Menjalani pernikahan tanpa cinta itu sulit, mencoba acuh dan baik-baik saja, nyatanya tak bisa.
Setelah bertemu dengan para sahabatnya, Sabillah memilih pulang kerumah orang tuanya, rumah tempatnya tumbuh dari kecil hingga dewasa. Melihat dengan mata kepala sendiri, laki-laki yang menjadi suaminya sedang bersama seoarang wanita yang sepertinya sedang berbadan dua, cukup membuat hati Sabill berdenyut.
Sepanjang perjalanan Sabill menyenderkan kepalanya di kaca mobil taksi yang dinaikinya, sambil memikirkan langkah apa yang harus dia ambil?
Jika memang wanita yang dilihatnya tadi kekasih Adrian, dan wanita itu sedang mengandung anak Adrian, Sabill memilih mundur, dia tak mau menyakiti hati wanita lain, dan menjadi duri dalam rumah tangga orang lain.
"Neng, ini alamatnya bukan?" Suara pak supir membuyarkan lamunan Sabillah. Sabillah tersentak, dia menegakkan tubuhnya, melihat sekeliling. Ternyata dia sudah didepan rumah orang tuanya.
Sabill melihat argo pembayarannya, mengambil uang dari dalam dompet lalu memberikan pada pak supir.
"Kembalianya ambil saja, Pak," katanya sambil membuka pintu.
"Ini kebanyakan, Neng," teriak pak supir pada Sabill yang berjalan menuju pintu gerbang.
"Nggak papa, Pak. Anggap itu rejeki anak Bapak hari ini," sahut Sabill tak kalah berteriak.
"Terima kasih ya, Neng." Sabill mengangguk membuka pintu pagar, dan langsung disambut penjaga rumah orang tuanya.
"Eh, Non Sabill. Kirain saha Neng?"
Sabill tersenyum. "Apa kabar, Pak?" tanya Sabill ramah.
"Alhamdulilah, damang Neng."
"Bapak sama ibu ada?" tanya Sabill tak melihat mobil papanya dihalaman rumah.
"Ibu ada, tapi kalau bapak, barusan saja pergi."
Sabill mengangguk. "Terima kasih ya, Pak," katanya melangkahkan kaki menuju rumah.
Sabill mengucap salam, tapi tak ada sahutan dari dalam, ia terus melangkah masuk mencari keberadaan mamanya. Ternyata mamanya ada didapur, seperti sedang memasak sesuatu.
"Lagi bikin apa sih? Sabill ngucapin salam ampe nggak denger?"
"Astaga Sabill, ih bikin kaget Mama." Sintya mengusap dadanya terkejut.
"Sabill tadi udah ngucapin salam loh, tapi mamanya aja yang nggak denger," kata Sabill dengan bibir yang mengerucut.
"Ini, lagi bikin pempek buat mamanya Adrian, kemarin dia kirim pesan, katanya pempek buatan mama enak, dia minta dibikinin lagi." Cerita Sintya, "eh, kamu kesini sendiri? Nggak sama Adrian?" tanyanya menelisik kebelakang, mencari sosok menantu idamanya.
"Menantu kesayangan Mama kan pengusaha, jadi dia sibuk," jawab Sabill sarkas.
Mamanya tak tahu saja, jika laki-laki yang dieluh-eluhkan yang akan membahagiakanya itu, justru laki-laki paling menyakitinya. Seharusnya, meski pernikahan mereka tanpa cinta, Adrian tak harus menjalin hubungan dengan kekasihnya, apalagi sampai wanita itu hamil. Dia harus bersabar dan menunggu sampai waktunya mereka berpisah.
Astaga, kenapa sakit sekali mengingatnya? Batin Sabill menahan sesak yang tiba-tiba menjalar. Ingatannya kembali pada sosok Adrian yang begitu hangat pada wanita itu, Adrian dengan penuh perhatian menggendong wanita yang tengah hamil tua itu. Jika bukan istri, mana mungkin Adrian akan melakukan hal tersebut?
"Kamu kok gitu sih ngomongnya, seharusnya kamu senang punya suami pekerja keras. Coba kalau punya suami pak pol. Punya uang banyak sedikit, dikira uang hasil nipu masyarakat, jujur, hidupnya kere," ujar Sintya, mengangkat pempek rebus yang sudah matang. Mengagetkan Sabillah yang sedang melamun.
"Ruang gerak kamu juga terbatas, nggak bisa punya barang branded, gak bisa posting ini posting itu di media sosial, kadang kan kita juga ingin mengabadikan momen-momen tertentu, tapi nggak bisa. Mending punya suami pengusaha, hidupnya bebas."
"Tapi nggak semua orang berpikir seperti Mama, kalau semua orang berpikir seperti Mama, nggak akan ada yang mau jadi petugas kalau begitu," sahut Sabill mengambil satu pempek rebus, memakanya.
"Nanti bawa ya, buat Adrian. Dia pasti suka, kebetulan sekali kamu datang Mama lagi buat, rejeki kamu bagus." Sabill mengangguk, wajahnya biasa saja, seperti tak ada masalah dengan Adrian.
Hingga sore, Sabillah masih betah dirumah orang tuanya. Dia sampai menunggu papanya pulang dan makan malam bersama.
Sabill melihat satu persatu wajah kedua orang tuanya, ada rasa bersalah menelusup didalam dadanya. Sabill menghela nafas, awalnya dia, ingin berbagi cerita, jika dia sudah tidak bekerja lagi, dan menceritakan tentang Adrian. Tapi apa mungkin mereka percaya atas apa yang dilihatnya? Sedang mamanya terlihat begitu membela Adrian.
"Sudah malam, Adrian nggak jemput kamu?" tanya papa Sofyan.
"Adrian masih di kantor katanya, dia pulang malam." Jawab Sabill begitu santai, sambil terus mengunyah makananya. "Masakan Mama selalu enak, pantas Papa semakin cinta sama Mama." Puji Sabill.
"Kamu juga harus pintar masak, biar Adrian semakin cinta sama kamu. Ingat, Adrian itu ganteng, kaya. Pasti banyak cewek-cewek yang suka sama dia, kalau kamu bisa memuaskan lambungnya, Mama yakin, mau sehebat apa wanita menggoda Adrian, Adrian tak akan tergoda." Sabill hanya tersenyum kecil menganggapi ucapan mamanya.
Nyatanya Adrian tak setia. Gumam Sabillah dalam hati, mau dia memiliki ilmu penakluk air, udara, api. Adrian tak akan takluk padanya.
Pak Sofyan menangkap guratan tak biasa diwajah putrinya, Sabillah seperti sedang memikirkan sesuatu. Pandanganya turun menelisik tubuh putrinya, dia baru menyadari jika Sabill sangat kurus dan tirus.
"Kamu terlihat kurang tidur, Nak. Apa kamu sulit tidur?" tanya Pak Sofyan memancing. Sintya jadi memperhatikan wajah Sabillah.
"Biasa pengantin baru kurang tidur, Mama juga dulu seperti itu." Sintya yang menjawab. Dia mengangguk saja membenarkan.
Pukul sepuluh malam Sabill baru pulang, tadinya dia mau menginap, tapi Sintya tak mengizinkan.
"Kalau mau nginep, harus sama suami kamu, jangan sendiri-sendiri begini, nanti dikira kalian lagi berantem," ujar Sintya, tak peka dengan perasaan anaknya.
Mau tak mau Sabillah pulang, namun ia tak menyangka jika papanya sepertinya tahu yang dia rasakan.
"Jangan buat Papa menjadi orang tua yang bersalah, Sabill. Jika kamu tidak bahagia, tinggalkan. Papa sudah mengizinkan." Sabillah terbelalak mendengar itu, menatap papanya tak percaya.
"Kamu ini apa-apaan sih, Pa." Tepuk Sintya bahu suaminya. "Jangan didengarkan Sabill. Rumah tangga itu biasa ada masalah, kalau setiap ada masalah pisah, nggak akan selesai mau sampai lebaran kucing juga." Kata Sintya pada Sabillah.
Sabillah tak menanggapi apa-apa. Kini dia mendapatkan dua jawaban yang membuatnya dilema, dua orang tuanya memberikan pilihan yang sulit, antara bertahan, atau pergi?
"Kamu kenapa nggak biarkan Sabillah nginep disini, sih?" tanya Pak Sofyan pada istrinya setelah Sabill masuk kedalam taksi.
"Mama sengaja, biar Sabillah dewasa menghadapi masalahnya, jangan kayak anak kecil, suka lari dari masalah." Dijawab seperti itu, pak Sofyan tak menyahut lagi. Dia memilih masuk kedalam rumah.
* * *
Sabill sampai dirumahnya. Rumahnya masih gelap, artinya Adrian tidak pulang lagi. Sabill menyalakan lampu, dia menghela nafas, menatap sekeliling rumahnya yang besar dan megah.
Tak ada satupun kenangan indah dirumah ini, yang ada kenangan menyakitkan bagi Sabillah, dimana Adrian yang selalu marah-marah setiap dirumah, dan selalu membuatnya kesal. Sabill melangkah, memasukkan pempek kedalam kulkas. Dia sudah menentukan pilihannya, selama perjalanan tadi, dia menghitung menggunakan kancing kemejanya.
* * *
Dua hari berlalu, Adrian pulang, dia ingin tahu kabar Sabillah selama Sabillah meganggur dirumah, pasti wanita itu begitu kesepian.
Adrian ingin mengerjai Sabaillah lagi, perutnya saat ini begitu lapar, dia ingin dibuatkan dendeng balado yang enak, pasti Sabillah tak bisa memasak itu.
Adrian turun dari mobilnya, ia cukup heran, lampu depan rumahnya menyala. Tapi Adrian takan ambil pusing, saat akan membuka pintu, Adrian dibuat fokus pada paket yang terletak di meja dekat pintu. Dikirim untuk nama dirinya, pengirim, anonim.
Adrian belum penasaran isi dalam paket tersebut, dia sudah tak sabar ingin melihat wajah kesal Sabillah saat ia kerjai nanti. Namun saat masuk, rumah itu begitu sepi, seperti tak berpenghuni, ingin memanggil Sabillah, gengsi.
Adrian mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk mencari perhatian, pandangan Adrian tertuju pada pajangan kecil yang menempel didinding ruang tamu. Adrian mengambil pajangan itu, lalu menghempaskan ke lantai, hingga menimbulkan suara nyaring seperti malam itu.
Adrian mendongak, menarik sudut bibirnya, pasti Sabillah berlari-lari turun, ingin melihat apa yang dilakukannya. Namun, sepi, tak ada terdengar suara langkah kaki sama sekali.
Adrian jadi kesal sendiri, dia naik, jika dia menemukan Sabillah sedang enak-enakan tidur, dia akan menyiram Sabillah dengan seember air. Tali saat membuka pintu kamar, tempat tidur bahkan terlihat sangat rapih. Adrian langsung menuju kamar mandi, kering, seperti sudah berapa hari tidak digunakan.
Tujuan Adrian kini lemari pakaian, dan tubuhnya langsung melemah, tak ada sehelai pun pakaian Sabillah disana. Adrian kembali turun sambil berlari, kini dia membuka paket yang ia temukan tadi.
"Surat Permohonan Izin Cerai."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 135 Episodes
Comments
Yuliana Purnomo
nyonyor looh mentang 2 bininya diam,,lalu aja semena mena
2024-05-31
1
Femmy Femmy
kapok
2024-04-08
0
Femmy Femmy
kasihan deh loh Adrian...emang enak kalau ditinggalin
2024-04-08
0