Aku melihat Vita yang sedang sibuk merapikan baju-bajuku yang tadi pagi sudah aku berantaki. Aku memang tidak biasa menata lemari pakaianku, aku ini dibilang anak yang mandiri, yang berani menentukan masa depanku sendiri, tapi aku tidak bisa lepas dari Mbok Sum yang setia menjadi asistenku dari aku kecil hingga menjelang menikah. Sekarang tugas Mbok Sum mungkin lebih ringan di rumah mama, karena tidak ada aku yang selalu merecokinya, yang kalau setiap hari aku lebih sering memanggil Mbok Sum ketimbang mama.
Mbok Sum tahu segalanya tentang aku, bahkan soal perjodohan aku dengan Vita. Meski tahu, dan aku menentang keras, Mbok Sum tidak pernah mendukungku untuk berontak, malah Mbok Sum selalu menasihatiku, katanya pilihan orang tua lebih baik, dan beliau bilang, dengan aku menentang jalan hidupku untuk menjadi seorang pengajar pun itu sudah sangat menentang mama dan papa, jangan ditambahi sakit hati mama dan papa. Itu kata Mbok Sum.
Entah kenapa aku menurut saja dengan nasihat Mbok Sum, untuk tidak menentang perjodohanku dengan Vita. Kata Mbok Sum, Vita juga tidak kalah cantiknya dengan Nadira? Vita tidak kalah hebatnya dengan Nadira, bahkan kata Mbok Sum, Vita lebih dari segalanya dibanding Nadira? Aku hanya tersenyum saat Mbok Sum berkata seperti itu. Entah kenapa saat itu, aku justru penasaran dengan Vita, ingin membuktikan ucapan Mbok Sum kalau Vita lebih baik daripada Nadira.
Jelas Vita lebih hebat, karena Vita mampu membesarkan nama papa dan mama, mampu menjadi apa yang papa dan mama mau. Tapi, aku yakin Vita sangat terkekang. Jiwa bisnis dan pengusaha memang kental terlihat pada Vita, tapi ia mungkin terkekang karena sikap papa dan mama yang selalu meminta Vita menjadi apa yang mereka mau. Itu hanya perasaanku saja. Entah bagaimana Vita yang menjalani semua ini. Vita juga lebih dewasa dan lebih mandiri, meski dia anak bungsu. Jujur Nadira adalah perempuan yang manja, ia selalu mengandalkan aku, dan melibatkan aku dalam segala hal. Waktuku fokus ke Nadira, selama aku menjalin hubungan dengan Nadira. Hingga mama dan papa bilang, meski aku sangat mencintai Nadira, mama dan papa tidak bisa merubah keputusan yang sudah mama dan papa tetapkan, yaitu perjodohanku dengan Vita.
Duniaku seakan runtuh, saat aku harus meninggalkan wanita yang sangat aku cintai. Semuanya mimpiku dengan Nadira yang behasli kami ukir hancur berantakan, karena mama dan papa tidak bisa merubah keputusannya. Aku harus tetap menikah dengan Vita. Dan yang tak habis pikir, Mbok Sum juga ikut di jalur papa-mama, setuju dengan Vita, bahkan Mbok Sum semakin dekat dengan Vita, setelah aku dan Vita tunangan. Mbok Sum selalu cerita, kalau Vita adalah perempuan yang baik, perempuan yang hebat, sabar, dan bisa menjaga kehormatannya sebagai perempuan. Aku benar-benar kecewa, Mbok Sum saat itu malah berpihak pada mama dan papa. Aku sama sekali tidak ada yang membela saat aku dijodohkan dengan Vita, bahkan teman kuliahku, yang paling akrab, dan tahu hubunganku dengan Nadira saja, mendukung aku dengan Vita.
Aku sendiri saat itu, tidak ada orang yang berpihak padaku, semua mendukung aku menikah dengan Vita. Padahal aku sudah lama menjalin hubungan dengan Nadira. Aku tahu saat itu Nadira kecewa, marah, dan sakit hati. Tapi, dia pun menerima keadaan. Tidak mungkin aku menentang orang tuaku, Nadira paham siapa orang tuaku, dan dia pun paham siapa dirinya. Hanya perempuan biasa, dari keluarga biasa. Aku tidak masalah meski Nadira dari keluarga biasa, mungkin mama dan papa juga bisa menerima, apalagi mama dan papa tahu, Nadira itu temanku dari SMA, dia sering ke rumah, dengan teman-teman saat kerja kelompok. Mama dan papa tidak pernah membeda-bedakan temanku dari kalangan mana. Namun, dari sebelum aku mengenal Nadira, mama dan papa sudah mewanti-wanti aku supaya aku tidak pacaran, karena aku sudah dijodohkan dengan Vita.
