Chapter 3

Suara teriakan lantang seorang gadis mengalahkan lantangnya suara binatang malam yang saling bersahutan. Ia memberontak tak kala kedua orang bertato ingin menyentuhnya.

"Tolong!!" teriaknya sangat kenceng.

Tak jauh dari sana, seorang pemuda sedang mengendarai motornya pelan. Ia semakin memelankan motornya tak kala melihat ada keributan di depan sana. Terlihat seorang gadis yang ketakutan saat ingin di sentuh oleh kedua preman. Namun gadis itu terlihat terus menghindar dan menjauh.

Pria itu memicingkan matanya merasa tak asing. Matanya semakin menyipit mencoba memastikan.

"Arumi!" pekiknya kaget melihat apa yang sedang terjadi pada gadis itu.

Tanpa aba-aba Abyan langsung mengencangkan laju motornya menghampiri mereka. Ia tiba-tiba memutar-mutar mengelilingi kedua preman itu yang terus berusaha menyentuh miliknya.

"Heh, siapa lo!" teriak salah satu preman sambil terus memutar melihat apa yg Abyan lakuin.

"Abyan ..." lirih Arumi.

"Arumi menjauh dari sana!" teriak Abyan yg langsung di turuti oleh Arumi.

"Berhenti Lo! Jangan sok jadi pahlawan!" teriak preman yang membuat Abyan langsung menghentikan motornya.

Pria itu membuka helm dan langsung turun dari motornya. Berjalan menghampiri mereka dengan wajah datar. "Berani nya ngepung perempuan!"

"Gk usah banyak bacot Lo!!"

Bugh! Bugh!

Tanpa aba-aba salah satu dari mereka langsung menghantam perut dan wajah Abyan hingga sudut bibirnya berdarah.

"Abyan!" pekik Arumi kaget.

Abyan hanya terkekeh, pukulannya sama sekali tak terasa sakit baginya. Tak mau kalah pria itu pun mulai melawan dan terjadilah saling baku hantam antara mereka, dua lawan satu.

Bugh! Bugh! Bugh!

Pertarungan masih berlanjut hingga beberapa menit kemudian. Kedua preman itu kalah dan memilih pergi dari sana. Arumi yang sedari tadi terlihat panik, perlahan mulai berlari menghampiri Abyan tak kala kedua penjahat itu sudah pergi.

"Abyan, kamu gapapa kan?" tanya Arumi khawatir melihat wajah pria itu sudah babak belur.

"Shtt ..." Abyan meringis pelan karena merasa kepalanya semakin pusing.

"Kenapa? Apakah sakit?"

Abyan menatap gadis di depannya yang terlihat cemas. Ia hanya tersenyum tipis, apakah sekhawatir itu sama dia?

Arumi menatap wajah pria itu yang malah tersenyum menatapnya. Merasa tersadar gadis itu langsung merubah ekspresi nya.

"Emm jangan ge'er, aku khawatir karena kamu begini gara-gara menolongku. Dan sebelumnya terimakasih banyak, aku gak tau apa yang akan terjadi jika kamu gak ada," ucapnya sambil menatap Abyan sendu.

"Mau ngapain perempuan malam-malam begini keluar sendirian?" tanya Abyan penuh penekanan.

Arumi mendongakkan kepalanya menatap pria di depannya. "Ada sesuatu yang harus ku beli dan sangat penting."

"Kan bisa besok?"

"Tidak bisa Abyan, ini sangat pentin---"

"Ayo pulang, sudah malam!" ajak Abyan sambil menaiki motornya nya.

Arumi menatap wajah Abyan yang sedikit pucat dengan sudut bibir yang masih berdarah.

"Kamu baik-baik aja kan?"

"I'm fine. Ayo naik atau ku tinggal."

Arumi hanya menurut dan mulai menaiki jok belakang. "Udah?" tanya Abyan yang hanya di balas deheman oleh gadis di belakangnya.

Abyan pun mulai menjalankan motornya, sepanjang perjalanan hanya ada keheningan di antara mereka.

"Kamu abis balapan liar lagi?" tanya Arumi.

"Hm."

"Aku sedang tidak ingin mendapatkan nasehat, aku sudah muak mendengarnya!" ujar Abyan membuat Arumi yang ingin berbicara memilih mengurungkan niatnya.

Setelah beberapa menit akhirnya motor yang Abyan kemudi pun telah sampai di sebuah halaman rumah. Terlihat kedua orang tua Arumi yang sedang menunggunya dengan perasaan cemas.

"Assalamualaikum Abi umi, " ucap Arumi sambil menyalami tangan kedua orang tuanya yang di ikuti oleh Abyan.

"Nak kenapa lama sekali? Kamu bilang hanya sebentar dan siapa pria ini?" tanya Umi nya.

"Afwan Umi, Abi tadi di jalan Rumi di cegat preman dan mau di lecehin ..." lirih Arumi.

"Innalilahi, kan umi sudah bilang nanti aja besok. Tapi kamu gapapa kan?" tanya Umi khawatir.

"Alhamdulillah Rumi baik-baik saja Umi. Untung saja tadi ada Abyan yang menolong Rumi. Dia teman sekolah Rumi," jelas Arumi sambil memperkenalkan pria di sampingnya.

Kedua orang tua Arumi menatap pria di hadapannya dari atas sampai bawah. Rambut acak-acakan, wajah yang sudah babak belur dengan pakaian berantakan. Abyan memakai jaket gang motor Renjana dengan celana jeans bolong bolong di bagian lututnya.

"Saya Abyan," ucapnya singkat sambil tersenyum tipis.

"Ekhem, terimakasih sudah menolong anak saya," ucap Abi nya.

"Sama-sama Om Tante, kalau begitu saya izin pamit karena ini sudah malam. Saya permisi, Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam warohmahtullah wabarokatuh."

"Eh Abyan tunggu!" Abyan menoleh saat Arumi memanggilnya, "L-luka kamu ...."

Pria itu hanya tersenyum, "Gapapa nanti saya obatin lukanya di rumah saja."

"Saya permisi."

Arumi dan kedua orang tuanya hanya mengangguk sambil menatap kepergian Abyan.

"Jauhi dia!" Arumi menoleh menatap Abinya yang tiba-tiba berbicara seperti itu membuatnya mengernyit dahi bingung.

"Abi lihat dia bukan cowok baik-baik," Arumi hanya terdiam, membuat keheningan di antara mereka.

"Sudah-sudah ini udah malam, ayo masuk!" ajak Umi memecahkan keheningan.

Pukul 11.20 malam hari, Abyan baru saja sampai rumahnya. Sehabis menghantarkan Arumi ia berhenti dulu di pinggir jalan karena merasa kepalanya sangat sakit.

Abyan berjalan perlahan memasuki rumahnya, di bukanya pintu pelan.

Cklek!

Suara pintu terbuka yang ternyata tidak di kunci. Ia mulai masuk ke dalam rumah yang ternyata gelap, ruangan pertama yang ia masuki gelap.

Pria itu hanya menghela nafas, merogoh saku celana mengambil hp nya berniat menyalakan senter. Namun ...

Ctak!

Prok-prok-prok

Lampu tiba-tiba menyala, dan terlihat sepasang suami istri berjalan menghampiri nya sambil bertepuk tangan meremehkan.

"Bagus-bagus, jam segini baru pulang!? Balapan liar lagi?" tanya seorang pria paruh baya yang masih terlihat muda.

"Tumben pulang? Kenapa gak sekalian tinggal aja di markas gubuk geng motormu itu?" lanjutnya.

Abyan mengepalkan tangannya erat, ia menatap kedua orang di depannya penuh rasa benci. Orang yang dikenal sebagai orang tuanya.

