Siang ini setelah urusanku selesai, dan masih ada waktu cukup banyak, aku sempatkan menemui sahabatku. Dia adalah Firda. Teman dari SMP hingga kami sama-sama kuliah mengambil S2 di London. Namun, sejak aku menikah dengan Mas Dani, aku jarang bertemu dengan Firda lagi. Apalagi aku sibuk dengan pekerjaanku sekarang, Firda pun demikian, jadi kami jarang bertemu.
Aku tidak tahu harus menceritakan pada siapa lagi kalau bukan dengan Firda, orang yang aku percayai selama aku berteman dengannya. Apa pun aku ceritakan padanya, tentang perjodohan dengan Mas Dani yang sudah terjalin dari aku remaja pun aku menceritakannya pada Firda.
Firda bergegas menuju mobilku yang sudah terparkir di depan kantornya. Dengan wajah sumringah, dia menyambutku. “Hai Nyonya Danial ....” Ucapnya dan langsung memelukku, lalu cipika-cipiki. “Ah kangen ....” Firda memelukku erat.
“I miss you so much, baby ....” Aku pun memeluknya hingga kami tidak bisa bernapas.
“Hah ... berapa tahun kita gak bertemu? Ceileehh ... yang sudah jadi Nyonya besar, makin cantik saja?” ledek Firda.
“Nyonya besar bagaimana? Tubuhku masih mungil, Firda?”
“Ya begitulah, memang mungil dari dulu, tapi yang besar itu jabatan kamu, kedudukan kamu. Siapa yang tidak kenal Revita Adriyana? Semua pengusaha kaya raya tahu kamu, termasuk papaku. Papa tidak menyangka seorang Revita yang pemalu, tapi sekarang namanya duaarrr! Meledak seantero jagad!” Seperti biasa Firda paling suka memuji, dan tidak tanggung-tanggung memujinya.
“Sudah memuji akunya? Mau di sini saja, atau mau aku traktir?” ajakku.
“Traktir dong? Let’s go baby girls ....” Ajaknya penuh semangat.
Begitulah Firda, dia penuh semangt, dia selalu menjadi sahabat yang baik, pendengar setia, dan selalu memberikan aku semangat saat aku kacau.
“Kapan kamu mau ngasih aku keponakan, hah?” Ucapnya dengan mengusap perutku.
“Keponakan? Kapan juga kamu mau ngenalin aku calon suami?” Aku balik meledeknya.
“Ih tuh kan?!”
Aku tertawa melihat wajahnya yang berubah masam karena aku menanyakan kekasih. Firda memang orang yang cuek, dia belum mau memikirkan pria. Ya betul sih enak seperti itu, kalau aku dulu tidak dijodohkan, mungkin aku akan memilih jalan seperti Firda, bebas melakukan apa pun, dan memilih jalan yang aku mau, tidak seperti ini, hidupku sejak mengenal Papa mertua, seakan terkekang, apalagi saat papa dan mama mertua terang-terangan memintaku sebagai menantunya. Ruang gerakku makin sempit, bahkan kakak-kakakku semua selalu mengawasiku, karena aku sudah diminta papa mertua untuk dijadikan menantunya.
Firda menyentuh bahuku dan memiringkan kepalanya dengan menatapku. “Kenapa? Tadi sepertinya ada yang bahagia saat meledekku yang sampai saat ini belum punya kekasih? Kok sekarang mlempem gitu? Kayak kerupuk yang udah seminggu kena angin?”
Aku membuang napas kasar. “Kadang aku mikir, aku pengin seperti kamu, bebas menjalani hidup, apa pun yang kamu mau. Bahkan orang tua kamu tidak mengekang kamu, kamu maunya apa, mereka senantiasa mendukung apa yang kamu mau,” ucapku.
“Hei ... ini kenapa jadi gini? Jangan bilang kau tak bahagia menikah dengan Danial?” Ucap Firda penuh selidik.
