Chapter 10

Setelah kepergian Zayn dan Shelia. Bi Sumi yang tahu Abyan pingsan dengan kondisi tubuh yang sangat panas, ia pun langsung membawa Abyan ke rumah sakit dengan di bantu pak satpam.

Kini di rumah sakit, di sebuah ruangan terlihat beberapa orang sedang menunggu ruangan terbuka dengan perasaan cemas.

Terlihat para sahabat Abyan juga yang berada di sana, karena kebetulan sedang menjenguk Kayla. Mereka tak sengaja melihat Bi Sumi berada di sana.

"Bi bagaimana ini bisa terjadi?" salah satu dari mereka bertanya.

Bi Sumi adalah art yang mengurus Abyan dari kecil. Saat orang tuanya tidak ada di rumah, Abyan pernah mengajak para sahabatnya main di rumah. Yang tentu saja mereka kenal dengan Bi Sumi.

"Bibi juga gak tau, tadi sebelum Nyonya dan Tuan pergi Bibi di suruh ke kamar den Byan. Yang ternyata bibi lihat den Byan udah gk sadarkan diri," jelasnya.

"Sebelumnya bibi denger den Byan lagi di hukum papahnya. Dia di kurung di kamarnya dari kemarin dan belum makan apapun. Tadi bibi gak sengaja lihat jga ada beberapa luka cambukan di tubuhnya dan beberapa tetesan darah dari hidungnya," sambungnya yang membuat semuanya tak tega mendengar nya.

Cklek!

Pandangan mereka beralih kala melihat dokter yang keluar dari ruangan. Dengan tergesa-gesa semuanya langsung menghampiri dokter tersebut.

"Bagaimana, Dok? Apa yang terjadi dengan nya?" tanya mereka khawatir.

"Jadi selama ini pasien mengidap penyakit leukimia, sudah stadium 3. Ini harus segera di tindak lanjuti karena jika di biarkan pasien tidak akan bertahan," ucap Dokter yang membuat semuanya terkejut.

"Pasien harus segera menjalankan operasi dan setelahnya tetap harus menjalankan kemoterapi. Untuk sekarang kami membutuhkan tandatangan persetujuan, tapi sebelum itu segera lunasi administrasi. Jika sudah beres kami akan langsung melakukan operasi," lanjutnya.

"Kalau boleh tahu berapa biayanya, Dok?" tanya Revan penasaran.

Dokter melirik suster yang berada di sampingnya. Suster yang mengerti langsung memberitahu mereka total biaya operasi. Semuanya terkejut melihat angka yang tertera di sebuah kertas.

"200 juta?"

Dokter dan suster hanya mengangguk, "Kalau begitu kami permisi."

Mereka hanya mengangguk, semuanya sama-sama terdiam memikirkan dari mana mereka harus cari uang sebanyak itu?

"Arghhh! Kita harus cari uang sebanyak itu dari mana?" teriak Revan frustasi lalu memukul-mukul tembok dengan keras.

Bugh! Bugh!

"Sabar ajg! Berisik ini di rumah sakit!" Regino si es kutub yang merasa kesal dengan sahabatnya itu langsung menghentikan nya.

"Sabar Lo bilang? Lo selalu terlihat santai-santai aja ngelihat sahabat kita menderita? Apa Lo gak peduli sama dia?" tanya Revan sambil menepis tangan Regi dengan sedikit emosi.

"Lo pikir selama ini gw diam aja gak peduli gitu sama dia? Justru gw orang pertama yang selalu mengkhawatirkan nya! Gw diam-diam gini juga sangat peduli sama dia, sama kalian!" ujar Regi yang membuat semuanya terdiam. Pertama kalinya pria itu berbicara panjang lebar.

"Di saat kayak gini kalian jangan luapkan emosi dengan menyakiti diri sendiri. Kita seharusnya mikir bagaimana cara mendapatkan uang sebanyak itu. Kita berusaha mencari nya bersama-sama demi kesembuhan sahabat kita."

Regi memejamkan matanya karena pertama kalinya ia berbicara panjang lebar begini, membuat energi nya serasa terkuras.

"Uang tabungan gw ada 100 juta. Untuk sisanya nanti kita cari bareng," lanjut Regi yang membuat semuanya menatap tak percaya.

"T-tapi Reg itu kan uang simpanan--"

"Kalian tenang saja, uang mah gampang bisa di cari lagi. Sekarang yang penting demi kesembuhan sahabat kita."

"Masya Allah aden baik banget. Untuk sisanya nanti bibi coba telfon orang tua den Byan saja siapa tahu bisa bantu," ucap Bi Sumi ikut nimbrung.

"Jangan bi, biarkan saja kami yang cari! Bibi tahu sendiri kan orang tua Byan gimana? Dia pasti gak bakal peduli sama anaknya," ucap mereka sambil mengepalkan tangannya.

Bi Sumi hanya mengangguk dengan sendu. "Bibi juga kadang suka kasihan sama den Byan," lirihnya.

"Ouh iya ini udah malam sebaiknya bibi pulang saja. Biarkan kami yang jaga Abyan," titahnya.

"Tapi den--"

"Bibi pasti kecapean, mending istirahat aja yah."

Bu Sumi menghela nafas sambil mengangguk. "Baiklah, bibi pamit yah kebetulan pak satpam udah nunggu di depan."

Mereka hanya mengangguk dan setelah kepergian Bi Sumi. Mereka berempat pun memilih masuk ke ruangan Abyan. Terlihat Abyan yang ternyata sudah siuman.

