Suara burung berkicau saling bersahutan, matahari dengan malu-malu keluar dari persembunyian. Seorang pria menggeliat dari tidurnya dan perlahan mulai membuka matanya.
Ia menatap sekelilingnya, lalu tangannya terangkat merasakan sesuatu yg menempel di keningnya. Dahinya mengernyit sambil melihat sapu tangan yang tadi menempel di keningnya. Ia melirik tangannya yang sudah kembali di pasang infusan.
"S-semalam bukan mimpi? Dia beneran datang?" lirihnya.
Abyan mencoba mengubah posisinya menjadi duduk. Ia meringis pelan merasakan tubuhnya yang semakin terasa sakit.
"Nghhh ..." seketika ia menutup mulutnya dengan tangan karena tiba-tiba merasa sangat mual.
Dengan bersusah payah Abyan mencoba turun dari brankar, berjalan pelan menuju kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya. Rasa mualnya tak kunjung hilang membuatnya semakin lemas.
"Makin ke sini tubuhku malah semakin lemah," lirihnya sembari menyenderkan tubuhnya di tembok dan memejamkan matanya sejenak.
Baru saja memejamkan mata tiba-tiba merasakan mual kembali. Abyan segera memuntahkan isi perutnya. Hingga setelah merasa sudah enakan ia berusaha berjalan keluar kamar mandi.
Namun, baru saja keluar tiba-tiba kepalanya terasa sangat pusing sekali. Darah kembali menetes dari hidungnya, pandangnya buram dan tak lama ia pun ambruk tak sadarkan diri.
Seorang gadis kecil yang masih tertidur pulas di sebuah brankar. Dengan perlahan ia membuka matanya, ia menatap sekelilingnya. Lalu pandangannya jatuh pada Abyan yang tergeletak di depan kamar mandi.
"Kak Byby?!" pekiknya yang mulai terduduk berusaha turun dari brankar.
Namun, perutnya terasa sangat sakit karena bekas operasinya belum terlalu kering. Kayla memilih teriak meminta bantuan untuk menolong Abyan.
"Suster!! Dokter!!" Kayla terus berusaha berteriak.
Cklek!
Pintu ruangan terbuka, dan terlihatlah para temannya Abyan baru saja datang dengan seragam sekolahnya.
"Ada apa?" tanyanya melihat Kayla terlihat panik.
"Tolong Kak Byby, itu dia pingsan di sana!" ucap Kayla sambil menunjuk ke arah Abyan yang masih tergeletak.
Sontak mereka langsung menoleh, "Abyan!!" pekiknya yang langsung menghampiri.
Kini di depan sebuah ruangan, keempat pria dengan wanita paruh baya sedang menunggu dengan perasaan cemas. Tak lama dokter pun keluar baru saja memeriksa keadaannya Abyan. Sontak mereka semua langsung berdiri dan segera menghampiri dokter tersebut.
"Bagaimana keadaannya, Dok?"
"Kondisinya semakin parah, operasinya harus segera dilakukan. Jika tidak penyakitnya akan menyebar dan terjadinya komplikasi. Jika itu terjadi akan sulit di sembuhkan dan kemungkinan tidak bisa diselamatkan," jelasnya yang membuat mereka lebih langsung terima.
"Segera lakukan operasinya!" ucap Regi yang membuat temannya langsung menoleh.
"Uangnya masih kurang Reg!"
Regi melirik temannya sekilas dengan wajah datar. "Nanti gw akan cari pinjaman!"
"Kami akan segera melakukan operasi jika administrasi sudah lunas," ucap sang dokter yang membuat mereka sedikit kesal.
Apakah uang begitu penting di bandingkan nyawa seseorang? Haruskah ada uang, baru bisa di selamatkan?
"Memang nya biayanya berapa, Nak?" tanya Bunda Maryam yang kebetulan ada di sana.
"Totalnya 200 juta, kami baru dapat 180 juta Bunda," jawab mereka.
"Kebetulan Bunda ada uang simpanan anak panti, pakai saja dulu," tawar Bunda Maryam yang membuat mereka langsung menggelengkan kepalanya.
"Tidak usah bunda, itu uang buat kebutuhan anak-anak!"
"Gapapa pakai saja, kalian sudah banyak membantu kita. Jadi sekarang giliran kita yang membantu kalian," ujarnya lalu menatap ke arah dokter.
"Lakukan saja operasinya, Dok!"
"Baik, tandatangani dulu surat persetujuannya. Kami akan mempersiapkan dan kemungkinan akan melakukan operasi nanti sore," ujar sang dokter yang di angguki oleh mereka.
"Bunda terimakasih, kami akan mengganti uangnya."
"Sama-sama, tidak apa-apa Bunda ikhlas. Anggap itu tanda terimakasih bunda dan anak-anak panti," ucapnya sambil tersenyum.
Sedangkan di sisi lain, di sebuah rumah terlihat seorang wanita paruh baya yang masih terlihat sangat muda sedang menunggu suaminya yang dari semalam tak kunjung pulang. Perasaannya juga yang cemas karena memikirkan putra semata wayangnya.
Tak lama yang di tunggu-tunggu pun akhirnya datang. Shelia segera menghampiri suaminya yang baru saja keluar dari mobilnya.
"Pah, dari mana saja kamu dari semalam gak pulang?!"
"Papah abis ngurusin kantor cabang yang lagi ada masalah Mah," jawabnya santai.
"Mamah semalam telfon orang kepercayaan kantor cabang katanya sudah beres tidak ada masalah. Papah jangan bohong, bilang yang sebenernya abis darimana?!"
"Aku dari semalam gak bisa tidur, cemas mikirin anak kita yang lagi sakit dan kamu yang gak pulang! Apa kamu gak ada khawatir-khawatir nya sama anak kita?!" tanyanya sedikit meninggikan suaranya.
"Suami baru pulang tuh harusnya di baik-baikin, di layanin bukan malah di marah-marahin! Lagian buat apa khawatirin anak pembawa sial itu! Kalau di pikir-pikir dia tak ada mirip-miripnya denganku, apa mungkin dia bukan anakku?" ucapnya dengan santainya.
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipi Zayn, membuat pria itu tertoleh sambil memegangi pipinya yang terasa sangat panas.
"Kamu nuduh aku hamil anak cowok lain gitu?! Dia anakmu, darah dagingmu! Kamu sendiri yang berbuat, tapi tidak mau ngakuin?! Egois, pengecut kamu! B*jingan yang tega sakitin darah dagingnya sendiri! Ingat karma masih berlaku, penyesalan selalu datang di akhir!" tangisnya pecah, jujur ia pun menyesal karena selama ini selalu diam dan hanya menurut setiap suaminya menyakiti anaknya sendiri.
Zayn menatap istrinya yang terisak dengan tangan terkepal. "Kamu berani menampar suamimu sendiri?"
"Ingat, sampai kapanpun aku tidak akan mengakui anakmu itu! Jika kamu terus membahas anak itu, jangan harap aku akan bertahan denganmu! Ingat itu, aku tak segan-segan menceraikanmu!" ancamnya lalu berlalu pergi.
"Dasar istri tak berguna!" ucapnya sebelum berlalu pergi.
Mendengar itu membuat tangis Shelia semakin pecah. Ia terisak dengan dada yang terasa sangat sesak. Andai jika masa lalu itu tidak terjadi, pasti suaminya tidak akan membenci anak kandungnya sendiri. Dan pasti mereka sekarang akan bahagia dengan anak semata wayangnya itu.
"Maaf, maafin Mamah sayang ..." lirihnya sambil memejamkan matanya tak kuat menahan semuanya.
Seseorang yang sedari tadi sembunyi di balik tembok diam-diam merekam perdebatan suami-istri itu dan mengirimkannya pada seseorang. Senyuman smrik mengembang dari sudut bibirnya.
~Bersambung ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments
Alam Citra
bagus banget ceritanya
2023-06-14
1
Fadiylah19
klo menurut q sih alurnya bagus" aja, sejauh ini seru,cuma y itu masalahnya,upnya kelamaan,jd geregetnya kurang,, ✌🏻✌🏻✌🏻✌🏻
2023-04-11
2