Mas Dani terlalu menyamakanku dengan dirinya. Aku tidak bisa bebas seperti kamu, Mas. Aku ini perempuan, sebaik-baiknya perempuan adalah yang bisa menjaga kehormatannya.
“Sangat beda sekali bukan, Mas? Kalau mas mungkin bisa bebas, bisa mengekspresikan apa mau mas, hingga keputusan mas memilih menjadi guru saja mas bisa mewujudkannya meski tanpa restu dari papa dan mama? Ya mama merestui, karena mama tidak mau anak dan papanya selalu berdebat, hanya karena masalah pendidikan yang akan mas tempuh. Mas juga bisa menikmati masa remaja mas dengan begitu sempurna, bisa melawan, bisa berontak, hingga mas memiliki kekasih, menikmati bagaimana rasanya pacaran saat remaja, dan itu hanya ada dianganku saja, karena semua itu rasanya sudah musnah dari hidupku,” ucapku.
“Aku tidak tahu kamu sangat dikekang saat itu, aku kira kamu pun sama denganku, berontak, dan melawan mereka, tapi pada akhirnya begini,” ucap Mas Dani.
“Ya sudah yuk pulang? Aku sudah ngantuk,” ajakku.
“Iya ayo pulang, kamu masih bisa nyetir mobil?” tanya Mas Dani.
“Bisalah, masa gak bisa?” jawabku.
“Kan tadi katanya ngantuk?”
“Ngantuk sudah biasa, aku bisa jalan pelan-pelan, sudah biasa juga nyetir mobil rasanya ngantuk sih,” jawabku.
“Ya barangkali bareng saja, mobil kamu tinggal di kantor kan bisa, nanti pagi aku antar kamu,” tawarnya, entah itu basa-basi saja atau bagaimana.
“Nanti malah merepotkanmu, Mas,” jawabku.
“Sudah taruh saja mobil kamu di kantor, dekat juga tuh kantor kamu,” ucap Mas Dani. “Sudah sana kamu taruh kantor mobilnya, ini juga sudah malam, kita pulang bareng saja.
“Oke, aku taruh mobilku dulu di kantor.”
“Iya, sudah yuk pulang.”
Aku menuruti ucapan Mas Dani untuk pulang bersama, apa salahnya aku pulang dengan suamiku. Mungkin dengan cara seperti ini Mas Dani akan semakin dekat denganku, dan bisa melupakan Nadira, juga menarik kembali keinginannya untuk berpisah dariku.
Aku masuk ke dalam mobil Mas Dani, setelah aku menitikan mobil di kantor pada Satpam yang jaga malam di kantor.
Baru kali ini aku selarut ini di luar dengan Mas Dani, dan baru kali ini kami makan malam berdua di luar, tanpa ada mama, papa, atau keluarga kami.
Jepit rambut? Aku melihat jepit rambut di dasboard mobil Mas Dani, aku yakin itu punya Nadira. Masa iya Nadira membuka jilbab di depan Mas Dani? Ah mungkin dia memakai jilbab saat mengajar saja, kalau hari-hari biasa dia tidak memakainya.
Aku mengambilnya, dan melihat secara detail jepit rambut itu.
“Itu punya Nadira, ketinggalan kemarin saat habis renang,” ucap Mas Dani.
“Renang? Sama kamu, Mas?” tanyaku yang agak tidak percaya.
“Iya, mau sama siapa lagi, Vit?” jawabku.
“Oh, hanya sama kamu?”
“Ada teman perempuan, waktu itu bareng-bareng kok,” jawabnya.
“Oh gitu?” ucapku sambil menaruh lagi jepit rambut milik Nadira ke tempat semula.
Tidak heran dia sampai pergi renang bersama. Toh mereka sudah pacaran dari zaman SMA, pasti ya banyak yang sudah dilalui bersama. Biar saja terserah apa yang dilakukan Mas Dani, aku di sebagai istri hanya mendampingi, dengan sedikit demi sedikit menegurnya kalau dia melakukan hal yang salah. Meski dia tidak terima saat aku menegurnya.
“Aku minta maaf ya, Vit. Selama ini ucapanku sering kasar denganmu, aku bertindak semena-mena, ngomong kasar, tanpa peduli bagaimana perasaan kamu,” ucap Mas Dani.
Entah kenapa tiba-tiba Mas Dani bicara seperti itu, dia baru bangun tidur atau bagaimana? Bisa-bisanya selama delapan bulan ini dia baru sadar dan meminta maaf padaku atas apa yang sudah ia katakan padaku, dan atas kekasarannya dia padaku. Sungguh ini sangat lucu. Ya beginilah kalau orang sedang ada maunya, apalagi semua itu demi orang yang sangat dicintainya.
“Iya, aku juga paham posisi mas dan perasaan mas kok,” jawabku.
“Vit mulai sekarang, kamu jangan diam ya, kalau kamu butuh apa kamu bisa kok minta bantuan aku, toh aku juga sudah banyak merepotkanmu,” ucapnya.
“Aku sudah biasa apa-apa sendiri kok, Mas,” ucapku.
