Kini di sebuah ruangan. Selesai memanggil dokter Arumi masih berada di sana. Ia sedang terduduk di kursi tengah-tengah brankar Abyan dan Kayla. Dirinya baru saja selesai mengaji dan mendoakan mereka untuk cepat sembuh.
Arumi menatap sambil mengelus-elus lembut rambut gadis kecil di hadapannya yang sedang tertidur pulas. Tatapannya begitu teduh, melihat Kayla membuatnya selalu teringat dengan adeknya yang beberapa tahun yang lalu.
Gadis itu menghela nafas, lalu beranjak dari duduknya menatap brankar di sampingnya lalu mulai berjalan menghampirinya.
"Cepat sembuh dan sehat lagi," lirihnya lalu berbalik badan berniat pergi dari sana karena takut Umi Aby nya mencarinya yang terlalu lama pergi.
"J-jangan pergi aku mohon ..." Arumi terdiam kala tangan Abyan yang menyentuh lengannya.
Gadis itu menoleh dan melihat Abyan yang masih memejamkan matanya. Namun, pria itu terlihat gelisah dari tidurnya.
"Aku sangat mencintaimu Rumi ...."
Arumi semakin di buat terdiam, bahkan dalam tidurnya pun ia masih bisa memimpikan dan mengungkapkan perasaan kepadanya?
"Berbahagialah dan jaga dirimu baik-baik jika nanti aku pergi untuk selamanya," ucap Abyan masih mengigau.
Arumi membalikkan badannya dan berdiri menatap Abyan. Entah kenapa dadanya serasa sesak mendengar pria itu mengatakan akan pergi untuk selamanya.
"Kamu tidak mengizinkan aku pergi, tapi kamu sendiri mau pergi?" lirihnya yang entah kenapa dengan perasaan nya ia pun tak tahu.
"Enghh ..." Abyan berlenguh, tubuhnya tiba-tiba menggigil kedinginan.
Arumi yang melihat itu segera menyentuh keningnya untuk mengeceknya suhu tubuh. Sangat panas, tubuhnya sangat panas seperti terbakar.
"Sstt ... Demamnya makin tinggi."
Gadis itu segera mengambil air dan mulai mengompresnya menggunakan sapu tangan nya. Setelah beberapa menit kemudian, perlahan panas nya mulai menurun. Karena sudah lega, Arumi pun memilih pergi meninggalkan ruangan yang terdapat Abyan dan Kayla itu.
"Rumi, ngapain kamu di sini?"
Arumi baru saja keluar dari ruangan. Dirinya tersentak kaget saat terdengar suara yang ia kenal memanggilnya. Perlahan ia menoleh menatap Abinya sudah berdiri di sana dengan penuh tanda tanya.
"E-eh Abi ... Em maaf Rumi tadi abis ngejenguk temen Rumi yang kebetulan di sedang di rawat di sini," ucapnya dengan sedikit gugup.
"Lain kali bilang dulu sama Abi atau Umi, kita dari tadi khawatir."
"Iya maaf tadi Rumi gak sempet bilang sama kalian," ucap Arumi yang di angguki oleh Abinya.
"Ouh iya ini ruangan temenmu?" dengan ragu-ragu Arumi hanya mengangguk.
"Abi ingin lihat kondisinya sekalian silaturahmi sama temanmu itu," kata-kata yang terlontar dari mulut Abinya membuat Arumi sedikit panik.
Abinya sangat tidak menyukai Abyan, dan selalu melarang dirinya untuk tidak berdekatan atau temenan dengannya. Ia tidak menyukai Abyan karena anak geng motor tukang buat masalah, selain itu dia juga sudah membuat Arumi terluka.
"Ah Abi jangan!" larang Rumi pada saat Abinya ingin membuka pintu ruangan tersebut.
Pria paruh baya itu langsung menoleh dan menatap putrinya dengan kening berkerut.
"Em itu teman Rumi udah tidur, nanti saja takut ganggu waktu istirahatnya," alasannya yang hanya di angguki oleh Abinya.
"Ya sudah ayo kita kembali ke ruangan, kasihan Umi sendirian di sana," ajaknya yang di angguki oleh Arumi.
Arumi hanya bernafas lega. Ia dan Abinya pun berlalu pergi menuju ruangan Uminya.
Malam semakin larut, kini di sebuah jalanan. Terdengar suara teriakan ricuh penonton yang sedang melihat balapan liar.
"Ahkk!!" pekik Regi yang tiba-tiba terjatuh dari motornya karena lawannya yang dengan curang menyenggolnya.
"REGI!" pekik teman-temannya bersamaan dengan seorang gadis yang sedang menonton.
Regi meringis pelan, tubuhnya tertimpa motor dengan menggesek aspal. Para temannya yang melihat itu langsung berlari menghampiri dan membantunya.
"Kalau sakit jangan di paksain udah gapapa!" ujar temannya yang melihat Regi kembali menaiki motornya.
"Gw gak selemah itu, gw harus bisa dapatin uangnya!" kembali menyalakan motornya dan langsung menancap gas.
Teman nya hanya menggeleng. Sangat keras kepala, padahal mereka tau tubuhnya sangat sakit tapi pria itu tetap memaksakannya.
Regi dengan bersusah payah menahan rasa sakitnya. Ia berusaha mengejar lawannya, demi Abyan ia harus rela berkorban.
Matanya terus fokus menatap ke depan. Terdengar suara teriakan seseorang yang sangat tak asing membuatnya menoleh sekilas ke arah kerumunan penonton.
"Khanza?" lirih Regi.
Seorang gadis melambaikan tangannya dan terus meneriakinya semangat. Tiba-tiba senyuman tipis mengembang diwajahnya. Ia tak menyangka jika gadis itu akan menonton, mendapatkan semangat darinya membuat rasa sakit nya seakan menghilang. Regi tersenyum, lalu menambahkan kecepatan dan mengejar lawannya.
Hingga beberapa menit kemudian, balapan di menangkan oleh Regi. Kini dirinya sudah berada di pinggir area balap menghampiri teman-temannya.
"Selamat gw bangga sama Lo, walaupun sakit masih tetap di lanjut!" ucap Revan.
"Thanks bro, Lo udah mau berusaha!" ucap Leo.
"Tapi Lo gapapa kan Reg?" tanya Xiel khawatir yang di balas gelengan kepala.
Regi membuka sarung tangannya pelan, lalu menggulung sedikit lengan jaketnya. Terlihat tangannya yang sedikit lecet-lecet, celananya pada sobek karena terlalu keras menggesek aspal.
"Gapapa gimana tuh lihat kaki Lo pada berdarah dan lecet-lecet!"
Regi hanya terdiam, pandangannya kini beralih ke arah gadis yang berjalan menghampirinya. Ia tersenyum tipis ketika tau gadis itu ingin menghampirinya.
"Congrats, ini minum buat kamu," ucap Khanza sambil menyodorkan sebotol minuman kepadanya.
"Makasih," jawabnya sambil mengambil minuman tersebut.
"Kamu gapapa?" lagi-lagi Regi hanya menggeleng, "Itu pada berdarah terus lecet-lecet, ayo di obatin dulu!"
"Aku gapapa, kamu ngapain di sini ini udah?" tanya Regi mengalihkan pembicaraan.
"Em sepupuku bilang mau nonton balapan. Dan aku ingat kamu juga balapan liar sekarang, jadi aku maksa buat ikut deh," jawabnya yang memang pada saat sepupunya ingin pergi ia memaksa untuk ikut, karena tahu pasti dia akan pergi menonton balapan liar.
Awalnya sepupunya menolak dan melarangnya. Namun, Khanza mengancam akan memberitahu orang tuanya karena dia suka balapan liar. Karena tidak ingin orang tuanya tahu, akhirnya ia pun mengajak Khanza.
"Lain kali jangan di ulangi, cewek gak baik malam-malam keluar. Apalagi nonton balapan liar kayak gini, itu bahaya," ujar Regi lembut yang membuat teman-temannya tak percaya.
"Seorang Regi berkata lembut dan panjang kali lebar?" goda Revan.
"Wah fiks ini mah bukan teman kita!" sambung yang lainnya.
Regi menatap teman-temannya tajam yang membuat semuanya langsung kicep. Lalu ia kembali menatap gadis di hadapannya dengan tersenyum tipis.
"Sekarang pulang gih, ayo aku anterin," ucapnya.
"Ak--"
"Khanza ayo pulang, Ayah Bunda nyariin!" ajak seorang pria yang membuat semuanya sontak menoleh.
Regi menatap pria itu yang ia kenal teman dari lawannya tadi yang melainkan dari anggota geng motor Dragon. Geng motor yang sama seperti geng Lion, selalu tidak mau kalah saing.
Ia menatapnya dengan sangat datar, "Biar gw aja yang anterin pulang!" ucapnya dingin.
"Gak usah dia berangkat bareng gw, pulangnya juga harus bareng!" ucapnya tak kalah datar lalu menarik Khanza dari sana.
"Eh eh, k-kalau gitu aku duluan yah," pamit Khanza yang tertarik oleh pria itu yang tak lain sepupunya.
Regi mengepalkan tangannya sangat erat. Ia terus menatap kepergian gadis yang disukainya pergi bersamanya pria lain.
Sedangkan Khanza langsung di bawa pulang oleh sepupunya. Selama perjalanan hanya ada keheningan di antara mereka. Pria itu terus fokus menyetir menatap lurus kedepan.
"Ngapain Lo deket-deket sama anak geng motor kek mereka?" tanyanya yang membuat Khanza yang sedang asyik menatap jalanan langsung menoleh.
"Masalah? Lo juga anak geng motor kan?" Khanza malah balik bertanya.
"Gw gak suka lu deket-deket sama anak-anak Renjana, jauhin mereka! Mereka gak sebaik yang Lo kira!" perintahnya dan kembali menancap gas membawa motornya kencang membuat Khanza terkejut dan refleks langsung memeluknya.
"Pelan-pelan gw takut!" rilihnya yang tak di gubris.
~Bersambung ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments
Fadiylah19
semangat,,jan terlalu lama absen ya,,biar g keburu lupa sama alur ceritanya 😊😊😊
2023-04-08
2