Meski mama dan papa akhirnya tahu aku menjalin hubunga dengan Nadira, setelah aku memberanikan bernegoisasi dengan mama dan papa, karena aku menolak perjodohanku dengan Vita, mama dan papa tidak marah dengan Nadira. Mama dan papa masih baik, malah menasihati Nadira, karena perjodohan terjadi sejak aku dan Vita masih remaja. Mama dan papa menasihati Nadira, supaya bisa menerima kenyataan. Aku dan Nadira saat itu putus asa, mama dan papa tidak bisa menerima keinginan kami. Akhirnya Nadira mengikhlaskan semuanya. Selama lima bulan menjelang pernikahanku dengan Vita, Nadira berusaha menghindariku, bahkan dia memutuskan untuk tidak melanjutkan mengajar di sekolahan, karena ingin melupakanku. Aku membujuknya, karena tidak mungkin dia meninggalkan pekerjaanya, karena dia adalah salah satu guru teladan di sekolahan. Semua teman guru sama-sama menyemangati kami, karena memang itu sudah keputusan orang tuaku yang tidak bisa diganggu gugat.
Hubunganku dengan Nadira berlanjut, aku yang tidak bisa meninggalkan dia, aku yang masih ingin dengan dia, aku masih sangat mencintainya, dan Nadira pun begitu. Kami sama-sama tahu kalau apa yang dijalani kami adalah sebuah kesalahan besar. Kami sadar itu, dan kadang Nadira ingin menyudahi, aku pun begitu, kadang aku menyuruh dia menikah, aku juga sering menjodoh-jodohkan dia dengan teman satu profesi, tapi Nadira bilang untuk apa menikah tanpa cinta? Memang kamu? Aku hanya diam kalau Nadira sudah berkata seperti itu.
Delapan bulan aku menjalani pernikahanku dengan Vita, tapi aku belum tahu bagaimana Vita, aku hanya tahu dia itu perempuan yang hebat, yang mampu memendam rasa sakitnya sendiri, dan menutup kesedihannya di depan banyak orang, ia mampu terlihat baik-baik saja di depan semua orang, ia tidak pernah terlihat murung jika di luar rumah, bahkan di rumah pun dia jarang murung meratapi nasibnya. Dia terlihat begitu tegar dengan gempuran sikap dingin dan kasarku, hanya sesekali aku melihat dia lemah di depanku, menangis di depanku. Saat malam itu, saat malam pertama aku mengucapkan aku tidak mencintainya, dan aku menikahinya karena mama. Semua ini aku lakukan demi mama, demi papa, dan demi perusahan juga mimpi mereka.
Dia juga terlihat baik-baik saja saat tadi siang bertemu aku dan Nadira. Meski aku tahu hatinya bergejolak, pendar matanya menyiratkan kesedihan yang mendalam, tapi dia bisa menyembunyikan semua itu. Dia masih bisa bicara dengan baik, dengan lugas, lembut, dan mengulas senyum yang tulus, meski terpaksa.
Vita menutup lemari pakaianku. Ia menghadap ke arahku, dengan bersedekap. Aku menaruh bukuku, dan memandanginya.
“Sudah selesai, jangan berantakin lagi, bisa tidak ambil pakaiannya hati-hati? Kalau mau ambil yang bawah, yang atas angkat dulu, taruh di kasur, lalu ambil pakaian yang mau diambil,” tutur Vita.
“Iya, terima kasih,” jawabku.
“Hmm ....” Vita langsung berlalu pergi dari kamarku.
Aku memandangi Vita yang keluar, sampai Vita tidak terlihat. Aku masih tercenung melihat pintu kamarku yang masih terbuka. Entah ada apa dengan diriku, aku makin merasa bersalah dengan Vita, apalagi saat mengingat kejadian tadi siang di tempat makan, aku merasa bersalah. Aku ini seorang suami, tapi dengan tidak merasa berdosa, aku memperlakukan perempuan yang bukan istriku dengan romantis di depan istriku. Bahkan aku memanggil sayang ke Nadira, di depan Vita.
Aku menutup pintu kamarku, aku menguncinya. Aku mengambil ponselku, lalu membuka pesan dari Nadira, dan membalasnnya. Aku melanjutkan berkomunikasi dengan Nadira lewat video call, dan seperti ini setiap malam, saat menjelang tidur, kami video call bahkan sampai ketiduran.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
Ririn Nursisminingsih
dasar kmu laki2 bodoh ada bidadari yg sempurna ndak bersyukur daniel2
2024-12-04
0
Gustiara Gusty
lom update
2023-03-09
1
sabar banget Vita 😭😭😭
2023-03-08
0