Kita sampai di rumah makan langganan kami. Ya meski hanya rumah makan yang sederhana, aku lebih sreg makan di situ, dan menunya juga menu yang aku suka, begitu pula Firda, kami memang sangat merindukan makan di tempat ini. Kami masuk ke dalam, dan kami langsung memesan makanan.
“Mbak sudah lama sepertinya Mbak Firda sama Mbak Vita tidak ke sini?” tanya pelayan yang sudah kenal dengan kami berdua.
“Ya begitu, Mbak. Kami sibuk, jadi kami baru bisa meet up nih,” jawabku.
“Sekarang dia sudah menjadi orang sukses mbak, jadi begini, sibuk,” ucap Firda.
“Ish kamu kalau ngomong bisa saja! Sudah kamu mau pesan apa?” tanyaku pada Firda. “Aku biasa ya, Mbak. Nasih tahu campur, pedas, dan jangan ....”
“Kemanisan, kan mbak? Karena mbak sudah manis?” potong pelayan tersebut.
“Betul sekali, masih hafal ya mbak, meski sudah mau setahun tidak ke sini? Minumnya teh tawar panas ya, Mbak?” ucapku.
“Masih dong, kalian kan pelanggan setia kami, Mbak?” jawabnya. “Ini mbak Firda mau pesan apa?”
“Kalau aku, jangan pakai nasi, mbak. Lontong saja pakainya. Minumnya biasa, jeruk hangat gulanya sedikit ....”
“Dan jangan diaduk,” lanjut pelayan.
“Oke, ternyata mbak daya ingatnya bagus, ya?”
“Ohhh jelas dong, mbak! Ditunggu ya, mbak?” Ucapnya dengan sumringah.
Dia itu anak bungsu pemilik rumah makan ini. Sebetulnya rumah makan nasi campur ini sudah banyak cabangnya, tapi tetap saja ini yang paling enak. Aku dan Firda sering ke sini saat dulu. Dari sejak kami SMA sudah sering makan di sini. Padahal anak SMA kadang sukanya makan makanan yang kekinian, ke cafe, ke restoran yang keren, sedangkan kami, seleranya merakyat sekali, dan menu ini adalah menu favorit kami berdua setelah bakso.
“Kalau dipikir-pikir, kenapa kita malah milih makan di tempat ini ya, Vit? Padahal restoran mewah sekarang banyak, ada juga yang bisa sekalian untuk foto-foto?” ucap Firda.
“Lidah kita cocoknya ke sini, lagian di restoran ya menu gitu-gitu saja, kan? Kalau ketemu klien pasti di restoran mewah, cafe yang mewah juga, jadi rasanya bosan dengan menu yang itu-itu saja.”
“Iya juga sih, apalagi bisnis tersembunyi kita kan resto dan cafe, Vit?” ucapnya dengan terkikik.
“Kalau ingat itu lucu ya, Fir? Dengan modal seadanya, sekarang bisnis kita yang sembunyi-sembunyi dari orang tua kita meledak. Belum juga coffee shop kita, dan franchise kita. Gak nyangka ya, Fir? Sumpah bakal segede ini usaha kita, padahal kita mantau saja dari jauh, jarang terjun ke lapangan, kita malah sibuk dengan dunia masing-masing, bahkan aku ini apa? Aku kerja lho di perusahaan mertua? Padahal aku sendiri memiliki bisnis yang tak kalah hasilnya, orang tuaku perusahaannya maju, aku malah gini, Fir? Ditambah jadi istri gak dianggap? Kalau saja aku belum menikah, aku bisa mengepakkan sayapku supaya aku bisa terus terbang tinggi,” ucapku.
“Ucapanmu itu lho? Makin ngawur saja. Sudah dinikmati saja, biar saja gak dianggap, kamu lebih hebat daripada wanita pengganggu suami orang, Vit! Sudah jangan mikir itu, kita ke sini mau makan, bukan mikirin suami kamu itu yang gak ngerti cara menghargai istri!” Aku hanya tersenyum saja mendengar ucapan Firda.
Aku dan Firda dulu iseng buka coffee shop saat kami belum ambil S2 ke London. Kami melihat anak zaman sekarang makan harus di tempat yang unik, dan sedikit klasik. Karena, mereka memilih tempat yang spot fotonya bagus. Kami berencana membuka coffee shop, dengan modal uang saku kita. Aku tidak pernah kekuarang uang saku, pun Firda. Kami malah kelebihan, dan kami tabung, kami investasikan untuk berniaga. Dengan awal tempatnya mengontrak, dan akhirnya sampai sekarang kita bisa memperluas bisnis kita bersama.
Aku dan Firda satu pemikiran, bahwa perempuan harus mandiri, harus punya usaha sendiri. Kami selalu berpikir, kami tidak mau hanya memperoleh uang dari jatah suami. Ya suami memang wajib menafkahi, tapi aku dan Firda selalu berpikir, kalau suami adalah sebuah titipan, kalau tidak diambil lagi sama Tuhan, ya diambil perempuan lain. Dengan maraknya perselingkuhan zaman sekarang juga, aku tidak mau seperti para perempuan yang menye-menye saat ditinggalkan suami karena selingkuh, apalagi sampai berdebat soal harta gono-gini. Ya memang berhak perempuan mengungkit gono-gini dengan suami, tapi aku tidak mau ribet untuk itu, dikasih bagian gono-gini ya aku terima, karena itu hakku? Tidak dikasih, wah kebangetan sekali sepertinya.
Itu kenapa aku dan Firda memulai bisnis sejak dini. Apalagi aku tahu sejak aku remaja, aku sudah dijodohkan dengan anak semata wayang dari keluarga Barata, aku tidak yakin anak Om Barata mau denganku, dan ternyata benar, kan? Dia masih setia dengan masa lalunya, dengan perempuan bernama Nadira. Suatu hari, jika tidak ada hal yang tidak aku inginkan, setidaknya aku sudah siap melepaskan jabatanku di kantor papa mertuaku.
