Di sebuah rooftop sekolah. Seorang pria sedang duduk santai menyilangkan kakinya sambil menatap langit hari ini yang terlihat mendung. Tak lupa sepuntung rokok di tangannya, di hisapnya benda itu dan di hembuskan asapnya perlahan.
Anggap pakai seragam 👆
Namun, tiba-tiba ia di kagetkan oleh seseorang yang menepis tangannya kasar hingga membuat rokok yang di pegang nya terjatuh. Pria itu mendongak menatap siapa yang berani mengusik waktu tenangnya.
"Kamu ini yah, bukannya masuk kelas malah ngerokok di sini!" omel seorang gadis, siapa lagi kalau bukan Arumi.
Memang Abyan dari tadi belum masuk kelas sama sekali, karena merasa dirinya tidak enak badan dan memilih diam di rooftop. Hingga sampai sekarang waktunya istirahat, Arumi yang geram karena melihat cowok itu tidak masuk kelas akhirnya menyusulnya ke rooftop. Memang Arumi dan Abyan sekelas, dan Rumi tau keberadaan pria itu dari teman-temannya.
Sebagai ketua osis yang baik, Arumi ingin siswa-siswi di sekolah Pancadarma agar tertib dan taat pada aturan. Dia akan menghukum siapapun yang melanggar peraturan di sekolahnya.
"Kamu ini sebenernya niat sekolah gak sih? Orang tua kamu capek-capek cari uang buat sekolahin kamu! Dan kamu nya malah seperti ini!? Gak kasihan sama orang tua kamu!?"
Abyan kembali menoleh, menatap gadis itu dengan tersenyum kecut. "Kasihan? Mereka saja gak pernah peduli padaku!"
Arumi terdiam mencoba mencerna perkataan Abyan. Ia menatap pria di hadapannya yang terlihat sendu, bibirnya yang sangat pucat dan terlihat juga luka lebam bekas kemarin yang belum hilang karena tidak di obati. Abyan terlihat lemas tidak seperti biasanya.
"Kamu sakit?" tanya Arumi melihat pria itu yang sedang tidak baik-baik saja.
Abyan hanya menggeleng pelan. Ia sadar karena sakit ataupun tidak, tidak akan pernah ada yang peduli pada pria berandal sepertinya.
'Rasanya ingin sekali aku memilikimu, tapi aku sadar jika aku bukan cowok baik-baik seperti apa yang kamu harapkan.'
'Melihatmu bahagia, aku ikut bahagia. Semoga kamu selalu bahagia agar aku bisa tenang, jika suatu hari nanti aku pergi.'
Tring-tringgg!
Suara bel berbunyi menandakan jika istirahat sudah habis dan waktunya masuk kelas.
"Sudah bel, ayo masuk kelas!" ajak Arumi yang hanya di turuti oleh Abyan.
Mereka pun akhirnya masuk kelas dan mengikuti pelajaran hingga waktunya pulang. Selama jam pelajaran Abyan hanya tidur sambil menelungkupkan kepalanya di meja. Kebetulan Abyan duduk di meja belakang dan di depannya adalah Arumi. Ia sengaja memilih duduk di dekat gadis itu.
"Mah, pah ... Byan sayang kalian. Kenapa kalian gak pernah sayang sama Byan. Byan salah apa mah, pah?"
Seorang gadis menepuk-nepuk pelan bahu pria itu. Sedari tadi Abyan terus menyebut nama mamah papahnya dalam tidurnya.
"Abyan!"
Abyan terbangun dengan nafas terengah-engah. Ia melihat sekeliling nya sudah sepi, lalu menatap dua orang gadis di hadapannya dengan ke empat teman-temannya di sana.
Abyan mengusap wajah nya pelan sambil berucap istighfar. Lagi-lagi ia mimpiin orang tuanya, sebegitu pengennya kah ia mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya?
"Lo kenapa bro?" tanya Revan.
"Kalau lagi sakit kenapa di paksain sekolah!" ucap Xiel.
"I'm fine."
Tes-tes
"Abyan kamu mimisan?"
Abyan mendongak menatap Arumi, lalu ia menatap darah yang menetes di mejanya. Ia cepat-cepat mengelap hidungnya.
"Masih sering mimisan?!"
Sontak semuanya menatap ke arah Leo. "Sering?" tanya Arumi kaget.
Abyan menatap tajam temannya itu. Ia tidak ingin ada orang yang tau tentang kondisinya kecuali teman-temannya. Karena di luaran sana banyak yang tak suka padanya. Ia memiliki banyak musuh termasuk geng motor lain yang merasa kalah saing.
