Ketahuan

Setiap pagi Sabillah disibukkan dengan dua buah hatinya, dengan perutnya yang besar, ia memandikan anaknya sendiri, tak ingin kedua anaknya tumbuh dengan kasih sayang orang lain.

Jam masih menunjukkan pukul setengah tujuh pagi, tapi Eka, bersama Arial adiknya sudah duduk anteng didepan meja makan. Mereka sudah mandi, sudah wangi, ganteng dan cantik. Eka sudah rapih dengan seragam taman kanak-kanaknya.

"Bapak mana, Umak?" Eka yang begitu dekat dengan Arjuna, menanyakan keberadaan ayahnya.

"Bapak semalam dipanggil pak Tuak, sebentar lagi Bapak juga pulang," jawab Sabillah, ikut duduk bergabung dengan kedua anaknya.

"Pak Tuak jahat, kenapa suka panggil-panggil Bapak malam-malam? Kan kasihan Umak sama Adek bayinya tidak ada yang jagain." Protes gadis cantik yang memiliki pipi tembam seperti Selena Gomes itu.

Sabillah tersenyum, Eka anak yang cukup kritis dan pintar, Sabillah harus pandai menjawab setiap ucapan anak sulungnya itu, agar Eka mengerti tentang pekerjaan ayahnya. Arial sendiri, anak keduanya itu tidak terlalu sering protes, tidak juga pendiam sekali.

"Hufft, Kakak tidak mau sekolah jika tidak diantar ayah." Wajah gadis itu tertunduk lesu, meletakkan sendok dipiringnya dengan malas.

Sabillah menghela nafas, bukan hal pertama Eka seperti ini, mood anak itu akan turun jika Arjuna tidak ada, dia selalu mencari cara agar tidak ke sekolah. Dia akan menunggu ayahnya sampai pulang, dan menghabiskan waktunya seharian bersama Arjuna.

"Kalau Kakak tidak ke sekolah, nanti ayah sedih. Katanya Kakak sayang sama ayah. Kalau sayang ayah, Kakak harus rajin sekolah," ucap Sabill merayu. "Ke sekolah sama Umak kan, sama saja."

Eka menggeleng keras. "Tidak, pokoknya Kakak tidak mau ke sekolah hari ini." Turun dari kursi, bocah itu masuk kedalam kamar dengan kaki yang dihentakkan ke lantai.

Sabillah menatap punggung anaknya yang menghilang dibalik pintu, kemudian beralih pada Arial yang menatapnya.

Sabillah tersenyum. "Abang Arial lanjutin sarapannya ya, Umak mau ke kamar ambil hape." Seperti sudah paham dengan yang dikatakan bundanya, anak laki-laki berusia hampir lima tahun itu mengangguk.

Sabillah bangkit dari duduknya, mengusap rambut Arial yang tebal, turunan dari rambut Arjuna lalu ia masuk ke kamar sambil memegangi perutnya untuk izin ke guru Eka. Tak lama ia kembali, saat akan mendudukkan pantatnya, bel rumahnya berbunyi.

"Biar saya Nyonya." Kata Bi Mira mencegah, wanita berusia hampir setengah abad itu berjalan menuju pintu utama.

Ternyata dari pihak wo yang akan mendekor untuk acara tujuh bulanan nanti, padahal Sabill pikir, Arjuna yang pulang.

Hati Sabill selalu tak tenang jika suaminya belum pulang. Padahal suaminya bukan bertugas ke pulau yang sedang bermasalah, hanya menangkap para pemakai barang haram, jarang sih terjadi adu senjata, hanya saja dia suka takut sendiri, jika yang dihadapi suaminya orang dari kalangan kelas kakap.

Sabill juga jadi jarang menonton berita televisi, dia tidak ingin mendengar hal-hal yang membuat pikiranya jauh melayang.

