"Mama kenapa, muka Mama kelihatan khawatir begitu?" Pak Sofyan duduk di kursi meja makan, hendak sarapan.
"Mama memikirkan perkataan Adrian kemarin, Pa. Bagaimana kalau Adrian benar-benar menarik seluruh sahamnya diperusahaan, dan mengajak para investor temanya untuk mencabut kerjasama dengan kita. Bukan cuma perusahaan kita yang hancur, tapi nasib para karyawan yang menggantungkan nasib mereka di perusahaan kita," Sintya
Kemarin, saat dibandara hendak pulang ke ibu kota, Adrian menemui pak Sofyan dan Sintya. Adrian menahan mereka disana, dan mengatakan akan mencabut seluruh saham yang sudah ia tanam diperusahaan manta mertuanya itu atas bentuk ke kecewaan Adrian karena telah dibohongi selama bertahun-tahun.
Adrian marah besar, andai saja Sofyan dan Sintya jujur dari awal jika Sabillah telah menikah dan memiliki anak, mungkin Adrian bisa menerima itu dan tak mengharapkan Sabillah selama tujuh tahun ini, nyatanya, dia dibohongi atas alasan Sofyan melindungi putrinya dari iblis mengerikan seperti dirinya.
Apa sejahat itu dia dimata Sofyan dan Sabillah? Tidakkah mereka perubahan dan penyesalan Adrian yang mendalam atas kesalahanya yang mengabaikan Sabillah.
"Itu sudah menjadi resiko pebisnis seperti kita, Ma. Turun naik perusahaan sudah biasa, kita terima saja. Papa tidak memikirkan perusahaan lagi. Papa sudah senang melihat anak kita senang, dicintai dan dimiliki laki-laki sebaik Arjuna." Pak Sofyan tersenyum lebar mengingat betapa baik dan tulusnya Arjuna pada Sabillah.
Kesederhanaan Arjuna, tidak ingin menerima segala bentuk bantuan yang ditawarkanya karena Arjuna ingin membahagiakan Sabillah dengan caranya sendiri, membuat hati Sofyan terenyuh, jarang sekali ada laki-laki yang begitu baik seperti Arjuna. Bukan hanya sekali dua kali Sofyan menawarkan bantuan uang ratusan juta untuk membangun rumah yang lebih layak, bahkan Sofyan dengan sedikit menyombongkan kekuasaannya menawarkan bantuan untuk dikenalkan dengan petinggi di kepolisian agar Arjuna cepat naik jabatan, tapi lagi-lagi Arjuna menolak itu.
Biasanya orang lain ditawarkan sedikit uang saja langsung tergiur, dan rela menggadaikan harga diri dan martabat demi uang.
Tapi tidak dengan Arjuna, menantunya itu ingin hidup lurus-lurus saja, karena Sabillah juga tidak menuntut ini itu.
"Melihat kebahagiaan Sabillah, itu lebih dari segalanya untuk Papa, Ma. Pensiun nanti juga, jika Sabill ataupun Arjuna tidak mau meneruskan perusahaan kita, atau perusahaan kita tidak bisa bertahan lagi. Papa ingin pindah dekat dengan anak, menantu, serta cucu kita. Papa ingin menghabiskan masa tua dengan Arjuna." Cerita pak Sofyan masa depannya nanti pada sang istri.
Baru kali ini Sintya melihat raut bahagia suaminya yang begitu terpancar setelah perceraian Sabillah dengan Adrian. Sintya sebenarnya mengakui hal yang sama, tapi dia begitu gengsi mengakui kebaikan Arjuna.
"Mama tahu? Arjuna yang membelikan kita tiket pesawat kita kemarin."
"Apa Pa?" Sintya tak percaya.
Sofyan mengangguk. "Padahal kita bisa membeli sendiri tiket pesawat bahkan sampai ke Dubai, tapi anak itu ingin menunjukkan baktinya sama kita." Kembali Sofyan tersenyum begitu lebar. "Baik sekali anak itu," menatap istrinya. "Papa baru cerita ke Mama sekarang karena permintaan Arjuna, dia takut Mama nggak mau menerima pemberianya."
Sintya diam, dia menunduk, menyesal telah menghina menantunya, padahal Arjuna begitu baik dan bertanggung jawab. Suaminya yang sulit dekat dengan orang itu, bahkan cepat menerima Arjuna. Dulu saja saat Sabillah masih bersama Adrian, Sofyan sering merasakan jika ada yang tidak beres dengan Adrian, namun mata hatinya telah tertutup oleh kebaikan orang tua Adrian, serta ketampanan dan kemapaman Adrian.
"Kapan-kapan kita berlibur kesana lagi ya, Ma. Papa ingin membeli tanah disana, berkebun dengan Arjuna."
"Iya, kalau bisa minggu depan saja, Pa. Semoga tidak ada masalah apa-apa kita dengan Adrian. Adrian cuma mengancam kita saja."
"Adrian benar-benar melakukan itu juga, Papa tidak masalah, Ma. Papa sudah memiliki rencana yang lebih baik, lagi pula siapa yang akan meneruskan perusahaan, Arjuna pasti melarang anak-anaknya untuk melanjutkan perusahaan, dia pasti mengutamakan keinginan anaknya dari pada memaksakan kehendak anak-anaknya."
Disela obrolan pagi yang hangat itu, sebab Sofyan dapat melihat wajah Sintya yang perlahan menerima keberadaan Arjuna. Ponsel Sofyan bergetar.
"Ya ampun, Papa memang sehati sekali dengan menantu Papa ini. Lagi diomongin dia telepon."
Cepat Sofyan menggeser tombol hijau menjawab telepon menantunya.
