Aku putuskan untuk menyusul Vita ke restoran, karena aku penasaran dengan Vita, apa yang sedang ia bahas dengan kliennya, pasti kliennya laki-laki, bukan perempuan. Kasihan juga Vita, kerja keras untuk perusahaanku, padahal harusnya aku yang menjadi penerus papa, meneruskan titah perusahaan papa.
Aku melihat ponselku berdering, Nadira menelefonku, baru saja aku masuk ke dalam mobil dan akan menyakalan mesin mobil, lalu menyusul Vita.
“Iya, Sayang .... gimana?”
“Kamu lupa malam ini mau ajak aku ke mana?”
“Bu—bukan aku lupa, Nad. Aku tadi pulang gugup, karena aku ditungguin mama,” jawabku asal.
“Ditungguin mama kamu atau kamu sudah tidak sabar dengan buku itu? Kamu benar mau mempelajarinya? Kamu tahu kan pengusaha itu akan jarang ada di rumah karena yang dia urus pekerjaan terus. Belum ke luar kota, bahkan kadang kerja sama dengan perusahaan korea, jepang, dan lainnya? Dan, kamu ini PNS. Kalau kamu gitu bagaimana? Kamu tahu itu, kan?”
“Kalau aku tidak belajar dari sekarang, mau kapan, Nad? Aku sudah tidak mau melanjutkan pernikahanku, kalau gak ada Vita bagaimana perusahaan papa? Aku tidak mau papa menyalahkan aku karena aku cerai, lalu Vita pergi, dan tidak ada yang meneruskan perusahaan papa? Siapa lagi kalau bukan aku, Nadira? Aku ingin menikahimu, dan dengan cara ini supaya aku bisa menikahimu.”
“Kamu bodoh, Dan! Ini akal-akalan istrimu saja biar waktunya banyak dengan kamu, aku tidak butuh suami pengusha, Dan!”
Nadira mengakhiri telefonnya begitu saja. Aku sejenak berpikir soal ucapan Nadira, kalau ini adalah trik Vita supaya bisa dekat dengan aku? Tapi, kalau ini trik dia, ya dari dulu dia bilang begini saat dia tahu aku masih dengan Nadira, dan ingin dengan Nadira? Lalu kenapa baru kemarin saat aku bilang ingin cerai dengannya?
Aku melupakan ucapan Nadira. Aku memang harus mengambil hati papa juga, supaya aku cerai dengan Vita nanti papa tidak begitu kecewa denganku, karena aku sudah menguasai perushaan, dan bisa menggantikan papa. Aku akan buktikan itu, meski aku harus pensiun dini. Aku tidak peduli, aku hanya ingin Nadira. Aku sangat mencintainya. Apa pun akan aku lakukan, supaya aku bisa menikahinya. Iya, aku harus bisa melepaskan Vita, aku juga tahu dia sangat terbebani dengan semua ini. Aku melajukan mobilku untuk menemui Vita di sana.
^^^
Aku melihat mobil Vita masih teraparkir di sana. Aku langsung masuk ke dalam, aku melihat ke seluruh sudah ruangan restoran, mencari di mana Vita berada. Dan aku melihatnya dengan beberapa orang, duduk di depan meja yang cukup besar, ada orang tujuh sepertinya, dan mereka memang sepert sedang membahas sesuatu. Aku duduk di dekat meja Vita dan menghadap ke arahnya, biar dia tahu aku menyusulnya. Aku melihat Vita yang sedang menjelaskan kepada mereka yang duduk di depannya. Entah apa yang mereka bahas. Aku hanya mendengar sekilas membahas progres perushaaan. Aku sama sekali tidak kenal dan tidak tahu bahasa mereka, apa yang sedang mereka bahas.
Vita melihat ke arahku. Dia menyimpulkan senyuman ke arahku dengan membetulkan jepit rambutnya. Satu hari dia di kantor, penampilannya sama sekali belum kusut. Masih fresh, masih rapi tatanan rambutnya.
***
Aku melihat Mas Dani di dalam restoran, apa aku gak salah? Iya benar itu Mas Dani, tidak salah, benar itu suamiku yang memakai kemeja lengan pendek polos, warna Navy dengan celana jeans. Mau apa dia ke sini? Apa dia sangat penasaran dengan apa yang ingin ia tanyakan padaku? Atau mungkin dia lapar, katanya dia tadi belum makan, tapi sudah makan mie instant dua kali sih katanya?
“Vita, itu bukannya Danial? Itu suamimu bukan?” tanya Om Tama dengan berbisik, sepupu papa yang juga bekerja di perusahaan papa.
“Iya sepertinya itu Mas Dani,” jawabku santai.
