Nadira melihat buku tebal yang aku bawa ke sekolahan dan aku letakkan di meja kerjaku. Nadira membukanya, karena dia penasaran, baru kali ini aku membawa buku setebal itu dan buku itu adalah buku untuk mempelajari bisnis.
“Revita Adriana, CEO Barata Wijaya Company.” Nadira membacanya dengan lantang. “Hmm ... ternyata bukunya nyonya Danial, sepertinya ada yang sudah mulai tertarik dengan dunia bisnis nih?” ucap Nadira dengan raut wajah setengah mengejek.
“Aku belajar itu juga demi kamu, Nad,” jawabku.
“Demi aku? Aku gak ingin punya suami CEO atau apa, yang punya kedudukan tinggi di perusahaan. Aku ingin kamu yang seperti ini, Dan!” jawabnya dengan tegas.
“Kalau aku gak bisa mempelajari semua tentang perusahaan, sampai kapan pun aku tidak bisa cerai dengan Vita, Nad!” jawabku.
“Cerai? Ini kenapa ke cerai sih?” tanya Nadira.
“Aku tidak mau menggantung hubungan kita, Nad. Aku bilang akan aku usahakan, dan aku sudah bicara dengan Vita, dia bilang kalau ingin bercerai setidaknya aku bisa tahu soal perushaan, kalau dia pergi siapa yang akan menjalankan perusahaan papa? Mau papa lagi? Jelas papa tidak mau, papa sudah sangat mengandalkan Vita, Nad. Dia bilang aku harus mempelajari semua ini, dan belajar dengan papa,” jelasku.’
“Gak belajar dengan istrimu?” tanya Nadira.
“Ya dengan dia juga, toh dia yang pegang kendali. Tapi tetap saja harus didampingi papa juga. Kamu yang sabar ya, Nad?” ucapku menenangkan hatinya yang sepertinya belum bisa menerima kalau aku akan terjun ke dunia bisnis.
“Kalau Vita pergi, artinya kamu yang akan mengurus perusahaan, dan tidak akan mengajar lagi?” tanya Nadia.
“Iya, akan seperti itu. Mau bagaimana lagi, aku memang yang harus meneruskan titah papaku, Nad.”
“Aku kira kita masih satu profesi, Dan? Susah ya kalau harus menuruti orang tua? Apalagi kamu anak satu-satunya?” ucap Nadira. “Aku ke kelas dulu, Dan,” pamitnya.
Aku menganguk, aku tahu dia memang tidak ingin aku mengikuti jejak papaku, tapi kalau tidak begini, bagaimana bisa aku menikahinya? Tidak mungkin aku menikahinya diam-diam, sedangkan hanya Vita yang tahu aku masih berhubungan dengan Nadira? Kalau Vita tahu aku menikahinya diam-diam, dia pasti bilang dengan mama dan papa.
Aku membuka buku dari Vita, sebelum aku ke kelas. Membaca dan memahami isi buku tersebut. Sedikit pusing, tapi aku cukup mengerti, mungkin nanti kalau langsung praktik akan lebih rumit lagi, teori sih gampang, praktiknya yang sulit.
^^^
Siang ini aku pulang lebih awal, tidak tahu kenapa aku ingin pulang lebih awal. Biasanya aku mampir ke mana dulu dengan Nadira, tapi kali ini aku ingin langsung pulang dan mempelajari buku yang Vita berikan tadi pagi.
Sampai menjelang maghrib Vita belum juga pulang, mungkin dia masih sibuk dengan pekerjaannya. Biar saja, nanti aku tanya dia waktu dia sudah pulang. Banyak yang ingin aku tanyakan. Tapi, aku masih ragu karena bekerja di perusahaan tidak bisa paruh waktu dengan mengajar, sedangkan aku sudah menjadi PNS, masa iya aku mau pensiun dini karena aku ingin ikuti jejak papa? Ini demi Nadira, kalau aku tidak seperti ini, aku tidak bisa dengan Nadira.
