“Hmm ... mulai nih? Mas Dani, aku tahu ini kamu.” Ucap Nadira saat aku menutup matanya dari belakang.
Selesai mengajar, kami seperti biasa bertemu di perpusatakaan. Nadira lebih dulu ke sana, karena dia lebih dulu selesai. Dia mengajar anak kelas empat. Berbeda denganku, aku wali kelas di kelas enam. Tanggung jawabku besar, aku harus bisa membuat anak-anak mendapatkan nilai terbaik saat ujian nasional nanti.
Aku duduk di sebelah Nadira, lalu memberikan buku yang mau Nadira pinjam dariku. “Buku yang ini, kan?” tanyaku.
“Iya, benar,” jawabnya. “Eh kok rapi sekali?”
“Oh iya kemarin diperbaiki Vita, waktu itu jatuh berserakan halamannya, dia bantu aku merapikannya, dan perbaiki bukunya,” jawabku apa adanya.
“Oh dibantuin istrinya nih? Makin akrab saja sepertinya? Gitu dong, mau sampai kapan kamu gini? Cobalah menerima Vita?” ucap Nadira dengan tatapan sendu.
“Nad, jangan bicara seperti itu,” ucapku.
“Lalu aku harus bicara apa, Dan? Kenyataannya kan seperti itu? Kamu juga harus terbiasa dengannya, harus belajar menerimanya, juga belajar mencintainya,” ucap Nadira.
“Aku tidak bisa, Nad.”
“Kamu harus bisa, Dan. Aku dan kamu sulit untuk menjadi kita, aku menyerah, Dan,” ucap Nadira dengan menunduk.
“Hei jangan bicara seperti itu. Kita bertemu di sini bukan untuk membahas Vita, sudah jangan bahas soal dia,” ucapku.
“Ini yang akan aku bahas, Mas.”
“Maksudmu?”
Vita diam menuduk dengan jarinya menyeka sudut matanya yang basah. Entah ingin membahas Vita soal apa.
“Aku rasa kita harus menyudahi semua ini, Dan.” Ucapnya dengan suara bergetar menahan tangis.
“Nadira ... aku tidak mau, aku tidak mau kita sampai di sini. Sabarlah, aku akan cari waktu untuk bilang dengan kedua orang tuaku,” ucapku meyakinkan.
“Bilang apa? Mau menikahiku menjadi istri kedua?”
“Bukan.”
“Lalu?”
“Untuk berpisah dengan Vita.”
Nadira mendongak, lalu kembali menyeka air matanya, telihat ia senyum dengan terpaksa. “Kamu tidak salah mau pisah dengan Vita? Dia itu yang diingkan kedua orang tuamu, Dan? Lucu sekali kamu!”
“Aku serius, Nad. Untuk apa aku menjalani pernikahan tapi tidak ada cinta? Aku hanya mencintaimu, Nad. Aku tidak bisa seperti ini terus, aku ingin kita bersama, merajut mimpi kita yang sempat terhenti,” ucapku dengan serius.
“Tidak akan ada lagi mimpi kita, Dan,” ucapnya lirih.
“Ada, Nad! Percaya sama aku, kita akan bersama, kita akan seperti dulu lagi.” Aku terus meyakinkannya.
“Enggak, Dan. Cukup, aku tidak mau merusak rumah tanggamu.”
“Biar saja, itu bukan kemauanku, itu kemauan mama dan papa. Aku mohon, jangan sudahi semua ini, kita sama-sama berjuang untuk hubungan kita, Nad.”
Nadira hanya diam, lalu menatapku. Aku lihat matanya merah dan berkaca-kaca. Ingin rasanya aku memeluknya, tapi aku tahu tempat, ini di perpustakaan, meski tidak ada siswa, tapi tetap saja ada etika di sekolahan, apalagi aku sudah menikah, dan semua guru di sini tahu aku sudah menikah. Tapi, mereka juga tahu aku masih berhubungan dengan Nadira, karena aku menikah dengan dijodohkan dan tidak mencintai Vita. Kebanyakan dari rekan kerjaku mendukung, tapi ada yang tidak, dan menasihatiku kalau pilihan orang tua adalah yang terbaik. Ada yang tidak suka lalu menggunjing hubungan kami, memang hubungan kami salah, tapi hubungan kami sudah sejak dulu, sejak kami SMA, walaupun aku saat itu sudah terikat dengan Vita.
“Sudah, ya? Aku mohon kamu jangan bicara ini lagi. Kamu yang sabar, tunggu aku menyelesaikan semuanya dengan Vita.” Aku terus meyakinkannya.
“Kalau Vita hamil bagaimana?”
“Kamu tanya kalau Vita hamil? Aku saja belum menyentuhnya, Nad?” jawabku.
“Delapan bulan, Dan? Kamu belum menyentuhnya?” tanya Nadira tidak percaya.
“Iya, sama sekali belum,” jawabku jujur.
“Dulu saat dua bulan pernikahan kamu, kamu bilang belum menyentuhnya, aku percaya, bahkan sangat percaya, karena wajar masih dua bulan. Aku memang tidak mau membahas apa yang kamu lalui dengan Vita, karena aku tidak mau tahu urusan rumah tanggaku. Ya aku tahunya kamu sudah menyentuhnya.
“Belum, sama sekali belum, Nad. Demi Allah aku belum menyentuhnya.”
“Delapan bulan, Dan? Kamu kan baru pindah dua bulan di rumah barumu? Lalu dulu di rumah mamamu? Kan kalian satu kamar? Tidak ada gitu kamu pengin menyentuh dia, nyium, meluk, atau bagaimana?”
“Tidak ada keinginan untuk itu, Nad. Aku hanya diam, tidak bersuara atau bertanya kalau tidak penting sekali. Jangankan memeluk, mencium atau melakukannya. Mengajak dia bicara saja aku tidak mau?” jawabku.
“Kalau tidak mau bicara degannya kok dia bisa memperbaiki buku ini yang rusak?” tanya Nadira dengan menunjukkan bukuku.
“I—itu ya karena dia yang ngajak aku bicara dulu, dan mau bantu memperbaiki?” jawabku.
Memang begitu, dua bulan setelah aku pindah ke rumah baru, aku semakin sering bicara dengan Vita. Dulu waktu di rumah mama, aku masih jarang bicara dengannya karena ada Mbok Sum. Aku bisa meminta tolong padanya apa yang aku butuhkan, di rumah baru aku tidak boleh bawa Mbok Sum, dan Mbok Sum pun bilang mau pulang kampung, karena sudah lanjut usianya.
“Setelah di rumah baru, aku tidak tahu lagi mau minta tolong dengan siapa selain Vita, mau bicara dengan siapa lagi selain dengan Vita? Hanya aku dan dia di rumah, jadi apa-apa aku tanya dia. Kamu tahu sendiri, dari dulu semua kebutuhanku Mbok Sum yang siapkan, dari hal sekecil apa pun, Mbok Sum yang tahu. Sekarang Vita malah jadi gantinya Mbok Sum, aku pernah mencoba apa-apa sendiri, hasilnya malah berantakan sekali,” jelasku.
“Hanya berdua harusnya kamu makin dekat, dan tentunya banyak setan yang ganggu. Kan setan senang mengganggu perempuan dan laki-laki yang sedang berduaan di dalam ruangan? Tidak ada siapa pun hanya berdua?” ucapnya dengan mengulas senyumannya yang cantik.
“Gini dong senyum? Dari tadi cemberut saja?” ucapku. “Bagaimana setan mau ganggu kami? Aku sama Vita sama-sama diam, dia pun kalau tidak aku tanya gak akan pernah bicara, kecuali kalau sangat penting dia bicara. Tidur pun kami terpisah?” jelasku.
“Iya kalau tidur terpisah sih aku tahu, tapi kan kalian banyak sekali waktu berdua di rumah, misal kalau sarapan, makan malam, kadang juga makan siang Vita pulang, kan?”
“Kami sarapan ya biasa saja, tidak ada obrolan, paling nyapa saja, selamat pagi, sama bilang aku nanti pulang terlambat, Mas, mungkin sampai malam. Gitu saja,” jawabku.
“Kamu itu anggap dia tuh kayak pembantu ya, Dan? Suruh nyuciin bajumu, setrika, masak, bersih-bersih? Padahal kerjaan dia full seharian lho? Tidak mudah kerjaan dia, beda dengan aku dan kamu yang jam satu siang sudah pulang, kalau ada rapat ya sampai jam tiga? Dia sampai malam lho?Apa dia gak tidur? Kapan cuci setrika baju, masak, dan bersih-bersihnya?”
“Lagian kamu kok mikir banget sih? Biar saja dia yang mau kok?” jawabku. “Sudah jangan bahas dia, aku tidak mau kamu menangis lagi. Percaya padaku, kita pasti bisa bersama.”
“Yakin bisa? Aku perempuan, Dan. Aku butuh kepastian, aku tidak mau lama menunggu, sudah delapan bulan kamu menikah, dan aku masih terus berada di sampingmu, tanpa ada kepastian, dan statusku yang tadinya pacarmu, kekasihmu, sekarang menjadi pengganggu rumah tanggamu,” ucapnya.
“Jangan melow lagi sayang. Aku akan usahakan secepatnya untuk membicarakan semua ini pada Vita.”
Nadira hanya mengangguk. Aku memang harus segera bicara dengan Vita. Aku tidak bisa seperti ini. Aku sudah berusaha menerima Vita sebagai istriku, dan berusaha untuk mencintainya, tapi tetap saja aku tidak bisa. Untuk apa pernikahanku dengan Vita terus berjalan, kalau tidak ada cinta di dalam pernikahanku dan Vita? Bukankah membangun rumah tangga harus dilandasi rasa cinta? Bagaimana bisa aku melakukan kewajibanku tanpa cinta? Aku tidak mau memberikan kewajibanku pada Vita tanpa mencintainya, itu nantinya akan membuat dia semakin sakit, jika aku memaksakan melakukannya, dan akhirnya aku pergi karena tidak mencintai Vita.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
guntur 1609
sebrulnya secara gak langsung kau sdh menalak vita. dasar laki banci kau
2025-04-02
0
Dewi Oktavia
jahat x jadi suami
2024-09-20
0
Ririn Nursisminingsih
boding daniel gregeten a...masalah rumah tangga kok diumbar sama pacarnya🤨🤨
2023-05-26
1