“Kamu tumben pakai baju seperti itu lagi, Vit? Apa ada tamu dari Korea lagi?” tanya Mas Danial saat Vita menata sarapan pagi.
“Enggak, pengin suasana baru saja,” jawabku. “Kenapa memang?” tanyaku
“Ya gak apa-apa, tapi apa gak ada baju yang sedikit agak longgar dan tidak terlalu mengekspose betismu?”
“Aku sudah pakai sesuai aturan kantor, Mas. Meski ada yang pakai di atas lutut roknya, yang penting aku nyaman,” jawabku sambil menarik kursi, lalu aku duduk dan menyantap sandwich buah yang aku buat tadi.
“Tumben tidak sarapan nasi, Vit?”
“Lagi pengin saja, kali aja mas mau itu masih ada satu potong,” jawabku.
Orang di sebelahku sekarang tambah kepo! Sekarang aku sudah bebas melakukan apa pun semauku, toh dia juga bebas mengapresiasikan kemauannya? Dia secara tidak langsung meminta cerai denganku, karena ingin menikahi Nadira. Iya memang benar kata Mas Dani, sebelum semuanya terlanjur, sebelum aku disentuhnya, lebih baik memang berpisah. Kalau memang maunya dia aku bisa apa?
Sekarang urusanku dengan dia hanya sebatas mengajari dia saja soal perusahaan. Rasanya sulit mengajari yang bukan bidangnya, tapi aku yakin dia pasti bisa, karena dia pandai, cerdas, aku yakin dia bisa mengikuti apa yang aku ajarkan. Ini semua demi papa, supaya papa percaya anak semata wayangnya bisa membuat papa bangga. Memang dari dulu yang aku lakukan demi papa, mama, dan perusahaan, kapan untuk diriku sendiri? Mungkin inilah saatnya aku jadi diriku sendiri, aku ingin bebas seperti dulu tanpa beban, aku akan mengajari Mas Dani, dia harus bisa, supaya mama dan papa bisa melepaskan aku.
“Kamu mau mulai belajar soal perusahaan kapan, Mas?” tanyaku.
“Kalau besok atau lusa bagaimana?” jawabnya.
“Oke, aku bilang dulu sama papa, kalau mas mau belajar jadi seorang pengusaha,” ucapku dengan menyunggingkan senyum.
“Kok papa pakai acara tahu segala? Kan perusahaan sekarang dipegang kamu?”
“Itu milik papamu, bukan milikku!” tukasku.
Aku menggeser tombol hijau di ponselku. Ada panggilan masuk dari Firda. “Ya Fir, bagaimana?”
“Ini kamu di mana? Kamu bisa ke sini, kan?”
“Bisa, ini lagi sarapan. Aku ke kantor papa siangan kok, Pak Sandi jadi kan ke kantor?”
“Jadi, makanya kamu ke sini, beliau lagi on the way, masa iya kamu gak ada, Vit? Oh iya Vit, maaf aku ngasih proposal itu sama Arif juga.”
“Kenapa kamu kasih ke Arif juga? Untuk apa dia minta, dan kapan kamu ketmu dia? Apa kamu bilang soal perusahaan kita, Fir?”
“Ya dia maksa mau kerja sama, kita kan juga butuh beberapa untuk mengembangkan bisnis kita, Vita? Aku kemarin ketemu setelah ketemu Pak Sandi, Vit”
“Tapi gak usah melibatkan Arif, dong? Kita bahas nanti, satu jam lagi aku sampai kantor!”
Aku menyudahi pembicaraanku dengan Firda. Bisa-bisanya dia memberikan proposal untuk kerja sama pada Arif? Aku dari kemarin saja menghindari Arif, kecuali kalau Arif datang dengan papa, baru aku tidak bisa berkutik, aku harus bisa sopan dengan dia.
“Arif, aku sepertinya pernah dengar nama itu? Oh iya, orang yang pernah buat kamu nangis itu, ya?”
“Gak usah sok tahu, Mas!” tukasku.
“Pantas saja pakai baju yang seksi?”
“Mas bilang apa? Seksi di bagian mananya coba? Tidak semua pakaian mencerminkan kepribadian seseorang, Mas! Banyak orang berhijab tapi hatinya busuk! Banyak! Ya orang itu baik, karena sudah bisa mengamalkan kewajiban seorang muslim, menutup auratnya, tapi untuk apa menutup aurat tapi pacaran? Dah gitu pacarannya dengan suami orang!”
Aku tidak peduli Mas Dani mau marah denganku atau bagaimana aku berkata sedikit kasar begitu. Aku lelah baik di depan dia. Sudah menipis rasa sabarku, apalagi setelah Mas Dani berani bilang ingin mengakhiri pernikahan ini. Sungguh diluar dugaanku. Aku kira Mas Dani akan berubah, dan akan belajar menerima pernikahan ini, lalu perlahan bisa mencintaiku. Tapi nyatanya? Dia malah ingin mengakhiri pernikahan ini?
“Kamu nyindir Nadira?”
“Menurut, Mas?!” jawabku langsung meninggalkan Mas Danial.
Aku ke dalam kamar mengambil tas dan bebera berkas untuk dibawa ke kantorku yang aku dirikan dengan Firda. Memang kemarin ada sedikit kendala, ditambah Arif. Kenapa mesti Arif lagi?
Mas Dani masih terlihat duduk di depan meja makan. Aku mendekatinya, sekalian aku pamit berangkat bekerja.
“Aku berangkat, Mas,” pamitku.
“Hmmm ....” jawabnya hanya bergumam.
“Ini, pelajari!” Aku menaruh buku tentang perusahaan papa yang aku cetak sendiri. Aku memberikan pada Mas Dani untuk dipelajarinya. “Semua materi yang akan aku ajarkan besok atau lusa ada di sini!”
“Ini gak salah setebal ini bukunya?” tanya Mas Dani dengan wajah yang tidak percaya aku menaruh dua buku yang begitu tebal.
“Iya, kenapa? Sudah biasa baca buku, kan? Kali ini beda, bukan novel atau kumpulan puisi yang melow dan menye yang harus kamu baca!” jawabku. “Pelajarilah, kalau masih mau melanjutkan keinginanmu! Aku yakin kamu bisa, kamu itu pintar, cerdas! Jadi barang yang terlihat gini pasti bisalah kamu pelajari?”
Aku langsung meninggalkan Mas Dani. Urusanku hari ini padat, tidak mau lagi berdebat dengan Mas Dani soal pakaianku. Aku memang suka memakai dress saat ke kantor. Sebelum aku menjadi istri Mas Dani juga aku sering pakai dress ke kantor. Yang penting sopan, dan tidak mengundang nafsu. Mas Dani sudah berani protes soal pakaianku, dan aku yakin, sebentar lagi Mas Dani akan meninggalkan Nadira, karena dia sudah ditakdirkan untukku. Ya aku pede merasa begini, karena sejatinya seorang suami tidak mau melihat istrinya mengumbar bagian tubuhnya, meski itu hanya betis yang terlihat. Mas Dani protes soal pakaian kerjaku, artinya dia mulai peduli denganku.
^^^
P.O.V Danial
Vita semakin berani saja dia. Apa dia senang aku meminta pisah dengannya? Apa dia senang aku akan belajar soal perusahaan supaya dia bebas? Sebentar, tadi dia bilang kantor? Dan bicara dengan Firda, kan? Bukan Reni Personal Asistennya dia? Apa dia punya perusahaan lagi selain dia kerja sama papa?
Ah masa iya sih? Tapi bisa jadi, Vita kan memang pengusaha muda? Bisnis women yang sedang melejit kariernya. Di setiap surat kabar selalu ada beritanya dibagian bisnis. Dia kadang jadi bahan pembicaraan oleh teman guru di sekolahan, semua temanku memujinya, dan bilang aku beruntung menikah dengan dia. Kata temanku juga ada yang ikut kerja sama dengan Vita? Dia ikut buka franchise, yang pemiliknya adalah Vita. Kata temanku Vita sudah memiliki ratusan gerai minuman cokelat kekinian, dan gerai baso aci kriuk. Entah benar atau tidak aku sendiri tidak tahu. Aku baru dekat dengan Vita saja karena aku ingin menikahi Nadira, dan aku ingin pisah dengan dia baik-baik. Ternyata syaratnya aku harus bisa menjadi penerus papa, kalau aku tidak bisa, dia pun tidak bisa melepaskan pernikahan ini.
Aku salah tidak menginginkan berpisah? Apa ini keputusanku sudah tepat? Tapi melihat Vita yang semakin hari makin berani angkat bicara, aku jadi penasara, sebenarnya Vita perempuan yang seperti apa?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
Dewi Oktavia
bingung kan
2024-09-20
0
Ririn Nursisminingsih
kereenn vits
2023-05-26
1