Zayn tiba-tiba menarik wajah anaknya yang terluka dengan sedikit kasar. "Berantem lagi?! Tawuran lagi?!"

"Sstt ..." Abyan mencoba menepis tangan Papahnya.

"Mau sampai kapan?! Mau sampai kapan kayak gini terus?!" bentak Papahnya sambil mengeratkan cengkraman di dagunya, membuat Abyan meringis pelan.

"Lihat tuh Az--"

"CUKUP!" Abyan menepis tangan pria itu kasar lalu menatap keduanya dengan mata memerah dan rahang mengeras. "Cukup kalian perlakuin Abyan seperti ini!" bentaknya tanpa sadar dengan nada tinggi.

PLAK!

Tamparan keras mendarat di pipi Byan yang terluka hingga membuat wajah pria itu tertoleh. Abyan memegangi pipinya yang terasa panas dan perih, ditambah luka di wajahnya yang kini membuat sudut bibirnya kembali berdarah.

Abyan menatap kedua orang tuanya dengan mata yang semakin memerah menahan tangis.

"Abyan capek Pah, Mah! Byan capek di banding-bandingin terus! Byan capek selalu di pandang buruk, padahal kalian gak tau diluar sana Byan gimana!" ujarnya yang membuat keduanya terdiam.

"Yang kalian lihat Byan itu anak berandalan, suka urak-urakan, pembuat onar, tukang bikin masalah yang nyusahin kalian. Tapi ... Apa gak ada sedikitpun kebaikan Byan yang kalian lihat?" tak terasa air matanya mulai menetes membasahi pipinya.

"Ka--"

"Cukup! Byan sedang tidak membutuhkan nasihat. B-byan hanya haus Pah, Mah. Byan haus akan kasih sayang kalian, Byan butuh perhatian dari kalian."

"By, hidung kamu berdarah?!" pekik mamahnya.

Abyan melihat darah yang menetes di lantai, lalu memegang hidungnya perlahan. Mengusapnya pelan sambil tersenyum masam. Ia menatap kedua orang tuanya yang masih terdiam. Namun tidak bohong, terlihat wajah khawatir dari mereka.

"Lanjutkan nanti saja marahnya, Byan capek ingin istirahat," ucapnya lalu berlalu pergi dari hadapan mereka.

Keduanya hanya menatap punggung putra semata wayangnya. Entah apa yang mereka rasakan, ada rasa bersalah dan khawatir padanya. Namun ada rasa kecewa juga karena mereka merasa gagal mendidik anaknya hingga jadi cowok nakal seperti sekarang.

"Pah, apa selama ini kita salah?"

"Kita gak salah, memang anak itu sangat keras kepala, susah di atur!"

Dari balik tembok ada seseorang yang sedari tadi mengintip perdebatan antara anak dan kedua orang tuanya. Ia hanya tersenyum smrik melihat semua yang terjadi.

🥀🥀🥀

'Terkadang tak semua rumah itu seperti rumah.' ~Abyan

Terpopuler

Comments

🥀San-𝒇𝒍𝒐𝒘𝒆𝒓𝒔🌻🐼

🥀San-𝒇𝒍𝒐𝒘𝒆𝒓𝒔🌻🐼

Semangattttt ismaaaa !!!!🥰
lanjut and up banyak-banyakkk

2023-03-05

2

🥀San-𝒇𝒍𝒐𝒘𝒆𝒓𝒔🌻🐼

🥀San-𝒇𝒍𝒐𝒘𝒆𝒓𝒔🌻🐼

terkadang didalam rumah kita selalu menyimpan luka:)))

2023-03-05

1

🥀San-𝒇𝒍𝒐𝒘𝒆𝒓𝒔🌻🐼

🥀San-𝒇𝒍𝒐𝒘𝒆𝒓𝒔🌻🐼

lohh kau siapa haaa?

2023-03-05

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!