Aku tidak peduli ada Mas Dani dan Nadira di depanku. Mereka berdua terlihat risih di hadapanku. Biar saja, seberapa jauh mereka bertindak di luar sana. Dosa suami tidak ditanggung istri kok, memang sih istri wajib mengingatkan kalau suami di dalan yang salah. Tapi, kembali lagi seperti apa suaminya, kalau suami gak mencintai istrinya ya biar saja.
Kami saling berdiam diri. Ya aku dan Mas Dani hanya diam-diaman saja, tidak saling menyapa, biar saja, kalau Mas Dani menyapa dan mengajak bicara aku, baru aku akan menjawab. Pantas saja Mas Dani tidak bisa melepaskan Nadira, dia cantik, modis, seksi? Sedangkan aku? Body ku saja begini, kecil, tidak berisi, dadaku juga jauh sekali, tidak ada apa-apanya dengan milik Nadira. Tapi, aku pede saja sih, aku ini istri Mas Dani, perempuan yang dipilih orang tua Mas Dani, pilihan orang tua pasti yang terbaik, jadi aku harus selalu menjadi yang terbaik, dan selalu melakukan yang terbaik. Aku dipercaya mertuaku untuk memimpin perusahaannya, karena anak semata wayangnya seperti itu, tidak memikirkan perjuangan kedua orang tuanya yang mati-matian membangun usahanya dari nol.
Aku melihat segerombolan orang berpakaian seragam sama seperti suamiku dan Nadira. Mereka sepertinya sudah janjian, karena aku lihat mereka langsung ke arah meja kami.
“Hai ... di sini rupanya kalian?”
“Iya, penuh tempatnnya, jadi kita gabung sama sama mbak ini,” jawab Nadira.
“Kita duduk di mana nih?” tanya mereka yang datang enam empat orang, dua laki-laki dan dua perempuan.
“Kalian makin lengket saja nih? Kapan mau meresmikan? Sudah resmi secara agama pun bisa, kan? Aku sama Wulan juga sudah sah, masa kamu masih takut, Dan?” ucap salah satu teman Mas Dani, pada Nadira dan Mas Dani dengan berbisik.
What?! Meresmikan secara agama? Gila memang gila! Aku tidak menyangka circle pertemanan orang seperti mereka parah sekali. Meresmikan secara agama, itu tandanya Mas Dani akan berniat menikahi Nadira secara sirri? Aku harus dimadu gitu maksudnya? Tuhan ... ini orang pada waras tidak, ya?
“Nanti belum kepikiran,” jawab Mas Dani singkat.
“Kalian berduaan mulu setiap hari, bucin mulu. Kasihan Bu Nadira tuh, ditinggal kawin, masih dipacarin, terus gak ada kepastian?” ucap teman Mas Dani yang perempuan.
Firda menaikkan alisnya dengan menatapku. Aku memang tidak baik-baik saja saat ini, hatiku memanas, bahkan mataku pun memanas karena menahan air mataku yang hampir tumpah karena mendengar ucapan teman-teman Mas Dani. Ternyata mereka sudah tahu kalau Mas Dani sudah menikah, tapi mereka malah mendukung Mas Dani melakukan hal yang seharusnya tidak boleh Mas Dani lakukan tanpa sepengetahuanku. Aku tertunduk menahan sakit, tapi aku sadar, pernikahanku dengan Mas Dani adalah keinginan orang tua Mas Dani, wajar Mas Dani seperti itu. Tapi setidaknya dia tahu perasaanku, dan menghargai perasaanku.
Nadira, dan dua teman guru perempuan itu, berhijab. Tapi, kenapa mereka menjadi simpanan? Rasanya dunia ini terbalik sekali. Biar saja, mereka punya Tuhan, biar Tuhan yang membalasnya.
“Vit ponselmu bunyi, tuh mertua kamu telefon.” Firda mengagetkanku, karena memang aku bengong dari tadi, sambil mengaduk-aduk makananku yang masih sisa cukup banyak.
“Oh iya.” Aku segera menerima telefon dari mama.
“Iya, halo, Ma?” Aku sengaja menaikkan volume panggilan, dan bahkan aku laoudspeaker.
“Vita, kamu di mana? Rumah kamu kok tumben sepi? Apa Danial belum pulang? Kamu gak pulang makan siang di rumah tumben?” tanya mama.
“Mas Danial pulang agak sorean katanya, Ma. Katanya mau ada rapat di sekolahannya, terus aku sama papa kan mau menemui klien lagi, jadi aku ya makan di luar sama Firda, lagian masak juga sayang tidak dimakan, Ma,” jelasku pada mama mertua.
“Papa ini sama mama, tuh papa pengin makan masakan kamu. Katanya kamu setiap jam makan siang kan masak?”
“Iya, tapi kan memang Mas Dani gak pulang, pulang agak sore, dan aku juga kan banyak pertemuan hari ini, Ma? Bagaimana kalau makan malam saja, Ma? Mama dan papa makan malam di rumah, nanti Vita masakin masakan kesukaan mama dan papa,” ucapku.
“Sayang, kamu nanti capek, dong? Papa kira sebelum menemui klien pulang dulu, makan di rumah?”
“Enggak, Ma. Sekalian sajalah, lagian kan Mas Dani pulang sore, Ma? Makan diluar juga.”
“Vita, next time saja makan malamnya, kita ketemu di kantor. Kita jam tiga ada ketemu Pak Arif, kan? Papa ke kantormu sekarang sama mama,” ucap papa.
“Oke, pa. Aku antar Firda ke kantornya dulu ya, Pa? Ini aku baru selesai makan sama Firda,” ucapku.
