna navy. Dress itu membungkus tubuhnya yang ramping dan mungil. Wajahnya bersih, matanya terlihat sayu khas orang bangun tidur. Rambutnya dicepol, dia terlihat begitu dewasa sekali. Dia hanya melempar senyum padaku, lalu langsung kembali ke kamarnya lagi, entah sepertinya ia ingin mengambil sesuatu.

Aku masih terpaku di depan pintu kamarku, penasaran Vita kembali ke kamarnya ingin mengambil apa, pintu kamarnya masih terbuka, artinya dia hanya sebentar saja di kamarnya.

Benar, ia hanya sebentar, aku melihat dia keluar lagi dari kamarnya, namun ada yang berbeda. Baju tidurnya yang berbeda. Dia menambah outer baju tidurnya, mungkin karena ia risih lengannya terlihat.

“Mas, tumben sudah bangun? Ini masih petang lho?” tanya Vita.

“Ya kebangun saja, Vit. Takut kesiangan juga, aku kan mau antar kamu, Vit? Katanya kamu mau berangkat pagi?” jawabku.

Memang aku mengimpi-impikan untuk bangun pagi karena harus mengantar Vita, entah kenapa aku seperti itu, sampai alarm saja aku nyalakan di jam tiga, jam empat, dan jam lima. Padahal biasanya jam enam aku baru bangun, langsung mandi, sarapan, dan berangkat ke sekolahan.

“Santai saja sih, kalau mas gugup mau ke sekolahan juga gak apa-apa kok,” jawabnya.

“Enggak, aku kan sudah janji sama kamu, Vit,” jawabku lalu langsung ke dapur, aku tidak mau lama-lama menatap wajahnya yang benar-benar natural cantiknya. Aku baru pernah melihat perempuan yang baru bangun tidur tapi sangat terlihat cantik natural seperti Vita.

Aku berjalan gugup ke dapur, mengambil gelas, dan menuangkan air putih ke dalam gelas. Aku langsung meneguk habis air putih yang kuambil dengan gugup. Vita juga sudah di dapur, dia membuka kulkas, dan mengambil bahan-bahan untuk ia masak. Lalu ia membuka alat penanak nasi, dan sudah tercium aroma wangi nasi yang baru matang.

“Kamu baru ke dapur kan, Vit? Kok nasi sudah matang saja?” tanyaku penasaran.

“Tadi jam tiga aku sudah bangun, ya mau apalagi? Aku masak nasi untuk sarapan dan bekalku, sama nyiapin bahan yang mau kumasak,” jawabnya santai dengan tangannya lihai menyiapkan bahan masakan.

“Pantas saja nasi sudah matang,” ucapku.

“Mau kopi atau teh, Mas?” tanyanya.

“Kopi boleh deh,” jawabku.

Baru kali ini aku bangun sepagi ini dan menemani Vita di dapur. Ditawari kopi atau teh juga lagi?

Ayo dong Danial ... kamu punya istri sesempurna dia malah mau diceraikan karena Nadira? Kamu paham, kan? Inilah pilihan orang tua yang terbaik, dan yang paling baik.

Batinku menjerit melihat Vita yang begitu sempurna. Padahal dia itu sudah capek urus kantor, meeting sampai malam, tapi dia masih bisa urus pekerjaan rumah? Sungguh hebat sekali dia.

“Pagi-pagi jangan melamun, Mas?” ucapnya sambil meletakkan cangkir yang berisi kopi di depanku.

“Siapa yang melamun? Aku sedang lihat kamu saja kok,” jawabku.

“Lihatin apa? Orang lagi bikin kopi dilihatin?” ucapnya.

“Ya mikir saja, kamu apa gak capek, pulang malam, pagi-pagi jam segini sudah bangun untuk masak, pekerjaanmu di kantor sangat berat pula?” ucapku.

“Memang kenapa? Mau ngasih asisten di sini?” ucapnya setengah menantang.

Memang aku dulu awal pindah ke sini, aku tidak memperbolehkan dia memakai asisten. Enak saja pakai asisten, nanti bisa-bisa ketahuan kita tidur terpisah. Tapi, melihat dia kerepotan seperti ini, aku kasihan juga? Apalagi dia mengerjakan semuanya sendiri. Dari cuci baju, setrika, nyapu, ngepel, masak, dan pekerjaan rumah lainnya. Untung saja rumahku ini tidak sebesar rumah papa, rumah ini minimalis, satu lantai, dan aku memang bilang dengan Vita, aku tidak bisa memiliki rumah yang mewah seperti rumah papa, dan rumah orang tuanya.

