Rusuk Rusak

Kami sudah pulang ke rumah kami. Rumah yang cukup mewah meski minimalis, tapi rasanya begitu hampa, sama sekali tidak ada rasa, tidak ada warna, tawa, dan canda. Juga tidak ada gelora hasrat pengantin baru yang sedang anget-angetnya. Betah di rumah, menghabiskan waktu berdua di kamar, bermandi peluh gelora hasrat yang menggebu. Tidak itu bukan pernikahan kami. Pernikahan kami tidak ada rupa-rupa seperti itu, pernikahan kami hambar, jangankan ada hal semacam itu, bertatap wajah saja jarang, saling menyapa juga jarang, dan tidur pun kami berpisah.

Aku langsung masuk ke kamarku, kami kembali menempati kamar kami masing-masing, tapi saat di rumah mertuaku, atau di rumah orang tuaku, kami tidur satu kamar, namun tidak satu ranjang. Mas Dani memilih tidur di sofa, menekuri dunianya sendiri, bersama perempuan yang bernama Nadira, teman satu profesi dan satu sekolahan.

Kami pulang dari rumah mama pagi-pagi sekali, karena aku harus menemui beberapa relasi penting, dan sebelum itu ada meeting dengan karyawan di perusahaan cabang. Semua mama dan papa serahkan kepadaku. Mas Danial pun pagi ini harus  berangkat pagi. Ya memang guru berangkatnya pagi, bukan karena itu juga, kami cepat-cepat pulang dari rumah mama karena Mas Danial yang meminta untuk cepat pulang.

Aku langsung bersiap untuk ke kantor. Aku memang suka pakaian yang simple, hanya memakai dress lengan pendek selutut, dipadu dengan blazer dengan warna yang cocok sesuai dress yang aku pakai. Aku menata rambutku, rambutku sudah biasa tergerai saat ke kantor, hanya dipercantik dengan jepit rambut favoritku.

“Vita...!”

Aku terjingkat mendengar Mas Dani, aku tahu pasti dia menyerah mencari pakaian dinasnya. Padahal semua sudah aku tata rapi, aku gantung rapi, dan aku urutkan dari hari senin sampai sabtu, benar-benar rapi. Tapi seperti itu, dia selalu tidak memerhatikan tatanan bajunya di lemari. Aku semua yang mengurusnya, dari mulai pakaian, dan lainnya, hanya saja tidak untuk urusan ranjang.

“Ada apa, Mas?” jawabku santai di depan pintu yang memang sudah Mas Dani buka.

“Bajuku di mana, Vita?” tanyanya dengan gusar. “Terus kaos kaki,” imbuhnya.

Aku menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan. Aku masuk ke dalam kamar Mas Dani dan mencarikan baju dinasnya. Kubuka lemari gantung, dan terlihat pakaiannya berjajar sangat rapi, dan sudah aku urutkan tatanannya dari hari senin sampai sabtu.

“Ini mas, senin, selasa, rabu, kamis, jumat, sabtu, sudah tertata rapi di sini. Bisa kan ambil sesuai harinya, benar kan pakaian ini sesuai harinya? Silakan ambil dengan rapi, aku sengaja menggantung, kalau tidak digantung ya seperti itu jadinya, seisi lemari kamu obrak-abrik.” Jelasku sambil menunjukkan tatanan bajunya yang rapi, tapi tanpa menatapnya. Aku mebuka laci tengah lemari, yang khusus untuk menyimpan kaos kaki, dasi, dan perintilan lainnya. “Ini kaos kaki, sudah aku tata juga, ada dasi dan lainnya, di sini semua tempatnya, apa harus aku tulis di sini, biar mas tahu?” lanjutku.

Aku bergegas keluar dengan debaran jantung yang tak beraturan. Aku bicara denganya sama sekali tidak melihatnya, bagaimana bisa aku melihat dia yang keadaannya seperti itu? Dia hanya memakai handuk, dengan dililitkan di pinggangnya. Tubuh tegapnya masih terlihat basah karena mungkin dia habis mandi. Tubuh tegapnya dan wajah tampannya membuat hatiku berdebar jika aku terus memandangnya.

“Vita,” panggilnya lagi.

