“Memang ya, Mas? Kalau untuk orang tercinta, kita itu mau melakukan apa saja, asal bisa dengan orang yang kita cintai,” ucapku.
Mas Dani menatapku, menarik napasnya pelas, dan menutup buku yang sedang ia baca. “Ya begitu kalau sudah mencintai orang, Vit. Aku sangat berterima kasih sekali, kamu bisa membantuku seperti ini,” ucap Mas Dani.
“Iya sama-sama, sudah jam dua belas lebih lho, pulang yuk. Besok aku pagi-pagi sekali aku ada janji sam Firda,” ajakku.
“Sama Arif juga?” ucap Mas Dani.
“Ya begitu,” jawabku.
“Apa dia kekasihmu? Maksudku mantanmu?” tanya Mas Dani.
Kepo sekali ini orang? Mau dia mantanku atau siapa apa urusanku? Toh aku sekarang sudah menjadi miliknya, dan aku juga berusaha sekuat tenaga menjaga marwahku sebagaai seorang istri, meski batin ini tersiksa.
“Tadi mas bilang apa? Mantan kekasih? Mungkin lebih tepatnya hanya sekadar teman dekat saja, yang memang sangat dekat,” jawabku.
“Sama saja dong mantan kekasihmu dulu,” ujarnya.
“Bukan,” jawabku lugas.
“Lalu apa namanya kalau bukan kekasih tapi sudah dekat sekali?” Mas Dani terus mendesak, sepertinya dia penasaran sekali dengan Arif. Apalagi kemarin sepertinya dia melihatku menangis setelah Arif menelefon. Bukan sepertinya lagi, dia memang tahu aku menangis kemarin.
“Apa ya namanya?” ucapku dengan memutar bola mataku seperti orang yang sedang berpikir mencari sebuah alasan. “Apa mas harus tahu soal itu?” tanyaku.
“Ya apa salahnya aku tahu? Kamu pun sudah tahu aku dengan Nadira? Kamu tahu aku dan dia ada sebuah hubungan, aku dengan dia sepasang kekasih, yang masih saling mencintai meski sudah ada status baru di hidupku. Kali saja kamu pun sama dengan aku, kamu dan Arif dulu sepasang kekasih yang saling mencintai, dan kisah cinta kalian belum selesai? Apa kita tidak bisa saling kerja sama untuk itu? Kamu bantu aku supaya kembali dengan Nadira, kita berpisah dan kamu kembali dengan Arif?”
Ucapan Mas Dani benar-benar cerminan kalau dia adalah orang yang sangat egois dan layaknya orang yang tidak punya hati, bahkan tidak punya otak! Jelas-jelas hubungan aku dan dirinya adalah hubungan yang sakral dan hubungan yang terikat begitu suci. Dengan mudahnya dia bicara seperti itu, mempermainkan sebuah pernikahan, sebuah ikatan suci. Hatimu terbuat dari apa sih, Mas? Apa otakmu tidak bisa berpikir logis, berpikir yang benar, kalau ikatan pernikahan itu ikatan yang suci dan sakral?
“Aku dan Arif itu berbeda dengan Mas dan Nadira,” ucapku.
“Bedanya di mana? Orang dia seperti masih berharap kamu, dan kamu pun sama? Di mana letak perbedaannya?”
“Bedanya aku tidak pernah sama sekali menjalin hubungan dengan Arif. Kami memang saling memiliki persaan, kami saling mencintai, tapi kami menghargai orang tua kami, dan paling utama adalah menghargai orang tua mas yang sudah memplokamirkan diriku ini adalah calon menantu tunggalnya dari sejak aku remaja. Bagaimana Arif berani memacariku, sedangkan ayahnya Arif dulu rekan kerja papamu? Aku pun tidak berani, aku dijaga orang dari segela penjuru, kakak-kakakku, ayah, ibu, dan eyangku juga menjagaku karena secara tidak langsung aku sudah diikat oleh kedua orang tuamu untuk dijadikan menantu tunggalnya. Aku juga tidak mau mempermalukan kedua orang tuaku, dan orang tua mas. Arif pun begitu, dia rela, rela aku dipinang olehmu suatu hari nanti, apalagi dia tahu calon suamiku bukan dari keturunan sembarangan,” jelasku.
