Ikhlas

Arjuna sampai di rumah temanya yang bernama Tio. Distandarkanya sepeda motor matic miliknya dipinggir jalan, diluar pagar, melepaskan helm, lalu Arjuna melangkah kerumah bercat hijau daun, dan berpagar besi hitam itu.

Arjuna mengucapkan salam, temanya menyahut dari dalam.

"Masuk, Jun," ujarnya mengajak Arjuna masuk. Melepaskan sepatu putih hadiah dari Sabillah sebagai anivarsary pernikahan mereka yang ke lima, Arjuna masuk.

Arjuna terkejut, saat melihat di dalam rumah Tio sudah ada dua atasanya. Ipda Rizwan, dan Ipda Kumar.

Arjuna menatap Tio, Tio menunduk, tak sanggup menatap wajah Arjuna, Tio seperti sedang dalam tekanan.

"Duduk, Jun. Kita ngopi-ngopi sebentar," ujar Ipda Rizwan. Mengambil gelas yang masih terpelungkup, menuangkan kopi dari dalam teko untuk Arjuna.

Sudah kadung sampai, dengan berat hati Arjuna ikut bergabung dengan hati bertanya-tanya, kenapa dirumah Tio ada dua atasanya yang pangkatnya satu tingkat diatas Arjuna.

"Kamu pasti terkejut dengan keberadaan kami disini 'kan?" Ipda Kumar bicara. "Kamu pasti sudah tahu tujuan kami. Sekali kami bertanya padamu, apa kamu yakin tidak akan melepaskan ikan tangkapan kalian untuk kami, sebab ikan tangkapan kalian itu merupakan wilayah kami dulu, kami memang gagal menangkap ikan itu. Tapi kami berharap kamu mau memberikan ikan tangkapan kalian pada kami, dan merekayasa wilayah dalam wilayah kami." Ipda Kumar menatap Arjuna yang diam mendengarkan.

"Ini tidak gratis, Jun. Imbalanya juga tinggi. Yang kami dengar mertua mu bukan orang biasa, bukannya kamu butuh uang banyak untuk menyenangkan mertuamu bukan?" sambungnya lagi.

"Aku tidak perlu membuktikan apa-apa pada mertua ku, yang penting istri ku bahagia. Lagi pula dengan prestasi ku selama ini, aku sudah membahagiakan mertua ku."

Ipda Rizwan dan Ipda Kumar mengangguk.

"Jangan keras kepala, Jun. Ini bukan kisah lama, yang sudah-sudah juga tetap bisa naik pangkat meski mereka harus merelakan ikan hasil tangkapan mereka lepas, hidup mereka juga makmur. Teman mu Tio juga sudah menyetujui."

Arjuna menatap Tio yang duduk disampingnya. Andai mereka hanya berdua, Arjuna akan bertanya pada Tio, kenapa temanya itu berubah pikiran, sedang saat ditelepon tadi Tio juga bersikeras menolak tawaran itu.

"Maaf tapi saya tetap tidak bisa menerima ini, kami mempertaruhkan nyawa menangkap ikan tangkapan kami. Kami harus menerjang ombak besar, meninggalkan keluarga dirumah. Andai kalian menginginkan ini dari awal, mungkin semalam aku akan memilih tidur dirumah dan mendapat sanksi dari pada harus keluar rumah meninggalkan anak istri jika pada akhirnya harus diserahkan pada orang lain." Arjuna berdiri. Dia tetap akan mempertahankan keputusannya.

Dia akan menceritakan ini pada Sabillah, dan meminta bantuan pada Sabill. Salahnya tadi pagi dia masih mempertimbangkan banyak hal untuk tidak menceritakan masalahnya pada sang istri, karena Arjuna tidak ingin membuat Sabillah terpikirkan oleh masalahnya.

Selama ini saja, Sabillah selalu mengkhawatirkanya jika dia keluar menjalankan tugasnya, apalagi jika menceritakan ini pada Sabill, Sabill pasti makin kepikiran dan akan berpengaruh pada kehamilan sang istri.

Kembali mengendarai sepeda motornya, Arjuna pulang kerumah.

* * *

Dirumah, Sabillah sedang bermain dengan anak-anaknya. Setelah kepergian Arjuna, dia dan kedua anaknya tak jadi tidur, semua berawal dari Eka yang berdiri didepan jendela mereka menunggu kepulangan Arjuna.

"Sayang, sini nonton sama adek Arial, kamu nggak pegal berdiri disana?" Sabillah memanggil Eka.

