Chapter 20

Kini di sebuah lapangan basket. Suara teriakan ricuh penonton terlihat sangat antusias karena akhirnya melihat lagi anak inti Renjana main basket. Sedangkan di lapangan sana terlihat Abyan bersama team nya sedang menatap lawannya yang tak lain adek kelas mereka.

Pandangan Abyan teralihkan pada salah satu pria di hadapannya yang menatapnya sinis dan terlihat meremehkan. Abyan hanya mengacuhkan, lalu ia pun memilih memulai pertandingannya.

Keduanya sama-sama jago, pertandingan semakin sengit tetapi poin masih tetap bertahan di team Abyan.

Saat ini Abyan berusaha merebut bola yang berada di tangan lawan. Ia mencoba merebut nya, tetapi sangat sulit. Elvino yang sedang mengdrible bola terus menghindari Abyan. Pria itu tersenyum smrik, sambil membisikkan sesuatu sebelum dirinya berlalu menuju ring lawan.

"Jauhi Arumi, sebelum gw melakukan sesuatu!"

Abyan yang mendengar itu mengepalkan tangannya. Tidak mau kalah, ia kembali mengejar lawan mencegah bola itu agar tidak masuk ring. Tepat sekali Elvino melompat berniat memasukkan bolanya. Namun, dengan isengnya ia menyenggol bahu Abyan keras hingga pria itu terjatuh.

Bruk!

"****!"

"Abyan!" teman-temannya berlari dan membantunya berdiri.

"Gw gapapa," Abyan berdiri, ia mendongak sambil menyugar rambutnya yang menutupi matanya yang padahal ia sudah memakai headband agar tidak menghalangi.

Abyan menatap Elvino yang sudah berhasil memasukkan bola ke ring. Pria itu menatap balik dan tersenyum tipis ke arahnya.

Sedangkan di barisan penonton, sedari tadi Arumi yang menyaksikan semuanya merasa janggal dengan Elvino yang seperti terus mengincar Abyan. Arumi bisa berada di sana karena setelah mendengar dari siswa di kantin tadi, Khanza memaksanya untuk menonton walaupun ia sudah menolak. Akhirnya ia pun mau, karena sebenernya Arumi juga sangat penasaran.

Kini pertandingan berlanjut kembali. Suara teriakan ricuh penonton kembali terdengar meneriaki Abyan yang sedang mengdrible bola dengan keringat yang bercucuran. Abyan kembali menyugar rambutnya ke belakang membuatnya semakin terlihat tampan, yang membuat siapapun yang melihatnya akan terpesona.

Abyan melirik sekilas ke arah penonton, ia tak sengaja melihat gadis yang di sukainya berada di sana. Senyuman tipis mengembang diwajahnya lalu kembali melanjutkan permainannya dengan semangat.

Hingga akhirnya pertandingan di menangkan oleh team Abyan. Tidak sedikit yang mengucapkan selamat kepadanya.

"Selamat."

Abyan mendongak kala melihat seseorang menyodorkan minuman kepadanya. Terlihat Arumi yang berdiri hadapannya, yang entah kerasukan setan apa tiba-tiba gadis itu memberinya minum sambil mengucapkan selamat. Arumi tidak sendiri, ia di ajak Khanza yang juga sedang menghampiri Regi.

Khanza terlihat menyodorkan minuman ke arah Regi tanpa menatap pria itu. Gadis itu terlihat agak sedikit cuek.

"Mereka doang nih yang di kasih, kita mah enggak emm?" goda Revan yang membuat keduanya langsung menoleh.

"Eh enggak kok, ini ada minuman buat kalian juga," ujar Rumi sambil menyodorkan minuman ke arah temannya Abyan.

"Makasih," ucap mereka yang hanya di angguki oleh Arumi.

Setelah selesai mereka langsung pergi meninggalkan lapangan. Yang tak lama para adek kelas yang melawan mereka tadi datang menghampiri.

"Selamat, ternyata kalian masih jago kayak biasanya!" ucap Samuel selaku ketua basket.

"Thank, main kalian juga semakin bagus. Tingkatin terus, banggakan sekolah kita!" ujar Abyan yang di angguki oleh mereka.

"Kita duluan, Kak!"

Mereka pun memilih berlalu pergi mengganti seragam kembali karena sebntar lagi jam pelajaran akan di mulai.

Elvino menepuk pundak Abyan sebelum berlalu sambil berkata, "Jangan kira gw adek kelas dan anak baru, gak akan berani sama Lo!"

Abyan hanya melirik sekilas dengan malas. Apa masalahnya sampe-sampe pria itu berani mengusiknya? Untuk kali ini Abyan hanya menghiraukan, tetapi jika sampe dia semakin nekat itu tidak akan di biarkan.