Mas Dani hanya diam mendengar penjelasanku. Memang itu adanya. Saat orang tua mas Dani berbangga hati mengumumkan aku adalah calon menantu tunggalnya, di saat itulah hidupku sudah tidak bebas lagi. Masa remajaku terenggut, masa yang harusnya aku menikmati gita cinta di SMA, tapi masa itu mejadikan aku perempuan yang dijuluki Siti Nurbaya Modern. Tidak ada yang berani teman pria mendekatiku, karena mereka tahu aku ini siapa, aku ini akan dijodohkan dengan siapa.
“Masa remajaku saat itu terenggut, tidak bebas lagi. Tidak bisa seperti anak remaja seusiaku saat itu. Aku tidak bisa seperti mereka yang dengan bebas menikmati dunia remajanya. Memiliki pacar di sekolahan, main dengan teman-teman sampai malam, nongkrong di cafe, aku tidak bebas melakukan itu, bahkan aku kuliah saja papa kamu yang memilihkan universitasnya, fakultasnya, dan sampai S2 pun papa yang menentukan aku harus melanjutkan pendidikanku di mana? Mungkin kalau orang tuaku tidak mengenal orang tua mas, aku sudah jadi pramugari mungkin, dokter, dosen, atau mungkin pengacara. Aku memang suka dengan dunia bisnis, tapi aku tidak pernah berpikir untuk terjun ke dalamnya, aku ingin mewujudkan mimpiku dulu, baru kalau aku sudah ingin menggeluti dunia bisnis aku akan belajar, tapi Ibu bilang, perempuan itu harus mau diatur supaya tertata kehidupannya, dan seperti inilah aku sekarang, sampai sekarang saja aku rasa tidak punya kebebasan.”
Aku menjelaskan semuanya pada Mas Dani, aku tumpahkan semuanya, supaya dia tahu betapa peliknya hidupku setelah aku diikat oleh kedua orang tuanya untuk dijadikan menantu tunggalnya, dan dijadikan istri dari seorang Danial yang sama sekali tidak punya perasaan dan aku rasa dia juga tidak punya otak. Hewan saja sepertinya punya otak? Kenapa seorang Danial yang notabennya seorang guru berprestasi tidak punya otak dan perasaan? Seorang guru harusnya pintar, kan?
“Kenapa kamu tidak berani protes? Setidaknya kamu berontak, kamu protes karena seperti itu keadaannya?” tanya Mas Dani.
Pertanyaan yang terlalu klise menurutku. Kenapa aku tidak protes saat itu? Sungguh pertanyaan yang tidak seharusnya dia tanyakan.
“Bagaimana aku protes? Orang tuaku terlalu bahagia aku akan mendapatkan anak tunggal dari keluarga Barata. Siapa yang tidak tahu papamu? Aku protes pun percuma, ibu, ayah, kakakku, eyang, terlalu ketat menjagaku, supaya aku bisa menjaga fitrah seorang perempuan. Supaya aku bisa menjaga diriku, menjaga pandanganku, karena aku sudah tidak masuk dalam kategori remaja pada umumnya, aku selalu dibanggakan karena dipilih papa dan mamamu menjadi menantunya. Tidak hanya orang tuaku, kakakku, dan eyangku saja. Semua saudaraku sangat memperhatikan aku dari segala tindak tindik tingkahku di rumah dan di luar rumah, mereka bilang aku harus bisa menjadi menantu yang baik untuk orang tuamu, dan aku sudah diajarkan sejak aku SMA kelas dua. Itu jawabanku kenapa aku tidak bisa menolak, protes, bahkan berontak.”
Mas Dani terdiam lagi aku bicara seperti itu. Aku bicara apa adanya, memang begitu keadaanku dulu. Aku terlalu dikekang, selalu diawasi setiap gerak-gerikku, aku tidak boleh main dengan sembarang teman, kecuali Firda, dan teman laki-lakiku hanya Arif saja. Arif saja kalau ke rumah pasti mengajak Firda, tidak mungkin dia sendiri, dan itu pun alasannya ingin meminjam buku dariku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
Zahraa
Danial ceritanya adu nasib yaa ahahaha
2023-03-17
1