“Mikir kan aku tanya asisten? Asisten pribadimu juga gak disuruh ke sini, karena kamu takut ketahuan sama mama dan papamu kita tidak tidur sekamar, kan? Apalahi rumah kita hanya dua kamar, nanti kalau ada asiste suruh tidur di garasi?” ujarnya.

“Ya gak gitu, kalau butuh asisten juga bisa kan yang Cuma sampai sore saja?” jawabku.

“Jadi boleh nih aku pakai asisten di rumah?” tanya Vita dengan raut wajah seperti meledekku.

“Ehm ... ya bo—boleh sih,” jawabku bingung.

“Bilang saja belum berani ada asisten di rumah, takut ketahuan, kan?” ledeknya.

“Gak gitu Vit, ya itu juga sih,” jawabku.

“Harusnya ini tugas Nadira ya, Mas? Yang nyuciin baju kamu, nyiapin sarapan, buatkan kopi? Sayangnya aku yang jadi istrimu, jadi dia tidak bisa apa-apa selain sayang-sayangan saja sama kamu, dan itu pun secara diam-diam. Gak capek main petak umpet, Mas? Tapi, aku senang sih, aku beruntung bisa mengerjakan pekerjaan rumah, karena aku memiliki titel yang mulia, yaitu ibu rumah tangga, aku seorang istri. Ya meskipun begini, dan kau pun begitu. Sudah lah, memang kenyataannya, kan?” ucapnya.

“Ya mau bagaimana lagi, kamu pilihan orang tuaku,” jawabku.

Benar katanya, dia punya jabatan yang mulia di rumah ini, dia seorang istri, dia seorang ratu di sini, tapi sayangnya sang raja tidak menganggapnya. Entah sampai kapan drama ini akan selesai.

Aku menyesap kopi buatan Vita, dia juga menaruh kue di piring kecil yang ia ambil dari lemari es. Aku melihat dia yang sibuk mamasak, harum masakannya sungguh menggugah selera.

“Kamu kok bisa masak, Vit?” tanyaku.

“Ya karena sudah terbiasa,” jawabku.

“Biasanya anak bungsu, terus dimanja, kan jarang yang tidak bisa masak,” ucapku.

“Itu mah karena orangnya saja yang malas belajar, Mas. Apa pun kalau kita mau belajar dan niat, pasti akan bisa kok. Semua itu berawal dari niat, Mas. Kalau mau niat dan sungguh-sungguh ingin belajar tentang perusahaan, Tuhan akan mempermudahkan jalan mas. Tuhan itu akan mempermudahkan jalan menuju kebaikan, Mas. Ingat, hanya kebaikan. Kalau misal kamu niatnya sesat, tapi dikabulkan, ya itu yang nunjukkin jalananya setan,” ucapnya.

Aku terdiam mendengar ucapannya. Setiap ucapannya selalu mebuat aku tersentil. Hatiku seperti mendapatkan siraman rohani darinya. Apa yang dia katakan selalu benar, dan memang begitu kenyataannya.

Terpopuler

Comments

Ririn Nursisminingsih

Ririn Nursisminingsih

vit sabar banget kmy punya suami modelan kyak daniel yg ndak pernah hargai kmu sekali2 cyexin aja vit🤔🤔