Abyan menatap sahabat nya sambil mengerutkan keningnya heran. Tatapan mereka sulit di artikan yang membuat nya bingung.

"K-kenapa?" tanya Byan bingung.

"Kenapa Lo sembunyiin ini semua dari kita?! Lo selama ini anggap kita apa hah?" tanya Leo merasa kesal.

"Kenapa Lo gak bilang kalau selama ini ternyata Lo punya penyakit?!" bentak Xiel juga ikut kesal.

"Jadi selama ini Lo sering mimisan karena ini?!" sahut Revan.

Memang selama ini mereka hanya tau Abyan sering mimisan. Dan Abyan yang selalu bilang baik-baik aja, cuman mimisan biasa. Sebenernya mereka tuh tidak percaya karena setiap kelelahan pasti ia sering mimisan, tidak pasti baik-baik saja kan?

Abyan hanya menunduk lalu mengalihkan pandangan. "Sorry, gw cuman gak mau kalian khawatir."

"Dengan kondisi Lo yang makin parah seperti ini justru malah bikin kita makin khawatir! Apa selama ini Lo biarkan gitu aja penyakit jahat itu menggerogoti tubuh Lo?" tanya Revan yang perlahan di angguki oleh Abyan.

"Bodoh!"

"Jangankan penyakit, manusia, semesta, dan dunia aja jahat sama gw. Gw udah capek sama semuanya, jadi biarkan gw pergi ..." lirihnya yang tak terasa air matanya menetes.

"Dengan mudahnya Lo mau nyerah gitu aja? Lo lemah By!" ucap Regi yang membuat semuanya langsung menatapnya.

"Gw emang lemah, gw memang cowok terlemah yang kalian kenal."

"Masa Lo kalah sih sama Kayla? Dari kecil dia di buang dan tinggal di panti. Dari bayi dia gk pernah dapat kasih sayang orang tua nya. Hinaan, makian dari anak-anak di luaran sana sering ia denger. Penyakit yang di derita di usia nya yang terbilang masih kecil. Sama sekali tak menghilangkan semangat nya. Ia terus berjuang sampe di titik sekarang ia bisa sembuh," jelas Regi.

"K-kayla ..." lirih Abyan yang tiba-tiba teringat dengan gadis itu.

"Apa sekarang Lo masih ingin nyerah? Lo gak peduliin perasaan kita? Lo gak ngehargain kita yang berusaha mau sembuhin Lo?" sahut Revan ikut nimbrung.

"Huh ... Sorry."

Sedangkan di sebuah lorong rumah sakit. Seorang gadis cantik berjalan meninggalkan sebuah ruangan berniat mencari makanan. Dirinya sedang menemani ibunya yang sedang sakit. Baru tadi sore ibunya di rawat karena demam yang tak turun-turun.

Langkahnya tiba-tiba terhenti karena tak sengaja melihat seorang anak kecil sedang duduk di kursi rodanya sendirian dengan sedikit kebingungan. Karena tidak tega ia pun memilih menghampirinya.

"Dek, ngapain kamu malam-malam sendirian di sini?" tanyanya pelan yang membuat anak itu mendongakkan wajahnya.

"Tadi aku sama suster kak, tapi susternya tiba-tiba pergi karena tadi ada pasien darurat. Terus aku di suruh nunggu di sini," jelasnya sambil menatap Kakak cantik di depannya.

"Emangnya kemana orang tua kamu?" tanyanya ikut menatap gadis kecil di depannya yang tiba-tiba menundukkan wajahnya.

"Aku gak tau mereka di mana kak, karena dari kecil aku tinggal di panti," lirihnya.

"Eh maaf kaka gak tau," ucapnya merasa bersalah yang di angguki oleh gadis kecil itu.

"Nama kamu siapa Dek? Memangnya sedang apa malam-malam keluar ruangan?" tanyanya lagi penasaran.

"Nama aku Kayla, aku lagi cari kakak-kakak aku. Kayla susah tidur, jadi cari mereka mau minta di nyanyiin sekalian di temenin tidur."

Ya anak kecil di kursi roda itu adalah Kayla. Dia memaksa suster untuk menemani nya keluar ruangan mencari sahabat-sahabatnya Abyan yang tiba-tiba menghilang. Kayla tiba-tiba terbangun dari tidurnya dan susah tidur lagi jika tidak di nyanyiin.

"Ruangan kamu dimana? Ayo biar kakak aja yang nemenin kamu tidur," ujar gadis cantik itu.

Kayla merasa ragu, ia menatap gadis cantik yang lebih tua di hadapannya. Gadis itu berasa tak asing baginya. Tapi dia siapa?

"Tenang saja kakak gak bakal jahatin kamu," ucap nya yang mengerti.

Kayla pun akhirnya mengangguk. Mereka pun pergi ke ruangan Kayla. Gadis itu membantu Kayla naik ke atas brankar dan merebahkan tubuhnya.

"Sekarang kamu tidur yah biar kaka nyanyiin," Kayla hanya mengangguk dan mulai memejamkan matanya.

Gadis itu pun mulai menyanyikan lagu nina bobo sambil mengelus-elus lembut rambutnya. Elusan lembut itu membuat Kayla merasa nyaman, ia pun mulai terlelap.

"Kamu sangat cantik, kalau adek ku ada di sini mungkin dia seumuran kamu," lirihnya sambil menatap Kayla intens.

Terpopuler

Comments

U-Kwon ❧

U-Kwon ❧

semangat ayangg

2023-03-26

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!