“Kamu ini makan di mana, Vit? Rame sekali, kamu makan di warung atau warteg, Vita?”
“Pa, apa bedanya warung sama warteg? Aku makan di Nasi Campur Bu Jamilah, Pa,” jawabku.
“Astaga, Vit? Kamu sudah jadi CEO masih saja makan di tempat seperti itu?”
“Ih papa bilangnya? Ini makanan favorit aku dan Firda lho, Pa? Papa wajib coba, nanti Vita ajak pokoknya,” ucapku.
“Kamu itu, ke restoran kek, atau ke mana?”
“Bosan pa, kalau sama papa ke restoran, sama klien juga iya, bosan dengan menunya. Sudah ya, Pa? Vita mau bayar dulu, lalu ketemu di kantor.”
Aku melihat saat aku menyebut nama Mas Dani, dan mama juga menyebut nama Danial, semua teman Mas Dani diam dan menatapku. Aku yakin mereka pasti sudah tahu aku ini siapa. Biar saja mereka tahu, dan mereka juga pasti malu sudah menjelek-jelekkan aku di depanku pula?
“Fir, sudah makannya? Yuk pulang? Ke masjid dulu, ya? Belum sholat, kan?”
“Oke, ayo pulang.” Ucapnya dengan semangat. Firda juga pastinya puas melihat ekspresi mereka yang hanya diam saat Vita telefonan dengan mama mertuanya.
“Mas Dani, aku pulang, ya? Mungkin aku pulang agak terlambat, mas dengar sendiri tadi papa bilang apa, kan? Kami mau menemui klien, dan ada klien juga yang mau observasi di kantor. Aku pamit pulang dulu ya, Mas?” Aku mencium tangan Mas Dani, karena tadi pagi aku belum mencium tangannya. Itu semua karena aku tidak tahan melihat tubuh Mas Dani yang tegap dan seksi hanya terbalut handuk yang dililitkan di pinggangnya. Aku juga belum lega kalau mau ke kantor tidak mencium tangan Mas Dani.
“Wah ... wah ... wah ... Ini gimana, Dan? Ini ternyata is ....?”
“Iya saya istrinya Mas Dani, Bu,” jawabku ramah dengan mengulas senyumanku. “Mari, Bu. Saya ditunggu papanya Mas Dani di kantor, silakan duduk,” lanjutku.
Lucu sekali melihat ekspresi wajah mereka yang menjadi gugup, dan merasa sangat bersalah, karena sudah bicara seperti itu, dan menjelekkanku juga. Padahal dia belum tahu siapa aku. Siapa Revita Adriyana. Kalian makan gaji dari negara, seharusnya tidakan kalian tidak seperti itu, abdi negar tata kramanya harus baik, malah seperti itu? Heran dengan mereka yang membanggakan jabatan tapi tata krama dan sopan santunnya nol besar.
Firda melarangku untuk menyetir mobil, dia takut aku kenapa-napa. Tapi aku tolak. Memang aku kenapa? Aku tidak akan menangisi diriku sendiri yang seperti ini.
“Kau baik-baik saja?” tanya Firda.
“Iya, memang aku kenapa?”
“Vit, kamu dengar ucapan mereka, kan? Aku yakin suamimu sudah melebihi batas dengan Nadira,” ucap Firda.
“Ya kalau sudah melebihi batas aku bisa apa? Toh mereka saling cinta? Sekarang gini saja, Fir, kalau Nadira perempuan yang baik, dia gak akan mau sama suami orang. Gitu saja lah. Sudah aku gak mau pusing, Fir,” jelasku.
“Vit, jangan stres karena ini ya, Vit? Sumpah aku pengin jambak-jambak tuh Nadira!” umpatnya kesal.
“Dia berjilbab, Fir. Gak kelihatan rambutnya,” ucapku dengan terkekeh.
“Berjilbab kok begitu kelakuannya?”
“Ya biar saja sih, jangan menjudge orang kalau kita tidak tahu orang itu seperti apa. Sudah, aku gak mau mikir, tugasku masih banyak, bukan hanya tugas sebagai seorang istrinya Mas Dania saja. Prioritasku adalah papa dan mama, juga perusahaan mereka. Dan, usaha kami juga dong pastinya,” ucapku.
“Aku yakin, kamu bisa melalu ini dengan sabar, dengan lapang. Aku yakin kamu bisa. Kamu Revita Adriyana, kamu itu perempuan hebat, Vit.”
Sebetulnya batinku menangis, tapi aku malu menumpahkan tangisku di depan Firda. Aku menangis saat aku sedang berinteraksi dengan Rabb-ku. Sedang mencurahkan semua rasa sakit dan lelahku. Selama aku menikah dengan Mas Dani, aku tidak mau menangis dengan seseorang, apalagi sampai meratap dan mengadu kerisauan hatiku pada orang itu.
Aku membelokkan mobilku ke masjid yang dekat dengan kantor Firda. Masih banyak waktu, jadi aku mampir saja ke masjid, daripada sholat di kantor, nanti mama dan papa lihat mataku sembab. Aku tidak pernah tidak menangis saat aku sedang menghadap Robb-ku. Nanti malah mereka tanya kenapa mataku merah, kenapa mataku sembab?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
Rosmawati
guru kok kaya gkd akhlaq'nya ..
macam prmpuan liar aza
2024-07-19
1
𝚁⃟• ꂵ꒤ꇙꋊ꒐꒐ ✨ꃅꀤꍏ꓄ꀎꌗ✖️
hadeuh etika para guru bikin melongo🤭
2023-03-06
1
Zahraa
Sekelas tingkat guru kalo julid suka gatau etika memang awoakwoak
2023-03-06
0