Siti Nurbaya Modern

“Memang ya, Mas? Kalau untuk orang tercinta, kita itu mau melakukan apa saja, asal bisa dengan orang yang kita cintai,” ucapku.

Mas Dani menatapku, menarik napasnya pelas, dan menutup buku yang sedang ia baca. “Ya begitu kalau sudah mencintai orang, Vit. Aku sangat berterima kasih sekali, kamu bisa membantuku seperti ini,” ucap Mas Dani.

“Iya sama-sama, sudah jam dua belas lebih lho, pulang yuk. Besok aku pagi-pagi sekali aku ada janji sam Firda,” ajakku.

“Sama Arif juga?” ucap Mas Dani.

“Ya begitu,” jawabku.

“Apa dia kekasihmu? Maksudku mantanmu?” tanya Mas Dani.

Kepo sekali ini orang? Mau dia mantanku atau siapa apa urusanku? Toh aku sekarang sudah menjadi miliknya, dan aku juga berusaha sekuat tenaga menjaga marwahku sebagaai seorang istri, meski batin ini tersiksa.

“Tadi mas bilang apa? Mantan kekasih? Mungkin lebih tepatnya hanya sekadar teman dekat saja, yang memang sangat dekat,” jawabku.

“Sama saja dong mantan kekasihmu dulu,” ujarnya.

“Bukan,” jawabku lugas.

“Lalu apa namanya kalau bukan kekasih tapi sudah dekat sekali?” Mas Dani terus mendesak, sepertinya dia penasaran sekali dengan Arif. Apalagi kemarin sepertinya dia melihatku menangis setelah Arif menelefon. Bukan sepertinya lagi, dia memang tahu aku menangis kemarin.

“Apa ya namanya?” ucapku dengan memutar bola mataku seperti orang yang sedang berpikir mencari sebuah alasan. “Apa mas harus tahu soal itu?” tanyaku.

“Ya apa salahnya aku tahu? Kamu pun sudah tahu aku dengan Nadira? Kamu tahu aku dan dia ada sebuah hubungan, aku dengan dia sepasang kekasih, yang masih saling mencintai meski sudah ada status baru di hidupku. Kali saja kamu pun sama dengan aku, kamu dan Arif dulu sepasang kekasih yang saling mencintai, dan kisah cinta kalian belum selesai? Apa kita tidak bisa saling kerja sama untuk itu? Kamu bantu aku supaya kembali dengan Nadira, kita berpisah dan kamu kembali dengan Arif?”

Ucapan Mas Dani benar-benar cerminan kalau dia adalah orang yang sangat egois dan layaknya orang yang tidak punya hati, bahkan tidak punya otak! Jelas-jelas hubungan aku dan dirinya adalah hubungan yang sakral dan hubungan yang terikat  begitu suci. Dengan mudahnya dia bicara seperti itu, mempermainkan sebuah pernikahan, sebuah ikatan suci. Hatimu terbuat dari apa sih, Mas? Apa otakmu tidak bisa berpikir logis, berpikir yang benar, kalau ikatan pernikahan itu ikatan yang suci dan sakral?

“Aku dan Arif itu berbeda dengan Mas dan Nadira,” ucapku.

“Bedanya di mana? Orang dia seperti masih berharap kamu, dan kamu pun sama? Di  mana letak perbedaannya?”

“Bedanya aku tidak pernah sama sekali menjalin hubungan dengan Arif. Kami memang saling memiliki persaan, kami saling mencintai, tapi kami menghargai orang tua kami, dan paling utama adalah menghargai orang tua mas yang sudah memplokamirkan diriku ini adalah calon menantu tunggalnya dari sejak aku remaja. Bagaimana Arif berani memacariku, sedangkan ayahnya Arif dulu rekan kerja papamu? Aku pun tidak berani, aku dijaga orang dari segela penjuru, kakak-kakakku, ayah, ibu, dan eyangku juga menjagaku karena secara tidak langsung aku sudah diikat oleh kedua orang tuamu untuk dijadikan menantu tunggalnya. Aku juga tidak mau mempermalukan kedua orang tuaku, dan orang tua mas. Arif pun begitu, dia rela, rela aku dipinang olehmu suatu hari nanti, apalagi dia tahu calon suamiku bukan dari keturunan sembarangan,” jelasku.

Mas Dani hanya diam mendengar penjelasanku. Memang itu adanya. Saat orang tua mas Dani berbangga hati mengumumkan aku adalah calon menantu tunggalnya, di saat itulah hidupku sudah tidak bebas lagi. Masa remajaku terenggut, masa yang harusnya aku menikmati gita cinta di SMA, tapi masa itu mejadikan aku perempuan yang dijuluki Siti Nurbaya Modern. Tidak ada yang berani teman pria mendekatiku, karena mereka tahu aku ini siapa, aku ini akan dijodohkan dengan siapa.

“Masa remajaku saat itu terenggut, tidak bebas lagi. Tidak bisa seperti anak remaja seusiaku saat itu. Aku tidak bisa seperti mereka yang dengan bebas menikmati dunia remajanya. Memiliki pacar di sekolahan, main dengan teman-teman sampai malam, nongkrong di cafe, aku tidak bebas melakukan itu, bahkan aku kuliah saja papa kamu yang memilihkan universitasnya, fakultasnya, dan sampai S2 pun papa yang menentukan aku harus melanjutkan pendidikanku di mana? Mungkin kalau orang tuaku tidak mengenal orang tua mas, aku sudah jadi pramugari mungkin, dokter, dosen, atau mungkin pengacara. Aku memang suka dengan dunia bisnis, tapi aku tidak pernah berpikir untuk terjun ke dalamnya, aku ingin mewujudkan mimpiku dulu, baru kalau aku sudah ingin menggeluti dunia bisnis aku akan belajar, tapi Ibu bilang, perempuan itu harus mau diatur supaya tertata kehidupannya, dan seperti inilah aku sekarang, sampai sekarang saja aku rasa tidak punya kebebasan.”

Aku menjelaskan semuanya pada Mas Dani, aku tumpahkan semuanya, supaya dia tahu betapa peliknya hidupku setelah aku diikat oleh kedua orang tuanya untuk dijadikan menantu tunggalnya, dan dijadikan istri dari seorang Danial yang sama sekali tidak punya perasaan dan aku rasa dia juga tidak punya otak. Hewan saja sepertinya punya otak? Kenapa seorang Danial yang notabennya seorang guru berprestasi tidak punya otak dan perasaan? Seorang guru harusnya pintar, kan?

“Kenapa kamu tidak berani protes? Setidaknya kamu berontak, kamu protes karena seperti itu keadaannya?” tanya Mas Dani.

Pertanyaan yang terlalu klise menurutku. Kenapa aku tidak protes saat itu? Sungguh pertanyaan yang tidak seharusnya dia tanyakan.

“Bagaimana aku protes? Orang tuaku terlalu bahagia aku akan mendapatkan anak tunggal dari keluarga Barata. Siapa yang tidak tahu papamu? Aku protes pun percuma, ibu, ayah, kakakku, eyang, terlalu ketat menjagaku, supaya aku bisa menjaga fitrah seorang perempuan. Supaya aku bisa menjaga diriku, menjaga pandanganku, karena aku sudah tidak masuk dalam kategori remaja pada umumnya, aku selalu dibanggakan karena dipilih papa dan mamamu menjadi menantunya. Tidak hanya orang tuaku, kakakku, dan eyangku saja. Semua saudaraku sangat memperhatikan aku dari segala tindak tindik tingkahku di rumah dan di luar rumah, mereka bilang aku harus bisa menjadi menantu yang baik untuk orang tuamu, dan aku sudah diajarkan sejak aku SMA kelas dua. Itu jawabanku kenapa aku tidak bisa menolak, protes, bahkan berontak.”

Mas Dani terdiam lagi aku bicara seperti itu. Aku bicara apa adanya, memang begitu keadaanku dulu. Aku terlalu dikekang, selalu diawasi setiap gerak-gerikku, aku tidak boleh main dengan sembarang teman, kecuali Firda, dan teman laki-lakiku hanya Arif saja. Arif saja kalau ke rumah pasti mengajak Firda, tidak mungkin dia sendiri, dan itu pun alasannya ingin meminjam buku dariku.

Terpopuler

Comments

Zahraa

Zahraa

Danial ceritanya adu nasib yaa ahahaha

2023-03-17

1

lihat semua
Episodes
1 Drama Queen
2 Dia Rembulan Yang Indah
3 Bagai Punguk Merindukan Bulan
4 Rusuk Rusak
5 Apa Aku Selingkuh Saja?
6 Aku Istrinya, Mbak
7 Aku Harus Dimadu Maksudnya?
8 Istri Yang Sempurna
9 Perempuan Yang Hebat
10 Bukan Pilihan Hatimu
11 Dia Cantik
12 Aku Dan Kamu, Sulit Untuk Menjadi Kita
13 Cerai Maksudnya?
14 Dia Perempuan Seperti Apa?
15 Melawan Gengsi
16 Makan Malam Berdua
17 Siti Nurbaya Modern
18 Barter Bantuan
19 Semua Tegantung Niat
20 Calon Guru Baru
21 Ada Yang Camburu
22 Lagi Ada Maunya
23 Kamu Tampan
24 Harap Tenang, Sedang Ada Ujian
25 Terjatuh Dua Kali
26 Perempuan Yang Hatinya Sulit Ditebak
27 Memberantas Benalu
28 Permintaan Nadira
29 Dia Begitu Cantik Dan Sederhana
30 Dia Selalu Bisa Menjaga Diri
31 Jangan Menambahkan Beban Di Hatiku
32 Pagi Yang Membuat Mood Berantakan
33 Perang Dingin
34 Dia Milik Wanita Lain
35 Aku Siap Berpisah
36 Makan Siang Berdua
37 Hati Ini Bukan Mainan
38 Kado Istimewa Dari Suami
39 Pagi Yang Berbeda
40 Bulan Madu
41 Kenangan Terindah
42 Aku Akan Belajar Mencintaimu
43 Kandas
44 Aku Harus Bagaimana, Vit?
45 Merebut Hati Suamiku
46 Calon Mantan
47 Menjenguk
48 Dilema
49 Selamat Tinggal
50 Restui Mereka
51 Merasakan Beban Yang Vita Emban Selama Ini
52 Menemui Nadira
53 Ancaman Papa dan Mama
54 Bukan Daerah Kekuasaanku
55 Apa Tidak Bisa Kita Perbaiki?
56 Sidang Pertama
57 Seperti Diratukan
58 Istri Idaman
59 Bertemu Mantan
60 Pagi Bahagia
61 Semakin Over Protektif
62 Asal Kamu Bahagia
63 Akhir Bahagia
Episodes

Updated 63 Episodes

1
Drama Queen
2
Dia Rembulan Yang Indah
3
Bagai Punguk Merindukan Bulan
4
Rusuk Rusak
5
Apa Aku Selingkuh Saja?
6
Aku Istrinya, Mbak
7
Aku Harus Dimadu Maksudnya?
8
Istri Yang Sempurna
9
Perempuan Yang Hebat
10
Bukan Pilihan Hatimu
11
Dia Cantik
12
Aku Dan Kamu, Sulit Untuk Menjadi Kita
13
Cerai Maksudnya?
14
Dia Perempuan Seperti Apa?
15
Melawan Gengsi
16
Makan Malam Berdua
17
Siti Nurbaya Modern
18
Barter Bantuan
19
Semua Tegantung Niat
20
Calon Guru Baru
21
Ada Yang Camburu
22
Lagi Ada Maunya
23
Kamu Tampan
24
Harap Tenang, Sedang Ada Ujian
25
Terjatuh Dua Kali
26
Perempuan Yang Hatinya Sulit Ditebak
27
Memberantas Benalu
28
Permintaan Nadira
29
Dia Begitu Cantik Dan Sederhana
30
Dia Selalu Bisa Menjaga Diri
31
Jangan Menambahkan Beban Di Hatiku
32
Pagi Yang Membuat Mood Berantakan
33
Perang Dingin
34
Dia Milik Wanita Lain
35
Aku Siap Berpisah
36
Makan Siang Berdua
37
Hati Ini Bukan Mainan
38
Kado Istimewa Dari Suami
39
Pagi Yang Berbeda
40
Bulan Madu
41
Kenangan Terindah
42
Aku Akan Belajar Mencintaimu
43
Kandas
44
Aku Harus Bagaimana, Vit?
45
Merebut Hati Suamiku
46
Calon Mantan
47
Menjenguk
48
Dilema
49
Selamat Tinggal
50
Restui Mereka
51
Merasakan Beban Yang Vita Emban Selama Ini
52
Menemui Nadira
53
Ancaman Papa dan Mama
54
Bukan Daerah Kekuasaanku
55
Apa Tidak Bisa Kita Perbaiki?
56
Sidang Pertama
57
Seperti Diratukan
58
Istri Idaman
59
Bertemu Mantan
60
Pagi Bahagia
61
Semakin Over Protektif
62
Asal Kamu Bahagia
63
Akhir Bahagia

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!