Mereka pun memilih mengganti seragam nya dan menuju kelas. Jam pelajaran kembali di mulai, waktu semakin berputar hingga tak terasa sudah waktunya pulang. Selama jam pelajaran pertama hingga akhir Abyan mengikuti semuanya, tidak seperti biasanya yang jarang masuk.

"Gw gak langsung ke markas, hari ini ada jadwal ngajar!" ujar Abyan yang di angguki oleh mereka.

"Kita ikut!"

Abyan mengajar? Ngajar apa? Pasti kalian bertanya-tanya kan. Jadi selama ini Abyan selalu mengajar atau menjadi guru ngaji buat mereka. Tidak hanya itu, ia juga mengajar bak guru sekolah. Karena panti asuhan yang kecil, begitupun Bunda Maryam masih belum sanggup menyekolahi mereka.

...***...

Malam hari Abyan dan teman-temannya masih berada di panti asuhan. Selesai mengajar tadi mereka mengajak main anak-anak panti dan mereka juga membantu menyiapkan makan anak-anak hingga membantu sampai mereka tertidur.

Drtt! Drtt!

Suara dering ponsel terdengar dari ponsel Abyan. Pria itu sedikit menjauh dari kamar anak-anak. Keningnya berkerut melihat siapa yang menelfon. Abyan pun mulai mengangkatnya karena penasaran.

'Call On'

"Hallo! Ada apa?"

📲...

"Apa?! Serius Lo?!"

📲...

"Gw sama yang lain ke sana sekarang!"

Tut!

'Cal off!'

Abyan mematikan telfon nya lalu ia segera menghampiri teman-temannya. Terlihat mereka yang lagi mengobrol santai bersama umi Maryam.

"Kita ke rumah sakit sekarang!" ucap Abyan yang membuat semuanya mengerutkan keningnya heran.

"Ngapain?"

"Egi kecelakaan!"

Semuanya terkejut mendengar itu. Mereka pun akhirnya memilih berpamitan dan segera menuju rumah sakit.

"Bagaimana keadaannya? Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Abyan menghampiri anggota Renjana.

"D-dokter bilang, karena terlalu banyak darah yang keluar dan terlalu lama di biarkan saat ini dia mengalami kritis dan membutuhkan donor darah A+. Tapi syukurlah stok darah A+ di sini masih ada," jelas salah satu anggota Renjana.

"Kami tidak tahu apa-apa tentang ini, Bos. Pas saat mau ke markas gak sengaja kami melihat Egi yang tergeletak menabrak sebuah tiang di jalanan sepi yang biasa jarang ada yang lewat," sahut salah satu dari mereka menjelaskan.

"Cek cctv di jalan itu!" perintah Abyan.

"Sebagian anggota kita sudah mengeceknya dan cctv di sana mati! Tidak ada saksi mata yang melihat kecelakaan Egi, karena jalanan di sana sangat sepi. Bahkan tidak ada menolongnya saat itu jika kami tidak lewat sana," jelasnya.

Abyan tidak bisa bayangkan jika mereka tidak lewat sana. Pasti sampai saat ini Egi masih tergeletak di sana dengan darah yang terus mengalir. Mungkin jika tidak cepat-cepat di bawa ke rumah sakit, entah apa yang akan terjadi dengannya. Abyan akan marah pada dirinya sendiri jika sampai terjadi apa-apa dengan anggotanya. Ia akan merasa gagal menjadi ketua.

"Sorry lagi-lagi gw gagal ngelindungin kalian," rilihnya.

"Lo ngomong apa sih Bos, ini bukan salah Lo! Egi kecelakaan itu musibah, ini sudah takdir!" tegas mereka yang tak suka Abyan selalu mengatakan itu.

"Tapi gw ngerasa kalau ini kecelakaan di sengaja. Musuh kita di luaran sana banyak, banyak yg iri dan kalah saing oleh geng motor kita!" ujar Abyan yang membuat semuanya terdiam karena apa yang Bos nya katakan memang benar.

Tring! Tring!

Terdengar notif pesan masuk dari ponsel Abyan. Ia segera merogoh ponselnya dan melihat isi pesan tersebut.

💌 Ini hanya sebuah hadiah kecil

💌 Tunggu tanggal mainnya 😏

"Kurang ajar!"

~ Bersambung...

Babang Byan mode BadBoy☝️

Abyan mode Sholeh ☝️ Peci nya ketinggalan wkwk

Arumi☝️

Terpopuler

Comments

anak_ultramen

anak_ultramen

awww babang bian guanteng poll

2023-06-04

1

anak_ultramen

anak_ultramen

suka ni thorr bagus lanjutkannn

2023-06-04

1

Fadiylah19

Fadiylah19

next yuuu,,,

2023-04-15

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!