“Permisi, Mbak, ini pesanannya,” ucap pelayan mengantarkan pesanan kami.
“Terima kasih,” ucapku dengan Firda bersamaan.
Kami menikmati makan siang kami. Kangen sekali dengan menu nasi campur ini. Apalagi aroma khas bawang putihnya.
Aku melihat dua orang laki-laki dan perempuan masuk ke dalam rumah makan, mereka terlihat mengenakan Pakaian Dinas Harian guru. Dia suamiku, berdiri tegap di sisi wanita dan menggamit tangan wanita dengan pakaian yang sama, dan sedikit ketat, membentuk lekuk tubuhnya yang indah dan seksi. Wanita itu memakai jilbab, dan terlihat begitu cantik. Sepertinya mereka sedang mencari tempat duduk, dan tempat duduk memang sudah penuh sekali.
Aku berusaha biasa saja, tidak mau mengurusi polah suamiku yang seperti itu. Bermesraan dengan perempuan lain, padahal sudah memiliki istri, ya aku tahu sih kami dijodohkan, tapi setidaknya dia bisa menghargaiku.
“Revita .... lihat itu siapa?” Firda menepuk-nepuk pundakku dengan keras, aku yakin dia melihat Mas Dani dengan seorang wanita.
“Apa? Mas Dani, kan? Tuh yang namanya Nadira? Gila, ya? Gandengan tuh dia, mesra sekali.” Ucapku dengan menunduk, ingin rasanya aku menangis, tapi aku tidak boleh cengeng, tidak boleh menjatuhkan air mataku di depan laki-laki dan perempuan itu. Aku mendongak, dan mengulas senyum di depan Firda.
“Are you okay?”
“I’m okay.” Jawabku sambil tersenyum. “Kita lihat seberapa jauh mereka berhubungan, hanya sebatas seperti itu atau bagaimana?” ucapku.
“Vit, gak baik lho kalau sampai keterusan? Kamu foto kek, buat bukti, kalau suatu hari kamu perlu?” saran Firda.
“Gak usah, biar saja. Biar dia mikir sendiri, mereka bukan anak kecil lagi, yang apa-apa harus diingatkan. Mereka juga harusnya tahu salah atau benar perbuatannya?” jawabku. Namun, Firda yang sudah jengkel, dia memotret Mas Dani yang sedang menggandeng Nadira. “Aku yang foto saja, sudah nih, biar aku simpan, kali saja kamu butuh?” ucap Firda.
“Untuk apa butuh foto mereka? Buat nakutin nyamuk? Atau tikus?” ucapku dengan terkekeh.
“Bisa saja kamu, Vit?”
Aku melihat sekilas Nadira menunjuk ke arah mejaku. Memang meja kami yang agak luas, dan masih bisa menampung dua orang lagi. Lalu pelayan mengantarkan ke meja kami.
“Mbak Vita, Mbak Firda, gak apa-apa kalau bapak dan ibu ini gabung? Soalnya mejanya sesak semua,” tanya pelayan yang sudah mengenaliku.
“Ya, silakan,” jawabku.
“Oke gak masalah, Mbak,” jawab Firda. “Tapi nambah satu porsi lagi dong? Mumpung ditraktir bos,” imbuhnya. Aku hanya menggeleng, melihat Firda yang nafsu makannya bertambah, aku tahu dia kesal, dia marah, jadi pelampiasannya pada makanan.
“Siap, aku antar langsung, Mbak,” jawab pelayan tersebut. Widi, pelayan yang mengenalku itu langsung memanggil pelayan satunya untuk mengantarkan satu porsi lagi untuk Firda.
Bukannya aku yang marah, tapi Firda yang naik pitam. Tatapannya sungguh menakutkan, ramah tapi menakutkan.
“Silakan duduk, Mas Dani,” ucapku mempersilaka Mas Dani dan Nadira duduk di depanku dan Firda.
“Vita?”
“Ya, kenapa? Pangling denganku?”
“Mas kenal dengan dia?”
“Dia ... ehm ... di—dia ....”
“Aku istrinya, Mbak,” jawabku tanpa basa-basi.
“Oh jadi ini?”
“Iya ini Vita istriku, Nad,” jawab mas Dani.
“Silakan duduk, jangan sungkan-sungkan, santai saja, Mbak. Saya sudah tahu semuanya kok. Tenang saja,” ucapku ramah tapi aku pengin nangis.
Mungkin Nadira memang tidak tahu seperti apa aku, karena memang tidak banyak rekan guru Mas Dani yang datang ke pesta pernikahan kami. Jadi, dia baru tahu aku kali ini.
“Kita cari tempat lain saja ya, Mas?” pinta Nadira pada suamiku.
“Tapi sudah pesan tadi,” jawab Mas Dani.
“Ya sudah,” ucapnya dengan wajah yang memucat, entah karena takut atau malu.
Aku melanjutkan menghabiskan makananku. Rasanya sudah sedikit hambar, bahkan makanan ini rasanya tercekat di tenggorokkanku, tidak bisa aku telan. Entah karena aku melihat suamiku menggandeng mesra kekasihnya, dan sekarang duduk di hadapanku, atau bagimana aku gak tahu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
Ririn Nursisminingsih
semangat vita jadilah wanita yg kuat yg berkelas
2023-05-26
1
Selvianah Bilqis
pengen nampol 22nya dah🙄
2023-05-19
0
kuat banget kamu vit 🤦🏼♀️ sabar ya pelangi akan ada setelah sunami
2023-03-05
0