“Vita, bisa kita bicara?”
Mas Dani menghentikan langkahku yang akan ke dapur untuk mengambil air minum.
“Sebentar, aku mau ambil air putih dulu,” jawabku.
Sore ini aku sudah berada di rumah, itu semua karena siang tadi pekerjaan tidak terlalu banyak, dan semua meeting sengaja aku batalkan. Rasanya aku ingin di rumah, ingin membereskan rumah, dan menghabiskan tumpukan baju yang belum aku setrika. Aku baru saja selesai menyetrika baju, dan baru saja menata baju di kamar Mas Dani.
Rasanya lega kalau pekerjaan rumah selesai semua. Aku bisa saja memakai jasa asisten rumah tangga. Tapi kalau dipikir aku juga bisa mengerjakan sendiri, karena aku juga masih belum kerepotan, belum ada anak, dan mungkin sulit untuk hadirkan buah hati di tengah rumah tanggaku dan Mas Dani. Itu juga supaya aku ada kegiatan di rumah, mau apa kalau gak digunakan untuk beberes? Toh punya suami saja seperti tidak punya suami? Dari pada kesepian, mending cari kegiatan.
Tenggorokanku raasnya kering sekali, aku mengambil air putih dari dispenser, dan segera aku habiskan segelas air putihnya. Mas Dani baru saja pulang, dan entah apa yang ingin ia bicarakan, kenapa baru datang dia langsung ingin bicara denganku. Aku membuat teh untuk teman mengobrol, Mas Dani sudah menunggu, dan masih belum ganti baju dinasnya. Entah apa yang akan Mas Dani bicarakan, aku tidak tahu, dan aku penasaran, sepertinya sangat serius sekali.
Aku membawa teh ke ruang tenga, dan menaruhnya di depan Mas Dani. “Tehnya, Mas,” ucapku, seraya menaruh cangkir teh di depan Mas Dani dan piring kecil yang berisi bolu, yang tadi aku beli sekalian pulang dari kantor.
“Terima kasih,” jawabnya singkat.
“Mas mau bicara apa?” tanyaku.
Mas Dani menarik napasnya berat sebelum ia mulai bicara. “Kita menikah sudah hampir sembilan bulan kan, Vit?” tanya Mas Dani.
“Iya, kenapa?” jawabku.
“Vit, apa bisa pernikahan ini diteruskan tanpa rasa cinta?”
“Siapa bilang tanpa rasa cinta? Aku sudah mencintaimu, Mas, sejak aku sudah pasrah, kamulah yang akan menjadi suamiku.”
Aku hanya membatin, menjawab ucapan Mas Dani. Ya aku memang sudah mencintai suamiku, meski dirinya belum bisa kurengkuh, meski Mas Dani belum bisa menerimaku sebagai istrinya.
“Itu semua tergantung pada diri kita masing-masing, Mas. Banyak pernikahan yang terjadi tanpa cinta, dan malah awet. Kadang malah yang pernikahan dilandasi cinta, seringnya hanya sesaat,” jawabku.
“Tapi, beda denganku, Vit,” ucap Mas Dani.
“Ya jelas beda, karena mas tidak pernah mau mencoba, dan tidak pernah menganggap adanya pernikahan kita?” jawabku.
“Kamu tahu aku mencintai perempuan laih kan, Vit?”
“Iya, tahu. Terus kenapa? Mas ingin menikahinya?”
“Bagaimana aku menikahinya, Vit? Aku suami kamu, dan tidak mungkin aku menikahi dia untuk jadi istri kedua. Aku tidak bisa, Vit. Aku berusaha untuk menerima pernikahan ini, berusaha untuk mencintai kamu. Aku tidak mau memberikan kewajibanku sebagai seorang suami tanpa mencintaimu, Vita. Hampir sembilan bulan rasa cinta itu belum jua hadir di hatiku, dan aku masih mencintai Nadira,” jelasnya.
“Lalu bagaimana?” Aku mencoba santai menghadapi semua ini, meski air mataku hampir jatuh, dadaku sesak, dan hatiku porak-poranda.
“Kita sudahi drama pernikahan ini, Vit,” ucapnya dengan menunduk.
“Cerai maksudnya?” tanyaku untuk memperjelas ucapan Mas Dani yang ambigu. Mas Dani hanya mengangguk.
“Astagfirullah ....” Aku bergumam lirih, dan mungkin Mas Dani mendengarnya.
“Maafkan aku. Aku tidak bisa menggantung kamu gini, Vit, karena selamanya aku tidak bisa mencintaimu,” ucap Mas Dani.
Aku masih diam, menahan sakit di dadaku, dan menahan air mata yang hampir jatuh dari sudut mataku. Aku istighfar di dalam hati, aku berdzikir di dalam hati supaya aku kuat dan bisa tenang menghdapi kemauan Mas Dani.
“Aku tidak bisa melakukannya tanpa cinta, Vit. Kasihan kamu, kalau aku berikan kewajibanku padamu, tapi tidak dengan cinta.”
“Mas mau pisah? Yakin?” tanyaku dengan mengatur perasaan yang semakin tidak keruan.
“Iya, yakin, aku ingin pisah.”
“Mas bicarakan semua ini pada mama dan papa, juga ayah dan ibu, ya? Pernikahan kita kan terjadi karena mereka, Mas?” ucapku.
“Bagaimana caranya aku bilang pada mama dan pap, lalu pada ayah dan ibumu?” tanya Mas Dani.
“Ya mas tinggal bilang saja, seperti yang mas bilang ke saya tadi. Gampang, kan?” jawabku.
“Kalau kita urus sendiri saja gimana, Vit?”
