Waktu sudah semakin sore. Bel berbunyi menandakan jika sudah waktunya pulang sekolah. Semua murid berhamburan keluar dari kelas menuju gerbang keluar.
Perlahan halaman sekolah sudah semakin sepi. Hingga beberapa puluh menit kemudian. Seorang gadis berjalan tergesa-gesa menuju halte bis.
"Yah bis nya udah berangkat ..." lirihnya pelan.
Dia adalah Arumi. Gadis itu pulang telat karena ada sesuatu yang harus di selesaikan di osis. Arumi manatap sekelilingnya sudah sepi. Lalu ia beralih menatap langit yang mulai mendung.
"Duh gimana dong mau hujan," ucapnya cemas.
Brum-brumm! Tin-tin!
Suara klakson motor mengagetkan dirinya. Arumi mendongak, menatap pria di depannya.
"Ayo naik," ucap pria itu yang tak lain adalah Abyan.
"Gak usah, makasih. Aku nunggu bis aja," tolaknya.
"Bis udah berangkat dan akan datang bis selanjutnya sejam lagi. Ayo nanti keburu hujan," tutur Abyan.
Arumi terdiam lalu menatap langit yang sudah semakin mendung. Ia menghela nafas pelan dan perlahan mulai menghampiri pria itu dengan terpaksa.
Abyan tersenyum tipis, ia menatap gadis didepannya yang hanya terdiam. Lalu berkata, "Ayo naik."
Arumi pun menurut, ia mulai menaiki jok belakang motor pria itu dengan sedikit menjaga jarak.
"Pegangan!" pinta Abyan mulai melajukan motornya.
Arumi hanya diam lalu memilih memegang pegangan belakang. Selama perjalanan hanya ada keheningan di antara mereka. Keduanya sama-sama terdiam tanpa ada yang berbicara.
"Pulang telat, abis ngapain?" tanya Abyan mencoba memecahkan keheningan.
"Penting kah?" Arumi balik bertanya.
"Aku hanya bertanya," sahut Abyan.
"Gak usah sok asik."
"Sebegitu bencinya padaku?"
Arumi hanya terdiam tak menjawab. Entah kenapa pria itu selalu membuatnya kesal dan sedikit sensi. Mungkin karena keseringan membuat masalah membuatnya sudah capek berurusan dengannya. Di tambah Arumi yang sangat membenci anak geng motor seperti Abyan.
Suasana kembali hening, ingin sekali rasanya Abyan mengajak ngobrol gadis itu agar membuatnya semakin dekat. Namun nyatanya tidak semudah itu, Arumi benar-benar tidak menyukainya.
Zresshh
Seakan semesta berpihak pada Abyan. Hujan tiba-tiba turun, tidak ingin gadis yang di boncenginya kehujanan Abyan mulai menghentikan motornya di salah satu ruko kosong. Mereka memilih berteduh hingga hujannya reda.
Abyan menatap Arumi yang sedang menggosok-gosok tangannya kedinginan. Lalu ia mulai melepaskan jaketnya dan memasangkan pada gadis itu.
Arumi terdiam sambil menatap pria di depannya intens. Ia tertegun melihat ketampanannya. 'Jika di lihat-lihat dia tampan juga. Tapi sayangnya dia--.'
"Ngapain bengong? Terpesona yah lihat ketampananku?" goda Abyan sambil tersenyum yang membuat Arumi tersadar dari lamunannya.
"Gak usah kepedean, cowok berandal sepertimu tidak ada apa-apanya bagiku!" seru Arumi sambil mengalihkan pandangan nya.
Selain tidak menyukai karena kenakalannya, Arumi pun tidak menyukai karena pria itu selalu mengejar-ngejarnya yang membuatnya merasa risih.
Keduanya sama-sama terdiam, hanya ada keheningan diantara mereka. Entah kenapa sekarang Abyan lebih banyak diam tidak seperti biasanya.
Ting!
Suara pesan masuk dari ponsel Abyan. Pria itu merogoh saku celananya lalu menatap layar ponselnya.
💌 Nanti malam datanglah ke tempat biasa. Ada yang menantangmu dan kalau menang hadiahnya lumayan besar.
"Hm hadiahnya lumayan besar?" gumamnya pelan.
"Dari siapa? Balapan liar lagi?" tanya Arumi datar. Memang gadis itu tau jika pria di depannya selalu balapan liar.
Abyan menoleh dan hanya terdiam. "Kamu itu mau jadi apa sih? Udah suka buat masalah di sekolah, selalu datang telat, jarang masuk kelas dan di luar sekolah ikutan balapan liar? Buat apa? Itu membahayakanmu, bukan hanya kamu bahkan masyarakat sekitar!"
"Mending kamu diam deh, gak usah ikut campur urusanku! Aku seperti ini karena punya banyak alasan!" pekik Byan tanpa sadar meninggikan suaranya.
