Bukan Pilihan Hatimu

Aku belum bisa percaya, sedalam itu hubungan Mas Dani dengan Nadira, bahkan mereka sudah merencanakan ingin menikah sirri? Oh tidak bisa aku bayangkan jika mama dan papa tahu. Tapi, biar saja kalau mereka tahu. Kalau memang aku ditakdirkan menjadi pendamping Mas Dani sampai nanti aku dan Mas Dani menua, aku yakin Mas Dani bisa melepaskan Nadira. Mungkin saat ini Mas Dani masih belum bisa mencintaiku, tapi suatu hari nanti aku yakin Mas Dani akan meratukanku. Tidak ada sesuatu yang langsung bahagia bak negeri dongeng, Cinderella pun mengalami beberapa cobaan sebelum bertemu dengan pangerannya.

Malam ini, aku benar-benar tidak bisa tidur karena memikirkan ucapan dari salah satu temannya Mas Dani yang membahas soal Nikah siri. Sungguh miris sekali melhat mereka, aku yakin orang yang menjalani seperti itu hanya untuk kepuasan sesaat. Ibarat kata dia hanya menumpang untuk membuang hajat saja, setelah itu di rumah ia memiliki tempat untuk menyalurkan hasratnya lagi. Gila memang dunia ini. Semua orang yang harusnya menjadi panutan, tapi malah menyimpang, sungguh ironi sekali melihatnya.

Mas Dani seorang guru, dan katanya Mas Dani adalah guru teladan, pun dengan Nadira, tapi mereka benar-benar sudah melampaui batas perbuatannya. Apa  mungkin Mas Dani dan Nadira sudah pernah melakukannya? Vita ... jangan berpikiran macam-macam, Dani memang mencintai Nadira, tapi yakinlah dia tidak akan seperti itu. Mas Dani dan Nadira  memang saling mencintai, tapi aku yakin, mereka tahu batasannya soal pacaran.

Aku ke dapur, ingin mengambil minum, dan mengambil kue soes kering cokelat di lemari dapur yang aku simpan kemarin. Aku benar-benar tidak bisa tidur, daripada hanya melamun di kamar, pikirannya juga tidak tenang, aku ke dapur saja, membuat cokelat panas, dan nyemil soes kering.

Ponselku berdering, aku melihat nama Arif di layar ponselku. Aku bingung, dijawab atau tidak telefon darinya. Aku ini sudah bersuami, apa pantas jam sepuluh malam menerima panggilan dari laki-laki lain? Kalau dia menelefonku urusan pekerjaan, besok juga bisa, kan? Aku silent panggilannya, tapi Arif tidak mau menyerah, tiga kali dia masih menelefonku. Aku terpaksa menjawab telefon darinya.

“Iya, Rif, ada apa?”

“Maaf mengganggu istirahatmu,  Vit.”

“Ada apa, Rif? Apa ada masalah kantor? Kalau ada tolong bicarakan nanti besok di kantor, Rif.”

“Vit, apa kamu bahagia?”

Aku terdiam, saat Arif bertanya seperti itu. Bisa-bisanya dia bertanya hal di luar dari urusan kantor?

“Hallo, Vit? Masih di situ kah?” tanya Arif yang membuat aku gugup menjawabnya.

“Ah ... iya ma—masih? Ta—tadi kamu tanya apa, Rif?” tanyaku.

“Kamu bahagai, Vit?”

Aku menarik napasku dengan berat, aku embuskan perlahan, aku yakin Arif bertanya seperti ini karena dia melihat mataku sembab, saat tadi menemani dia observasi di perusahaan.

“Kamu ini tanya apa, Rif? Jelas aku bahagia lah, masa tidak?”

“Enggak Vit, aku gak percaya. Kamu boleh menyembunyikan semua sedihmu di hadapan orang  lain, tapi tidak di hadapanku. Aku yakin kamu menderita karena pernikahanmu, Vit. Pernikahanmu itu tidak sehat, Vit.”

“Dengarkan baik-baik Pak Arif yang terhormat. Atas dasar apa anda menilai pernikahan saya tidak baik-baik saja? Atas dasar apa, hah? Mau saya bahagia atau tidak, itu urusan saya!”

“Karena aku tidak mau disakiti suami kamu yang tidak mencintaimu, Vit!”

“Tahu apa anda soal suamiku? Mau dia mencintai saya atau tidak bukan urusan anda! Harusnya saya tidak mengangkat telefon anda. Saya kira akan membahas pekerjaan, Harusnya anda sadar, anda menelefon istri orang! Selamat malam!”