Aku tidak menyangka semudah itu seorang Danial memutuskan hal yang sangat sakral. Aku kira dia akan berusaha untuk menerima pernikahan ini, ternyata tidak. Lantas untuk apa aku terus mempertahankan? Apa sudah saatnya aku melepaskan? Sembilan bulan bukan waktu yang singkat. Mungkin cukup singkat untuk pasangan suami istri yang baik-baik saja, dan saling mencintai, karena rumah tangganya penuh dengan kebahagiaan. Sedangkan aku? Sembilan bulan rasanya seperti dua tahun.
“Urus sendiri? Maaf mas, mas harus bicara dengan orang tua mas dan orang tuaku. Kembalikan aku pada orang tuaku secara baik-baik, seperti saat orang tuamu memintaku pada orang tuaku, secara baik,” jawabku. “Aku sudah banyak berbohong dengan orang tuamu, Mas. Juga orang tuaku. Mas tahu persaanku bagaimana saat aku selalu di tanya kapan nih ngasih cucu? Mas tahu aku pengin jawab apa saat itu? Aku masih perawan!” lanjutku dengan suara agak meninggi.
“Lalu aku harus bagaimana, Vit? Aku sangat mencintai Nadira, dan aku ingin menikahinya,” ucap Mas Dani.
“Ya itu urusan kamu dengan dia, tapi kalau mau menikahinya, urus dulu urusan kita? Bilang sama orang tuaku dan orang tuamu, seperti pintaku tadi,” jawabku.
“Mas, aku tidak masalah melepaskan kamu, silakan pergi dan menikahlah dengan Nadira, tapi mas harus ingat, amanahku dengan orang tua mas sangat besar, aku tidak mau ketika aku lepaskan kamu, aku masih memegang amanah dari orang tuamu, aku tidak mau. Aku juga ingin bebas, bebas darimu, dan dari amanah kedua orang tuamu, yang harusnya kamu yang mengemban amanah itu. Perusahaanmu itu nomor satu mas. Untung aku diberi amanah mengurus perusahaanmu, kalau tidak, aku akan stres di rumah, karena aku harus fokus urus suami yang tidak bisa menerimaku.”
“Lalu aku harus bagaimana, Vita? Kasih aku solusi selain aku harus bilang ke mama dan papa, juga orang tuamu, kalau kita mau pisah?”
“Hanya satu, bangun kepercayaan papa padamu. Kamu akan mendapatkan apa yang kamu mau, Mas. Kamu harus bisa menjadi penerus papa. Kamu anak tunggal, harusnya kamu menjadi penerus papa, bukan aku. Belajar memegang kendali perusahaan, tunjukan pada papa, kalau kamu bisa. Aku yakin, kalau kamu melakukan itu, papa bangga dengan kamu, dan kamu pun bisa melepaskan aku, karena aku sudah serahkan tanggung jawabku padamu,” jelasku.
Ya dengan begitu aku semakin bisa menunjukkan aku lebih baik daripada Nadira. Mau belajar dengan siapa lagi kalau bukan denganku? Perusahaan papanya sudah ada digenggamanku, papa saja apa-apa mengandalkanku, bagaimana bisa papa mengajari Mas Dani yang mau belajar soal perusahaan. Apalagi sekarang perusahaan papa semakin besar.
“Mana aku bisa mengurus perusahaan papa?” ucap Mas Dani kebingunang.
“Belajar lah, pasti bisa,” jawabku.
“Aku tidak yakin akan bisa.”
“Orang barang kelihatan kok gak bisa?” jawabku. “Aku akan ajari semuanya, kalau sudah bisa silakan lepaskan aku, dan jadilah penerus papa. Kalau kamu sudah bisa dipercaya papa, kamu bebas mau melakukan apa pun. Coba dari dulu kamu nurut sama papamu, mungkin perjodohan ini tidak akan terjadi, dan pastinya kamu sudah menikah dengan wanita pilihanmu. Kadang orang tua memaksakan kehendak untuk anaknya, itu semua demi kebaikan anaknya, Mas. Papa dan mama memilihku, karena aku sejalan dengan papa dan mamamu, kalau dari dulu pikiran kamu sejalan dengan orang tuamu, gak akan aku masuk dalam kehidupanmu, Mas!” lanjutku.
Aku beranjak dari tempat duduk. Hatiku bergemuruh, riuh mendendangkan syair kepedihan. Tidak sengaja Mas Dani telah menalakku. Ya dengan dirinya mengutarakan maksud untuk berpisah, dan di situ juga sudah ada talak dari Mas Dani.
“Vita.”
“Ya.” Jawabku tanpa menoleh, karena air mataku sudah jatuh membasahi pipi.
“Ajari aku tentang perusahaan,” pintanya.
“Iya, akan aku ajari,” jawabku, lalu pergi ke kamar meninggalkan Mas Dani.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
Erna M Jen
kasihan vita sungguh tegar hatinya
2024-07-19
1
𝚁⃟• ꂵ꒤ꇙꋊ꒐꒐ ✨ꃅꀤꍏ꓄ꀎꌗ✖️
lah secara tdk langsung si kuda nil udh jatuhkan talak busett enaknya nih orang dibuang kelaut🙄🙄🙄🙄
2023-03-14
2
Gustiara Gusty
nanti setelah diajarin sama vita dan sering bersama vita, danial jadi terpesona sama sikap, perilaku dan cara vita ketika memimpin perusahaan jadi lama2 bakalan jatuh cinta deh dan melupakan cintanya sama nadira... seperti judulnya PESONAMU MENGALIHKAN CINTAKU 🙊😁😁
2023-03-13
0