“Kamu gak butuh bantuan supaya dekat lagi dengan Arif?” tanya Mas Dani.
Aku tersenyum dengan perasaan yang sulit diartikan. Inikah suamiku? Suami yang malah menyuruh istrinya untuk dekat lagi dengan masa lalunya, bukan menjaga istrinya supaya bisa menjaga pandangan di luar sana, dia malah akan membantuku untuk dekat dengan Arif lagi? Kalau aku ada niatan, tidak usah dibantu dia pun aku bisa? Apa yang gak bisa bagiku? Semua akan bisa aku genggam kalau aku mau. Dan mauku, aku bisa memilikimu seutuhnya, Mas Dani! Kamu suamiku, aku ingin menyadarkanmu kalau apa yang kamu lakukan itu salah besar, yang aku sedang usahakan adalah itu, dan sampai sekarang aku belum menemukan kata menyerah, entah itu nanti aku akan menyerah.
Benar dugaanku, dia mau barter bantuan. Aku bantu dia supaya bisa dengan Nadira, dan dia akan membantuku agar bisa dengan Arif. Lucu sekali caranya, licik sekali permainanmu, Mas! Aku bukan perempuan yang selalu menatap ke belakang, menatap apa yang sudah aku tinggalkan. Aku adalah istrimu, untuk apa aku melihat laki-laki di masa laluku dulu, dan ingin kembali dengannya. Bahkan mungkin Arif pun akan menolak dengan tawaran kamu yang ngawur itu. Arif dan aku sama-sama memiliki rasa saling menghargai. Dia menghargai keputusan aku, dan aku pun menghargai dia sebagai klienku sekarang.
“Bagaimana, kamu tidak butuh itu, Vit?” tanyaku.
“Ngapain begitu? Kalau aku mau gak usah dibantu dengan siapa pun aku bisa melakukannya? Kalau Arif pun mau, kita sudah tidak memedulikan status. Arif bukan laki-laki bodoh yang terkurung masa lalu. Dia laki-laki yang menerima takdir. Dia begitu lapang dada menerima semuanya, menerima aku yang sudah dijodohkan dengan kamu sejak remaja. Dia terlalu menghargai perasaan orang, dia juga sangat menghormati orang yang dicintainya. Silakan saja kamu tawarkan maksud kamu itu pada Arif, kalau kamu tidak dicap sebagai suami yang bodoh olehnya, aku akan bayar berapa pun kamu mau,” tantangku.
“Kamu yakin dia seperti itu?” tanya Mas Dani penasaran.
“Yakin sekali, aku terlalu tahu tentang dia, jadi aku yakin,” jawabku lugas. “Sudah, mas gak usah nawarin hal yang tidak akan aku lakukan. Aku adalah seorang istri, sudah sepantasnya, dan sudah kewajibanku untuk menjaga nama baik suami, nama baik keluarga, menjaga kehormatan suami, dan kehormatanku sendiri sebagai perempuan, khususnya sebagai seorang istri,” ucapku.
Mas Dani terdiam. Tidak bicara lagi, mungkin dia sedang memikirkan ucapanku barusan. Biar saja dia merenunginya. Dia belum terlalu dewasa sepertinya untuk tahu bagaimana caranya menghargai seseorang, khususnya menghargai perasaan istrinya. Dia hanya tahu menjaga hati wanita yang ia cintai saja, yaitu Nadira. Aku masih bisa bertahan, aku masih kuat, dan aku yakin Tuhan akan membukakan pintu hati Mas Dani untukku, dia akan melepaskan Nadira, dan menerimaku sepenuh hatinya, menjadi wanita satu-satunya yang mendampinginya.
Kami sudah sampai rumah, aku membukakan gerbang, dan membuka pintu garasi khusus mobilnya Mas Dani. Mobilku mana berani aku taruh di dalam garasi? Garasinya hanya untuk mobil dan dua sepeda motor milik Mas Dani saja. Aku membuka pintu dan langsung masuk ke dalam. Rasanya lelah sekali seharian mengurus pekerjaan yang tidak pernah selesai.
“Vita!” panggil Mas Dani saat aku akan masuk ke kamar.
“Iya, kenapa, Mas?” tanyaku.
“Besok jam berapa berangkat?”
“Jam tujuh harus sampai di kantor, Mas. Kalau mas gak bisa antar, aku bisa naik taksi kok,” jawabku.
“Besok aku antar,” jawabnya.
“Mas kalau ada waktu jam tujuh malam ke rumah mama, ya? Aku lupa, papa bilang pengin makan malam bareng di rumahnya,” ucapku.
“Boleh, aku juga sudah dikabari papa kok,” jawabnya.
“Ya sudah, aku ngantuk. Mau tidur,” pamitku.
Mas Dani hanya mengangguk, lalu aku masuk ke dalam kamar, dan langsung membersihkan tubuhku, lalu istirahat. Aku sudah sangat lelah, lelah badan dan pikiranku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
guntur 1609
dengan bicara sprti tu makin nampak lah ke bobirokanmu dan kebodohanmu sbg seorang suami
2025-04-02
0