“Mas, dipanggil mama sama papa, makan malam dulu,” ajakku.
“Hmmm ... nanti nyusul,” jawabnya singkat.
Aku mengangguk, lalu meninggalkan Mas Danial di kamarnya yang sedang sibuk dengan pekerjaannya. Aku kembali turun, dan makan malam bersama dengan mertuaku. Selang beberapa menit Mas Danial menyusul untuk bergabung makan malam.
Aku mengambilkan makanan untuknya. Ia menerimanya dengan tersenyum manis padaku. Senyuman pura-pura yang selalu Mas Danial kasih saat bersama mama dan papa, atau saat bersama kedua orang tuaku, juga saat kami sedang bersama menghadiri beberapa undangan.
Selesai makan malam, kami berkumpul di ruang tengah. Mama membawakan aku cemilan yang sengaja beliau bikin. Selalu saja seperti itu kalau tahu aku mau menginap di rumahnya, mama membuatkan cemilan kesukaanku, kadang mama membelikan makanan yang aku suka. Mas Danial hanya melirik mama saat mama terlalu memanjakan aku. Mungkin dia sedang kecewa, karena aku bukan wanita yang Mas Danial inginkan, tapi aku adalah pilihan mamanya.
Semua perempuan ingin seperti diriku. Punya suami yang memiliki tubuh tegap, kulit bersih, hidung mancung, gagah, dan berwibawa. Semua perempuan juga ingin sepertiku, memiliki mertua kaya raya, rumah megah dan mewah, harta benda tumpah ruah, dan memiliki bisnis yang maju. Semua perempuan memimpikan hal seperti diriku.
Namun, mereka tidak tahu seberapa banyak tangisku tumpah. Mereka tidak tahu aku bahwa aku sudah berencana ingin pergi meninggalkan semua, tapi aku tidak sanggup karena aku terlanjur sayang dengan mama dan papa. Aku tidak bisa meninggalkan mereka yang nantinya saat aku pergi, mereka harus kelimpungan lagi mengurus perusahaan, karena anak semata wayangnya terlalu cuek dan masa bodoh dengan usaha yang dibangun mama papanya dari nol.
“Vit, besok kamu pagi-pagi gak mau langsung pulang, kan?” tanya mama.
“Tergantung Mas Dani, Ma,” jawabku. “Memang kenapa, Ma?”
“Besok mama ada arisan dengan teman mama, mama ingin kamu ikut, sekalian kita mampir dibutik langganan kita. Sudah lama sejak kamu pindah rumah mama tidak ke sana mengajak kamu,” jawab mama.
Aku tersenyum manis di depan mama. Dialah mamaku, mama mertuaku yang teramat baik denganku. Anugerah dalam hidupku memiliki mertua sebaik mama. Yang mencintaiku sedalam ibuku sendiri. Mama satu-satunya alasanku untuk bertahan di sisi Mas Danial.
“Bagaimana, Dan? Boleh aku ajak istrimu?” tanya mama pada Mas Danial.
“Terserah mama dan Vita saja, toh biasanya seperti itu, kan?” jawab Mas Dani dengan sibuk memandangi gawainya.
“Kamu diajak bicara mama kok malah fokus ke hape, Dan?” protes papa.
“Iya, maaf,” jawabnya singkat.
“Jadi besok kamu ikut mama. Kalau Dani mau pulang dulu, tidak masalah, nanti mama antar kamu pulang ke rumah,” ucap Mama.
“Dani di sini saja. Gak usah ke rumah, lagian Dani masih kangen di sini, masih pengin di sini, Ma,” ucap Mas Danial.
Aku tahu, Mas Dani pasti takut ketahuan mama kalau di rumah kami tidur terpisah. Sejak kami pindah, memang mama dan papa juga ibu dan ayahku tidak pernah ke rumah. Saat mereka ingin ke rumah, kami punya seribu alasan agar mereka tidak pernah menginap di rumah. Bukan karena rumah kami sempit dan sederhana sekali, tapi karena kami tidak ingin mereka tahu kalau selama dua bulan kami pindah rumah, kami tidur terpisah. Jadi selama kami pindah rumah, kami bergilir menginap di rumah mama atau rumah ayahku.
Kami kembali masuk ke dalam kamar, saat setelah berkumpul di ruang keluarga. Mas Danial mungkin dari tadi jenuh mendengar papanya membahas kantor denganku, jadi dia mengajak aku ke kamar. Mas Danial duduk di sofanya, tempat di mana saat di rumah mama, dia selalu menghabiskan waktunya di sofa, bahkan tidur pun di sofa.
“Besok boleh aku ikut mama?” tanyaku.
“Ya terserah kamu,” jawabnya ketus.
“Baik aku ikut mama,” ucapku.
“Hmm ... aku mandi,” ucapnya.
“Biar aku siapkan air hangat, Mas.”
“Iya.”
Seperti biasa Mas Dani pasti mandi kalau dia akan tidur. Apalagi tadi sore ia tidak mandi karena jam dua siang dia harus pergi, dan saat mau pergi dia pasti mandi terlebih dahulu. Aku siapkan air hangat untuk mandi, dan bergegas mengambilkan handuk saat air hangat sudah aku siapkan. Lalu aku menyiapkan baju tidur untuknya.
