Chapter 18

Sore hari sesuai apa kata dokter tadi, Abyan akan melakukan operasi. Dan kini dirinya sedang di pindahkan ke ruang operasi.

Beberapa perawat mendorong brankarnya. Dari arah yang berlawanan pun seorang gadis yang sedang berjalan berdampingan dengan Abi nya sambil mendorong Uminya yang duduk di kursi roda. Ya, itu adalah Arumi. Hari ini Uminya sudah di perbolehkan pulang karena kondisinya sudah membaik.

Mereka berpapasan dengan para suster yang mendorong brankar Abyan. Arumi menatap lurus ke depan tak menyadari. Tiba-tiba ia menoleh memerhatikan orang yang berada di brankar itu berasa tak asing baginya. Dirinya tak bisa melihat jelas wajahnya karena tertutup oleh suster.

"Rumi bukanya ruangan temanmu ada di sekitar sini? Semalam Abi tak jadi lihat, ayo sekarang kita menjenguknya sebelum pulang," ucap sang Abi yang membuat Rumi langsung menoleh.

"Em ... Ah itu Abi tadi teman Rumi bilang katanya sudah pulang," jawabnya asal.

Ia tidak ingin orang tuanya tahu jika yang di ruangan itu adalah Abyan. Jika sampai tahu pasti Abi nya akan terus melarangnya untuk menjauhi pria berandal itu. Padahal berteman dengan siapa aja boleh, asal kita nya saja harus pandai-pandai memilih mana yang baik dan buruk.

"Ouh ya sudah gapapa alhamdulilah kalau sudah pulang mah," ucapnya yang di angguki oleh Arumi.

Mereka kembali melanjutkan langkahnya menuju lift. Memencet tombol menunggunya terbuka. Dan tak lama pintu lift pun terbuka, keluarlah beberapa orang anak muda.

Arumi sedikit terkejut ternyata mereka adalah para teman-temannya Abyan, anggota inti anak geng motor Renjana. Mereka terlihat pada asik dengan ponselnya masing-masing tanpa melihat keberadaan Arumi dan kedua orang tuanya di sana.

Arumi segera mendorong masuk kursi roda Uminya yang di ikuti Abinya. Ia memencet tombol menuju lantai dasar.

"Mereka teman sekolahmu yang kemarin buat keributan?" tanya Abi nya tiba-tiba.

Arumi menoleh lalu sedikit mengernyitkan dahinya. Lalu ia terdiam ketika mengingat baru saja ketemu dengan anak-anak Renjana. Pasti Abinya juga melihat mereka.

"Anak geng motor sama saja. Berandal dan tak punya sopan santun," sambung Abinya yang membuat Arumi semakin terdiam.

"Tidak semua anak geng motor seperti itu," sahut Umi Fatimah ikut nimbrung.

"Tapi tetap sama saja!"

Arumi dan Uminya memilih diam, dan hanya ada keheningan. Hingga tak lama pintu lift terbuka menandakan sudah sampai di lantai dasar. Mereka pun memilih langsung menuju parkiran menuju mobil dan langsung pulang.

Berbeda dengan Arumi yang senang karena Uminya sudah di bolehkan pulang. Kini di depan sebuah ruang operasi. Beberapa orang yang sedari tadi sedang menunggu dengan keadaan sangat cemas. Di dalam sana dokter dan para medis lainnya sedang berjuang menyelamatkan nyawa Abyan. Kondisinya semakin lemah, sedari pagi ia masih tak sadarkan diri.

 ***

Beberapa hari setelah melakukan operasi, kondisi Abyan sudah semakin membaik. Dan hari ini ia terus memaksa ingin pulang yang akhirnya dokter pun mengizinkannya pulang.

"Baiklah, hari ini anda boleh pulang. Tapi ingat, minum obatnya jangan sampai terlewatkan. Jangan makan makanan sembarangan dan anda juga harus sering datang ke sini untuk melakukan kemoterapi," ujar sang dokter yang membuat Abyan malas mendengarnya.

"Iya-iya Dok," jawabnya malas.

"Baiklah, kami akan mempersiapkan surat-surat pulangnya terlebih dahulu. Kalau begitu kami permisi," pamitnya yang di angguk oleh Abyan dan teman-temannya.

"Seriusan Lo udah gapapa?" tanya Revan khawatir.

"Gw baik-baik aja, gak usah khawatir. Lagian udah gak betah lama-lama di sini," jawabnya yang membuat temannya hanya menghela nafas.

