Malam ini kami masih menginap di rumah mama. Itu semua karena aku dan mama terlalu asik shoping dan ke salon untuk perawatan, kami sampai rumah hingga pukul delapan malam. Seperti itu mama mertuaku, satu minggu sekali pasti mengajakku shoping dan ke salon. Kata mama perempuan harus sering-sering perawatan untuk memuaskan suaminya. Hatiku menciut saat mama bicara seperti itu. Bagaimana bisa suamiku puas, melihatku saja pun tidak? Berbicara saja tidak pernah menatapku yang jadi lawan bicaranya. Aku hidup dengan seorang suami dalam satu rumah, bahkan dalam satu kamar, tapi aku seperti sendiri. Apa-apa aku sendiri, tapi tidak untuk suamiku. Meski aku tidak diinginkan olehnya, aku tetap melayani kebutuhan suamiku setiap hari, kecuali kebutuhan batinnya, yang mungkin tidak ia butuhkan. Ehm ... ralat, belum dia butuhkan. Aku yakin Mas Dani akan meminta itu suatu hari nanti, dan aku pastikan dalam waktu dekat ini Mas Dani akan memilikiku seutuhnya.
Vita ... jangan terlalu berharap, karena semua itu sangat sulit kamu gapai. Bagai punguk merindukan bulan, kamu ini apa, dan kamu ini siapa bagi Mas Dani? Aku memang istrinya, hanya sebatas istri, sebatas status, tapi aku belum menjadi istri seutuhnya. Lucu sekali kamu, Vit, kamu perempuan cantik, perempuan yang selalu diincar oleh para pengusaha sukses, perempuan yang selalu dipuja dan dipuji di depan khalayak umum atas prestasimu, atas semua pencapaianmu, perempuan hebat yang bisa memimpin perusahaan terbesar, dan saat ini di depan suamimu, kamu hanya perempuan kerdil yang tidak kasat mata. Tak pernah sedikit pun terlihat oleh suamimu. Seperti debu, yang tak kasat mata, namun selalu ada di setiap apa pun kondisinya, entah itu terbang atau jatuh, bahkan terinjak. Tapi, tenangkan hatimu. Kamu adalah perempuan hebat, perempuan yang selalu dikagumi oleh siapa pun yang tahu kerja kerasmu. Kamu perempuan yang kuat, kamu sudah biasa diterpa gelombang dan badai dalam hidupmu. Tenanglah, kau akan baik-baik saja, meski hatimu terluka.
“Di mana buku milikku, Vita?! Yang semalam aku baca, yang aku bawa dari rumah!” Ucapan bariton Mas Danial menggema di setiap sudut kamar.
Aku sedikit terjingkat mendengar ucapannya. Aku langsung bergegas mengambil buku yang semalam dibaca oleh Mas Dani, dan langsung aku berikan padanya. Buku milik Sujiwo Tejo yang semalam ia baca, aku taruh di atas meja riasku. Semalam aku melihat buku itu tergeletak di atas tangan-tangan sofa dengan terbuka. Aku mengambilnya, karena Mas Dani sudah tertidur pulas, aku takut buku itu akan menjatuhi kepalanya. Sehingga aku membenahinya, aku taruh di atas meja riasku.
“Aku sudah bilang, tidak usah sentuh-sentuh barang milikku, apalagi sampai memindahkannya!” Ucap Mas Danial denga lantang, tanpa melirikku dan menatapku, jangankan menatap, melirik saja tidak? Aku tidak mungkin menjelaskan soal semalam saat aku takut kalau buku itu jatuh, dan rusak, karena akan sia-sia saja kalau aku panjang lebar menjelaskannya.
Mas Dani membuka lembar demi lembar buku yang aku berikan tadi dengan sedikit tergesa. Dia sepertinya jengkel, karena tidak menemukan halaman yang terakhri dia baca. Namun tak begitu lama, ia kembali terdiam, menekuri lembar demi lembar buku yang sedang ia baca.
Aku menghela napas panjang melihat dia yang selalu bersikap dingin padaku, setiap hari seperti itu. Entah sampai kapan dia akan bersikap acuh dan dingin padaku. Sampai kapan dia akan menganggapku orang asing dalam hidupnya? Dia benar-benar tidak peka, tidak tahu, tidak merasakan semerbak wangi tubuhku malam ini yang sudah bersiap untuk menunaikan kewajibanku. Dia tidak tahu kalau tadi aku menghabiskan banyak waktu di salon hanya untuk merawat tubuhku, supaya dia tertarik dengan wangi tubuhku setelah treatment, dari ujung kaki hingga ujung rambut, semua sudah wangi sempurna. Dia pun tidak memerhatikan diriku yang sudah bersolek cantik dan memakai baju sedikit seksi, yang mengundang hasrat laki-laki dewasa. Dia sama sekali tidak menghiraukannya. Aku sudah siap menjemput pahala tapi apa yang kudapat? Dia hanya diam, tidak melirikku sama sekali, tidak merasakan harumnya tubuh dan rambutku, dia sama sekali tidak tergoda denganku.