“Ya kamu bisa nilai sendiri lah, bagaimana kehidupan pernikahan yang dijodohkan. Apalagi aku sama dia tidak pernah sejalan pikirannya, dari hal apa pun. Aku begini, sibuk dengan perusahaan milik orang tuanya, sedangkan dia? Sibuk dengan kegiatannya di sekolah. Kita itu jauh sekali bagai langit dan bumi,” ucapku.
“Kau bahagia, kan?” Firda semakin mengulik, dia ingin tahu keadaanku. Tapi, memang aku juga ingin menceritakan semuanya, mau sama siapa lagi aku cerita kalau tidak dengan dia?
“Menurutmu bagaimana?” tanyaku dengan mengulas senyuman.
“Senyummu itu palsu! Gak usah sok tegar deh! Dengan perkataanmu yang seperti itu, aku sudah tahu jawabannya,” ucapnya.
“Ya sudah kalau sudah tahu. Oh iya, kamu masih ingat Arif?” tanyaku.
“Arif Bachtiar?”
“Hmm ... betul, aku baru saja bertemu dengannya, di kantor,” jelasku
“Ngapain? Nemuin kamu? Gila tuh orang, kamu kan sudah bersuami!” cerocos dia dengan semangat.
“Dia sama papa, ada kerja sama dengan perusahaanku. Ya tadi sempat ngobrol lama sih, sudah begitu saja,” jelasku.
“Awas hati-hati, ntar malah ganggu rumah tangga kalian,” ujarnya.
“Bukan Arif yang mengganggu, melainkan Nadira wanita di masa lalu Mas Dani sebelum menikah denganku.” Mata Firda membulat, mendengar penuturanku.
“I—ini maksudnya? Danial masih berhubungan sama mantannya gitu? Bisa-bisanya dia begitu? Wah belum pernah ngerasain bogem mentahku dia!” Firda langsung naik pitam, dengan menyingsingkan lengan bajunya, seperti orang yang mau bergulat. Aku hanya mengangguk dengan menatap kosong ke depan.
Akhirnya, aku terpancing oleh Firda untuk menceritakan masalahku selama delapan bulan aku menjadi istri Mas Dani. Aku menceritakan semua yang aku lalui selama menikah dengan Mas Dani. Menceritakan bagaimana malam-malam yang aku lalui setelah menikah, hanya hampa yang aku rasakan, tidak ada kebahagiaan sama sekali. Aku bisa terlihat bahagia dan sumringah saat berada di luar, dan di depan kedua orang tua kami.
“Ya Tuhan ... kamu ini hatinya tebuat dari apa, Vit? Kamu masih bisa bertahan selama ini? Delapan bulan lho, Vit? Kamu tidak diperlakukan dengan baik oleh Danial? Bahkan belum disentuh selama ini? Gila tuh orang, kayak apa sih yang namanya Nadira? Bisa-bisanya orang seperfect kamu, secantik kamu, sepandai kamu, diabaikan begitu saja?” Firda semakin mendidih, mendengar ceritaku soal kehidupanku setelah menikah.
“Aku belum disentuh dia itu tidak masalah, Fir. Kamu tahu sendiri aku orang yang benci dengan pengkhianatan. Ya meski Mas Dani belum bisa menerima aku, belum bisa menyentuh aku, bahkan dia belum bisa mencintaiku, aku gak masalah untuk itu, karena aku paham, dia butuh menyesuaikan diri dengan hidup barunya. Namun, jika sudah meladeni telefon, chat, dengan perempuan lain, setiap hari, aku gak kuat, Fir. Aku menyerah. Dia tidak menghargai ada aku di depannya, ada aku di setiap harinya. Dia tidak bisa menghargai itu, bahkan dia terang-terangan bilang tidak mau menyentuhku, karena tidak mencintaiku. Itu dia katakan setelah ijab qobul selesai. Dan ternyata, malam harinya dia telfonan di balkon kamar, seperti sedang menenangkan orang yang menangis. Aku tahu itu pasti Nadira. Demi Tuhan, aku tidak tahan dengan semua ini, Fir.”
Ucapan itu lolos dari bibirku. Aku menceritakan semua pada Firda masalah rumah tanggaku yang harusnya tidak aku umbar seperti ini. Tapi, kalau aku tahan sendiri, bisa-bisa aku gila. Apalagi aku sudah pusing mengurus pekerjaan, dan tidak ada tempat untuk berdiskusi, tempat untuk pulang ke rumah yang nyaman, dan tidak ada sandaran saat aku lelah menghadapi beberapa klien yang banyak mau, belum juga menghadapi kedua mertuaku yang selalu meminta cucu.
“Aku menyerah, Fir. Rasanya aku tidak ada harganya di depan Mas Dani. Aku tidak terlihat, apa pun kebaikan yang aku lakukan, tidak pernah terlihat. Apa dia tidak lihat, sekarang perusahaannya maju karena kerja keras siapa? Iya papa selalu mendampingiku, tapi semua orang mengenalnya aku, setelah aku memegang kendali perusahaan,” ucapku. “Aku juga ingin bertemu dengan Nadira, ingin sekali bicara dengan dia untuk menjauhi suamiku, daripada mereka semakin nekat. Kamu tahu kan bagaimana guru-guru sekarang? Pada selingkuh semua Fir. Lagi-lagi dengar berita guru selingkuh, guru kena razia di hotel sedang selingkuh? Iya, kan? Guru sekarang jauh dari kata panutan bagi murid-muridnya, kecuali guru yang benar-benar mengabdikan dirinya untuk merintis generasi hebat. Kamu tahu Guru itu apa? Digugu dan Ditiru! Bagaimana bisa mereka digugu dan ditiru sama muridnya, kalau kelakuannya saja begitu?” lanjutku.
“Jangan berpikiran macam-macam, Vit. Sudah kamu positif thingking saja dong? Mas Dani begitu ya mungkin karena dia masih belum bisa menyesuaikan diri dengan hidup barunya. Dan, kamu gak usah deh pakai menemui siapa tuh tadi? Nadira, ya? Gak usah, Vit! Buang-buang waktu kamu saja. Lebih baik nih, kamu cuekin balik tuh Mas Dani? Kan dia apa-apa kamu yang layanin? Baju saja kamu yang nyiapin? Coba deh cueki dia, gak usah urusi dia.” Saran Firda memang ada benarnya, aku harus balik mencueki Mas Dani, tapi mana bisa aku cuek dengan dia? Dia suamiku? Tapi, memang sih dia saja tidak menganggap aku istri, ngapain aku megurusi dia, dan menganggap dia ada?
“Aku tidak bisa , Fir,” ucapku.
“Ya susah kalau kamu gini? Jangan jadi babu suamimu lah, Vit? Kamu CEO lho? Masa kamu tunduk banget sih? Tunjukkan wibawamu, dong?”
“Meski jabatan aku lebih tinggi daripada dia, tetap aku ini seorang istri, Fir? Kedudukanku di bawah suamiku.”
“Lalu kamu maunya apa?” tanya Firda.
“Entahlah, kalau Mas Dani tetep begitu, ya sudah, aku bisa apa? Mungkin aku pergi meninggalkan semuanya? Aku menyesal menerima perjodohan dengannya, dan meninggalkan Arif yang sangat mengerti aku. Apa aku selingkuh saja dengan Arif? Ah tidak, tidak! Aku tidak mau menjatuhkan harga diriku.”
Aku mendengar Firda mendengus kesal mendengar penuturanku yang semakin ngawur. Firda menggelengkan kepalanya, seperti tidak percaya aku sampai bicara seperti itu. “Jangan begitu, jangan balas selingkuh dengan selingkuh. Kamu harus bisa merebut Mas Dani dari Nadira, kamu posisinya kuat, Vit. Kamu itu istrinya. Kamu juga punya andil di perusahaan yang juga milik Danial. Hadapi semua ini, sabar, dan kamu buktikan, kamu lebih baik daripada Nadira. You are the Queen, Honey ... Don’t give up, Okay ...?”
Ya, aku ini ratu. Aku yang menguasai semuanya, tapi untuk apa aku menguasai semua, tapi raja di kerajaanku sendiri, tidak menganggap aku yang menjadi ratunya? Dan, aku tidak bisa menguasai hatinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments