Dia Cantik

Sebegitu menghargainya dia padaku. Aku tahu dia baru saja berbicara dengan siapa lewat telefon. Vita bilang itu kliennya. Tapi, aku yakin orang yang baru saja berbicara dengan dirinya lewat telefon, bukan hanya sekadar klien saja, melainkan orang spesial bagi Vita. Jelas sekali terlihat raut wajah Vita yang menampakkan dirinya bersedih, apalagi sampai air matanya jatuh setelah menelefon, dan aku dengar Vita menyebut namanya.

Arif.

Aku mendengar Vita menyebut nama Arif saat bicara tadi. Mungkin Arif itu kekasihnya dulu. Ada ucapan Vita yang membuat aku merasa sangat dihargai Vita, ketika Vita berkata sedikit menggunakan nada tinggi,  Vita membawa diriku di dalam percakapannya. Vita benar-benar perempuan yang bisa menjaga marwahnya sebagai seorang istri. Aku tahu Arif itu mungkin mantan kekasihnya, atau malah cintanya belum selesai karena terhalang perjodohan, tapi Vita dengan tegas bicara padanya seperti dirinya tidak mau diganggu oleh pria, karena sudah bersuami,

Baru kali ini juga aku melihat Vita menangis karena seseorang. Aku yakin, orang yang menyebabkan Vita menangia, adalah orang di masa lalunya. Mungkin orang spesialnya, bisa jadi kekasih Vita dulu. Biasanya aku melihat Vita menangis karena aku, sekarang dia menangisi seseorang yang kelihatannya orang itu adalah orang yang sangat spesial.

Dia bilang kliennya, tapi memang aku dengar sepintas dia bicara soal kantor, apa orang itu juga sekaligu klien Vita? Berarti bisa jadi bertemu setiap Hari? Biar saja, kalau memang dia adalah klien Vita, toh Vita sepertinya bisa menjaga jarak dengannya. Tapi, itu kan bukan urusan saya? Mau dia dekat atau tidak dengan orang itu?

Vita sudah masuk ke kamarnya, dia mungkin sudah tidur. Padahal aku ingin sekali mengajak dia bicara soal tadi siang. Tidak pernah terlintas sedikit pun di kepalaku soal menikahi Nadira. Bahkan selama ini aku terus mencoba menerima kenyataan bahwa aku adalah seorang suami. Aku sudah memiliki istri, tapi hatiku tidak bisa bohong, hanya Nadira yang aku cinta. Sekuat apa pun keinginanku untuk belajar mencintai Vita, nama Nadira terus muncul di pikiranku, saat aku ingin mendekati Vita, ingin lebih tahu dekat tentang Vita. Vita pun sepertinya selalu menghindariku, kalau aku ingin mengajaknya bicara. Padahal aku selalu curi-curi waktu supaya aku bisa dekat dan bicara dengannya, entah itu hanya obrolan biasa yang jadinya akan membuat aku dan Vita semakin akrab, atau obrolan dari hati ke hati, meluruskan masalah rumah tangga yang sudah kami bangun hampir satu tahun, tapi masih belum jelas ke mana arah bahtera rumah tanggaku ini.

Tadi sebetulnya, setelah membahas soal Nadira, aku ingin ngobrol dengan Vita, aku ingin tahu bagaimana Vita, bagaimana seorang Vita yang sangat dikagumi oleh kedua orang tuaku, aku ingin tahu kenapa Vita bisa dipercaya penuh oleh kedua orang tuaku. Dia orang lain, hanya sebatas menantu, bukan anak kandungnya, bukan saudara, tapi kenapa papa dan mama percaya pada Vita kalau Vita bisa menghandle perusahaan mama dan papa? Padahal saat itu Vita masih SMA, tapi papa dan mama sudah percaya kalau Vita mampu. Sebegitu besarnya kepercayaan orang tuaku pada Vita, hingga mereka pun percaya kalau Vita bisa menjadi istri yang baik untukku. Namun, saat aku menyebut Nadira, dia langsung pamit ke kamar.  Mungkin besok-besok lagi dia mau diajak ngobrol lama denganku.

^^^

Vita sudah terlihat menata sarapan di meja makan. Ia sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Tubuhnya terlihat ramping dengan mengenakan pakaian yang sedikit ketat. Aku lihat stelan bajunya seperti baru, atau mungkin aku baru melihatnya, kagetnya lagi kaki jenjang dia terekspose, Vita memakai rok selutut, melebihi lutut tepatnya. Selama kita bersama, dia tidak pernah memakai pakaian kerja dengan bawahan rok. Tapi sekarang, dia sangat berbeda sekali. Memakai rok. Tapi bagus sih, karena tubuh dia ramping, seperti aktris korea. Badannya putih bersih, dan betis kakinya mirip model korea, rambutnya ia biarkan tergerai. Dia memang tidak suka menguncir rambutnya saat ke kantor. Ya dia cantik, dia sempurna menjadi perempuan, tapi itu mungkin di mata laki-laki lain.

Aku masih memandanginya yang sedang menata sarapan, setelah semua tertata rapi, dia menerima telefon dari seseorang. Aku dengar dia bicara dengan bahasa korea. Ya Tuhan, dia bisa lancar mengucapkannya, tidak salah papa menyerahkan semuanya pada Vita, memang dia orang yang tepat, dan patut dibanggakan kedua orang tuaku.

Vita kembali ke meja makan, ia menarik kursinya, dan aku mendekatinya.

“Pagi, Mas,” sapanya.

“Pagi, Vit. Aku kira mau menyapa aku dengan bahasa korea?”

Vita hanya tersenyum, “Aku gak bisa, Mas,” jawabnya.

“Kamu sukanya merendah gitu, Vit. Aku tadi dengar kok, kamu bisa lancar bicara pakai bahasa korea,” ucapku. “Korea apa Jepang tadi, ya?”

“Korea, hari ini ada pertemuan dengan rekan bisnis dari Korea,” ucapnya.

“Pantas saja kamu pakaiannya begitu, kekorea-koreaan, pasti langsung beli baru, ya? Karena untuk menemui tamu spesial?” ucapku.

“Gak gitu sih, sudah lama aku baru pakai ini baju, aku kira sudah tidak muat, ternyata masih pas, ya sudah pakai saja, cocok juga dengan kegiatan aku pagi ini,” jelas Vita.

“Pantas mama dan papa sangat bangga dengan kamu ya, Vit? Kamu memang hebat, bisa dibanggakan mama dan papa, juga kedua orang tuamu. Sedangkan aku? Aku tidak pernah dipandang oleh orang tuaku, aku hanya dipandang anak yang gagal,” ucapku.

“Jangan bicara seperti itu, Mas. Anak itu punya jalan sendiri-sendiri untuk menentukan masa depannya, begitu juga dengan kamu mas. Mau mas gak dianggap mama dan papa, harusnya mas bisa membuktikan kalau apa yang pilih itu yang terbaik untuk mas. Biar papa dan mama sadar, ternyata kamu bisa lebih baik dengan pilihanmu sendiri,” tutur Vita.

“Tetap saja papa dan mama tidak akan peduli, Vit.”

“Belum, Mas. Nanti suatu hari pasti mama dan papa akan tahu, dan akan bangga dengan kamu.”

“Ya itu kalau aku nuruti jejak papa terjun ke dunia bisnis?”

“Mas, dunia bisnis itu luas. Semua orang bisa kok berbisnis. Banyak orang yang menjadi guru, dokter, atau apa pun profesinya mereka sambil menjalankan bisnis, asal ada kemauan, di situ akan terbuka jalan, terbuka peluang usaha dan bisnis, dan akhirnya bisa menghasilkan, dan kita juga bisa menciptakan lapangan kerja untuk orang lain dengan bisnis kita, kan? Hidup itu perlu mencoba sesuatu yang baru, tidak hanya terpaku di situ, Mas.”

Aku hanya diam mendengar penuturan Vita. Tidak kusangka Vita akan berkata seperti itu. Iya benar juga apa yang Vita katakan, hidup memang jangan monoton seperti ini saja. Banyak sekali rekan guruku juga yang memiliki usaha, entah itu ikut usaha franchise, yang dikelola orang lain, ada juga yang sudah punya butik, punya apotek, punya toko bangunan, ada juga yang bisnis ayam potong, ayam petelur, burung puyuh, dan lain sebagainya. Aku memang memfokuskan satu saja, hanya mengajar dan mengajar.

“Sebetulnya, kalau mas mau, mas bisa kok buka tempat les, buka taman baca, supaya minat baca, dan minat belajar anak itu bertambah. Jadi ilmu yang mas dapatkan tidak sia-sia di salurkannya? Mas kan pintar jarimatika, kan?”

“Kamu tahu dari mana aku bisa itu, Vita?”

“Aku kemarin melihat mas mengajari Dito, apa mas lupa?”

“Memang kamu lihat aku mengajari keponakanmu?”

“Iya, kenapa mas gak gunakan waktu luang mas untuk buka les jarmatika? Kan jadi gak kebuang sia-sia waktu luang mas?”

Benar kata Vita, terlalu banyak sekali waktu luangku kebuang, hanya untuk meratapi nasibku yang dijodohkan, dan tidak bisa memiliki kekasih hatiku. Aku memang sudah memulai mendirikan sebuah sekolah khusus anak yang kurang mampu, sudah hampir berjalan semua itu, tapi lagi-lagi aku menyerah, karena aku harus izin ke sana-sini, ditambah setelah tahu aku akan menikah dengan Vita, duniaku seakan runtuh. Impian itu rasanya sulit untuk terwujud, karena itu adalah impianku dengan Nadira.

Terpopuler

Comments

Selvianah Bilqis

Selvianah Bilqis

dri kemaren kemane aje bang,baru kepikiran😎

2023-05-19

2

lihat semua
Episodes
1 Drama Queen
2 Dia Rembulan Yang Indah
3 Bagai Punguk Merindukan Bulan
4 Rusuk Rusak
5 Apa Aku Selingkuh Saja?
6 Aku Istrinya, Mbak
7 Aku Harus Dimadu Maksudnya?
8 Istri Yang Sempurna
9 Perempuan Yang Hebat
10 Bukan Pilihan Hatimu
11 Dia Cantik
12 Aku Dan Kamu, Sulit Untuk Menjadi Kita
13 Cerai Maksudnya?
14 Dia Perempuan Seperti Apa?
15 Melawan Gengsi
16 Makan Malam Berdua
17 Siti Nurbaya Modern
18 Barter Bantuan
19 Semua Tegantung Niat
20 Calon Guru Baru
21 Ada Yang Camburu
22 Lagi Ada Maunya
23 Kamu Tampan
24 Harap Tenang, Sedang Ada Ujian
25 Terjatuh Dua Kali
26 Perempuan Yang Hatinya Sulit Ditebak
27 Memberantas Benalu
28 Permintaan Nadira
29 Dia Begitu Cantik Dan Sederhana
30 Dia Selalu Bisa Menjaga Diri
31 Jangan Menambahkan Beban Di Hatiku
32 Pagi Yang Membuat Mood Berantakan
33 Perang Dingin
34 Dia Milik Wanita Lain
35 Aku Siap Berpisah
36 Makan Siang Berdua
37 Hati Ini Bukan Mainan
38 Kado Istimewa Dari Suami
39 Pagi Yang Berbeda
40 Bulan Madu
41 Kenangan Terindah
42 Aku Akan Belajar Mencintaimu
43 Kandas
44 Aku Harus Bagaimana, Vit?
45 Merebut Hati Suamiku
46 Calon Mantan
47 Menjenguk
48 Dilema
49 Selamat Tinggal
50 Restui Mereka
51 Merasakan Beban Yang Vita Emban Selama Ini
52 Menemui Nadira
53 Ancaman Papa dan Mama
54 Bukan Daerah Kekuasaanku
55 Apa Tidak Bisa Kita Perbaiki?
56 Sidang Pertama
57 Seperti Diratukan
58 Istri Idaman
59 Bertemu Mantan
60 Pagi Bahagia
61 Semakin Over Protektif
62 Asal Kamu Bahagia
63 Akhir Bahagia
Episodes

Updated 63 Episodes

1
Drama Queen
2
Dia Rembulan Yang Indah
3
Bagai Punguk Merindukan Bulan
4
Rusuk Rusak
5
Apa Aku Selingkuh Saja?
6
Aku Istrinya, Mbak
7
Aku Harus Dimadu Maksudnya?
8
Istri Yang Sempurna
9
Perempuan Yang Hebat
10
Bukan Pilihan Hatimu
11
Dia Cantik
12
Aku Dan Kamu, Sulit Untuk Menjadi Kita
13
Cerai Maksudnya?
14
Dia Perempuan Seperti Apa?
15
Melawan Gengsi
16
Makan Malam Berdua
17
Siti Nurbaya Modern
18
Barter Bantuan
19
Semua Tegantung Niat
20
Calon Guru Baru
21
Ada Yang Camburu
22
Lagi Ada Maunya
23
Kamu Tampan
24
Harap Tenang, Sedang Ada Ujian
25
Terjatuh Dua Kali
26
Perempuan Yang Hatinya Sulit Ditebak
27
Memberantas Benalu
28
Permintaan Nadira
29
Dia Begitu Cantik Dan Sederhana
30
Dia Selalu Bisa Menjaga Diri
31
Jangan Menambahkan Beban Di Hatiku
32
Pagi Yang Membuat Mood Berantakan
33
Perang Dingin
34
Dia Milik Wanita Lain
35
Aku Siap Berpisah
36
Makan Siang Berdua
37
Hati Ini Bukan Mainan
38
Kado Istimewa Dari Suami
39
Pagi Yang Berbeda
40
Bulan Madu
41
Kenangan Terindah
42
Aku Akan Belajar Mencintaimu
43
Kandas
44
Aku Harus Bagaimana, Vit?
45
Merebut Hati Suamiku
46
Calon Mantan
47
Menjenguk
48
Dilema
49
Selamat Tinggal
50
Restui Mereka
51
Merasakan Beban Yang Vita Emban Selama Ini
52
Menemui Nadira
53
Ancaman Papa dan Mama
54
Bukan Daerah Kekuasaanku
55
Apa Tidak Bisa Kita Perbaiki?
56
Sidang Pertama
57
Seperti Diratukan
58
Istri Idaman
59
Bertemu Mantan
60
Pagi Bahagia
61
Semakin Over Protektif
62
Asal Kamu Bahagia
63
Akhir Bahagia

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!