Suara binatang malam terdengar, bersahutan dengan keras seakan tak membiarkan penghujung hari ini sunyi dan sepi. Sinar rembulan yang semu diiringi kencangnya hembusan angin yang menelusup masuk ke tubuh seseorang. Membuat pria itu menggigil kedinginan, karena kondisinya yang sedang demam.
Pria itu masih mendapatkan hukuman dari papahnya. Ia di kurung di kamarnya dan dari kemarin dirinya belum makan apa-apa. Luka memar di wajah, dengan bekas cambukan di seluruh tubuhnya masih berbekas karena sama sekali tidak di obati. Malang sekali nasib nya, sama sekali tidak ada yang peduli dengannya.
"D-dingin m-mah, p-pah ..." lirihnya dengan mata terpejam.
Cklek!
Tiba-tiba suara pintu di buka dengan pelan. Seorang pria yang seumuran dengan nya berjalan perlahan menghampiri Abyan yang sedang tertidur dengan terus mengigau dan tubuh menggigil.
Pria itu menghentikan langkahnya kala sampai di depan ranjang. Ia menatap Abyan dengan sedikit sendu, ia sangat benci pada pria di hadapannya. Namun, kalau boleh jujur masih ada rasa kasihan melihat kondisinya seperti ini.
Pria itu kembali melangkah lalu duduk di pinggir ranjang. Ia mengarahkan tangannya berniat mengelus kepala Abyan dengan sedikit ragu-ragu.
Plak!
"Ngapain Lo!" Abyan tiba-tiba terbangun dan langsung menepis tangannya. Ia berusaha duduk dengan menatap pria di hadapannya tajam.
"Hm, gw di suruh Mami nganterin makan buat Lo. Kasihan Lo belum makan dari kemarin," jawabnya sambil ngalihin pandangan.
"Gak usah sok peduli! Gw gk suka di kasihanin!" ketus Abyan.
"Masih mending gw peduli sama Lo!" ucapnya balik ketus.
"Gw gak butuh itu! Lo sekarang puas kan? Udah puas buat gw menderita seperti ini?" tanya Abyan yang membuat pria itu menoleh sambil tersenyum kecut.
"Ini belum seberapa! Gara-gara Lo gw kehilangan orang tua gw! Dari kecil gw hidup tanpa mereka, kebahagiaan gw hilang gitu saja saat mereka pergi. Dan itu semua karena Lo!" ucapnya sambil mengepalkan tangannya erat.
"Gw lagi gak mau ribut, keluar Lo sekarang juga dari kamar gw! Pintu kamar ada di sana!" titah Abyan sambil menunjuk ke arah pintu menyuruh pria itu keluar.
"Keluar!! Gw muak lihat muka Lo!!" bentaknya yang membuat dia langsung berdiri dan menaruh makanan yang di bawa nya di atas nakas.
Pria itu berjalan pergi meninggalkan Abyan sendirian. Abyan hanya menatap kepergiannya dengan penuh kebencian. Walaupun dia masih saudaranya, namun dari kecil hubungan mereka sudah hancur.
"Arghhh!" Abyan mengacak-acak rambutnya frustasi.
Ia bingung mau gimana lagi, kalau boleh jujur dia sudah lelah hidup di dunia yg kejam ini. Penderitaan terus datang bertubi-tubi yang membuat dirinya tidak sanggup lagi. Dia hanya lah seorang pria lemah, beda saat di luar rumah.
"Huh ... Kamu gak boleh nyerah Abyan, kamu harus kuat. Ingat masih ada Allah di samping kamu," ucapnya mencoba menenangkan diri sendiri.
Ia mencoba turun dari ranjang menuju kamar mandi. Berniat mengambil air wudhu dan melaksanakan kewajiban nya sebagai seorang muslim.
Beberapa menit kemudian, seperti biasa setelah melaksanakan sholat Abyan selalu membaca ayat suci Al-Qur'an. Lantunan ayat suci Al-Qur'an terdengar sangat merdu berhasil mengalihkan pendengaran seseorang.
Shelia yang tak sengaja lewat kamar putranya langsung terdiam kala mendengar suara merdu seseorang yang sedang mengaji. Ia membuka sedikit sebuah pintu kamar lalu mencoba memastikan siapa yang mengaji.
"Masya Allah, suara mu ternyata indah sekali Nak," lirihnya kagum.
Shelia terus melihat dan mendengarkan putra semata wayangnya yang sedang mengaji hingga selesai. Tak terasa ia meneteskan air matanya kala mendengar do'a Abyan yang sangat berharap akan kasih sayang mereka. Di pejamkan matanya sambil mengingat apa yang sering ia dan suaminya lakukan pada putranya itu.
Abyan tiba-tiba memegangi perutnya yang terasa sangat sakit bekas mendonorkan ginjalnya. Di tambah dirinya yang belum makan dari kemarin membuat kepalanya juga terasa sangat pusing. Lagi-lagi darah segar menetes dari hidungnya membuat kepalanya semakin sakit.
"Shtt ...."
Shelia yang melihat putranya tidak baik-baik saja merasa kaget. "Abyan?!"
Ia langsung berlari menghampirinya dan bertanya tentang keadaannya dengan wajah khawatir.
"Nak, kamu kenapa? Kamu sakit?" Shelia memegang keningnya yang terasa sangat panas.
"Shtt ... Badan kamu panas banget. Kamu demam?"
Abyan hanya tersenyum tipis, senang? Tentu saja ia sangat senang karena pertama kalinya mamahnya peduli padanya dan terlihat sangat khawatir. Biasanya mereka selalu tidak peduli dengan kondisinya dan selalu sibuk dengan pekerjaannya. Karena keduanya sama-sama pembisnis yang gila kerja.
"Byan gapapa Mah," ucapnya pelan dengan wajah yang semakin pucat.
"Demam kamu tinggi, tunggu sebentar mamah panggil papah untuk anter ke rumah sakit."
"Gak us--"
"Pah! Papah sini!!" teriak mamah nya memotong pembicaraan Abyan.
"Ada apa sih mah teriak-teriak?" tanya Zayn yang baru saja datang.
"Pah, Byan sakit badannya panas banget. Ayo kita bawa ke rumah sakit," ucap Shelia yang membuat Zayn langsung menatap putranya.
"Alah paling cuman demam biasa doang. Di kompres aja nanti juga sembuh, gak perlu di bawa ke rumah sakit," ucapnya yang membuat Abyan langsung menundukkan kepalanya.
"Tapi Pah--"
"Udah Mah Byan gapapa kok," ucapnya sambil menahan rasa sakit di perut dan kepalanya.
"Iya jangan lebay kamu jadi cowok. Gitu doang lemah, sakit biasa doang gak perlu di bawa ke rumah sakit buang-buang duit!" ucapnya yang membuat dada Abyan serasa sesak.
Ting! Ting!
Suara pesan masuk terdengar dari ponsel Zayn. Ia segera merogoh saku celananya dan melihat siapa yang mengirimnya pesan.
"S*al!"
"Kenapa Pah?" tanya Shelia kepada suaminya yang mengumpat.
"Mah ayo siap-siap! Malam ini juga kita harus pergi ke luar kota, ada sedikit masalah di salah satu cabang perusahaan kita!" ujarnya.
"T-tapi Pah, Byan lagi sakit!"
"Dia hanya demam biasa, suruh bibi saja yang rawat. Gak usah manja kamu!" ucapnya lalu menarik tangan istrinya.
Abyan hanya menatap keduanya dengan sendu. Apa tidak bisa sekali saja mereka ada di sampingnya saat kondisinya lagi seperti ini?
Darah di hidungnya kembali kembali menetes. Abyan semakin kuat memegangi kepalanya dan perutnya yang terasa sangat sakit.
"P-pah, Mah jangan pergi ..." lirihnya dan langsung tak sadarkan diri.
Keduanya langsung menoleh menatap putranya. "Pah Abyan pingsan!" kaget Shelia dengan wajah cemas.
"Paling dia hanya pura-pura biar kita kasihani. Sudah Mah ayo kita gak punya banyak waktu!" Zayn menarik tangan istrinya pergi meninggalkan putranya yang tak sadarkan diri di sana dengan sangat tega.
Sedangkan di sisi lain, seorang gadis cantik masih terjaga dari tidurnya. Ia sangat gelisah, perasaan nya sangat tidak tenang karena teringat seseorang.
"Kenapa aku terus memikirkannya, apa yang sebenernya terjadi padanya? Kenapa hatiku sangat tidak tenang?" pertanyaan itu terus terlontar.
"Huh ... Semoga saja dia baik-baik saja," do'a nya lalu beranjak dari ranjang mencoba mengambil air wudhu dan melaksanakan kewajibannya agar merasa dirinya jauh lebih tenang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments
U-Kwon ❧
udh di vote 😄
2023-03-22
1
U-Kwon ❧
seneng bgt akhir nya up
semangat yaa kaa karya mu sangat banguss loveyou❤❤
2023-03-22
2