"Iya, Jun."
"Pa." Suara Sabillah yang menjawab sambil menangis.
"Sabill, ada apa Nak? Kenapa kamu menangis?" tanya laki-laki bercucu tiga itu. Menatap Sintya yang ikut panik mendengar jika anak semata wayangnya menangis.
"Mas Arjuna, Pa."
"Ada apa dengan, Arjuna?" Perasaan Sofyan mulai tak enak.
"Mas Arjuna ninggalin kita untuk selama-lamanya."
Sofyan terduduk mendengar itu, ia menatap Sintya yang ingin tahu apa yang terjadi.
"Ada apa, Pa?"
"Kita kehilangan menantu terbaik kita, Ma. Tuhan telah mengambilnya dari anak kita." Sofyan bicara dengan suara bergetar.
Sintya menutup mulutnya tak percaya atas kabar yang didengarnya.
Ya Tuhan, baru dia ingin meminta maaf, dan mengakui jika dia sudah menerima Arjuna sepenuhnya, namun Tuhan tidak memberikan kesempatan itu.
Sintya seakan dihukum rasa bersalah seumur hidup yang akan ia bawa sampai mati.
Detik itu juga, pasangan suami istri yang baru merasakan kebahagiaan mereka memiliki menantu terbaik, bertolak ke Kalimantan. Mereka tak bisa membayangkan perasaan Sabillah saat ini, betapa kuatnya hati Sabillah hingga bisa menghubungi mereka.
* * *
Dilain tempat, Adrian yang selalu nampak gagah dan tampan dengan setelah jasnya, kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancungnya berjalan menuju ruang tunggu vip.
Adrian ingin kembali ke Jakarta, dia serius ingin menarik semua saham dan para pengusaha yang dibawanya untuk menanam modal di perusahaan Sofyan agar menarik saham mereka.
Bukan dendam, tapi dibohongi selama bertahun-tahun itu menyakitkan. Melihat kebahagiaan wanita yang ditunggunya selama tujuh tahun sudah membuat Adrian ikhlas, ia tak mungkin menghancurkan kebahagiaan Sabillah lagi.
Tapi Adrian tak bisa menutupi rasa kecewanya pada Sofyan dan Sintya yang telah menyembunyikan kenyataan darinya jika Sabillah telah bersuami, dan memiliki dua orang anak, dan akan segera hadir anak ketiga. Yang dilakukan orang tua Sabillah sangat merendahkan harga dirinya.
Berulang kali ponselnya bergetar, panggilan dari Jimmy, namun dia abaikan itu. Jimmy selalu merusak rencana bisnisnya.
Lima kali Jimmy menghubunginya, Adrian mulai pusing, dia ingin menonaktifkan ponselnya. Tapi tak sengaja Adrian membaca pesan dari Jimmy yang mengabarkan, jika Arjuna telah tiada.
Cepat jari Adrian menghubungi balik nomor Jimmy.
"Jim, apa maksud pesan kamu?" tanya Adrian dengan nada tinggi, dadanya berdebar tak karuan.
"Arjuna meninggal Adrian, dia meninggalkan kita semua."
Rasanya Adrian tidak percaya.
"Arthur, siapkan mobil. Kita kerumah Sabillah."
"Tapi Tuan, kita akan berangkat dalam sepuluh menit lagi."
"Batalkan semua pertemuan, kita kerumah Sabillah sekarang." Bentaknya.
Arthur yang belum mengetahui jika Arjuna telah meninggal merasa heran dengan tingkah Adrian yang tidak biasanya membatalkan pertemuan dengan orang lain. Terlebih Adrian yang sejak kemarin begitu menggebu ingin merobohkan perusahaan Papa Sabillah.
Setelah didalam mobil, Adrian baru memberitahunya, jika Arjuna telah tiada. Arthur begitu terkejut, rasa tak percaya dengan yang apa Adrian katakan, tapi mereka harus memastikan dengan datang kerumah Sabillah.
* * *
"Bapakkkkk ..." Hiks hiks
"Bapakkk ..." Hiks hiks.
"Jangan bawa Bapak ku." Arial berteriak pada para petugas yang membawa peti Arjuna kedalam peristirahatan terakhirnya.
"Bapak ku mau kalian bawa kemana?" teriaknya lagi sambil menangis, meski samar, tapi para pelayat yang hadir bisa mendengar yang diucapkan anak berusia empat tahun lebih itu.
Sabillah dengan perut besarnya bahkan kewalahan menenangkan sang anak, Pak Sofyan yang ikut membantu juga dibuat kewalahan. Sejak tahu jika bapaknya tidak akan bersama mereka lagi, Arial tak henti-hentinya menangisi sang ayah.
Eka, anak pertama mereka, yang begitu dekat dengan Arjuna, malah terlihat lebih tenang. Dia lebih memperhatikan orang-orang disekitarnya. Dia melihat dua orang yang sempat memarahi Bapaknya kemarin saat ia ikut Bapaknya, dua orang berseragam itu tak nampak sedih, justru terlihat lebih sering tersenyum. Eka merekam dengan jelas wajah kedua orang tersebut didalam otaknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 135 Episodes
Comments
Yuliana Purnomo
kurasa Arjuna dijadikan tumbal oleh atasan nya,,, sedih nya aku di part ini,, kalau orang baik' kenapa yaa cepat meninggal??
2024-05-31
1
Femmy Femmy
disaat ibu Syntia mulai menerima Arjuna tapi anak mantunya sudah pergi untuk selama lamanya..😢
2024-04-09
0
Soraya
kayaknya Arjuna sengaja dibunuh
2023-11-20
1