Tak lama terdengar suara laki-laki yang ia tunggu kedatanganya, Sabillah tersenyum senang dengan hati penih kelegaan, meski hatinya belum sepenuhnya ia berikan pada sang suami, tapi ia begitu takut kehilangan sosok ini, sebab laki-laki inilah yang mencintai dirinya dengan tulus.

Meski dengan keuangan yang kadang pas-pasan, tapi Sabill selalu merasa bahagia, karena Arjuna selalu meratukanya.

"Assalamualaikum, maaf aku baru pulang," langsung mengecup pipi Sabill, lalu menunduk mencium anaknya yang masih berada diperut Sabillah.

"Hai sayang, Bapak bawakan oleh-oleh kesukaan Umak, es Nona." Arjuna mendongak, menunjukkan kantong bawaannya, bibirnya tertarik hingga terlihat deretan gigi putihnya.

"Ada yang ngambek tidak mau sekolah jika bukan Bapaknya yang mengantarnya." Adu Sabill pada suaminya.

"Oh ya? Dimana princess Bapak?" Bertanya, tapi kaki Arjuna langsung melangkah ke kamar anak-anaknya. Kamar yang ditempati Eka dan Arial, mereka belum dipisah, sebab rumah Sabill bukan rumah besar seperti milik para CEO. Dan suami Sabillah bukanlah anggota berpangkat bintang.

Sabill membawa oleh-oleh yang tadi dibawa suaminya kedapur, anak yang ada didalam perutnya sudah tak sabar ingin mencicipi segarnya es yang berisi kacang merah, tape singkong, serta manisan pepaya yang dicampur susu dan santan itu.

* * *

Di ibu kota.

Sintya ditemani pak Sofyan sedang berada di pusat pembelajaan.

"Aku ke stand mainan anak-anak dulu," izin pak Sofyan pada istrinya.

"Untuk apa? Kamu sudah sering membelikan mereka mainan, jangan dimanja suaminya, nanti keenakan tidak pernah membelikan anaknya mainan," ujarnya ketus.

"Tidak suka ayahnya, jangan larang aku untuk membelikan sesuatu untuk cucu ku," pak Sofyan tersenyum. "Lembutkan hati mu, nanti sore ikutlah untuk melihat mereka. Mereka pasti suka jika neneknya datang," sahut pak Sofyan lembut, "anak kita sudah bahagia, maafkanlah kesalahanya."

"Sudah-sudah, jangan banyak pidato. Sana kalau mau beli, beli saja." Sintya kembali berjalan menuju stand buah.

"Ma, beli buah naga untuk nenek, nenek pasti suka kalau kita belikan buah naga," ucap gadis kecil berusia sekitar delapan tahunan itu.

"Memang Kakak tahu nenek suka buah naga?" tanya sang ibu.

"Iya, apalagi kalau di buat jus. Nenek sukaaa sekali dengan jus buah naga. Kalau Mama sering-sering buatkan jus untuk nenek, nenek pasti nggak akan marah lagi sama Mama," sahut gadis kecil itu dengan semangat.

Sintya tertegun melihat pemandangan didepanya, mendengar obrolan ibu dan anak ini, dia jadi teringat yang sering diceritakan suaminya, jika cucu pertama mereka perempuan, berusia enam tahun.

"Iya, Mama belikan untuk nenek, semoga juga nenek jadi suka sama Kakak, ya?" Ibu muda itu jongkok didepan anaknya, mencubit gemas pipi gadis cantik itu, lalu berdiri, mengambil beberapa buah naga yang segar.

Setelahnya, ibu muda itu menggandeng tangan putrinya. "Kita belikan nenek daging bebek, Ma. Nenek sering memuji bibik, jika bibik suka datang membawa bebek goreng," ucap gadis rambut panjang yang diikat kuda itu.

Tanpa sadar, Sintya mengikuti langkah mereka. Kedua anak dan ibu itu terus bercerita, dan dari sini Sintya menebak, jika ibu muda yang ada didepanya ini tidak disukai mertuanya, dan suka dibandingkan dengan anak menantu yang lain.

Tiba-tiba dada Sintya bergemuruh, dia jadi teringat Sabillah, bagaimana dengan nasib Sabillah? Apakah Sabillah juga memiliki mertua sejahat itu? Suka membandingkan dengan anak menantu yang lainnya. Jika benar itu terjadi, Sintya akan menarik paksa Sabillah dari suaminya.

Sintya bergegas mencari keberadaan suaminya, dia ingin bertanya tentang mertua Sabill disana? Sintya melihat begitu banyak mainan yang dibeli Sofyan didalam troli.

"Ka-kamu bisa membawa mainan ini kesana? Kenapa tidak beli saat disana saja?" tanya Sintya.

"Akan beda rasanya, nanti jika sudah sampai disana, aku akan membelikan yang belum mereka miliki saat sudah sampai nanti," jawab pak Sofyan, dia melirik keranjang miliknya, dia terkekeh, saking antusiasnya dia, sampai tak sadar jika keranjangnya sudah penuh.

"Terserah saja, ayo cepat bayar. Anda yang ingin aku tanyakan." Sintya mendorong tangan pak Sofyan kearah kasir.

Pak Sofyan menurut, meski dalam hatinya bertanya-tanya kenapa Sintya Sintya begitu tak sabar ingin cepat sampai rumah. Dia tak tahu, jika sang istri mendengar cerita sedih gadis kecil tadi, membuat Sintya begitu ingin tahu nasib cucu yang tak pernah dilihatnya sejak lahir itu.

Jalan terburu-buru jeluar dari pusat pembelajaan, langkah Sintya dan paling Sofyan harus terhenti saat mereka berpapasan dengan mantan suami putri mereka, diikuti Arthur dibelakangnya.

"Ma, Pa." Sapa Adrian ramah dan sopan pada Sintya dan pak Sofyan.

Sintya sudah biasa bertemu Adrian, tapi kali ini dia terasa kikuk, sebab pandangan Adrian tertuju pada barang yang dibawa suaminya.

"Mama sama Papa, beli mainan sebanyak ini untuk siapa?" tanya Adrian masih dengan panggilan itu, dia pencaya suatu saat Sabillah akan kembali padanya. Setahu dia mantan mertuanya ini tidak punya keponakan anak kecil.

Selama kepergian Sabillah, Adrian masih kerap datang kerumah mantan mertuanya, menanyakan kabar dari Sabillah, tapi pak Sofyan dan Sintya menyembunyikan keberadaan Sabill, berpura-pura tak mengetahui keberadaan Sabillah. Sintya sebenarnya ingin memberitahu keberadaan Sabill pada Adrian, sebab dia masih begitu mendukung hubungan Adrian dan Sabillah. Tapi pak Sofyan mengancam akan meninggalkanya jika dia melakukan itu.

"Untuk anak panti," pak Sofyan yang menjawab dengan wajah datarnya.

Adrian menatap Sintya, seolah menuntut jawaban dari wanita itu. Sintya yang mengerti arti tatapan Adrian mengangguk, mengiyakan jawaban sang suami.

"Permisi nak Adrian, kami duluan." Sintya berinisiatif menghindar lebih dulu, tak nyaman dengan tatapan Adrian yang seakan menguliti Sintya. Adrian seperti tahu jika dia tengah grogi karena menutupi sesuatu.

Adrian sampai memutar tubuhnya, memastikan jika dugaanya benar jila Sintya menyembunyikan sesuatu darinya, dan benar dugaanya, jika Sintya karena pada saat yang bersamaan, Sintya juga melihat kebelakang.

Sudut bibir Adrian terangkat. "Mereka menyembunyikan sesuatu dari ku?" gumamnya. Ada rasa nyeri tiba-tiba muncul dihati Adrian, mengingat berbagai mainan yang dibawa Sofyan, ada mainan anak perempuan, dan juga anak laki-laki.

