Hati Adrian dibuat mencelus membaca alasan Sabillah menggugat cerainya.
Karena saya mencintai laki-laki lain, dan saya sedang mengandung anak dari laki-laki itu.
Jederrrrrr
Tak ada angin, tak ada hujan. Bukan hanya Adrian yang bak disambar petir di siang bolong, tapi juga kedua orang tua Sabillah mendapati surat gugatan cerai dari Sabillah.
Tangan pak Sofyan sampai gemetar memegang surat cerai yang dibawa Adrian, rasanya tak percaya membaca rentetan alasan gugatan cerai Sabillah.
"Tidak! Tidak mungkin putri kita seperti itu, Pa. Sabillah anak yang baik." Mama Sintya menggeleng, memegangi dadanya yang tiba-tiba terasa sesak. Tubuh mama Sintya limbung, kakinya tak mampu menopang berat badanya. Cepat pak Sofyan menangkap tubuh sang istri, dan mendudukkanya di sofa ruang tamu.
"Papa juga tidak percaya anak kita seperti itu, Ma."
"Lalu kemana anak kita, Pa? Siapa laki-laki itu?"
Pak Sofyan menatap Adrian yang masih berdiri diambang pintu, dia kira Sabillah pulang kerumah orang tuanya, nyatanya Sabillah tak ada disini.
"Sejak kapan Sabillah pergi?" tanya pak Sofyan. Adrian hanya dapat menjawab dengan gelengan kepala, sebab dia dua hari tidak pulang, jadi dia tidak tahu kapan tepatnya Sabillah pergi.
Melihat itu pak Sofyan naik pitam, ia berdiri. "Suami macam apa tidak tahu kapan istrinya pergi? Apa kamu memang tidak memperdulikanya?" Bentak pak Sofyan berteriak, sebab dia sudah curiga sejak awal jika pernikahan putrinya dengan Adrian tidaklah baik-baik saja.
"Aku menyesal menjodohkan anak ku dengan laki-laki tak bertanggung jawab seperti mu. Seharusnya kamu menolak keras jika memang tidak ingin dijodohkan dengan anak ku," desis pak Sofyan marah. Tangannya terkepal menahan agar bogeman tak melayang kewajah tampan itu.
Adrian mendongak, membalas tatapan pak Sofyan.
"Kenapa Anda jadi menyalahkan saya? Saya sudah menyelamatkan putri Anda dengan menerima perjodohan ini, Anda tahu akibat perjodohan ini, kekasih saya yang menjadi korbannya. Seharusnya kalianlah sebagai orang tua yang bertanggung jawab atas kejadian ini. Kalian terlalu memaksakan kehendak, padahal putri kalian sudah memiliki kekasih." Balas Adrian menohok.
Airmata mama Sintya makin tumpah mendengar ucapan Adrian. Apakah Sabillah kembali dengan kekasihnya yang merupakan seorang perwira itu?
Adrian sendiri tadinya tak percaya dengan alasan yang dibuat Sabillah dalam surat gugatan itu, dan datang ke kediaman orang tua Sabillah ingin mencari kebenarannya, tapi bukan bertemu Sabillah, dia malah disalahkan seperti ini, tentu saja Adrian tak terima.
Namun tiba-tiba Adrian ingat dengan laki-laki yang pergi dengan Sabillah saat mereka berbulan madu. Apakah laki-laki yang dimaksud?
"Aku tahu siapa laki-laki itu," ucap Adrian, membuat pak Sofyan dan mama Sintya menatapnya. Keduanya diam, menunggu jawaban Adrian.
"Teman sekantornya."
Detik itu juga Adrian bersama kedua orang tua Sabillah mendatangi kantor tempat Sabillah bekerja dulu. Adrian yakin jika teman laki-laki yang bersama Sabillah itu masih di kantor.
Karena Adrian merupakan atasan Royal Golden yang menjalin kerja sama dengan kantor tempat Sabillah bekerja, Adrian sudah dikenal oleh staf kantor tersebut, mudah bagi Adrian mendapat akses ke ruang Sabillah.
Adrian dan kedua orang tua Sabillah menaiki lift menuju ruang dimana laki-laki yang dimaksud Adrian, sebab beberapa kali dia mendatangi kantor Sabillah, dan melihat laki-laki itu satu ruang dengan Sabillah.
Saat memasuki ruang Sabillah, Adrian tersenyum puas mendapati Edo masih berada dikantor.
"Itu, laki-laki itu yang menghamili putri Anda," tuding Adrian pada Edo yang sedang fokus pada layar yang menyala didepanya.
Edo, Vania dan beberapa staf keuangan yang berada diruangan itu terkejut, dan tatapan mereka mengikuti arah yang ditunjuk Adrian.
Edo dan Vania saling pandang mendapati Adrian yang menuding Edo.
"Edo?" Dengan langkah panjangnya Mama Sintya langsung menghampiri Edo, dan mendaratkan telapak tanganya di wajah mulus Edo.
Plakkk
Wajah Edo sampai tertoleh mendapati kerasnya serangan dari mama Sintya.
Mulut Vania menganga melihat itu, matanya yang bersoflen warna biru itu melebar sempurna.
"Ma." pak Sofyan menghampiri mama Sintya, dan memegangi tubuh istrinya agar tak melakukan hal-hal yang lain lagi.
"Tante, kenapa Tante menampar saya?" Tanya Edo memegangi pipinya yang memanas akibat terkena cap tangan mama Sintya.
"Tega sekali kamu melakukan itu pada kami, Edo. Tante sudah menganggap kamu sebagai anak kami sendiri, tapi kenapa kamu melakukan itu pada Sabillah, apalagi kamu tahu Sabillah sudah mempunyai suami?" Bentak mama Sintya, dadanya naik turun karena emosinya naik.
"Apa maksud Tante?" tanya Edo tak mengerti apa yang dikatakan mama Sintya. belum mengerti tuduhan yang dilayangkan padanya.
"Jangan pura-pura tak tahu, Edo. Cepat katakan dimana kamu menyembunyikan Sabillah?" teriak mama Sintya. Edo dan Vania terkejut.
"Apa? Jadi Sabillah pergi, Tan?" Vania yang bertanya, dia mendekat pada mama Sintya.
"Iya, dan dia yang membuat Sabillah pergi, dia juga yang menghamili Sabillah." Mama Sintya tak bisa mengontrol lagi ucapanya, dia mengatakan didepan semua orang.
"Apa?" Edo dan Vania kembali dibuat terkejut oleh tuduhan mama Sintya.
* * *
Adrian seperti membongkar sendiri aibnya mengatakan jika Edolah laki-laki yang menghamili Sabillah.
Karena disinilah diketahui jika Adrian yang sebenarnya mengkhianati Sabillah. Vania dan Edo membongkar masalah kontrak pernikahan mereka. Vania dan Edo juga menceritakan jika Adrian jarang pulang karena Adrian lebih memilih pulang kerumah kekasihnya.
Adrian juga tidak pergi bersama ketika mereka berbulan madu, dan digantikan oleh Edo. Foto-foto bulan madu adalah hasil rekayasa editan foto Sabillah dan Edo, dan diantara keduanya tidak melakukan apa-apa, karena Sabillah lebih banyak menghabiskan waktunya menyendiri dikamar, itulah alasan mengapa Sabillah memilih kepulauan seribu tempat berbulan madu mereka, agar mama Adrian bisa sering menghubunginya.
Dan, terakhir Vania dan Edo bertemu Sabillah, ketika mereka melihat Adrian bersama seorang wanita hamil yang diduga kekasih Adrian.
"Jadi, apa kamu ayah dari anak yang dikandung wanita itu?" tanya pak Sofyan dengan tatapan mengintimidasi.
Kini mereka sudah berada di ruang meeting milik kantor tersebut. Pak Budiman mantan atasan Sabillah yang mendengar keributan keluar, dan memberi ruang untuk mereka menyelesaikan masalah mereka, berkat main power Adrian sebagai penanam saham diperusahaan tersebut.
"Tidak, aku bukan ayahnya," jawab Adrian tegas. "Dia memang kekasih ku, tapi aku bukan ayah biologisnya. Kenapa aku lebih perhatian padanya dibanding Sabillah? Karena dia korban dari keegoisan kalian. Dia diperkosa dimalam pernikahan kami, dan dia mengalami depresi berat atas kejadian yang menimpanya." Teriak Adrian, urat di keningnya sampai terlihat.
"Seharusnya kalian bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada Ajeng. Bisa saja aku menuntut kalian." Tunjuk Adrian mama Sintya dan papa Sofyan dengan telunjuknya.
Tak ingin terbawa emosi, Adrian keluar dan pergi meninggalkan orang tua Sabillah dan para sahabat Sabillah.
* * *
Plakkk
Telapak tangan nyonya Ninawati mendarat mulus dipipi Adrian.
"Mama sebenarnya tahu kelakuan kamu diluar sana, Adrian. Kalau kamu sering menemui wanita itu. Tapi Mama memilih diam saja, karena Mama ingin tahu kamu sadar dan berpikir lebih dewasa, mana yang lebih diutamakan, istri atau mantan pacar kamu."
Adrian memegangi pipinya yang kini terasa panas.
"Justru Adrian tahu mana yang lebih membutuhkan perhatian Adrian. Mama tidak tahu apa yang dialami Ajeng, Ma."
"Tapi tidak dengan mengabaikan kewajiban kamu sebagai seorang suami, Adrian. Seharusnya kamu bisa jujur pada Sabillah, jika kamu hanya membantu Ajeng, dan kasihan pada Ajeng. Bukan dengan diam saja, dan membuat kesalah pahaman ini terjadi." Marah nyonya Ninawati. "Kamu lihat kan, selama ini Sabillah selalu menutupi keburukan kamu, sampai dia pergi pun, dia rela menjual nama baiknya demi menutupi kebohongan kamu."
Nyonya Ninawati terus saja menghardik anaknya. "Sabillah juga banyak mengalah demi kamu, Adrian."
Jujur saja, disalahkan sana sini sejak tadi, kepala Adrian rasanya mau pecah. Dia jadi kembali menyalahkan Sabillah atas apa yang menimpa hidupnya.
"Memang sepantasnya dia melakukan itu, ini semua terjadi karena ulahnya, ulah keluarganya yang meminta Mama menjodohkan anaknya dengan Adrian. Jika saja Adrian tidak menikahi dia, Ajeng tidak akan menderita, malam itu Adrian bisa menjemput Ajeng pulang, Ajeng tidak akan mendapatkan perlakuan tak menyenangkan itu." Adrian membela Ajeng.
"Kenapa semua orang menyalahkan Adrian? Tidak bisakah Mama melihat penderitaan Ajeng sekali saja, Ma. Ajeng yang menjadi korban disini, dia korban keegoisan kalian." Adrian mengungkapkan kekesalanya. "Kenapa Mama sangat membencinya? Apa salah Ajeng sampai Mama tidak merestui hubungan Adrian dan Ajeng, Ma?"
"Karena Mama ingin yang terbaik buat kamu, Adrian. Mama ingin kamu mendapatkan istri yang jelas asal usulnya, babat, bebet, dan bobotnya."
"Persetan dengan semua itu, Adrian tidak perduli," jawab Adrian. Kemudian Adrian berlalu, masuk ke kamarnya. Berdebat dengan mamanya, tidak akan ada habisnya, yang ada mereka malah semakin terbawa emosi.
"Apa maksud kamu berkata begitu, Adrian. Apa kamu akan menikahi wanita itu?" Nyonya Ninawati menyusul Adrian.
Bugh
Bugh
"Adrian, buka pintunya. Jawab pertanyaan Mama, apa benar kamu mau menikahi wanita itu?"
Adrian tak menjawab lagi, dia menarik kuat rambutnya, kepalanya kali ini benar-benar ingin pecah. Dia bingung, kenapa ada titik rasa disudut hatinya merasa kesepian ditinggalkan Sabillah.
"Akhhhh, Sabillah. Kamu dimana sebenarnya?"
* * *
Tujuh tahun berlalu.
Seorang wanita cantik yang sedang hamil tua baru saja selesai menidurkan kedua anaknya. Dia menarik selimut menutupi tubuh kedua anaknya, lalu diciumnya kening kedua anaknya dengan sayang. Wanita itu mengusap lembut pipi anaknya yang sudah tertidur pulas.
Ia bangkit, mematikan lampu utama, menggantinya dengan lampu tidur. Langkah kakinya kini menuju ruang kerja sang suami.
"Hei, belum selesai?" tanyanya menghampiri sang suami sambil membawakan secangkir kopi hitam kesukaan suaminya. Ia meletakkan cangkir kopi diatas meja, lalu memutar meja, berdiri dibelakang kursi yang diduduki suaminya.
"Sedikit lagi," jawabnya. Ia mengecup tangan sang istri yang berada dipundaknya. "Apa anak-anak kita sudah tidur semua?" Laki-laki itu mendongak, agar bisa melihat wajah cantik sang istri.
Wanita itu mengangguk. "Kamu sedang mengerjakan apa? Kelihatannya sedang senang sekali." tanyanya melihat wajah binar suaminya, sambil memijat pundak sang suami.
"Kamu tahu saja apa yang sedang aku rasakan," ujarnya tersenyum. "Kamu tahu sayang? Kasus pemerkosaan yang terjadi tujuh tahun lalu, pelakunya sudah tertangkap, aku lega sekali rasanya. Hah, sampai tujuh tahun aku mengusut kasus ini, pelakunya bukan orang sembarang."
"Oh ya? Lalu korbannya bagaimana?" tanya si istri.
Laki-laki itu memberikan foto korban, sebenarnya yang tersebar di internet wajah asli korbannya di blurr, tapi laki-laki ini memiliki foto jelasnya.
Sang istri melihat wajah korban pemerkosaan itu, matanya membeliak, ia seakan pernah melihat wajah wanita yang ada dalam foto itu.
"Apa dia wanita itu?" gumamnya.
"Apa sayang? Apa kamu mengenalnya?"
"Ah tidak? Lalu bagaimana kedaan korban saat ini?" tanyanya lagi sangat ingin tahu kondisi korban.
"Kondisinya ... Bersambung .....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 135 Episodes
Comments
Mesri Sihaloho
berarti sabilah menikah sama mantan pacar ya Thor??
2024-10-07
0
Amazing Grace
pilihan Andrian sudah benar,yang salah memang orangtuanya,sok sok an jodoh jodohin padahal pilihan mereka salah
2024-05-04
0
Femmy Femmy
bangke' lu Adrian 😠
2024-04-08
0