Anak sulungnya itu menggeleng. "Eka nunggu Bapak pulang. Kenapa bapak belum pulang-pulang, Umak. Eka ngantuk."

"Bapak baru juga keluar, sini nonton hape sama adek, sambil nunggu Bapak."

Tapi gadis cilik berambut sebahu itu tak menggubris, dia tetap akan menunggu Arjuna sampai Arjuna pulang, tanganya memegang boneka gajah berwarna pink kesukaanya hadiah dari Arjuna.

Ponsel Sabillah berdering, sontak Eka berlari menghampiri Sabillah.

"Itu pasti Bapak. Eka saja yang angkat, Umak." Teriak Eka.

Sabillah terkekeh gemas pada anaknya, memberikan ponselnya pada sang anak setelah menggulir tombol hijau.

"Halo Bapak, Bapak sudah sampai dimana? Eka nggak bisa tidur kalau tidak sama, Bapak." Cerocosnya dengan begitu antusias.

"Halo dengan istri pak Arjuan?" Bukan suara Arjuna yang menjawab, Sabill langsung mengambil ponsel dari Eka.

"Maaf sayang," ujarnya pada sang anak karena lancang merebut ponsel tanpa permisi dahulu.

"Iya, saya istri mas Arjuna, ini siapa?"

"Kami dari rumah sakit, ingin memberitahukan jika pak Arjuna baru saja mengalami kecelakaan tunggal. Harap ibu datang segera."

Sabillah terdiam, menatap Eka yang menatapnya, anaknya pasti menunggu kabar bapaknya.

"Tadi siapa, Umak. Kenapa bukan Bapak yang angkat?"

* * *

Menggandeng dua anak yang masih kecil ditangan kanan kirinya, Sabillah berjalan tergesa-gesa melewati lorong rumah sakit, mencari keberadaan ruang sang suami. Dengan dada berdebar tak karuan dan pikiran tak tenang Sabillah mencoba tenang, tetap menjawab ocehan kedua anaknya yang menanyakan apa yang terjadi pada ayah mereka.

"Istri Pak Arjuna?" tanya seorang perawat wanita.

"Iya." Sabillah mengangguk.

"Mari bu. Pak Arjuna menunggu Anda."

"Mas," lirihnya saat melihat Arjuna terbaring dirumah sakit dengan infus sudah tertancap ditangan kanan Arjun, selang oksigen dihidungnya.

"Bapakkkk." Eka berteriak berlari menghampiri Arjuna yang terbaring lemas diatas ranjang pesakitan. "Bapak kenapa?" Tanyaya saat melihat banyak luka di tubuh sang ayah. Arjuna hanya merespon dengan kedipan mata, tangan lemahnya mengusap rambut sang anak

"Ba-pak ti-dak a-pa-apa, Sa-yang." Arjuna menjawab terbata-bata. Sabill menarikkan kursi agar sang anak bisa duduk.

"Bapak cepat sembuh, Eka sayang Bapak." Eka memeluk tubuh bapaknya yang ia tidak tahu banyak luka. Arjuna meringis menahan sakit.

"Sayang, jangan kencang-kencang peluk Bapaknya, badan Bapak sakit." Arjuna menggeleng, membiarkan Eka memeluknya.

"Kamu kenapa, Mas?" Sabill bertanya dengan berlinang air mata. Arjuna menjawab dengan gelengan kepala.

* * *

Malam itu, mereka menginap dirumah sakit. Karena tak ada siapapun dirumah, terpaksa Sabillah mengajak anaknya ikut menginap disana, beruntung pihak rumah sakit memberi pengertian. Jarum jam menunjukkan pukul sembilan malam, Eka tidur disamping Arjuna, sedang Arial tidur diatas sofa.

Sabillah baru saja selesai menyuapi Arjuna dengan buah.

"Sabill," Panggil Arjuna lirih.

"Iya, Mas. Ada yang kamu butuhkan lagi?" Sabill menoleh kebelakang, meletakkan mangkuk tempat buah dinakas. Arjuna menggeleng, dia meminta Sabillah mendekat tanpa suara. Sabillah menarik kursi, duduk didekat sang suami. "Iya, Mas."

Arjuna merapikan rambut Sabill, menyelipkan helai rambutnya Sabill ke belakang telinga, hal itu membuat tubuh Sabill merinding, sudah biasa Arjuna bertindak romantis padanya, tapi Sabill merasa tatapan Arjuna berbeda.

Cepat Sabilah membuang jauh pikiran buruknya.

"Kamu ingat dua teman ku yang datang keacara tujuh bulanan anak kita kemarin kan?" Sabillah terdiam, kenapa tiba-tiba Arjuna menanyakan itu? Sabillah mengangguk.

"Aku nggak nyangka jika salah satu teman ku itu mantan suami kamu."

Degh.

Dari mana Mas Arjuna tahu soal itu? Apa Adrian yang menceritakanya? Bukanya Adrian sudah janji tidak akan memberitahu Arjuna selain dirinya sendiri yang akan memberi tahu itu pada Arjuna?

"Aku tahu dari Jimmy jika kalian pernah menikah."

"Maaf, Mas. Bukan aku nggak mau kasih tahu kamu, tapi aku menunggu waktu yang tepat."

Arjuna tersenyum lembut. "Nggak papa, Sayang." Dengan perlahan Arjuna mengambil tangan Sabillah. "Kamu tahu Sabill, kalau aku jatuh cinta padamu sejak pandangan pertama?" Sabillah mengangguk, menghapus air mata yang tiba-tiba jatuh.

"Sampai saat ini aku sangat mencintai kamu, dan cinta itu tumbuh semakin besar."

"Mas." Bibir Sabill bergetar, air matanya jatuh semakin deras, Sabillah menghapus sendiri air matanya.

"Aku tahu kemarin kamu bertemu, Adrian."

Mata Sabill membulat, dari mana Arjuna tahu itu?

"Kami tidak ada hubungan apa-apa, Mas."

Arjuna kembali tersenyum. "Aku tahu kamu istri yang solehah. Aku percaya kamu, Sabill." Arjuna menghela nafas, dia tahu kisah Sabillah dan Adrian, dia juga tahu Adrian masih sangat mencintai Sabillah, Jimmy menceritakanya melalui pesan singkat.

"Sayang," panggil Arjuna lirih, Sabillah menatapnya. "Jika umur ku tidak panjang, aku merestui mu menikah lagi jika ada jodoh kedua mu dengan Arjuna."

"Kamu bicara apa sih, Mas. Jangan ngomong sembarangan."

Arjuna masih sempat terkekeh, sayangnya Sabillah tidak mengatakan langsung jika dia tidak akan menikah lagi.

"Sudah tidur, jangan ngomong ngelantur, aku sebentar lagi akan lahiran. Kamu harus cepat sembuh."

Meski tak langsung tertidur, Sabillah mengalihkan pembicaraan lain, mereka mengobrol hingga tengah malam, sampai Sabillah tertidur karena kelelahan. Arjuna mengusap kening Sabillah yang tidur sambil duduk. Ucapan maaf keluar dari bibir Arjuna tanpa suara, dia sudah snagat ikhlas jika kelak Sabillah kembali menikah dengan laki-laki lain. Dia berharap Sabillah mendapat jodoh yang bisa menerima Sabillah dan anaknya.

Arjuna menyalakan televisi diruanganya, dadanya sesak, saat melihat berita rilisnya tentang penangkapan bandar narkoba oleh pihak lain.

* * *

Keesokan pagi, Sabillah memeriksa keadaan Arjuna, dia mendapati tubuh suaminya yang dingin, dan ... pucat. Sabillah memeriksa denut nadi dan nafas Arjuna.

"Mas," Sabillah mengguncang tubuh Arjuna. "Mas bangun, Mas." Namun tak ada reaksi dari Arjuna.

Tittttt

"Dokterrr," Sabillah menekan bell, memanggil dokter.

Terpopuler

Comments

Maizaton Othman

Maizaton Othman

dgn Adrian- typo

2025-03-23

0

Yuliana Purnomo

Yuliana Purnomo

iih kenapa Arjuna,,? sengaja dicelakau kah???