Arumi terdiam, tak nyangka pria itu membentaknya. Ia mengalihkan pandangan sambil berkata, "Jika tidak suka aku mengatur, ngomong baik-baik."
Abyan terdiam, ada rasa bersalah pada dirinya. Ia memejamkan matanya sambil menghela nafas berat. Jujur dia gak sadar membentak gadis yang di sukainya itu.
------
Suara binatang malam terdengar, bersahutan dengan keras seakan tak membiarkan penghujung hari ini sunyi dan sepi. Sinar rembulan yang semu diiringi kencangnya hembusan angin, tak membuat kedua sosok yang tengah mengendarai motornya kedinginan sedikitpun. Suara derungan motor saling bersahutan dengan teriakan ricuh penonton.
"Abyan! Abyan!" teriakan ricuh penonton yang mendukung.
Abyan menatap motor di depannya yang berhasil memimpin. Ia hanya tersenyum smrik membiarkannya memimpin. Dalam hitungan detik pria itu sudah mengejar lawannya dan kini dia yang memimpin.
Balapan semakin sengit hingga lima menit kemudian balapan telah di menangkan oleh Abyan. Para fans dan teman-temannya mengucapkan selamat atas kemenangannya.
"Selamat bro, Lo memang hebat!" ucap Revan sambil menepuk bahu Abyan yang di ikuti oleh temannya yang lain.
"Congrats, gw bangga sama Lo!" ucap Xiel yang membuat Abyan tersenyum tipis.
Hanya mereka, hanya teman-temannya yang selalu membanggakannya. Mereka yang selalu memberikannya semangat, mereka juga adalah salah satu alasan dia bisa bertahan sampai sejauh ini.
Seorang pria turun dari motornya sambil melepaskan helm nya. Ia mulai melangkahkan kakinya menghampiri mereka.
"Gw akui Lo jago, congrats! Uangnya akan gw transfer ke rekening Lo," ujar pria itu yang tak lain adalah lawan Abyan tadi.
Abyan menerima jabatan tangannya sambil tersenyum. "Thanks."
'Alhamdulillah, akhirnya Kakak dapat uangnya Lala. Kakak akan terus berusaha demi kalian.'
Setelah selesai mengucapkan selamat kepada Abyan. Kini area balap semakin sepi, sebagian penonton sudah pada bubar dan kini hanya tersisa Abyan bersama teman-temannya dengan sebagian anggota gang motor nya.
"By!" seseorang menepuk pundaknya pelan yang membuat Abyan tersadar dan langsung menoleh. "Ke markas gak?" lanjut Revan menatap temannya yang malah ngelamun.
"Gak dulu deh gw mau pulang aja pen istirahat," Byan memijat pelipisnya, kepalanya terasa sedikit pusing maybe karena tadi kehujanan pulang nganterin Arumi.
"Ya udah gapapa, kayaknya lu emang bener-bener butuh istirahat."
"Beneran gapapa nih gw gak ikut?" tanya Abyan merasa tak enak.
"Sans aja, kita tahu lu pasti capek banget."
Abyan hanya mengangguk sambil tersenyum tipis, teman-temannya memang paling pengertian.
"Eh gw juga gak ke markas dulu deh, cewek gw minta jemput," tutur Leo yang membuat semuanya langsung mendelik kecuali Abyan.
"Si paling bucin akuttt. Patah hati tau rasa lu," nyirnyir Revan.
"Iri bilang jomblo," Leo mendelik ke arah Revan.
"Yey lebih baik jomblo daripada pacaran malah nambah dosa! Benar gak pak ustadz?" Abyan hanya tersenyum tipis tak meladeni sambil geleng-geleng kepalanya pelan.
Revan dan Leo terus adu mulut karena masalah yang tak berpaedah. Semuanya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya gedeg melihat tingkah mereka yang selalu bertengkar hanya karena hal-hal konyol.
Abyan melirik Jam tangannya menunjukan pukul 21.15 malam. Ia pun memilih segera pulang karena merasa kepalanya terasa semakin pusing.
"Gw cabut duluan," semua temannya hanya mengangguk.
"Hati-hati Bro."
Abyan mengangguk, ia mulai menaiki motornya dan perlahan pergi meninggalkan mereka. Di sepanjang perjalanan ia hanya mengendarai motornya pelan karena merasa tidak enak di kepalanya.
Abyan semakin memelankan laju motornya. Mata sipitnya memicing kala melihat seorang gadis yang tak asing baginya. Ia semakin menyipitkan matanya mencoba memastikan, dan ternyata ia tidak salah lihat.
"Arumi!" pekiknya kaget melihat apa yang terlihat di matanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments
🥀San-𝒇𝒍𝒐𝒘𝒆𝒓𝒔🌻🐼
Hwaaaa semangat ismaaa😻
2023-03-04
1