Aku sama-sama memilih diam, daripada bicara tapi tidak dihiraukan. Lebih baik diam, lalu membuka sedikit tirai kamar. Aku melihat terangnya sinar bulan purnama. Bulan yang indah, bulat sempurna. Harusnya malam ini adalah malam yang amat romantis bagi pasangan suami istri di saat bulan purnama. Tapi, di dalam kamar ini tidak terjadi apa-apa. Purnama atau tidak sama saja, tidak ada bedanya. Tak seorang pun yang berani bersuara, tak seorang pun berani memecah kesunyian malam ini.
Aku lihat Mas Dani sedang memandangi layar ponselnya lalu tersenyum. Aku yakin senyuman di wajahnya tercipta karena Nadira. Hanya Nadira yang bisa membuatnya tersenyum. Dadaku bergemuruh karena cemburu, ya cemburu. Aku di sini, sedang menanti dia untuk melihatku yang sudah bersolek cantik, tapi sama sekali tidak ia hiraukan. Sedangkan Nadira, dia yang di sana, tapi selalu dirindukan Mas Dani, dan menjadi sumber kebahagiaan Mas Dani.
Setiap kali aku membayangkan Nadira, aku selalu ketakutan. Aku tak punya apa pun yang bisa membuat Mas Dani memilihku. Bahkan meski dia tahu perusahaan terbesar milik papanya saat ini berkembang pesat karena aku, bahkan meski dia tahu kalau mama dan papanya tergantung padaku. Itu semua tidak bisa membuat Mas Dani memilihku. Hanya Nadira yang terus bertahta di dalam kerjaan hatinya.
Aku mencari hangatku sendiri dalam balutan dingin malam ini, dan balutan dingin sikap Mas Dani. Aku tidak peduli dingin terus merasuk ke sukmaku, meski aku terus mencoba menghangatkan suasana hatiku. Aku sudah terlanjur mencintai suamiku, namanya sudah mengambang di dalam sukmaku, dan selalu aku sebut dalam doaku.
Kadang sedikit terbesit dalam pikiranku, lebih baik aku pergi saja, daripada aku harus terus menerus perang batin dalam hidupku. Namun, setiap kali aku ingin pergi, ingin menyudahi semuanya, aku selalu ingat mama mertuaku, yang selalu mendambakan seorang cucu lahir dari rahimku. Aku selalu ingat papa mertuaku yang selalu mesuport aku dalam setiap hal, aku selalu ingat mereka, dua manusia yang berhati malaikat. Menyayangiku sejak dulu, seperti ibu dan ayahku yang menyayangiku.
Aku tidak boleh tenggelam dalam kesedihan, aku harus bisa menaklukkan Mas Dani. Aku ini istrinya, aku yang berhak membuat Mas Dani bahagia, aku yang berhak atas Mas Dani di atas segalanya. Bukan Nadira, bukan dia. Dia hanya sebatas masa lalu yang tidak tercapai. Aku harus bisa merebut hati suamiku kembali, aku harus bisa. Jalan satu-satunya aku harus menemui Nadira. Ya Harus! Tekadku sudah bulat untuk menemui Nadira. Dia harus pergi dari hati Mas Dani. Aku tidak mau apa yang menjadi hakku akan Nadira dapatkan, meski itu tidak mungkin dilakukan Mas Dani. Aku hanya takut mereka semakin nekat, nekat karena saling mencintai. Aku harus cepat-cepat menyadarkan Mas Dani. Dia harus bisa mencintaiku.
Tapi, bagaimana caranya aku menemui Nadira supaya Mas Dani tidak tahu? Apalagi mereka sepertinya sering bersama. Aku harus cari cara untuk bisa bertemu Nadira. Aku pasti bisa! Aku Revita, apa yang tidak bisa ditaklukkan oleh Revita? Semua bisa tunduk di hadapan Revita. Aku tidak boleh lemah, aku harus memperjuangkan hakku sebagai istri Mas Dani. Aku yang berkuasa, bahkan jika aku mau, semua akan menjadi berantakan dalam sekejap.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments