Chapter 12

"Azzam kamu mabuk?!" tanya Papi nya yang melihat Azzam terlihat oleng tambah tercium bau alkohol yang menyengat.

"A--itu Pi tadi ada yang jebak Azzam. Aku gak tau kalau minuman itu beralkohol dosis tinggi," ucapnya bohong.

Zayn dan Shelia hanya mengerutkan sedikit keningnya sambil mengangguk. "Lain kali kamu hati-hati. Ya uda sana masuk ke kamar, bersih-bersih terus tidur besok harus sekolah," ucap Zayn yang di angguki oleh pria bernama Azzam itu.

"Ya uda Azzam ke kamar dulu yah. Selamat malam Mi, Pi," pamitnya yang di angguki oleh mereka.

Azzam berjalan menuju kamarnya dengan sedikit berjalan gontai. Sambil terus mengumpat di dalam hati.

'Sial! Ku kira mereka pergi, untung saja gak curiga,' batinnya.

Memang Zayn dan Shelia tidak jadi ke luar kota. Karena cuaca yang tidak memungkinkan, di tambah tadi orang kepercayaan nya di sana menelfon sudah menghandle nya dan sedikit sudah aman. Ia pun menyuruh mereka untuk tidak melanjutkannya perjalanan karena cuaca yang sangat buruk juga dan akhirnya mereka pun memilih putar balik.

Setelah sampai di rumah tadi mereka mengecek ke kamar Abyan yang ternyata tidak ada di kamarnya. Ingin bertanya kepada Bi Sumi tetapi sudah tidur. Keduanya lama sampai ke rumah juga karena tadi sempat mampir ke restoran sekalian berteduh.

"Pa Abyan kemana yah? Perasaan Mamah gak enak banget," lirihnya yang membuat Zayn langsung menoleh.

"Udah lah Mah gak usah di pikirin, dia pasti baik-baik saja. Lebih baik kita tidur saja Papah capek ingin istirahat," ujarnya.

"Papah kenapa sih gak peduli gitu sama Byan? Papah kayak benci sama anak sendiri!" geramnya karena suaminya yang selalu tidak peduli bahkan selalu menyakiti anak kandungnya sendiri.

"Kalau iya emang kenapa? Dia tuh anak pembawa sial, gara-gara dia adik ipar dan adikku satu-satunya meninggal!"

"Ini semua bukan salah Abyan Pah! Ini sudah takdir, dia tidak tau apa-apa! Jangan sampai kita dendam pada anak kita sendiri, ingat dia darah daging kita!" bela Shelia membuat suaminya terdiam.

"Papah gak inget perjuangan kita ingin memilikinya? Bertahun-tahun kita nunggu kehadirannya, kita sangat senang pas tau dia sudah hadir di perut Mamah. Mamah yang mengandung dan melahirkannya susah payah. Hanya karena kesalahannya yang gak sengaja kita menyakiti anak kita sendiri? Sebenernya selama ini hati Mamah sakit, hati Mamah teriris setiap melihat air matanya selalu menetes karena kita. Mamah ngerasa kita sebagai orang tua gak becus hiks ..." tanpa terasa air matanya jatuh.

Air mata yang selalu ia tahan setiap kali melihat Abyan yang selalu menangis hanya karena mereka. Jujur sebenernya hatinya gak rela melihat anaknya terluka, hatinya sangat sakit.

Zayn terdiam seribu bahasa, jujur perasaan nya sangat bimbang. Ada rasa bersalah atas perlakuannya terhadap anaknya sendiri. Namun, rasa kecewanya terlalu besar.

Dengan perlahan ia mendekat dan membawa istrinya ke dalam dekapan nya. "Sudah maafin Papah ... Mending sekarang kita tidur yuk. Nanti besok kita tanya bibi Abyan ada dimana. Papah yakin dia baik-baik saja," ucapnya sambil mengelus lembut rambut istrinya dengan tatapan sedikit kosong.

Shelia yang merasa tenang hanya mengangguk. Akhirnya mereka pun memilih ke kamar dan tidur karena waktu sudah sangat malam.

Berbeda dengan mereka yang sudah nyenyak tidur. Di sebuah ruangan rumah sakit terdapat seorang pria yang baru selesai dari sholat malam nya. Ia sedang duduk termenung di brankar sambil menyenderkan tubuhnya sambil menatap ke atas dengan tatapan kosong.

"Bahkan kalian tega meninggalkan anaknya sendiri yang sedang sakit demi pekerjaan?" lirihnya sambil tersenyum kecut.

"Ya tuhan, kenapa dunia ini tidak adil bagiku? Bukan hanya orang tua, bahkan semua orang pun tidak menyukai ku. Apakah aku seburuk itu di mata mereka?" monolog nya sambil memejamkan matanya yang lagi-lagi sebuah cairan bening menetes di pipinya.

"Huh aku lelah ingin tidur."

'Jika engkau sayang pada hambamu ini maka pertemukanlah aku dengan orang tuaku besok saat aku membuka mata. Dalam mimpi pun gapapa aku ikhlas, asal aku bisa tahu rasanya sedang sakit di jenguk orang tua sendiri,' batinnya berharap.

Abyan membaca do'a dulu terlebih dahulu. Lalu ia kembali memejamkan matanya yang tak lama mulai terlelap dalam tidurnya.

***

"Byan bangun yuk ini sudah pagi," ucap seseorang sambil mengelus lembut rambut Abyan yang masih nyenyak tidur.

"Abyan ayo bangun sarapan dulu terus minum obat. Mamah sama Papah rela pagi-pagi datang ke sini buat kamu lho," ucapnya yang membuat Abyan terusik karena sedikit terganggu.

"Nghhh ...."

Abyan mulai membuka matanya dan mengucek-ngucek matanya pelan. Ia menatap pria dan wanita paruh baya yang masih terlihat muda berdiri di hadapannya dengan memakai pakaian kerja, membuat Abyan terkejut. Merasa gak yakin Abyan pun kembali mengucek-ngucek matanya mencoba memastikan.

"M-mamah? P-papah?"

"Iya ini kami," ucap Shelia sambil tersenyum tipis. Sedangkan suaminya sedari tadi hanya diam saja sambil mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.

Abyan masih diam mencoba memastikan apakah ini mimpi? Apa Allah mengabulkan permintaan nya? Jujur kalau pun ini mimpi Abyan sangat senang, apalagi perlakuan mamahnya yang sangat lembut.

"K-kenapa kalian ada di sini? Bukannya semalam pergi ke luar kota?" tanyanya penasaran.

"Tidak jadi, kita tau kamu di sini juga dari Bibi tadi bilang kamu di bawa ke rumah sakit. Jadi kita langsung ke sini jenguk in kamu, gimana kondisi kamu sekarang?" jelas Mamah nya sambil bertanya.

Abyan masih terdiam, sebenernya masih ada rasa kecewa terhadap orang tuanya bahkan sangat banyak.

"Hm, Abyan sakit ataupun tidak biasanya kalian tidak peduli?" keduanya sama-sama terdiam.

"Nak, maaf kita terlalu sibuk dengan pekerjaan hingga tidak pedulikan kamu," ucap Shelia yang memang keduanya sama-sama gila kerja.

"Hm," Abyan berdehem sambil mengalihkan pandangan.

"Kamu sarapan dulu yuk Mamah tadi bikinin bubur buat kamu. Sini Mamah suapin nanti abis ini minum obat," ucap Shelia sambil mengeluarkan bubur yang di bikinnya tadi di rumah.

"Gak usah Abyan bisa sendiri, kalian pergi saja bukannya harus kerja? Ini udah siang nanti telat," ujar Abyan.

"Gapapa kita bos nya ini."

"Bukannya kalian pernah bilang bos ataupun karyawan sama saja tetap harus disiplin dan datang tepat waktu," lagi-lagi mereka terdiam. Walaupun memang Zayn sedari tadi hanya diam tidak berbicara sedikit pun.

"Tap--"

"Sudahlah Mah ayo kita pergi ke kantor saja, benar kata dia kita takut telat. Lagian ngapain ngurusin anak tak tau di untung udah di bela-belain ke sini malah ngusir," ujarnya sambil mengajak istrinya keluar.

"Tapi Pah--"

"Udah ayo kita pergi dari sini biar dia di urus sama perawat saja," ucapnya sambil mengajak istrinya keluar.

Lagi-lagi Abyan hanya tersenyum kecut. Entah siapa yang salah, apakah pantes di sebut orang tua? Apakah pantes mereka seperti itu?

~Bersambung ....

Terpopuler

Comments

Milady Adara

Milady Adara

mama nya Bian takut ga dikekepin ya sama papanya..nurut banget..anak itu ga ada bekas..suami ada bekas

2023-11-28

2

Mamah AkbarQila

Mamah AkbarQila

seru bangeeeetttt

2023-04-03

1

Fadiylah19

Fadiylah19

d tunggu kelanjutannya 🥰🥰🥰

2023-03-31

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!