“Iya, kenapa?” jawabku tanpa menoleh.

“Terima kasih,” ucapnya.

“Oke, sama-sama,” jawabku.

“Nanti aku tata yang berantakan,” ucapnya.

“Kalau tidak bisa biar nanti aku yang tata, tapi aku sepertinya siang ini tidak pulang, tidak menyiapkan makan siang. Aku sibuk sampai sore,” ucapku.

“Iya tidak apa-apa,” jawabnya.

“Oke, aku pamit, aku harus ke kantor cabang bertemu papa juga, ada meeting dengan staf kantor, dan siang sampai sore aku menemui beberapa relasi bisnis papa,” pamitku.

“Hmmm ....”

Hanya seperti itu jawabannya. Aku kira dia bakal bilang hati-hati di jalan, atau dia memanggilku lagi karena belum mencium tangannya seperti biasanya saat aku akan berangkat kerja. Bagaimana aku mencium tangannya? Dengan keadaan dia saja membuat hatiku terus berdebar dan tidak berani membalikkan badanku untuk menatapnya? Dari pada tanganku tremor saat akan bersalaman dengannya dan mencium tangannya, lebih baik aku cepat-cepat pergi, tidak usah mencium tangannya, toh itu juga tidak berguna baginya?

Aku melajukan mobilku ke kantor cabang terlebih dahulu, karena papa juga sedang on the way ke kantor cabang. Aku lajukan mobilku dengan kecepatan sedang, sambil menyalakan radio pagi ini. Aku lebih suka mendengarkan radio, karena tidak hanya lagu saja yang aku nikmati, tapi beberapa tips dan informasi yang disampaikan oleh penyiar juga aku suka.

Sesampainya di kantor cabang, aku sudah melihat mobil papa parkir di tempat parkir khusus. Aku memberikan kunci mobilku pada security, supaya memarkirkan mobilku di sisi mobil papa.

“Papa sudah sampai, Pak?” tanyaku.

“Iya, baru saja masuk, Bu,” jawabnya.

“Baik, terima kasih, minta tolong parkirkan mobil saya, Pak.”

“Siap, Bu!” jawabnya tegas.

Aku langsung masuk ke dalam kantor, maklum papa cepat sampai, kantor cabang dari rumah papa cukup dekat, apalagi tadi di rumah ada drama nyari bajunya Tuan Danial terhormat, Pak Guru yang tampan, dan dia suamiku. Ah sudahlah, fokus kerja, lupakan drama dalam rumah tanggamu dulu. Ini bukan saatnya kamu bermain drama, di kantor kamu adalah ratu. Ya aku adalah Queen di kantor, karena semua menghargaiku dan menghormatiku meski aku pemimpin perempuan di sini. Tapi kalau di depan mertua dan orang tuaku, juga di depan semua orang, aku seorang Drama Queen terhebat. Menyembunyikan tangis dan lara, supaya bisa tersenyum bahagia di depan mereka, supaya mereka tahu kalau aku dan Mas Danial bahagia.

“Pagi, Papa .... Maaf saya terlambat.” Sapaku saat aku masuk ke ruangan papa.

“Pagi, Vit. Tidak masalah, sini Vit, papa kenalkan kamu dengan relasi kita yang baru. Pak Arif, ini menantu saya, dia yang sudah aku mandatkan untuk memimpin perusahaan saya, semua dia yang memimpin. Menantuku ini benar-benar perempuan yang cerdas, nanti saat observasi, bisa tanya dengan Vita, dan dibantu oleh asisten Vita juga,” jelas papa.

“Salam kenal, saya Arif.” Ucap Arif memperkenalkan diri, padahal aku sudah tahu itu Arif, Arif pun pasti tahu aku, apalagi dia dari dulu tahu aku sudah diminta papa untuk menjadi menantu tunggalnya. Tapi aku tidak mau menyapa dia dulu, aku malu dengan statusku yang sudah bersuami, dan aku tidak mau kalau papa sampai menilaiku yang tidak-tidak kalau aku menyapa Arif lebih dulu.

“Saya Vita,” ucapku.

“Revita Adriyana?”

“Iya, Arif Bachtiar?”

“Kalian saling mengenal?” tanya papa.

“Pak Arif ini teman saat SMA dan teman kuliah Vita, Pa,” jawab Vita.

“Wah kebetulan sekali, kalian sudah saling kenal, pasti kerja sama kalian akan terasa mudah,” ucap Papa.

“Ya semoga kerja sama kita, membuahkan hasil yang baik,” ucap Arif.

“Papa ke sini hanya ingin mengenalkan Pak Arif pada kamu, ternyata kamu sudah mengenalnya, nanti papa minta, selesai kamu meeting dengan staf, kamu bisa mendampingi Pak Arif obeservasi di sini,” ucap Papa.

“Baik, nanti akan Vita dampingi Pak Arif.” Jawabku dengan sebisa mungkin aku menghilangkan rasa gugupku saat bertemu Arif.

Aku tidak menyangka akan bertemu Arif di sini. Sudah lama sekali aku tidak mengetahui kabar Arif, terkahir mungkin saat akan menjelang wisuda. Dia pamit denganku kalau dia akan ke Jerman melanjutkan S2 nya dan aku pun sama akan melanjutkan S2 ku di London.

Dia datang kembali, dan masih sama seperti dulu, saat aku mengagumi sosoknya. Saat aku ingin, dia yang selalu mengerti aku, akan menjadi milikku. Tapi, dia sadar diri aku ini siapa, dan aku akan dijodohkan dengan siapa. Meski dia pun anak seorang pengusaha, tapi dia tidak berani melawan apa yang sudah ditetapkan papa, bahwa papa menginginkan aku menjadi menantu tunggalnya, dan sejak aku SMA semua sudah mengetahui aku adalah calon menantu dari keluarga Barata.

“Vita pamit ke ruang meeting dulu, Pa. Kata Rifa semua sudah menunggu di ruang meeting,” pamitku pada papa.

“Iya, silakan. Papa juga mau ngobrol sama Pak Arif dulu,” jawab Papa.

“Baik, Vita permisi dulu, Pa. Pak Arif, saya tinggal dulu,” pamitku.

Jujur dada ini masih bedegub kencang saat kembali melihat sosok Arif. Tapi aku sadar, sekarang aku ini siapa. Aku perempuan bersuami, meski aku sama sekali belum disentuh suamiku. Aku masih perawan, aku masih suci, dan aku pun sudah mulai mencintai Mas Danial. Ya, aku jatuh cinta dengan Mas Danial sejak saat menjelang pernikahan. Degub jantungku ini bukan karena aku masih suka dan masih ada sisa cinta untuk Arif, melainkan aku takut bertemu sosok Arif lagi, karena aku sudah menikah. Aku takut Arif tahu kalau batinku menderita, aku takut Arif tahu suamiku tidak memperlakukanku dengan layaknya seorang istri.

Aku ini tulang rusuk Mas Dani, tapi yang aku rasa aku adalah tulang rusuk rusak, karena sama sekali tidak ia anggap. Aku dihiraukan Mas Dani, seakan aku ini tidak ada gunanya menjadi tulang rusuk.