"Ah anu--"
"Rumi ayo kita pulang, supirku udah datang!" ujar gadis di sampingnya yang tak lain adalah temannya Arumi.
"Ah iya ayo!"
Keduanya pun berpamitan pulang duluan. Leo mengelus dadanya tenang. Regino salah satu teman Abyan yang di kenal dingin dan irit ngomong. Pria itu sedari tadi menatap gadis yang bersama Arumi hingga gadis itu pergi.
"Ekhem, sepertinya ada yang jatuh cinta nih ..." goda Revan sambil melirik Regi.
"Siapa dia?!" tanya Regi dingin.
Revan mengerutkan keningnya. "Siapa? Maksudnya?" tanyanya ngelag.
"Gadis tadi."
"Wah Lo serius suka sama dia? Wah daebak! Gw kira Lo belok gak suka sama cewek," ucap Revan gak percaya.
"Dia Khanza, temannya Rumi dan anggota rohis juga," sahut Leo yang membuat Regi langsung menoleh.
Memang Regi dan Xiel gak sekelas sama Abyan, mereka kelas XII MIPA 1 yang dimana sekelas dengan Azzam. Sedangkan Abyan, Revan dan Leo mereka sekelas.
"Woy udah-udah bahas ceweknya, kasihan tuh bos kita lagi sakit."
Semuanya sontak menatap Abyan yang hanya menatap mereka datar. Di saat dirinya yang sedang sakit kayak gini mereka malah ribut bahas cewek, membuatnya pening saja.
"Ke markas sekarang!" Abyan menggendong tas nya lalu berdiri dari duduknya.
"Lu beneran gapapa By?"
"Gw gak selemah itu!" Byan berjalan duluan meninggalkan teman-temannya keluar dari kelas.
Mereka berlima berjalan ke parkiran. Namun, tiba-tiba langkah Abyan terhenti membuat keempat temannya ikut berhenti.
"Ada apa?"
Abyan tak menjawab, ia mengepalkan tangannya melihat pemandangan di depan sana yang membuatnya kesal.
Terlihat Arumi yang sedang mengobrol dengan seorang pria di dekat sebuah mobil. Tak lama pria itu membukakan pintu mobilnya untuk gadis tersebut. Siapa lagi kalau bukan Azzam, tak sengaja ia melihat keberadaan Abyan kala selesai membantu Arumi. Azzam tersenyum miring ke arah Abyan yang membuat pria itu semakin mengepalkan tangannya erat.
'Lo selalu merebut semua milik gw.'
Regi menepuk bahu Abyan sambil mengelusnya pelan, yang membuat pria itu langsung menoleh. Pria itu hanya terdiam dan melanjutkan langkahnya setelah melihat mobil Azzam sudah pergi.
Mereka pun menaiki motornya masing-masing menuju ke markas geng motor Renjana. Setelah beberapa menit akhirnya sampai. Terlihat di sana yang sudah rame dengan para anggota Renjana, paling banyak adalah adek kelas Abyan.
Mereka semua menyambut Abyan dengan baik, menghargai sebagai ketua mereka.
"Muka Lo kenapa pucat banget, Bos?" tanya salah satu anggota.
"Gw gapapa, kalian lanjutkan saja. Gw mau melaksanakan kewajiban dulu," ucap Abyan. Semuanya yang mengerti hanya mengangguk.
Semuanya pun kembali melanjutkan aktivitas masing-masing, hingga beberapa menit kemudian. Terdengar lantunan ayat suci Al-Quran sangat merdu dan terdengar adem di telinga mereka.
"MasyaAllah ..." semuanya kagum mendengarnya.
Mereka terus mendengarkan sambil menikmati. Hingga tiba-tiba terdengar suara pesan masuk dari ponsel seseorang.
Ting! Ting!
"Ponsel siapa tuh yang bunyi?"
Semuanya sama-sama mengecek ponselnya masing-masing. "Punya gw," jawab Revan yang membuat semuanya langsung menoleh.
"Ekhem pesan dari siapa tuhhh, dari pujaan hati yah?" goda Leo yang mendapatkan delikan dari Revan.
Pria itu langsung membuka ponselnya dan melihat siapa yang mengirimkannya pesan.
"Bunda Maryam?"
Semuanya sontak langsung menoleh ke arah Revan. "Ada apa?"
Revan tak menjawab, ia fokus membaca pesan tersebut. "Gawat!"
"Lu jangan bikin panik g*blok! Ngomong yang bener!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments
anak_ultramen
kiw kiw babang byan ganteng bngt sii
2023-06-04
2
🥀San-𝒇𝒍𝒐𝒘𝒆𝒓𝒔🌻🐼
gilaaa ganteng banget jodoh orang😭
2023-03-07
1