“Nyusul kamu atau bagaimana, Vit?”
“Ya mungkin, Om,” jawabku.
“Pantas suami kamu menyusul, ini sudah mau jam sepuluh, terus ini kan malam jum’at, Vit? Kamu sih adakan meeting dadakan sukanya kayak tahu bulat!” ujar Ardina, anak dari Om Tama yang juga ikut di peruasahaan papa. Saudara mama dan papa banyak yang ikut di perusahaan papa, dan dapat jabatan tinggi juga di kantor.
“Ya memang urgent kan, Din? Klien maunya ketemu malam ini, jadi mau tidak mau ya harus,” jawabku.
“Sudah deal, kan? Sudah akhiri saja, om juga sudah ditunggu tantemu, tuh suamimu juga sudah tidak sabar menunggu?” ucap Om Tama.
Sudah tidak sabar tanya soal perusahaan saja, bukan tidak sabar ingin menunaikan kewajiabnnya. Aku ini masih perawan, Om. Tapi, aku senang, malam ini Mas Dani menyusul ke sini meski hanya ingin tanya soal yang sudah ia pelajari.
Aku mengakhiri pertemuanku dengan klien, karena memang sudah selesai juga. Om Tama langsung memangil Mas Dani untuk bergabung setelah klien kami pamit. Hanya ada aku, Om Tama, Ardina, asisten pribadiku, dan Arif. Ya, karena Arif temanku, Om Tama dan Ardina pun tahu kalau Arif temanku. Arif masih ingin bertanya lainnya. Soal project yang sedang aku rancang dengan Firda.
“Dani, ke sini gabung!” Seru Om Tama.
Aku melihat Mas Dani langsung beranjak dari tempat duduknya. Dia bergabung ke mejaku.
“Wah ... sudah tidak sabar nih jadinya nyusul ke sini?” ucap Om Tama.
“Om bisa saja, ya habis Vita tumben sekali pulang lama?” jawab Mas Dani.
“Ya sudah, Om pamit. Ini om bawa ya, Vit. Besok pagi-pagi sekali kita bahas dengan orang kantor, ayo Din pulang,” ajak Om Tama pada Dina.
“Iya, Om. Hati-hati,” jawabku.
“Aku juga pamit ya, Vit?” pamit Arif.
“Iya, Rif. Soal itu nanti bicarakan lagi dengan Firda,” jawabku.
“Iya santai saja kalau itu, kalau yang urgent tadi memang harus selesai malam ini bukan? Nanti event di anyer bagaimana projectnya?” tanya Arif.
“Kita bahas besok saja, sama Firda juga,” jawabku.
“Baik, mari aku pamit,” ucap Arif, lalu menunduk menyapa Mas Dani.
“Bu aku pamit juga, ya?” pamit asistenku.
“Oke, besok jangan lupa laporannya saya tunggu paling lambat jam sepuluh. Papa besok jam sebelas mau ke kantor minta laporan itu soalnya,” ucapku padanya.
“Siap, Bu!” jawabnya.
Sekarang hanya tinggal aku dan Mas Dani. Dia hanya diam dari tadi, belum mulai mengajak aku bicara.
“Mas belum makan, kan? Aku pesanin makanan, ya?” tanyaku.
“Ehm ... boleh lah, sambil aku juga mau tanya-tanya soal yang kamu kasih tadi pagi. Pusing sampai lupa makan, adanya mie instant, dan aku masih lapar,” jawabnya.
“Ya sudah aku juga mau pesan makanan ringan saja,” ucapku.
Aku memanggil pelayan untuk mencatat pesananku dengan Mas Dani. Ada rasa senang malam ini, aku bisa makan malam dengan suamiku, meski itu tidak sengaja.
“Mas mau tanya apa?” tanyaku.
Mas Dani membawa catatan yang isinya pertanyaan soal apa yang ia baca dari buku yang aku kasih. Dia list dengan rapi satu-persatu dengan rapi, lalu aku jelaskan perlahan.
“Mas sudah paham?” tanyaku.
“Sedikit,” jawabnya.
“Biar pahamnya tambah banyak, makan dulu, Mas. Berpikir juga butuh nutrisi, bukan?” ujarku.
Kami makan bersama diselingi obrolan ringan, dan aku senang Mas Dani antusias sekali untuk belajar bisnis.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
Gustiara Gusty
udah mulai kelihatan tuh sifat asli dari nadira 🙊😃😃
2023-03-16
1
Zahraa
Eeaaa Nadira mulai keliatan cacat karakter nya dimana hahahaha, ini dia tuh tipikal perempuan yang ga bisa ngertiin posisi orang lain kayanya wkwk
2023-03-16
0