2024-05-31

0

Femmy Femmy

Femmy Femmy

innalilahi wa Innailaihi Raji'un..Arjun meninggal orang baik pasti Allah menepatkanmu di surga Nya😭selamat jalan Arjun..ini ulah komandannya dan yang tau itu Eka anak pertamanya

2024-04-09

0

lihat semua
Episodes
1 Gara-gara Kamu
2 Bertanggung Jawab
3 Bulan Madu
4 Bagai Orang Asing
5 Membuatnya Menderita
6 Kekasih Adrian
7 SPIC
8 Tujuh Tahun Kemudian
9 Duda Perjaka
10 Arjuna Bratajaya
11 Ketahuan
12 Ajeng?
13 Setelah Tujuh Tahun Berpisah 1
14 Dua Laki-laki Bertolak Belakang
15 Apa Kabar Mantan Istri?
16 Bertemu Mantan Suami
17 Ikhlas
18 Kehilangan Yang Menyakitkan
19 Terkubur Tak Terkenang
20 Mencari Fakta
21 Kuman dan Virus Pengganggu
22 Permintaan Eka
23 Aku Ayah Dari Anaknya
24 Membuat Janji, Untuk Esok Dan Seterusnya.
25 Takdir
26 Rahasia Besar Ajeng
27 Semakin Nekat
28 Usaha Ajeng
29 Tidak sengaja
30 Draft
31 Perhatian
32 Akulah Pelindung Mu
33 Alam Bawah Sadar
34 Kehilangan Lagi?
35 Perdebatan Yang Menyenangkan
36 Keberuntungan Adrian.
37 Kembalikan Hati Ku Seperti Semula
38 Ingin Diperhatikan
39 Kenyataan Yang Terungkap
40 Janda Anak Banyak
41 Marah Tapi Manja
42 Isi Hati Eka
43 Tidak Lebih Dari Teman
44 Pengganggu
45 Kejutan Tak Terduga
46 Bertemu Mantan
47 Tarik Ulur
48 Mau Om Adlian
49 Bertengkar
50 Sakit
51 Laki-laki Yang Tulus
52 Mulai Membuka Diri
53 Hati Yang Kau Sakiti
54 Mencuri Kecupan
55 Menyerah?
56 Kembali Terluka
57 Memilih Pergi
58 Dua Laki-laki Yang Pergi
59 Frustasi
60 Menikahlah Dengan Om Adrian
61 Jatuh Sakit
62 Kabar Baik
63 Kamu mencintai ku? Jandaku?
64 Pacaran
65 Drama Yang Dibuat Ajeng
66 Tidak Mau Melepaskan
67 Apakah Ini Penebus Dosa?
68 Kepergian Arthur Dan Semua Rahasianya
69 Hebat Dimata Ku Dan Anak-anak Ku
70 Meluluhkan Hati Pak Sofyan
71 Surprise Untuk Sabillah
72 Menguji Adrian
73 Modus Adrian
74 Cobaan Apalagi Ini?
75 Keresahan Eka Yang Sesungguhnya
76 Ayah Yang Baik
77 Perasaan Vania
78 Menemui Ajeng
79 Mengutarakan Perasaan
80 Bimbang
81 Deep Talk
82 Keluarga Empat Sehat, Lima Bersama
83 Batal Honeymoon
84 Vania Mencari Jodoh
85 Jalan-jalan Ke Menara
86 Abang Azam
87 Sinyal Jodoh
88 Vania Yang Baru
89 Drama Anniversary
90 Perhatian Azam
91 Undangan Pernikahan Edo
92 Batal Menikah?
93 Pengantin Pengganti
94 Sah
95 Hujan Ditengah Kemarau
96 Pacaran
97 Tidak Pulang
98 Terbongkar
99 Jadi Janda Dan Duda
100 Circle Janda Duda
101 Statusnya Lajang
102 Mau Langsung Lamar?
103 Makan Malam
104 Pencuri Handal
105 Perjodohan
106 Perjanjian Pranikah
107 Mertua Idaman
108 Rumah Baru
109 Sama-sama Pemalu
110 Ulang Tahun Arjuna
111 Wanita Asing
112 Dokter Itu Vanessa
113 Kebetulan Yang Sangat Kebetulan
114 Terbuka
115 Percakapan Ringan
116 Hamil
117 Kabar Bahagia
118 Azam Mulai Berbohong
119 Harus Bedresh
120 Perjuangan Imam Rumah Tangga
121 Tanganya Kasarr
122 Mencari Tau
123 Vania Hilang
124 Dijodohkan
125 Syarat Bertemu
126 Laki-laki Mirip Azam
127 Mengisi Energi Ala Azam
128 Ngumpul
129 Papa Tiri
130 Kenyataannya
131 Sisi Lain Eka
132 Berakhir Damai
133 Tanggal Cantik
134 Adriane Salsabillah Kusumo
135 Pengumuman Cerita Baru
Episodes

Updated 135 Episodes

1
Gara-gara Kamu
2
Bertanggung Jawab
3
Bulan Madu
4
Bagai Orang Asing
5
Membuatnya Menderita
6
Kekasih Adrian
7
SPIC
8
Tujuh Tahun Kemudian
9
Duda Perjaka
10
Arjuna Bratajaya
11
Ketahuan
12
Ajeng?
13
Setelah Tujuh Tahun Berpisah 1
14
Dua Laki-laki Bertolak Belakang
15
Apa Kabar Mantan Istri?
16
Bertemu Mantan Suami
17
Ikhlas
18
Kehilangan Yang Menyakitkan
19
Terkubur Tak Terkenang
20
Mencari Fakta
21
Kuman dan Virus Pengganggu
22
Permintaan Eka
23
Aku Ayah Dari Anaknya
24
Membuat Janji, Untuk Esok Dan Seterusnya.
25
Takdir
26
Rahasia Besar Ajeng
27
Semakin Nekat
28
Usaha Ajeng
29
Tidak sengaja
30
Draft
31
Perhatian
32
Akulah Pelindung Mu
33
Alam Bawah Sadar
34
Kehilangan Lagi?
35
Perdebatan Yang Menyenangkan
36
Keberuntungan Adrian.
37
Kembalikan Hati Ku Seperti Semula
38
Ingin Diperhatikan
39
Kenyataan Yang Terungkap
40
Janda Anak Banyak
41
Marah Tapi Manja
42
Isi Hati Eka
43
Tidak Lebih Dari Teman
44
Pengganggu
45
Kejutan Tak Terduga
46
Bertemu Mantan
47
Tarik Ulur
48
Mau Om Adlian
49
Bertengkar
50
Sakit
51
Laki-laki Yang Tulus
52
Mulai Membuka Diri
53
Hati Yang Kau Sakiti
54
Mencuri Kecupan
55
Menyerah?
56
Kembali Terluka
57
Memilih Pergi
58
Dua Laki-laki Yang Pergi
59
Frustasi
60
Menikahlah Dengan Om Adrian
61
Jatuh Sakit
62
Kabar Baik
63
Kamu mencintai ku? Jandaku?
64
Pacaran
65
Drama Yang Dibuat Ajeng
66
Tidak Mau Melepaskan
67
Apakah Ini Penebus Dosa?
68
Kepergian Arthur Dan Semua Rahasianya
69
Hebat Dimata Ku Dan Anak-anak Ku
70
Meluluhkan Hati Pak Sofyan
71
Surprise Untuk Sabillah
72
Menguji Adrian
73
Modus Adrian
74
Cobaan Apalagi Ini?
75
Keresahan Eka Yang Sesungguhnya
76
Ayah Yang Baik
77
Perasaan Vania
78
Menemui Ajeng
79
Mengutarakan Perasaan
80
Bimbang
81
Deep Talk
82
Keluarga Empat Sehat, Lima Bersama
83
Batal Honeymoon
84
Vania Mencari Jodoh
85
Jalan-jalan Ke Menara
86
Abang Azam
87
Sinyal Jodoh
88
Vania Yang Baru
89
Drama Anniversary
90
Perhatian Azam
91
Undangan Pernikahan Edo
92
Batal Menikah?
93
Pengantin Pengganti
94
Sah
95
Hujan Ditengah Kemarau
96
Pacaran
97
Tidak Pulang
98
Terbongkar
99
Jadi Janda Dan Duda
100
Circle Janda Duda
101
Statusnya Lajang
102
Mau Langsung Lamar?
103
Makan Malam
104
Pencuri Handal
105
Perjodohan
106
Perjanjian Pranikah
107
Mertua Idaman
108
Rumah Baru
109
Sama-sama Pemalu
110
Ulang Tahun Arjuna
111
Wanita Asing
112
Dokter Itu Vanessa
113
Kebetulan Yang Sangat Kebetulan
114
Terbuka
115
Percakapan Ringan
116
Hamil
117
Kabar Bahagia
118
Azam Mulai Berbohong
119
Harus Bedresh
120
Perjuangan Imam Rumah Tangga
121
Tanganya Kasarr
122
Mencari Tau
123
Vania Hilang
124
Dijodohkan
125
Syarat Bertemu
126
Laki-laki Mirip Azam
127
Mengisi Energi Ala Azam
128
Ngumpul
129
Papa Tiri
130
Kenyataannya
131
Sisi Lain Eka
132
Berakhir Damai
133
Tanggal Cantik
134
Adriane Salsabillah Kusumo
135
Pengumuman Cerita Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!