"Ya sudah kita bantu bereskan barang-barang Lo dulu. Nanti biar kita langsung antarkan Lo pulang."

"Ke markas saja, gw males pulang. Sementara ini gw numpang di markas," ucapnya yang hanya di angguki oleh mereka.

Setelah selesai semuanya teman-temannya pun langsung membawa Abyan pulang ke markas. Sedangkan Kayla sudah pulang ke panti asuhan kemarin sore.

Sampai di markas Renjana, semua anggota menyambut ketua nya dengan hangat. Markas yang biasanya acak-acakan kini sudah sangat rapi dan kamar pribadi yang sering Abyan tempati sudah bersih dan sangat rapi. Mereka sudah mempersiapkan semuanya karena sebelumnya anggota inti Renjana menelfon bahwa Abyan akan pulang ke markas.

"Selamat datang kembali di markas. Akhirnya Lo sembuh, kita semua kangen sama Lo," sambut mereka yang membuat Abyan hanya tersenyum tipis.

"Sorry gw lemah jadi ketua," ucapnya yang membuat semuanya menggelengkan kepala.

"Lo gak lemah bos, justru kita bangga punya ketua kayak Lo!"

"Sudah-sudah biarkan Abyan istirahat, dia baru saja pulang dari rumah sakit!" ucap Xiel yang membuat semuanya mengangguk.

"Selamat istirahat, kita sudah bereskan kamarnya."

"Thanks," ucap Abyan dan berlalu pergi menuju kamarnya dengan di bantu oleh temannya.

Abyan menyenderkan tubuhnya dengan setengah tidur. Ia meraih ponselnya yang beberapa hari ini tidak ia mainkan. Ponselnya bisa berada di tangannya sekarang karena Bi Sumi yang mengantarkan nya beberapa hari lalu ke rumah sakit.

Bi Sumi selalu datang menjenguknya, sedangkan orang tuanya? Mereka sama sekali tidak peduli, hanya saja Mamahnya menitipkannya salam untuknya dan selalu menitipkan makanan untuknya. Tidak lupa Abyan selalu melarang Bi Sumi untuk menceritakan penyakitnya kepada orang tuanya.

Abyan menatap layar ponselnya, notif mulai bermunculan. Pandangannya teralihkan pada nomor tidak dikenal mengirim sebuah video. Karena penasaran ia mulai memencet pesan dan melihat video tersebut.

Tangannya terkepal erat melihat video yang dimana menunjukkan orang tuanya yang sedang berantem. Rasa benci kepada Papahnya semakin bertambah melihatnya yang menuduh Mamahnya. Dada nya serasa sesak melihat air mata Mamahnya menetes. Siapapun tidak boleh ada yang membuat Mamahnya menangis, termasuk Papahnya sekalipun.

Selama menonton video itu, tangan Abyan terus terkepal merasa sangat geram. Selesai menonton, ia menatap sebuah pesan masih dari nomor yang sama.

💌 Gw akan hancurkan Lo dengan nyokap Lo secara perlahan 😏

"Ajg!" umpat Abyan sambil melemparkan ponselnya ke kasur.

"Arghhh!" ia mengacak-acak rambutnya frustasi.

Tangannya semakin terkepal kuat dengan wajah yang memanas. "Siapapun tidak boleh ada yang berani nyakitin Mamah!"

Perasaan Abyan sangat bimbang sekarang. Di satu sisi ia sudah males tinggal di rumah orang tuanya. Tapi di sisi lain ia takut Mamahnya kenapa-kenapa. Apalagi tahu Papahnya yang selingkuh pasti sewaktu-waktu Mamahnya akan tahu. Dia tidak ingin Mamahnya sakit hati dan terluka. Rasa khawatirnya yang juga sangat takut Pria itu akan menyakiti istrinya sendiri hanya karena wanita lain.

"Arghhh br*ngsek! Gw benci Lo!" teriaknya dengan wajah memerah.

Sedetik kemudian ia tersadar dan langsung mengusap wajahnya pelan sambil mengelus dadanya, "Astaghfirullah hal adzim."

~Bersambung ...

Terpopuler

Comments

Mamah AkbarQila

Mamah AkbarQila

yang sabar abang aby.
cepet sembuh..

untuk adec cantik semangat trus nulisnya.
ditunggu selalu up nya
😘😘😘😘🥰🥰🥰🥰

2023-04-11

1

Fadiylah19

Fadiylah19

makasih buat bab nya,next,,

2023-04-11

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!