Aku geram dengan Arif yang sok jadi perhatian. Seharusnya aku tidak memberikan nomor telefon pribadiku ke sembarang orang, meski Arif adalah rekan kerjaku, harusnya aku berikan saja nomor telefon kantor.

Aku memijit kepalaku, ada-ada saja masalahnya, padahal aku sudah bilang dengan Arif, tolong kesampingkan masalah pribadi.

Sejenak aku teringa kenangan saat bersama Arif dulu. Dia adalah sosok yang sangat mengerti aku, sosok yang meneduhkan hatiku, aku pernah mencintainya, tapi itu dulu. Dulu ... sekali. Tapi aku sadar, aku sudah dijodohkan dengan Mas Dani, aku tidak bisa berkutik, aku tidak bisa menentang ibu dan ayahku. Perjodohanku sudah terjadi sejak kami remaja, dan tidak bisa diganggu gugat. Tidak terasa air mataku menetes dari sudut mata. Aku semakin terisak, mengingat semuanya dengan Arif. Dia yang begitu tulus mencintai dan menyayangiku, tapi apalah daya, kami tidak bisa bersama karena aku sudah terlanjur dijodohkan dengan Mas Danial.

“Vita, belum tidur?”

Suara bariton Mas Dani mengagetkanku, aku cepat-cepat menghapus air mataku, “belum, Mas. Mas kok di sini? Sejak kapan?” Aku sama sekali tidak berani menoleh ke arah Mas Dani.

“Baru saja. Kenapa belum tidur, sudah malam malah ngemil?”

“Baru selesaiin pekerjaan kantor, jadi ya gini lapar, ngemil dulu, mau makan sudah jam segini gak baik makan nasi,” jawabku sambil sesekali menyaka sisa air mata yang menetes di pipi.

“Sepertinya tadi kamu sedang menelefon seseorang?” tanya Mas Dani.

“Ehm ... i—itu, itu klienku,” jawabku gugup.

“Oh begitu?”

“I—iya, Mas. Mas mau apa? Mau bikin kopi?” tanyaku menawari kopi.

“Gak, jam segini ngopi nanti yang ada gak bisa tidur, Vit. Ini mau ambil air putih saja,” jawab Mas Dani. “Bagi soes keringnya ya, Vit?” pintanya.

“Oh iya, ini silakan ambil, Mas.” Aku menyodorkan toples yang berisi kue soes kering cokelat. Aku masih menunduk, tidak berani menatap Mas Dani, karena mataku sembab.

“Vit?”

“Ya, gimana?”

“Kamu nangis?”

“Enggak, aku capek saja, Mas. Sudah aku mau ke kamar.”

Aku langsung beranjak dari tempat dudukku. Aku tidak mau terlalu lama mengobrol dengan Mas Dani, apalagi soal perasaan.

“Vita tunggu!”

Kakiku terhenti saat akan melangkah keluar dari dapur. “Gimana, Mas?”

“Jangan pikirkan ucapan temanku tadi siang, Vit. Jujur aku tidak ada naiatan menikahi Nadira secara agama. Aku memang mencintainya, tapi sampai kapan pun tidak akan bisa besama dia.”

“Masalah itu lupakan saja, Mas. Sudah aku lelah.” Jawabku singkat. Aku tidak mau membahas Nadira lagi. Hatiku sudah lelah, nyaris menyerah saat aku sama sekali tidak bisa membuat kamu jatuh cinta padaku.

Kita sama-sama punya masa lalu, Mas. Aku pun pernah mencintai laki-laki lain di luar sana, meski aku tahu, aku ini adalah calon istrimu, aku adalah perempuan pilihan mamamu untuk megabdi padamu. Tapi rasanya aku menyerah saat aku mengingat nama Nadira. Aku menyerah, karena dia adalah wanita yang kamu cintai, sedangkan aku? Aku ini siapa? Aku hanyalah perempuan pilihan orang tuamu. Bukan pilihan hatimu.

Terpopuler

Comments

Zahraa

Zahraa

Tega banget nih Dani.. tunggu Karma makan tuh

2023-03-10

3

lihat semua
Episodes
1 Drama Queen
2 Dia Rembulan Yang Indah
3 Bagai Punguk Merindukan Bulan
4 Rusuk Rusak
5 Apa Aku Selingkuh Saja?
6 Aku Istrinya, Mbak
7 Aku Harus Dimadu Maksudnya?
8 Istri Yang Sempurna
9 Perempuan Yang Hebat
10 Bukan Pilihan Hatimu
11 Dia Cantik
12 Aku Dan Kamu, Sulit Untuk Menjadi Kita
13 Cerai Maksudnya?
14 Dia Perempuan Seperti Apa?
15 Melawan Gengsi
16 Makan Malam Berdua
17 Siti Nurbaya Modern
18 Barter Bantuan
19 Semua Tegantung Niat
20 Calon Guru Baru
21 Ada Yang Camburu
22 Lagi Ada Maunya
23 Kamu Tampan
24 Harap Tenang, Sedang Ada Ujian
25 Terjatuh Dua Kali
26 Perempuan Yang Hatinya Sulit Ditebak
27 Memberantas Benalu
28 Permintaan Nadira
29 Dia Begitu Cantik Dan Sederhana
30 Dia Selalu Bisa Menjaga Diri
31 Jangan Menambahkan Beban Di Hatiku
32 Pagi Yang Membuat Mood Berantakan
33 Perang Dingin
34 Dia Milik Wanita Lain
35 Aku Siap Berpisah
36 Makan Siang Berdua
37 Hati Ini Bukan Mainan
38 Kado Istimewa Dari Suami
39 Pagi Yang Berbeda
40 Bulan Madu
41 Kenangan Terindah
42 Aku Akan Belajar Mencintaimu
43 Kandas
44 Aku Harus Bagaimana, Vit?
45 Merebut Hati Suamiku
46 Calon Mantan
47 Menjenguk
48 Dilema
49 Selamat Tinggal
50 Restui Mereka
51 Merasakan Beban Yang Vita Emban Selama Ini
52 Menemui Nadira
53 Ancaman Papa dan Mama
54 Bukan Daerah Kekuasaanku
55 Apa Tidak Bisa Kita Perbaiki?
56 Sidang Pertama
57 Seperti Diratukan
58 Istri Idaman
59 Bertemu Mantan
60 Pagi Bahagia
61 Semakin Over Protektif
62 Asal Kamu Bahagia
63 Akhir Bahagia
Episodes

Updated 63 Episodes

1
Drama Queen
2
Dia Rembulan Yang Indah
3
Bagai Punguk Merindukan Bulan
4
Rusuk Rusak
5
Apa Aku Selingkuh Saja?
6
Aku Istrinya, Mbak
7
Aku Harus Dimadu Maksudnya?
8
Istri Yang Sempurna
9
Perempuan Yang Hebat
10
Bukan Pilihan Hatimu
11
Dia Cantik
12
Aku Dan Kamu, Sulit Untuk Menjadi Kita
13
Cerai Maksudnya?
14
Dia Perempuan Seperti Apa?
15
Melawan Gengsi
16
Makan Malam Berdua
17
Siti Nurbaya Modern
18
Barter Bantuan
19
Semua Tegantung Niat
20
Calon Guru Baru
21
Ada Yang Camburu
22
Lagi Ada Maunya
23
Kamu Tampan
24
Harap Tenang, Sedang Ada Ujian
25
Terjatuh Dua Kali
26
Perempuan Yang Hatinya Sulit Ditebak
27
Memberantas Benalu
28
Permintaan Nadira
29
Dia Begitu Cantik Dan Sederhana
30
Dia Selalu Bisa Menjaga Diri
31
Jangan Menambahkan Beban Di Hatiku
32
Pagi Yang Membuat Mood Berantakan
33
Perang Dingin
34
Dia Milik Wanita Lain
35
Aku Siap Berpisah
36
Makan Siang Berdua
37
Hati Ini Bukan Mainan
38
Kado Istimewa Dari Suami
39
Pagi Yang Berbeda
40
Bulan Madu
41
Kenangan Terindah
42
Aku Akan Belajar Mencintaimu
43
Kandas
44
Aku Harus Bagaimana, Vit?
45
Merebut Hati Suamiku
46
Calon Mantan
47
Menjenguk
48
Dilema
49
Selamat Tinggal
50
Restui Mereka
51
Merasakan Beban Yang Vita Emban Selama Ini
52
Menemui Nadira
53
Ancaman Papa dan Mama
54
Bukan Daerah Kekuasaanku
55
Apa Tidak Bisa Kita Perbaiki?
56
Sidang Pertama
57
Seperti Diratukan
58
Istri Idaman
59
Bertemu Mantan
60
Pagi Bahagia
61
Semakin Over Protektif
62
Asal Kamu Bahagia
63
Akhir Bahagia

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!