Terpopuler

Comments

𝚁⃟• ꂵ꒤ꇙꋊ꒐꒐ ✨ꃅꀤꍏ꓄ꀎꌗ✖️

𝚁⃟• ꂵ꒤ꇙꋊ꒐꒐ ✨ꃅꀤꍏ꓄ꀎꌗ✖️

nah ini baru ada saingan danial🤔😂😂😂

2023-03-03

1

Zahraa

Zahraa

Cerai aja lah udah ngapain masih sama Danial tak berperasaan

2023-03-03

1

lihat semua
Episodes
1 Drama Queen
2 Dia Rembulan Yang Indah
3 Bagai Punguk Merindukan Bulan
4 Rusuk Rusak
5 Apa Aku Selingkuh Saja?
6 Aku Istrinya, Mbak
7 Aku Harus Dimadu Maksudnya?
8 Istri Yang Sempurna
9 Perempuan Yang Hebat
10 Bukan Pilihan Hatimu
11 Dia Cantik
12 Aku Dan Kamu, Sulit Untuk Menjadi Kita
13 Cerai Maksudnya?
14 Dia Perempuan Seperti Apa?
15 Melawan Gengsi
16 Makan Malam Berdua
17 Siti Nurbaya Modern
18 Barter Bantuan
19 Semua Tegantung Niat
20 Calon Guru Baru
21 Ada Yang Camburu
22 Lagi Ada Maunya
23 Kamu Tampan
24 Harap Tenang, Sedang Ada Ujian
25 Terjatuh Dua Kali
26 Perempuan Yang Hatinya Sulit Ditebak
27 Memberantas Benalu
28 Permintaan Nadira
29 Dia Begitu Cantik Dan Sederhana
30 Dia Selalu Bisa Menjaga Diri
31 Jangan Menambahkan Beban Di Hatiku
32 Pagi Yang Membuat Mood Berantakan
33 Perang Dingin
34 Dia Milik Wanita Lain
35 Aku Siap Berpisah
36 Makan Siang Berdua
37 Hati Ini Bukan Mainan
38 Kado Istimewa Dari Suami
39 Pagi Yang Berbeda
40 Bulan Madu
41 Kenangan Terindah
42 Aku Akan Belajar Mencintaimu
43 Kandas
44 Aku Harus Bagaimana, Vit?
45 Merebut Hati Suamiku
46 Calon Mantan
47 Menjenguk
48 Dilema
49 Selamat Tinggal
50 Restui Mereka
51 Merasakan Beban Yang Vita Emban Selama Ini
52 Menemui Nadira
53 Ancaman Papa dan Mama
54 Bukan Daerah Kekuasaanku
55 Apa Tidak Bisa Kita Perbaiki?
56 Sidang Pertama
57 Seperti Diratukan
58 Istri Idaman
59 Bertemu Mantan
60 Pagi Bahagia
61 Semakin Over Protektif
62 Asal Kamu Bahagia
63 Akhir Bahagia
Episodes

Updated 63 Episodes

1
Drama Queen
2
Dia Rembulan Yang Indah
3
Bagai Punguk Merindukan Bulan
4
Rusuk Rusak
5
Apa Aku Selingkuh Saja?
6
Aku Istrinya, Mbak
7
Aku Harus Dimadu Maksudnya?
8
Istri Yang Sempurna
9
Perempuan Yang Hebat
10
Bukan Pilihan Hatimu
11
Dia Cantik
12
Aku Dan Kamu, Sulit Untuk Menjadi Kita
13
Cerai Maksudnya?
14
Dia Perempuan Seperti Apa?
15
Melawan Gengsi
16
Makan Malam Berdua
17
Siti Nurbaya Modern
18
Barter Bantuan
19
Semua Tegantung Niat
20
Calon Guru Baru
21
Ada Yang Camburu
22
Lagi Ada Maunya
23
Kamu Tampan
24
Harap Tenang, Sedang Ada Ujian
25
Terjatuh Dua Kali
26
Perempuan Yang Hatinya Sulit Ditebak
27
Memberantas Benalu
28
Permintaan Nadira
29
Dia Begitu Cantik Dan Sederhana
30
Dia Selalu Bisa Menjaga Diri
31
Jangan Menambahkan Beban Di Hatiku
32
Pagi Yang Membuat Mood Berantakan
33
Perang Dingin
34
Dia Milik Wanita Lain
35
Aku Siap Berpisah
36
Makan Siang Berdua
37
Hati Ini Bukan Mainan
38
Kado Istimewa Dari Suami
39
Pagi Yang Berbeda
40
Bulan Madu
41
Kenangan Terindah
42
Aku Akan Belajar Mencintaimu
43
Kandas
44
Aku Harus Bagaimana, Vit?
45
Merebut Hati Suamiku
46
Calon Mantan
47
Menjenguk
48
Dilema
49
Selamat Tinggal
50
Restui Mereka
51
Merasakan Beban Yang Vita Emban Selama Ini
52
Menemui Nadira
53
Ancaman Papa dan Mama
54
Bukan Daerah Kekuasaanku
55
Apa Tidak Bisa Kita Perbaiki?
56
Sidang Pertama
57
Seperti Diratukan
58
Istri Idaman
59
Bertemu Mantan
60
Pagi Bahagia
61
Semakin Over Protektif
62
Asal Kamu Bahagia
63
Akhir Bahagia

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!