Sudah lepas maghrib Vita belum juga sampai rumah, baru kali ini aku menunggu Vita pulang, biasanya aku tidak peduli mau dia pulang jam berapa pun? Aku bahkan tidak peduli dia pulang sampai tengah malam waktu itu. Sekarang aku benar-benar menunggu dia pulang. Biasanya kalau dia ada kepentingan apa juga ngabarin dulu, mau pulang jam berapa? Ini tidak sama sekali. Apa aku harus tanya dia sekarang lagi di mana dan pulang jam berapa? Ah masa aku chat duluan? Mana chatnya tanya dia lagi di mana dan mau pulang jam berapa lagi? Biasanya aku chat duluan karena aku mau mengabari dia, aku akan pergi dengan Nadira atau chat urusan papa dan mama.
Aku mengambil ponselku, aku cari kontak dia, dan aku mengetik pesan untuknya. Tapi, aku hapus lagi, aku terlalu gengsi menanyakan dia akan pulang jam berapa. Aku ketik lagi, dan aku hapus lagi sampai lima kali, dan akhirnya aku tidak jadi mengirim pesan dengannya. Banyak sekali hal yang ingin aku tanyakan padanya, setelah aku seharian mempelajari buku yang dia kasih tadi pagi.
Aku menunggunya lagi sampai aku jenuh, sudah jam delapan dia belum pulang, entah di mana dia sekarang, sedang menemui klien atau sedang apa di sana. Apa aku tanya papa saja, ya? Ah tidak, masa aku tanya papa? Nanti papa malah kepo aku tanya-tanya Vita.
Aku beranikan diri untuk menelefon Vita untuk menanyakan dia di mana sekarang, sudah lebih dari jam delapan dia belum pulang juga, aku menunggunya dari siang, belum makan, dan terpaksa dua kali harus makan mie instant, dia belum juga menampakkan diri di rumah. Aku tidak peduli gengsiku untuk menanyakan dia di mana sekarang.
“Vita, kamu masih lama pulangnya?”
“Aku masih meeting, Mas. Maaf aku sampai malam mungkin, ada apa, Mas?”
“Oh masih lama? Ya sudah!” Aku jawab dia dengan sedikit jengkel.
“Kenapa mas tanya aku pulang masih lama atau tidak?”
“Aku mau tanya sama kamu, banyak sekali yang ingin aku tanyakan, Vit. Aku pulang lebih awal, aku kira kamu jam tiga sudah pulang? Ternyata sampai sekarang?”
“Sebentar lagi aku selesai, Mas. Maaf sudah lama menunggu, lagian mas tidak ngabarin dulu?”
“Kamu saja tidak bilang, mau pulang jam berapa?”
“Kan memang setiap hari gak bilang, Mas? Ya sudah, aku tidak enak dengan klien, Mas. Aku lanjut dulu, ya?”
“Kamu meeting di mana?”
“Di restoran dekat kantor sih. Mas tahu, kan? Hanya ada satu Restoran yang cukup besar di dekat kantor.”
“Iya aku tahu, enak kamu sudah makan, aku di rumah makan mie instant!” Aku semakin kesal dengan dia saat mendengar dia di restoran.
“Aku kira mas makan di luar dengan Nadira, kan biasanya mas makan malam dengannya? Apalagi ini malam jum’at. Kan biasanya malah sampai malam kamu pulang, Mas?”
Aku terdiam, iya memang biasanya aku makan malam dengan Nadira, dan kalau malam jumat aku memang sama Nadira sampai malam, aku tidak peduli ada istriku di rumah, aku tidak peduli kalau malam jum’at itu biasanya suami istri akan menikmati malam bersama, aku malam sampai malam pergi dengan Nadira.
“Hallo? Mas masih di situ?”
“Ah iya, Vit. Jadi kamu masih lama?”
“Ya begitu, Mas. Mungkin sampai jam sepuluh.”
Aku mengakhiri panggilanku dengan Vita. Aku sampai lupa ini malam jumat, padahal aku sudah janji mau mengaja Nadira jalan, tapi saking aku ingin tanya dengan Vita, aku langsung pulang begitu saja setelah selesai mengajar, karena saking ingin bertanya pada Vita.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments