Chapter 14

Hari sudah semakin sore, bel berbunyi menandakan sudah waktunya pulang sekolah. Dalam waktu beberapa menit halaman sekolah sudah sepi. Sedangkan di sebuah taman, terdapat sepasang manusia yang sedang diam-diaman.

"Ada apa?" tanya Khanza yang merasa kesal karena sedari tadi pria di hadapannya terus terdiam.

"Kamu marah yah sama aku?" tanya Regi lembut.

Berbeda dengan di luar, hanya pada gadis itu dia bersikap lembut. Hanya pada gadis itu ia tidak cuek dan dingin. Dalam beberapa hari gadis itu sudah membuatnya semakin gila. Apa dia benar-benar sudah jatuh cinta padanya?

"Apa alasannya? Lagian kita bukan siapa-siapa, tidak berhak aku melarangmu," ucapnya.

Regi hanya terdiam sambil terus memandangi gadis di hadapannya. Perlahan tangannya berniat meraih tangan Khanza. Namun, dengan cepat gadis itu menariknya.

"Bukan muhrim!"

Regi menghela nafas pelan lalu berkata, "Sorry, aku bukan tidak mau menuruti kemauan kamu. Tapi plis untuk sekarang izinkan aku melakukan itu demi menyelamatkan nyawa seseorang."

Memang selama dekat dengan gadis itu. Khanza selalu bilang jika ingin dengannya Regi harus berubah. Khanza melarang semua hal buruk yang selama ini selalu di lakukan bersama temannya, termasuk balapan liar.

"Hm, lakukan saja jika itu menurutmu baik," jawab Khanza.

"Tapi kamu gak marah kan sama aku?" tanya Regi mencoba memastikan.

"Ini udah sore, aku duluan. Assalamu'alaikum," ucapnya sambil berlalu pergi.

"Wa'alaikumsalam," Regi hanya menatap kepergiannya dengan perasaan bimbang.

Tak jauh dari sana ada seorang gadis yang ternyata tidak sengaja melihat mereka.

"Arumi kamu belum pulang?" tanya Khanza sambil mendekati temannya itu.

"Belum, tadi aku abis balikin buku ke perpus dan lewat sini gak sengaja lihat kalian," jawabnya.

"Kamu punya hubungan apa sama dia?" tanya Arumi penasaran yang membuat Khanza terdiam.

"A-aku gak ada hubungan apa-apa."

Arumi menatap Khanza intens. Ia hanya berdehem sambil berkata, "Jauhi anak geng motor, mereka bukan cowok baik-baik. Dan kita sebagai wanita harus jaga diri jangan terlalu dekat dengan laki-laki. Aku hanya mengingatkan karena kamu sahabatku."

Khanza hanya mengangguk tanda setuju. Memang sahabatnya itu tidak terlalu suka dengan anak geng motor, di tambah mereka yang selalu membuat masalah di sekolah juga. Namun, entah kenapa Khanza bisa merasakan perasaan Arumi ke Abyan berbeda walaupun gadis itu selalu bilang benci pada pria itu.

"Em ayo mending kita pulang!" ajak Khanza yang di angguki oleh Arumi.

Mereka pun berjalan beriringan menuju gerbang keluar. Di parkiran sekolah terdapat sahabat-sahabatnya Abyan di sana. Arumi menatap mereka yang biasanya suka berlima sekarang kurang satu orang.

Abyan yang tidak masuk baru beberapa hari pun rasanya seperti ada yang hilang. Apa ia merindukan pria itu? Pria yang selalu membuatnya kesal dan bikin naek darah.

"Rum!" panggil Khanza sambil menepuk pundak Arumi pelan dengan sedikit kesal karena gadis itu sedari tadi tidak menyahut.

"Eh ada apa?" tanyanya mulai tersadar.

"Aku duluan yah, supirku sudah menjemput," pamitnya yang di angguki oleh Arumi.

"Ya uda hati-hati," jawab Rumi.

"Kamu pulang sama siapa? Gak mau bareng saja?" tawar Khanza.

"Tidak usah kamu duluan saja, biar nanti aku naik bis," ucap Arumi menolak.

"Beneran nih gak mau?" tanya Khanza mencoba memastikan yang di angguki oleh Arumi.

"Ya udah deh aku duluan yah, assalamu'alaikum."

"Iyah hati-hati, wa'alaikumsalam."

Setelah kematian Khanza, Arumi berniat berjalan menuju halte bis. Namun, tiba-tiba ia di kagetkan oleh seseorang yang tiba-tiba berhenti dengan motor gedenya.

"Kak ayo naik!" ajak seseorang yang tak lain adalah Elvino sepupunya.

Arumi terdiam menatap pria di hadapannya. Karena lama membuat Vino merasa sedikit kesal.

"Ayo naik Kak, paman menyuruhku untuk mengantarkanmu pulang. Ayo bareng saja daripada nunggu bis lama," ajaknya lagi.

"Huh baiklah," dengan sedikit terpaksa Arumi pun naik ke jok belakang.

Tak lama Elvino pun mulai melajukan motornya. Para sahabatnya Abyan yang belum pergi dari sana sedari tadi memerhatikan mereka hingga kepergian mereka.

"Sok alim, tapi dekat cowok sana sini," ucap Revan yang membuat temannya langsung menoleh.

Hari sudah semakin sore hingga tak terasa sudah menjelang malam. Sedangkan di sisi lain, di rumah sakit. Abyan sudah meminta Dokter untuk memindahkan dirinya seruangan dengan Kayla. Hingga kini mereka sedang berada di ruangan yang sama, dengan Abyan yang sedang fokus mendengarkan Kayla bercerita.

"Kak Byby tau gak?"

"Gak tau kan Lala belum ngasih tau," jawab Abyan yang membuat Kayla mendengus.

Abyan hanya terkekeh pelan lalu mengelus lembut rambut gadis itu, "Kenapa sayang? Kayla mau cerita apa?" tanyanya lembut.

"Semalam Lala ketemu sama Kakak cantik yang ada di mimpi Lala," ucapnya yang membuat Abyan terkejut.

"Lala serius?" Kayla hanya mengangguk pelan.

"Iya walaupun di mimpi Lala gak jelas tapi Kakak itu sangat mirip," jawabnya lagi.

"Kamu gak mimpi lagi kan? Lala ketemu dimana emangnya?" tanya Abyan penasaran.

"Enggak, Lala gak sengaja ketemu di lorong rumah sakit pas lagi nyari teman-teman Kakak."

"Kakak itu sangat cantik, dia nemenin Lala tidur. Lala juga gak sengaja denger gak tau ke siapa. Katanya 'kalau adek ku ada di sini mungkin dia seumuran kamu.' Dia bilang gitu," jelas Kayla.

"Apa mungkin dia beneran keluarga kamu La?" Kayla hanya menggeleng bingung.

"Huh nanti Kakak bakal cari tahu semuanya. Pokonya sekarang kamu harus sembuh yah biar bisa main lagi sama temen-temen panti yang lainnya," ucap Abyan yang di angguki oleh gadis itu.

Abyan mengelus kembali rambut Kayla dengan sesekali mengecupnya. "Makan dulu yuk abis itu minum obat biar cepat sembuh. Nanti abis minum obat kamu istirahat yah," ujarnya yang hanya di angguki patuh.

Setelah melakukan semuanya. Kini Kayla sudah tertidur, sedangkan Abyan sedang terdiam sambil menunggu teman-temannya yang tumben belum datang.

"Ah tubuhku akhir-akhir ini sakit banget dan sangat lemas. Penyakit ini bener menyiksa," ringis Abyan kala beranjak dari duduknya berniat menghampiri jendela.

Dengan bersusah payah ia berjalan hingga kini dirinya sudah berada di depan jendela. Abyan menyingkap sedikit gorden lalu menatap langit malam yang begitu cerah. Pandangannya beralih ke bawah menatap lingkungan sekitar. Kebetulan Abyan berada di lantai atas, jadi bisa melihat pemandangan di bawah sana.

Pandangannya berhenti ke satu titik, matanya menyipit kala melihat itu. Di sebuah taman dekat rumah sakit terlihat seorang pria yang dirinya kenal sedang bermesraan bersama wanita asing. Matanya semakin menyipit mencoba memastikan lebih jelas. Tangannya terkepal erat ketika sudah jelas jika ia tidak salah lihat.

~Bersambung ...

Terpopuler

Comments

Fadiylah19

Fadiylah19

next,, semangat buat panjut✊✊✊🥰🥰🥰

2023-04-03

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!