2024-12-04

0

Selvianah Bilqis

Selvianah Bilqis

dipelet x tuh sama nadira,biar ingetnya dia terus😎

2023-05-19

1

𝚁⃟• ꂵ꒤ꇙꋊ꒐꒐ ✨ꃅꀤꍏ꓄ꀎꌗ✖️

𝚁⃟• ꂵ꒤ꇙꋊ꒐꒐ ✨ꃅꀤꍏ꓄ꀎꌗ✖️

nah lama"gak tagan jg kan danial nahan pesona istri km sendiri

2023-03-19

0

lihat semua
Episodes
1 Drama Queen
2 Dia Rembulan Yang Indah
3 Bagai Punguk Merindukan Bulan
4 Rusuk Rusak
5 Apa Aku Selingkuh Saja?
6 Aku Istrinya, Mbak
7 Aku Harus Dimadu Maksudnya?
8 Istri Yang Sempurna
9 Perempuan Yang Hebat
10 Bukan Pilihan Hatimu
11 Dia Cantik
12 Aku Dan Kamu, Sulit Untuk Menjadi Kita
13 Cerai Maksudnya?
14 Dia Perempuan Seperti Apa?
15 Melawan Gengsi
16 Makan Malam Berdua
17 Siti Nurbaya Modern
18 Barter Bantuan
19 Semua Tegantung Niat
20 Calon Guru Baru
21 Ada Yang Camburu
22 Lagi Ada Maunya
23 Kamu Tampan
24 Harap Tenang, Sedang Ada Ujian
25 Terjatuh Dua Kali
26 Perempuan Yang Hatinya Sulit Ditebak
27 Memberantas Benalu
28 Permintaan Nadira
29 Dia Begitu Cantik Dan Sederhana
30 Dia Selalu Bisa Menjaga Diri
31 Jangan Menambahkan Beban Di Hatiku
32 Pagi Yang Membuat Mood Berantakan
33 Perang Dingin
34 Dia Milik Wanita Lain
35 Aku Siap Berpisah
36 Makan Siang Berdua
37 Hati Ini Bukan Mainan
38 Kado Istimewa Dari Suami
39 Pagi Yang Berbeda
40 Bulan Madu
41 Kenangan Terindah
42 Aku Akan Belajar Mencintaimu
43 Kandas
44 Aku Harus Bagaimana, Vit?
45 Merebut Hati Suamiku
46 Calon Mantan
47 Menjenguk
48 Dilema
49 Selamat Tinggal
50 Restui Mereka
51 Merasakan Beban Yang Vita Emban Selama Ini
52 Menemui Nadira
53 Ancaman Papa dan Mama
54 Bukan Daerah Kekuasaanku
55 Apa Tidak Bisa Kita Perbaiki?
56 Sidang Pertama
57 Seperti Diratukan
58 Istri Idaman
59 Bertemu Mantan
60 Pagi Bahagia
61 Semakin Over Protektif
62 Asal Kamu Bahagia
63 Akhir Bahagia
Episodes

Updated 63 Episodes

1
Drama Queen
2
Dia Rembulan Yang Indah
3
Bagai Punguk Merindukan Bulan
4
Rusuk Rusak
5
Apa Aku Selingkuh Saja?
6
Aku Istrinya, Mbak
7
Aku Harus Dimadu Maksudnya?
8
Istri Yang Sempurna
9
Perempuan Yang Hebat
10
Bukan Pilihan Hatimu
11
Dia Cantik
12
Aku Dan Kamu, Sulit Untuk Menjadi Kita
13
Cerai Maksudnya?
14
Dia Perempuan Seperti Apa?
15
Melawan Gengsi
16
Makan Malam Berdua
17
Siti Nurbaya Modern
18
Barter Bantuan
19
Semua Tegantung Niat
20
Calon Guru Baru
21
Ada Yang Camburu
22
Lagi Ada Maunya
23
Kamu Tampan
24
Harap Tenang, Sedang Ada Ujian
25
Terjatuh Dua Kali
26
Perempuan Yang Hatinya Sulit Ditebak
27
Memberantas Benalu
28
Permintaan Nadira
29
Dia Begitu Cantik Dan Sederhana
30
Dia Selalu Bisa Menjaga Diri
31
Jangan Menambahkan Beban Di Hatiku
32
Pagi Yang Membuat Mood Berantakan
33
Perang Dingin
34
Dia Milik Wanita Lain
35
Aku Siap Berpisah
36
Makan Siang Berdua
37
Hati Ini Bukan Mainan
38
Kado Istimewa Dari Suami
39
Pagi Yang Berbeda
40
Bulan Madu
41
Kenangan Terindah
42
Aku Akan Belajar Mencintaimu
43
Kandas
44
Aku Harus Bagaimana, Vit?
45
Merebut Hati Suamiku
46
Calon Mantan
47
Menjenguk
48
Dilema
49
Selamat Tinggal
50
Restui Mereka
51
Merasakan Beban Yang Vita Emban Selama Ini
52
Menemui Nadira
53
Ancaman Papa dan Mama
54
Bukan Daerah Kekuasaanku
55
Apa Tidak Bisa Kita Perbaiki?
56
Sidang Pertama
57
Seperti Diratukan
58
Istri Idaman
59
Bertemu Mantan
60
Pagi Bahagia
61
Semakin Over Protektif
62
Asal Kamu Bahagia
63
Akhir Bahagia

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!