Tujuh Tahun Kemudian

Hati Adrian dibuat mencelus membaca alasan Sabillah menggugat cerainya.

Karena saya mencintai laki-laki lain, dan saya sedang mengandung anak dari laki-laki itu.

Jederrrrrr

Tak ada angin, tak ada hujan. Bukan hanya Adrian yang bak disambar petir di siang bolong, tapi juga kedua orang tua Sabillah mendapati surat gugatan cerai dari Sabillah.

Tangan pak Sofyan sampai gemetar memegang surat cerai yang dibawa Adrian, rasanya tak percaya membaca rentetan alasan gugatan cerai Sabillah.

"Tidak! Tidak mungkin putri kita seperti itu, Pa. Sabillah anak yang baik." Mama Sintya menggeleng, memegangi dadanya yang tiba-tiba terasa sesak. Tubuh mama Sintya limbung, kakinya tak mampu menopang berat badanya. Cepat pak Sofyan menangkap tubuh sang istri, dan mendudukkanya di sofa ruang tamu.

"Papa juga tidak percaya anak kita seperti itu, Ma."

"Lalu kemana anak kita, Pa? Siapa laki-laki itu?"

Pak Sofyan menatap Adrian yang masih berdiri diambang pintu, dia kira Sabillah pulang kerumah orang tuanya, nyatanya Sabillah tak ada disini.

"Sejak kapan Sabillah pergi?" tanya pak Sofyan. Adrian hanya dapat menjawab dengan gelengan kepala, sebab dia dua hari tidak pulang, jadi dia tidak tahu kapan tepatnya Sabillah pergi.

Melihat itu pak Sofyan naik pitam, ia berdiri. "Suami macam apa tidak tahu kapan istrinya pergi? Apa kamu memang tidak memperdulikanya?" Bentak pak Sofyan berteriak, sebab dia sudah curiga sejak awal jika pernikahan putrinya dengan Adrian tidaklah baik-baik saja.

"Aku menyesal menjodohkan anak ku dengan laki-laki tak bertanggung jawab seperti mu. Seharusnya kamu menolak keras jika memang tidak ingin dijodohkan dengan anak ku," desis pak Sofyan marah. Tangannya terkepal menahan agar bogeman tak melayang kewajah tampan itu.

Adrian mendongak, membalas tatapan pak Sofyan.

"Kenapa Anda jadi menyalahkan saya? Saya sudah menyelamatkan putri Anda dengan menerima perjodohan ini, Anda tahu akibat perjodohan ini, kekasih saya yang menjadi korbannya. Seharusnya kalianlah sebagai orang tua yang bertanggung jawab atas kejadian ini. Kalian terlalu memaksakan kehendak, padahal putri kalian sudah memiliki kekasih." Balas Adrian menohok.

Airmata mama Sintya makin tumpah mendengar ucapan Adrian. Apakah Sabillah kembali dengan kekasihnya yang merupakan seorang perwira itu?

Adrian sendiri tadinya tak percaya dengan alasan yang dibuat Sabillah dalam surat gugatan itu, dan datang ke kediaman orang tua Sabillah ingin mencari kebenarannya, tapi bukan bertemu Sabillah, dia malah disalahkan seperti ini, tentu saja Adrian tak terima.

Namun tiba-tiba Adrian ingat dengan laki-laki yang pergi dengan Sabillah saat mereka berbulan madu. Apakah laki-laki yang dimaksud?

"Aku tahu siapa laki-laki itu," ucap Adrian, membuat pak Sofyan dan mama Sintya menatapnya. Keduanya diam, menunggu jawaban Adrian.

"Teman sekantornya."

Detik itu juga Adrian bersama kedua orang tua Sabillah mendatangi kantor tempat Sabillah bekerja dulu. Adrian yakin jika teman laki-laki yang bersama Sabillah itu masih di kantor.

Karena Adrian merupakan atasan Royal Golden yang menjalin kerja sama dengan kantor tempat Sabillah bekerja, Adrian sudah dikenal oleh staf kantor tersebut, mudah bagi Adrian mendapat akses ke ruang Sabillah.

Adrian dan kedua orang tua Sabillah menaiki lift menuju ruang dimana laki-laki yang dimaksud Adrian, sebab beberapa kali dia mendatangi kantor Sabillah, dan melihat laki-laki itu satu ruang dengan Sabillah.

Saat memasuki ruang Sabillah, Adrian tersenyum puas mendapati Edo masih berada dikantor.

"Itu, laki-laki itu yang menghamili putri Anda," tuding Adrian pada Edo yang sedang fokus pada layar yang menyala didepanya.

Edo, Vania dan beberapa staf keuangan yang berada diruangan itu terkejut, dan tatapan mereka mengikuti arah yang ditunjuk Adrian.

Edo dan Vania saling pandang mendapati Adrian yang menuding Edo.

"Edo?" Dengan langkah panjangnya Mama Sintya langsung menghampiri Edo, dan mendaratkan telapak tanganya di wajah mulus Edo.

Plakkk

Wajah Edo sampai tertoleh mendapati kerasnya serangan dari mama Sintya.

Mulut Vania menganga melihat itu, matanya yang bersoflen warna biru itu melebar sempurna.

"Ma." pak Sofyan menghampiri mama Sintya, dan memegangi tubuh istrinya agar tak melakukan hal-hal yang lain lagi.

"Tante, kenapa Tante menampar saya?" Tanya Edo memegangi pipinya yang memanas akibat terkena cap tangan mama Sintya.

"Tega sekali kamu melakukan itu pada kami, Edo. Tante sudah menganggap kamu sebagai anak kami sendiri, tapi kenapa kamu melakukan itu pada Sabillah, apalagi kamu tahu Sabillah sudah mempunyai suami?" Bentak mama Sintya, dadanya naik turun karena emosinya naik.

"Apa maksud Tante?" tanya Edo tak mengerti apa yang dikatakan mama Sintya. belum mengerti tuduhan yang dilayangkan padanya.

"Jangan pura-pura tak tahu, Edo. Cepat katakan dimana kamu menyembunyikan Sabillah?" teriak mama Sintya. Edo dan Vania terkejut.

"Apa? Jadi Sabillah pergi, Tan?" Vania yang bertanya, dia mendekat pada mama Sintya.

"Iya, dan dia yang membuat Sabillah pergi, dia juga yang menghamili Sabillah." Mama Sintya tak bisa mengontrol lagi ucapanya, dia mengatakan didepan semua orang.

"Apa?" Edo dan Vania kembali dibuat terkejut oleh tuduhan mama Sintya.

* * *

Adrian seperti membongkar sendiri aibnya mengatakan jika Edolah laki-laki yang menghamili Sabillah.

Karena disinilah diketahui jika Adrian yang sebenarnya mengkhianati Sabillah. Vania dan Edo membongkar masalah kontrak pernikahan mereka. Vania dan Edo juga menceritakan jika Adrian jarang pulang karena Adrian lebih memilih pulang kerumah kekasihnya.

Adrian juga tidak pergi bersama ketika mereka berbulan madu, dan digantikan oleh Edo. Foto-foto bulan madu adalah hasil rekayasa editan foto Sabillah dan Edo, dan diantara keduanya tidak melakukan apa-apa, karena Sabillah lebih banyak menghabiskan waktunya menyendiri dikamar, itulah alasan mengapa Sabillah memilih kepulauan seribu tempat berbulan madu mereka, agar mama Adrian bisa sering menghubunginya.

Dan, terakhir Vania dan Edo bertemu Sabillah, ketika mereka melihat Adrian bersama seorang wanita hamil yang diduga kekasih Adrian.

"Jadi, apa kamu ayah dari anak yang dikandung wanita itu?" tanya pak Sofyan dengan tatapan mengintimidasi.

Kini mereka sudah berada di ruang meeting milik kantor tersebut. Pak Budiman mantan atasan Sabillah yang mendengar keributan keluar, dan memberi ruang untuk mereka menyelesaikan masalah mereka, berkat main power Adrian sebagai penanam saham diperusahaan tersebut.

"Tidak, aku bukan ayahnya," jawab Adrian tegas. "Dia memang kekasih ku, tapi aku bukan ayah biologisnya. Kenapa aku lebih perhatian padanya dibanding Sabillah? Karena dia korban dari keegoisan kalian. Dia diperkosa dimalam pernikahan kami, dan dia mengalami depresi berat atas kejadian yang menimpanya." Teriak Adrian, urat di keningnya sampai terlihat.

"Seharusnya kalian bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada Ajeng. Bisa saja aku menuntut kalian." Tunjuk Adrian mama Sintya dan papa Sofyan dengan telunjuknya.

Tak ingin terbawa emosi, Adrian keluar dan pergi meninggalkan orang tua Sabillah dan para sahabat Sabillah.

* * *

Plakkk

Telapak tangan nyonya Ninawati mendarat mulus dipipi Adrian.

"Mama sebenarnya tahu kelakuan kamu diluar sana, Adrian. Kalau kamu sering menemui wanita itu. Tapi Mama memilih diam saja, karena Mama ingin tahu kamu sadar dan berpikir lebih dewasa, mana yang lebih diutamakan, istri atau mantan pacar kamu."

Adrian memegangi pipinya yang kini terasa panas.

"Justru Adrian tahu mana yang lebih membutuhkan perhatian Adrian. Mama tidak tahu apa yang dialami Ajeng, Ma."

"Tapi tidak dengan mengabaikan kewajiban kamu sebagai seorang suami, Adrian. Seharusnya kamu bisa jujur pada Sabillah, jika kamu hanya membantu Ajeng, dan kasihan pada Ajeng. Bukan dengan diam saja, dan membuat kesalah pahaman ini terjadi." Marah nyonya Ninawati. "Kamu lihat kan, selama ini Sabillah selalu menutupi keburukan kamu, sampai dia pergi pun, dia rela menjual nama baiknya demi menutupi kebohongan kamu."

Nyonya Ninawati terus saja menghardik anaknya. "Sabillah juga banyak mengalah demi kamu, Adrian."

Jujur saja, disalahkan sana sini sejak tadi, kepala Adrian rasanya mau pecah. Dia jadi kembali menyalahkan Sabillah atas apa yang menimpa hidupnya.

"Memang sepantasnya dia melakukan itu, ini semua terjadi karena ulahnya, ulah keluarganya yang meminta Mama menjodohkan anaknya dengan Adrian. Jika saja Adrian tidak menikahi dia, Ajeng tidak akan menderita, malam itu Adrian bisa menjemput Ajeng pulang, Ajeng tidak akan mendapatkan perlakuan tak menyenangkan itu." Adrian membela Ajeng.

"Kenapa semua orang menyalahkan Adrian? Tidak bisakah Mama melihat penderitaan Ajeng sekali saja, Ma. Ajeng yang menjadi korban disini, dia korban keegoisan kalian." Adrian mengungkapkan kekesalanya. "Kenapa Mama sangat membencinya? Apa salah Ajeng sampai Mama tidak merestui hubungan Adrian dan Ajeng, Ma?"

"Karena Mama ingin yang terbaik buat kamu, Adrian. Mama ingin kamu mendapatkan istri yang jelas asal usulnya, babat, bebet, dan bobotnya."

"Persetan dengan semua itu, Adrian tidak perduli," jawab Adrian. Kemudian Adrian berlalu, masuk ke kamarnya. Berdebat dengan mamanya, tidak akan ada habisnya, yang ada mereka malah semakin terbawa emosi.

"Apa maksud kamu berkata begitu, Adrian. Apa kamu akan menikahi wanita itu?" Nyonya Ninawati menyusul Adrian.

Bugh

Bugh

"Adrian, buka pintunya. Jawab pertanyaan Mama, apa benar kamu mau menikahi wanita itu?"

Adrian tak menjawab lagi, dia menarik kuat rambutnya, kepalanya kali ini benar-benar ingin pecah. Dia bingung, kenapa ada titik rasa disudut hatinya merasa kesepian ditinggalkan Sabillah.

"Akhhhh, Sabillah. Kamu dimana sebenarnya?"

* * *

Tujuh tahun berlalu.

Seorang wanita cantik yang sedang hamil tua baru saja selesai menidurkan kedua anaknya. Dia menarik selimut menutupi tubuh kedua anaknya, lalu diciumnya kening kedua anaknya dengan sayang. Wanita itu mengusap lembut pipi anaknya yang sudah tertidur pulas.

Ia bangkit, mematikan lampu utama, menggantinya dengan lampu tidur. Langkah kakinya kini menuju ruang kerja sang suami.

"Hei, belum selesai?" tanyanya menghampiri sang suami sambil membawakan secangkir kopi hitam kesukaan suaminya. Ia meletakkan cangkir kopi diatas meja, lalu memutar meja, berdiri dibelakang kursi yang diduduki suaminya.

"Sedikit lagi," jawabnya. Ia mengecup tangan sang istri yang berada dipundaknya. "Apa anak-anak kita sudah tidur semua?" Laki-laki itu mendongak, agar bisa melihat wajah cantik sang istri.

Wanita itu mengangguk. "Kamu sedang mengerjakan apa? Kelihatannya sedang senang sekali." tanyanya melihat wajah binar suaminya, sambil memijat pundak sang suami.

"Kamu tahu saja apa yang sedang aku rasakan," ujarnya tersenyum. "Kamu tahu sayang? Kasus pemerkosaan yang terjadi tujuh tahun lalu, pelakunya sudah tertangkap, aku lega sekali rasanya. Hah, sampai tujuh tahun aku mengusut kasus ini, pelakunya bukan orang sembarang."

"Oh ya? Lalu korbannya bagaimana?" tanya si istri.

Laki-laki itu memberikan foto korban, sebenarnya yang tersebar di internet wajah asli korbannya di blurr, tapi laki-laki ini memiliki foto jelasnya.

Sang istri melihat wajah korban pemerkosaan itu, matanya membeliak, ia seakan pernah melihat wajah wanita yang ada dalam foto itu.

"Apa dia wanita itu?" gumamnya.

"Apa sayang? Apa kamu mengenalnya?"

"Ah tidak? Lalu bagaimana kedaan korban saat ini?" tanyanya lagi sangat ingin tahu kondisi korban.

"Kondisinya ... Bersambung .....

Terpopuler

Comments

Mesri Sihaloho

Mesri Sihaloho

berarti sabilah menikah sama mantan pacar ya Thor??

2024-10-07

0

Amazing Grace

Amazing Grace

pilihan Andrian sudah benar,yang salah memang orangtuanya,sok sok an jodoh jodohin padahal pilihan mereka salah

2024-05-04

0

Femmy Femmy

Femmy Femmy

bangke' lu Adrian 😠

2024-04-08

0

lihat semua
Episodes
1 Gara-gara Kamu
2 Bertanggung Jawab
3 Bulan Madu
4 Bagai Orang Asing
5 Membuatnya Menderita
6 Kekasih Adrian
7 SPIC
8 Tujuh Tahun Kemudian
9 Duda Perjaka
10 Arjuna Bratajaya
11 Ketahuan
12 Ajeng?
13 Setelah Tujuh Tahun Berpisah 1
14 Dua Laki-laki Bertolak Belakang
15 Apa Kabar Mantan Istri?
16 Bertemu Mantan Suami
17 Ikhlas
18 Kehilangan Yang Menyakitkan
19 Terkubur Tak Terkenang
20 Mencari Fakta
21 Kuman dan Virus Pengganggu
22 Permintaan Eka
23 Aku Ayah Dari Anaknya
24 Membuat Janji, Untuk Esok Dan Seterusnya.
25 Takdir
26 Rahasia Besar Ajeng
27 Semakin Nekat
28 Usaha Ajeng
29 Tidak sengaja
30 Draft
31 Perhatian
32 Akulah Pelindung Mu
33 Alam Bawah Sadar
34 Kehilangan Lagi?
35 Perdebatan Yang Menyenangkan
36 Keberuntungan Adrian.
37 Kembalikan Hati Ku Seperti Semula
38 Ingin Diperhatikan
39 Kenyataan Yang Terungkap
40 Janda Anak Banyak
41 Marah Tapi Manja
42 Isi Hati Eka
43 Tidak Lebih Dari Teman
44 Pengganggu
45 Kejutan Tak Terduga
46 Bertemu Mantan
47 Tarik Ulur
48 Mau Om Adlian
49 Bertengkar
50 Sakit
51 Laki-laki Yang Tulus
52 Mulai Membuka Diri
53 Hati Yang Kau Sakiti
54 Mencuri Kecupan
55 Menyerah?
56 Kembali Terluka
57 Memilih Pergi
58 Dua Laki-laki Yang Pergi
59 Frustasi
60 Menikahlah Dengan Om Adrian
61 Jatuh Sakit
62 Kabar Baik
63 Kamu mencintai ku? Jandaku?
64 Pacaran
65 Drama Yang Dibuat Ajeng
66 Tidak Mau Melepaskan
67 Apakah Ini Penebus Dosa?
68 Kepergian Arthur Dan Semua Rahasianya
69 Hebat Dimata Ku Dan Anak-anak Ku
70 Meluluhkan Hati Pak Sofyan
71 Surprise Untuk Sabillah
72 Menguji Adrian
73 Modus Adrian
74 Cobaan Apalagi Ini?
75 Keresahan Eka Yang Sesungguhnya
76 Ayah Yang Baik
77 Perasaan Vania
78 Menemui Ajeng
79 Mengutarakan Perasaan
80 Bimbang
81 Deep Talk
82 Keluarga Empat Sehat, Lima Bersama
83 Batal Honeymoon
84 Vania Mencari Jodoh
85 Jalan-jalan Ke Menara
86 Abang Azam
87 Sinyal Jodoh
88 Vania Yang Baru
89 Drama Anniversary
90 Perhatian Azam
91 Undangan Pernikahan Edo
92 Batal Menikah?
93 Pengantin Pengganti
94 Sah
95 Hujan Ditengah Kemarau
96 Pacaran
97 Tidak Pulang
98 Terbongkar
99 Jadi Janda Dan Duda
100 Circle Janda Duda
101 Statusnya Lajang
102 Mau Langsung Lamar?
103 Makan Malam
104 Pencuri Handal
105 Perjodohan
106 Perjanjian Pranikah
107 Mertua Idaman
108 Rumah Baru
109 Sama-sama Pemalu
110 Ulang Tahun Arjuna
111 Wanita Asing
112 Dokter Itu Vanessa
113 Kebetulan Yang Sangat Kebetulan
114 Terbuka
115 Percakapan Ringan
116 Hamil
117 Kabar Bahagia
118 Azam Mulai Berbohong
119 Harus Bedresh
120 Perjuangan Imam Rumah Tangga
121 Tanganya Kasarr
122 Mencari Tau
123 Vania Hilang
124 Dijodohkan
125 Syarat Bertemu
126 Laki-laki Mirip Azam
127 Mengisi Energi Ala Azam
128 Ngumpul
129 Papa Tiri
130 Kenyataannya
131 Sisi Lain Eka
132 Berakhir Damai
133 Tanggal Cantik
134 Adriane Salsabillah Kusumo
135 Pengumuman Cerita Baru
Episodes

Updated 135 Episodes

1
Gara-gara Kamu
2
Bertanggung Jawab
3
Bulan Madu
4
Bagai Orang Asing
5
Membuatnya Menderita
6
Kekasih Adrian
7
SPIC
8
Tujuh Tahun Kemudian
9
Duda Perjaka
10
Arjuna Bratajaya
11
Ketahuan
12
Ajeng?
13
Setelah Tujuh Tahun Berpisah 1
14
Dua Laki-laki Bertolak Belakang
15
Apa Kabar Mantan Istri?
16
Bertemu Mantan Suami
17
Ikhlas
18
Kehilangan Yang Menyakitkan
19
Terkubur Tak Terkenang
20
Mencari Fakta
21
Kuman dan Virus Pengganggu
22
Permintaan Eka
23
Aku Ayah Dari Anaknya
24
Membuat Janji, Untuk Esok Dan Seterusnya.
25
Takdir
26
Rahasia Besar Ajeng
27
Semakin Nekat
28
Usaha Ajeng
29
Tidak sengaja
30
Draft
31
Perhatian
32
Akulah Pelindung Mu
33
Alam Bawah Sadar
34
Kehilangan Lagi?
35
Perdebatan Yang Menyenangkan
36
Keberuntungan Adrian.
37
Kembalikan Hati Ku Seperti Semula
38
Ingin Diperhatikan
39
Kenyataan Yang Terungkap
40
Janda Anak Banyak
41
Marah Tapi Manja
42
Isi Hati Eka
43
Tidak Lebih Dari Teman
44
Pengganggu
45
Kejutan Tak Terduga
46
Bertemu Mantan
47
Tarik Ulur
48
Mau Om Adlian
49
Bertengkar
50
Sakit
51
Laki-laki Yang Tulus
52
Mulai Membuka Diri
53
Hati Yang Kau Sakiti
54
Mencuri Kecupan
55
Menyerah?
56
Kembali Terluka
57
Memilih Pergi
58
Dua Laki-laki Yang Pergi
59
Frustasi
60
Menikahlah Dengan Om Adrian
61
Jatuh Sakit
62
Kabar Baik
63
Kamu mencintai ku? Jandaku?
64
Pacaran
65
Drama Yang Dibuat Ajeng
66
Tidak Mau Melepaskan
67
Apakah Ini Penebus Dosa?
68
Kepergian Arthur Dan Semua Rahasianya
69
Hebat Dimata Ku Dan Anak-anak Ku
70
Meluluhkan Hati Pak Sofyan
71
Surprise Untuk Sabillah
72
Menguji Adrian
73
Modus Adrian
74
Cobaan Apalagi Ini?
75
Keresahan Eka Yang Sesungguhnya
76
Ayah Yang Baik
77
Perasaan Vania
78
Menemui Ajeng
79
Mengutarakan Perasaan
80
Bimbang
81
Deep Talk
82
Keluarga Empat Sehat, Lima Bersama
83
Batal Honeymoon
84
Vania Mencari Jodoh
85
Jalan-jalan Ke Menara
86
Abang Azam
87
Sinyal Jodoh
88
Vania Yang Baru
89
Drama Anniversary
90
Perhatian Azam
91
Undangan Pernikahan Edo
92
Batal Menikah?
93
Pengantin Pengganti
94
Sah
95
Hujan Ditengah Kemarau
96
Pacaran
97
Tidak Pulang
98
Terbongkar
99
Jadi Janda Dan Duda
100
Circle Janda Duda
101
Statusnya Lajang
102
Mau Langsung Lamar?
103
Makan Malam
104
Pencuri Handal
105
Perjodohan
106
Perjanjian Pranikah
107
Mertua Idaman
108
Rumah Baru
109
Sama-sama Pemalu
110
Ulang Tahun Arjuna
111
Wanita Asing
112
Dokter Itu Vanessa
113
Kebetulan Yang Sangat Kebetulan
114
Terbuka
115
Percakapan Ringan
116
Hamil
117
Kabar Bahagia
118
Azam Mulai Berbohong
119
Harus Bedresh
120
Perjuangan Imam Rumah Tangga
121
Tanganya Kasarr
122
Mencari Tau
123
Vania Hilang
124
Dijodohkan
125
Syarat Bertemu
126
Laki-laki Mirip Azam
127
Mengisi Energi Ala Azam
128
Ngumpul
129
Papa Tiri
130
Kenyataannya
131
Sisi Lain Eka
132
Berakhir Damai
133
Tanggal Cantik
134
Adriane Salsabillah Kusumo
135
Pengumuman Cerita Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!