Kekasih Adrian

Sabillah tak putus asa, dipecat dengan alasan sepele dia tak terima, kesalahanya tidak fatal, ada yang lebih fatal darinya, tapi masih dipertahankan, dia bukan koruptor. Bergabung dengan perusahaan telekomunikasi bukan setahun dua tahun, dia tahu itu. Apalagi mereka yang memiliki keahlian khusus, pasti akan dipertahankan. Jadi Sabill menemui sendiri Mr. Kim yang ada dilantai 11, diatas satu lantai, dari lantainya, tanpa sepengetahuan pak Budiman.

Namun, Sabill harus menerima kenyataan pahit, jika pembelaanya ditolak mentah-mentah oleh atasan yang berasal dari negeri ginseng tersebut. Bukan karena kesalahan yang Sabillah buat, tapi karena juga sebulan ini Sabillah sering datang terlambat.

Sabill menyandarkan tubuhnya di kotak besi yang mengantarkanya ke lantai dimana ruangannya berada, meratapi nasibnya.

"Bill, gimana? Apa Mr. Kim mau menerima alasan kamu?" Vania langsung memberondong Sabillah dengan pertanyaan. Sambil berjalan gontai, Sabillah menjawab dengan gelengan kecil, mendudukkan pantatnya di kursi yang sudah lebih tiga tahun menemaninya.

Vania dan Edo ikut lemas melihat jawaban Sabilla.

"Pt Golden Royal, milik si cecunguk itu kan? Lo gak curiga semua ada campur tangan dia?" kata Edo, laki-laki dengan kemeja hitam itu menyender dikubikel kaca Sabill sambil melipat tangan di dada.

"Bener juga kata Edo, Bill. Bukanya kata Lo, sebulan ini dia selalu bikin drama, dan selalu buat Lo telat sampe kantor." Vania membenarkan ucapan Edo.

Sabill diam, memikirkan pendapat sahabatnya. Benar, kenapa dia sampai tidak kepikiran kesana? Dan yang membuatnya tertawa miris, mau maunya dia mengikuti perintah Adrian sebulan ini, sangat konyol bukan?

Tiga puluh menit berlalu, Sabillah selesai membereskan barang-barang yang ada di mejanya, dibantu Vania dan Edo.

"Selalu kasih kabar ke kita ya, jangan ngilang," ucap Vania memeluk tubuh kurus Sabill, dia terisak, sedih, harus dipaksa berpisah dengan sahabatnya, apalagi Sabill dipecat secara tidak hormat. Gaji terakhir tidak dibayar, tak ada pesangon juga, memang Sabill bukan anak orang susah, tapi seharusnya keloyalitasan Sabillah dihargai.

"Udah lama nggak meluk, lo berasa kerempeng banget," komen Vania, melepaskan pelukannya, meneliti tubuh Sabill dari atas hingga bawah, sambil tanganya mengusap wajahnya yang basah.

"Hubungan ini nggak normal, Lo harus jujur sama orang tua lo, Bill. Kalo suami lo," Edo menjeda ucapanya, mau bilang Adrian iblis, rasanya tak enak. "Orang-orangan sawah dikasih nyawa." Istilah itu yang akhirnya dipilih Edo.

Vania dan Sabillah tak bisa menahan tawanya dengan julukan Edo.

"Lo jangan diem aja, jangan nunggu sampe dua tahun juga, kita sebagai sahabat, nggak terima lo diginiin. Mau nuntut si makhluk itu, kita nggak punya bukti, mau ikut campur, bukan hak kita juga. Jadi kita cuma bisa ngomong ama ngedumel dibelakang doank." Vania berujar.

Sabill masih memberikan senyumnya. "Tenang, gue nggak selemah seperti yang kalian duga," Sabill menatap kedua sahabatnya bergantian. "Makasih atas dukungan kalian selalu. Gue seneng punya sahabat yang selalu ada kayak kalian, jangan lupain gue." Sabill mengambil kotak berisi peralatan kantor miliknya.

"Gue pamit, ya. Jaga diri kalian, jangan lama-lama sebar undanganya." Sabillah masih bisa membercandain Vania dan Edo.

"Iyuwww, kayak nggak ada cewek lain aja. Dia lagi, dia lagi." Edo selalu tak mau jika di jodohin dengan Vania.

"Do, sampe Sabill keluar juga Lo masih nolak gue. Please deh, tar gue pelet biar lo ngejar-ngejar gue, baru tahu rasa." Cibir Vania. Sabillah terkikik, dia pasti akan sangat rindu canda tawa sahabatnya ini.

"Udah ah, gue pulang. Kalian nggak ada yang mau nganterin gue untuk yang terakhir kalinya nih?" tanya Sabill menyipitkan sebelah matanya dengan kepala ditarik kebelakang. Dia pengin banget pulang diantar kedua sahabatnya hingga ke lobby kantor.

"Iya Bill, pasti kita anterin," sahut Vania cepat. "Gara-gara Lo sih, Do." Dia menyalahkan Edo.

"Iya, iya, salah Gue. Kalian yang salah juga, tetep aja gue yang disalahin." Gerutu Edo cemberut, itu membuat Vania gemas, dan mencubit pipi Edo.

* * *

Sebelum masuk ke taksi yang sudah menunggunya, Sabill mendongakkan kepala, melihat gedung dua puluh lantai, yang rutin ia datangi selama hampir empat tahun itu untuk mengais rejeki, dan juga pengalaman. Karena memang tujuan utamanya bekerja, bukan dipabrik papanya, untuk mencari pengalaman lain, yang tidak bisa ia dapat dipabrik papanya.

Kemudian Sabill memeluk Vania dan Edo bergantian, mereka sama-sama menahan air yang akan jatuh.

Sabill melambaikan tanganya dari balik jendela taksi, diikuti Vania dan Edo yang melepas kepergianya. Setelah mobil menjauh menerobos jalanan ibu kota yang padat merayap di jam kerja, barulah mereka sama-sama menumpahkan air mata yang sejak tadi ditahan. Sabill terguguh sepanjang perjalanan, tak menyangka jika dia harus berakhir karena ulah suaminya, suami diatas kertas lebih tepatnya.

Dia memikirkan apakah dia akan jujur saja pada orang tuanya, apa membiarkan ini hingga dua tahun kedepan? Tapi ... dia tak kuat lagi, Adrian sudah melewati batas.

Ditower Royal Golden. Adrian yang sudah dipercaya menjabat menjadi direktur utama setelah pernikahanya dengan Sabillah, duduk menyandarkan badan, sambil bicara dengan seseorang dari balik telepon.

"Sabillah sudah resmi dipecat, Pak Adrian. Sesuai keinginan Anda. Jadi, apa Anda jadi bekerja sama dengan perusahaan kami sebagai penyedia perangkat dan menanam modal yang tinggi?" tanya sekretaris Mr. Kim.

"Pasti, siapkan pertemuan ku dengan Mr. Kim. Aku tidak pernah ingkar dengan ucapan ku," jawab Adrian penuh keyakinan.

"Baik kalau begitu, Pak. Akan saya sampaikan ke Mr. Kim. Dan akan segera beri kabar secepat mungkin, waktu dan tempatnya." Telepon berakhir, Adrian sangat senang mendengar kabar Sabillah sudah dipecat, dia akan menghukum Sabillah dengan membuat Sabillah terus berada dirumah.

"Dia sudah mendapatkan hukuman yang setimpal, Ajeng. Aku tidak rela dia hidup bahagia, sedang kamu menderita. Sebab dialah kamu harus mengalami ini." Adrian meremas ponselnya, rasa bencinya pada Sabillah semakin besar, karena setiap hari, kesehatan mental Ajeng memburuk.

* * *

Dirumahnya.

Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, Sabill belum tidur, dia menunggu Adrian pulang, tapi hingga dua jam berlalu, asap knalpot mobil Adrian pun tak terlihat. Sabill sudah menutup mulutnya berkali-kali, sekuat tenaga dia menahan matanya agar tak tidur.

Tapi, hingga dua hari berlalu, dan sudah memasuki pernikahan mereka yang ke tujuh bulan, laki-laki itu sama sekali tak menampakkan wajah menyebalkanya. Sabillah ingin menyusul kerumah mertuanya, tapi apa alasan dia menanyakan keberadaan Adrian? Bisa ketahuan dia jika bertanya tentang Adrian, sedangkan mereka tinggal bersama.

Sialnya lagi, Sabillah tak ada tahu satupun teman Adrian yang bisa ia tanyai keberadaanya.

Karena suntuk, Sabillah menelepon Vania dan Edo untuk diajak bertemu.

Direstoran roti dan kopi yang cukup terkenal ditanah air, yang tak jauh dari rumah Sabillah. Sabillah mengajak Vania, dan Edo bertemu.

Mereka memilih tempat duduk yang memperlihatkan jalanan raya, dindingnya dari kaca transparan, diseberangnya, terdapat rumah sakit yang menyatu dengan mall.

"Si kunyuk itu nggak pulang-pulang udah dua hari ini?" tanya Edo dengan mata melebar hampir keluar, setelah Sabillah menceritakan, jika Adrian tak pulang kerumah.

Sabillah mengangguk. "Biasanya dia tetap pulang tiap hari, meski kami nggak pernah saling sapa."

"Fix, dia sengaja menghindar. Dia tahu kalau dipecatnya Lo, ada hubungannya sama dia." Vania yang bicara. "Gila, sebel banget gue jadinya."

Sabillah menarik nafas. Dia apalagi, padahal dia ingin sekali memberi cap tangan dipipi makhluk menyebalkan seperti Adrian.

"Eh Bill, Bill." Edo mencolek tangan Sabillah yang ada diatas meja. "Gue emang nggak begitu paham sama muka orang-orangan sawah itu. Tapi gue pernah ngedit mukanya. Itu bukan sih suami lo?" Tunjuk Edo pada tiga orang yang baru keluar dari rumah sakit.

Vania dan Sabillah melihat arah yang ditunjuk Edo. Sabillah melihat, Adrian sedang mendorong kursi roda yang diduduki seorang wanita cantik dan masih muda, hanya saja, wanita itu terlihat pucat, disamping Adrian juga seorang wanita yang sudah cukup berumur.

"Dia hamil nggak sih?" celetuk Vania.

Pandangan Sabillah turun pada perut wanita yang duduk itu.

Degh.

Dada Sabillah langsung sesak, mukanya berubah pucat pasi, darah Sabillah seakan berhenti mengalir. Memang dia tak mencintai Adrian, tapi Adrian suaminya, melihat Adrian sudah punya istri, dan wanita itu hamil, hati Sabillah cukup sakit.

Berbagai pertanyaan muncul dikepala Sabillah.

Apa dia kekasih Adrian? Dia hamil? Anak Adrian?

Terpopuler

Comments

Femmy Femmy

Femmy Femmy

kamu akan menyesali seumur hidupmu Adrian...😡

2024-04-08

1

Femmy Femmy

Femmy Femmy

sabar ya Sabilla...semoga cepat mendapat pekerjaan yang baru

2024-04-08

0

Femmy Femmy

Femmy Femmy

ini Adrian yang bikin Sabilla dipecat😠

2024-04-08

0

lihat semua
Episodes
1 Gara-gara Kamu
2 Bertanggung Jawab
3 Bulan Madu
4 Bagai Orang Asing
5 Membuatnya Menderita
6 Kekasih Adrian
7 SPIC
8 Tujuh Tahun Kemudian
9 Duda Perjaka
10 Arjuna Bratajaya
11 Ketahuan
12 Ajeng?
13 Setelah Tujuh Tahun Berpisah 1
14 Dua Laki-laki Bertolak Belakang
15 Apa Kabar Mantan Istri?
16 Bertemu Mantan Suami
17 Ikhlas
18 Kehilangan Yang Menyakitkan
19 Terkubur Tak Terkenang
20 Mencari Fakta
21 Kuman dan Virus Pengganggu
22 Permintaan Eka
23 Aku Ayah Dari Anaknya
24 Membuat Janji, Untuk Esok Dan Seterusnya.
25 Takdir
26 Rahasia Besar Ajeng
27 Semakin Nekat
28 Usaha Ajeng
29 Tidak sengaja
30 Draft
31 Perhatian
32 Akulah Pelindung Mu
33 Alam Bawah Sadar
34 Kehilangan Lagi?
35 Perdebatan Yang Menyenangkan
36 Keberuntungan Adrian.
37 Kembalikan Hati Ku Seperti Semula
38 Ingin Diperhatikan
39 Kenyataan Yang Terungkap
40 Janda Anak Banyak
41 Marah Tapi Manja
42 Isi Hati Eka
43 Tidak Lebih Dari Teman
44 Pengganggu
45 Kejutan Tak Terduga
46 Bertemu Mantan
47 Tarik Ulur
48 Mau Om Adlian
49 Bertengkar
50 Sakit
51 Laki-laki Yang Tulus
52 Mulai Membuka Diri
53 Hati Yang Kau Sakiti
54 Mencuri Kecupan
55 Menyerah?
56 Kembali Terluka
57 Memilih Pergi
58 Dua Laki-laki Yang Pergi
59 Frustasi
60 Menikahlah Dengan Om Adrian
61 Jatuh Sakit
62 Kabar Baik
63 Kamu mencintai ku? Jandaku?
64 Pacaran
65 Drama Yang Dibuat Ajeng
66 Tidak Mau Melepaskan
67 Apakah Ini Penebus Dosa?
68 Kepergian Arthur Dan Semua Rahasianya
69 Hebat Dimata Ku Dan Anak-anak Ku
70 Meluluhkan Hati Pak Sofyan
71 Surprise Untuk Sabillah
72 Menguji Adrian
73 Modus Adrian
74 Cobaan Apalagi Ini?
75 Keresahan Eka Yang Sesungguhnya
76 Ayah Yang Baik
77 Perasaan Vania
78 Menemui Ajeng
79 Mengutarakan Perasaan
80 Bimbang
81 Deep Talk
82 Keluarga Empat Sehat, Lima Bersama
83 Batal Honeymoon
84 Vania Mencari Jodoh
85 Jalan-jalan Ke Menara
86 Abang Azam
87 Sinyal Jodoh
88 Vania Yang Baru
89 Drama Anniversary
90 Perhatian Azam
91 Undangan Pernikahan Edo
92 Batal Menikah?
93 Pengantin Pengganti
94 Sah
95 Hujan Ditengah Kemarau
96 Pacaran
97 Tidak Pulang
98 Terbongkar
99 Jadi Janda Dan Duda
100 Circle Janda Duda
101 Statusnya Lajang
102 Mau Langsung Lamar?
103 Makan Malam
104 Pencuri Handal
105 Perjodohan
106 Perjanjian Pranikah
107 Mertua Idaman
108 Rumah Baru
109 Sama-sama Pemalu
110 Ulang Tahun Arjuna
111 Wanita Asing
112 Dokter Itu Vanessa
113 Kebetulan Yang Sangat Kebetulan
114 Terbuka
115 Percakapan Ringan
116 Hamil
117 Kabar Bahagia
118 Azam Mulai Berbohong
119 Harus Bedresh
120 Perjuangan Imam Rumah Tangga
121 Tanganya Kasarr
122 Mencari Tau
123 Vania Hilang
124 Dijodohkan
125 Syarat Bertemu
126 Laki-laki Mirip Azam
127 Mengisi Energi Ala Azam
128 Ngumpul
129 Papa Tiri
130 Kenyataannya
131 Sisi Lain Eka
132 Berakhir Damai
133 Tanggal Cantik
134 Adriane Salsabillah Kusumo
135 Pengumuman Cerita Baru
Episodes

Updated 135 Episodes

1
Gara-gara Kamu
2
Bertanggung Jawab
3
Bulan Madu
4
Bagai Orang Asing
5
Membuatnya Menderita
6
Kekasih Adrian
7
SPIC
8
Tujuh Tahun Kemudian
9
Duda Perjaka
10
Arjuna Bratajaya
11
Ketahuan
12
Ajeng?
13
Setelah Tujuh Tahun Berpisah 1
14
Dua Laki-laki Bertolak Belakang
15
Apa Kabar Mantan Istri?
16
Bertemu Mantan Suami
17
Ikhlas
18
Kehilangan Yang Menyakitkan
19
Terkubur Tak Terkenang
20
Mencari Fakta
21
Kuman dan Virus Pengganggu
22
Permintaan Eka
23
Aku Ayah Dari Anaknya
24
Membuat Janji, Untuk Esok Dan Seterusnya.
25
Takdir
26
Rahasia Besar Ajeng
27
Semakin Nekat
28
Usaha Ajeng
29
Tidak sengaja
30
Draft
31
Perhatian
32
Akulah Pelindung Mu
33
Alam Bawah Sadar
34
Kehilangan Lagi?
35
Perdebatan Yang Menyenangkan
36
Keberuntungan Adrian.
37
Kembalikan Hati Ku Seperti Semula
38
Ingin Diperhatikan
39
Kenyataan Yang Terungkap
40
Janda Anak Banyak
41
Marah Tapi Manja
42
Isi Hati Eka
43
Tidak Lebih Dari Teman
44
Pengganggu
45
Kejutan Tak Terduga
46
Bertemu Mantan
47
Tarik Ulur
48
Mau Om Adlian
49
Bertengkar
50
Sakit
51
Laki-laki Yang Tulus
52
Mulai Membuka Diri
53
Hati Yang Kau Sakiti
54
Mencuri Kecupan
55
Menyerah?
56
Kembali Terluka
57
Memilih Pergi
58
Dua Laki-laki Yang Pergi
59
Frustasi
60
Menikahlah Dengan Om Adrian
61
Jatuh Sakit
62
Kabar Baik
63
Kamu mencintai ku? Jandaku?
64
Pacaran
65
Drama Yang Dibuat Ajeng
66
Tidak Mau Melepaskan
67
Apakah Ini Penebus Dosa?
68
Kepergian Arthur Dan Semua Rahasianya
69
Hebat Dimata Ku Dan Anak-anak Ku
70
Meluluhkan Hati Pak Sofyan
71
Surprise Untuk Sabillah
72
Menguji Adrian
73
Modus Adrian
74
Cobaan Apalagi Ini?
75
Keresahan Eka Yang Sesungguhnya
76
Ayah Yang Baik
77
Perasaan Vania
78
Menemui Ajeng
79
Mengutarakan Perasaan
80
Bimbang
81
Deep Talk
82
Keluarga Empat Sehat, Lima Bersama
83
Batal Honeymoon
84
Vania Mencari Jodoh
85
Jalan-jalan Ke Menara
86
Abang Azam
87
Sinyal Jodoh
88
Vania Yang Baru
89
Drama Anniversary
90
Perhatian Azam
91
Undangan Pernikahan Edo
92
Batal Menikah?
93
Pengantin Pengganti
94
Sah
95
Hujan Ditengah Kemarau
96
Pacaran
97
Tidak Pulang
98
Terbongkar
99
Jadi Janda Dan Duda
100
Circle Janda Duda
101
Statusnya Lajang
102
Mau Langsung Lamar?
103
Makan Malam
104
Pencuri Handal
105
Perjodohan
106
Perjanjian Pranikah
107
Mertua Idaman
108
Rumah Baru
109
Sama-sama Pemalu
110
Ulang Tahun Arjuna
111
Wanita Asing
112
Dokter Itu Vanessa
113
Kebetulan Yang Sangat Kebetulan
114
Terbuka
115
Percakapan Ringan
116
Hamil
117
Kabar Bahagia
118
Azam Mulai Berbohong
119
Harus Bedresh
120
Perjuangan Imam Rumah Tangga
121
Tanganya Kasarr
122
Mencari Tau
123
Vania Hilang
124
Dijodohkan
125
Syarat Bertemu
126
Laki-laki Mirip Azam
127
Mengisi Energi Ala Azam
128
Ngumpul
129
Papa Tiri
130
Kenyataannya
131
Sisi Lain Eka
132
Berakhir Damai
133
Tanggal Cantik
134
Adriane Salsabillah Kusumo
135
Pengumuman Cerita Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!