Mas Danial bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Aku dengar dia menyalakan shower, dan gemercik air membasahi tubuhnya. Setelah itu aku mendengar gawainya berbunyi. Terlihat nama Nadira muncul di layar gawainya. Fotonya begitu cantik. Wajahnya oval, lesung pipinya terlihat, hidungnya mancung sama seperti Mas Danial, dia memakai jilbab, dan begitu cantik sekali. Riasannya sempurna dan sederhana, seperti seorang guru pada umumnya, tidak terlalu menor, tapi begitu sedap dipandang. Sangat berlawanan denganku, aku yang seperti ini, masih belum bisa menutup auratku, dan aku langsung minder melihat Nadira yang seperti itu. Aku begitu kerdil kala aku tahu seperti apa Nadira. Mungkin dia berfoto dengan menggunakan filter di gawainya. Tapi, tetap saja dia terlihat cantik dan sempurna, meski penampilannya sederhana sekali.
Hatiku tertarik untuk membuka percakapan whatsapp mereka saat aku melihat di layar hape Mas Danial muncul percakapannya dengan Nadira. Aku ragu-ragu untuk membuka percakapan mereka. Hatiku bergetar hebat karena ini untuk pertama kalinya aku menyentuh barang milik Mas Dani.
“Selamat tidur, Nad. Terima kasih, puisimu bagus. Mas belum bisa membalas puisimu, besok senin mas tunggu di perpustakaan seperti biasanya, saat jam istirahat.”
Aku kembali meletakan hape milik suamiku ke tempat semula sambil merasakan debaran di hatiku. Rasanya aku tidak lagi berpijak di bumi, rasanya aku telah dihantam ombak yang begitu dahsyat. Terombang-ambing tidak keruan.
Aku segera meringkuk masuk ke dalam selimut. Aku matikan lampu utama kamarku, dan aku nyalakan lampu tidur yang temaram. Aku benamkan wajahku, dan tidak terasa air mataku luruh membasahi selimut dan bantalku.
Aku tahu dia butuh waktu untuk menerima pernikahan kami. Aku tahu perjodohan ini begitu berat untuk dirinya. Apalagi dia sudah ada pandangan perempuan yang mungkin sudah ia cintai dari dulu. Aku sudah memantapkan hatiku untuk bisa membuat dia menerima pernikahan ini, tapi kalau dalam hidupnya ada Nadira, ada nama perempuan lain, bagaimana mungkin aku bisa tenang, dan bisa membuat dia menerimaku sebagai istrinya?
Nadira akan terus menyita seluruh waktu dan perhatiannya. Nadira akan bertahta di kerajaan hatinya. Tidak akan mungkin ada secebis tempat di hatinya untukku. Nadira akan terus membuatnya bergelora, dan aku semakin diabaikan. Aku seperti bunga yang layu, yang mudah diterbangkan angin.
Untuk apa aku terus bertahan di sisimu, Mas? Kalau kamu sama sekali tidak pernah bisa mencoba untuk menerimaku, menerima pernikahan kita? Aku semakin sesegukkan. Dia mana peduli aku yang setiap hari menumpahkan air mata, dan tidak mau tahu seberapa banyak air mataku membanjiri hari-hari setelah pernikahan kami.
Aku menangis sampai tertidur. Hingga malam semakin hening. Aku terbangun dan melihat suamiku masih asik dengan hapenya. Aku biarkan dia yang sedang asik dengan hapenya. Mungkin sedang berlanjut bertukar pesan dengan Nadira, mungkin membalas puisi Nadira? Biar saja dia begitu. Aku lanjutkan tidurku, dan aku kembali terbangun tengah malam dengan terengah-engah karena aku bermimpi. Mimpi yang cukup indah. Mas Danial menggendong anak laki-laki yang tampan, kami berdua bahagia, dan Mas Danial mencium keningku dengan penuh kasih sayang. Sungguh indah mimpiku malam ini.
Aku terduduk di tepi ranjang, dengan mengingat mimpiku yang begitu indah. Aku sadar ini hanya sebuah mimpi, tapi mimpi malam ini membuat hatiku tentram dan damai, meski Mas Danial mesra kepadaku hanya lewat mimpi. Aku turun dari ranjang, menatap Mas Dani yang sudah tertidur pulas di sofa. Dia adalah rembulan yang indah, yang hanya bisa aku aku rasakan sinarnya, namun sulit kugapai keindahannya dalam dekat. Aku tidak yakin bisa menggapai bulan yang indah itu, tapi aku tidak akan menyerah sampai di sini. Akan aku dapatkan rembulan yang indah itu, dan aku pastikan malam pertamaku tidak akan lama lagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
Ismu Srifah
coba kamu meninggalkan dia bagaimana reaksinya padamu
2024-07-19
1
Selvianah Bilqis
nanti klo udah bucin,susah ngelepasnya
2023-05-19
1
Zahraa
Wah ada yang baru nih...
2023-03-02
0