"Apa itu untuk anak Sabillah?" tanyanya pada diri sendiri. "Sabill aku harap kamu masih menunggu ku, seperti aku selalu menunggu mu, dan kita berjodoh kembali." Ratap Adrian dalam hati.

"Arthur, perintahkan orang untuk mengikuti mereka." Perintahnya pada sang asisten, Adrian curiga dengan mantan mertuanya itu.

"Baik, Tuan."

Terpopuler

Comments

Femmy Femmy

Femmy Femmy

maaf ya Adrian..sabill sudah bahagia dengan kehidupannya sekarang

2024-04-08

1

Femmy Femmy

Femmy Femmy

bukannya ibu Sintya yang selalu membedakan bedakan orang??🤦

2024-04-08

0

IKa Mariana

IKa Mariana

Penyesalanmu udh terlambat Adrian...salah sendiri tega mengabaikan dan dgn kejamnya menyiksa istri sendiri demi orang lain..skrg Billa udh bahagia dgn laki2 yg bener2 tulus dan sayang sama dia

2023-04-10

0

lihat semua
Episodes
1 Gara-gara Kamu
2 Bertanggung Jawab
3 Bulan Madu
4 Bagai Orang Asing
5 Membuatnya Menderita
6 Kekasih Adrian
7 SPIC
8 Tujuh Tahun Kemudian
9 Duda Perjaka
10 Arjuna Bratajaya
11 Ketahuan
12 Ajeng?
13 Setelah Tujuh Tahun Berpisah 1
14 Dua Laki-laki Bertolak Belakang
15 Apa Kabar Mantan Istri?
16 Bertemu Mantan Suami
17 Ikhlas
18 Kehilangan Yang Menyakitkan
19 Terkubur Tak Terkenang
20 Mencari Fakta
21 Kuman dan Virus Pengganggu
22 Permintaan Eka
23 Aku Ayah Dari Anaknya
24 Membuat Janji, Untuk Esok Dan Seterusnya.
25 Takdir
26 Rahasia Besar Ajeng
27 Semakin Nekat
28 Usaha Ajeng
29 Tidak sengaja
30 Draft
31 Perhatian
32 Akulah Pelindung Mu
33 Alam Bawah Sadar
34 Kehilangan Lagi?
35 Perdebatan Yang Menyenangkan
36 Keberuntungan Adrian.
37 Kembalikan Hati Ku Seperti Semula
38 Ingin Diperhatikan
39 Kenyataan Yang Terungkap
40 Janda Anak Banyak
41 Marah Tapi Manja
42 Isi Hati Eka
43 Tidak Lebih Dari Teman
44 Pengganggu
45 Kejutan Tak Terduga
46 Bertemu Mantan
47 Tarik Ulur
48 Mau Om Adlian
49 Bertengkar
50 Sakit
51 Laki-laki Yang Tulus
52 Mulai Membuka Diri
53 Hati Yang Kau Sakiti
54 Mencuri Kecupan
55 Menyerah?
56 Kembali Terluka
57 Memilih Pergi
58 Dua Laki-laki Yang Pergi
59 Frustasi
60 Menikahlah Dengan Om Adrian
61 Jatuh Sakit
62 Kabar Baik
63 Kamu mencintai ku? Jandaku?
64 Pacaran
65 Drama Yang Dibuat Ajeng
66 Tidak Mau Melepaskan
67 Apakah Ini Penebus Dosa?
68 Kepergian Arthur Dan Semua Rahasianya
69 Hebat Dimata Ku Dan Anak-anak Ku
70 Meluluhkan Hati Pak Sofyan
71 Surprise Untuk Sabillah
72 Menguji Adrian
73 Modus Adrian
74 Cobaan Apalagi Ini?
75 Keresahan Eka Yang Sesungguhnya
76 Ayah Yang Baik
77 Perasaan Vania
78 Menemui Ajeng
79 Mengutarakan Perasaan
80 Bimbang
81 Deep Talk
82 Keluarga Empat Sehat, Lima Bersama
83 Batal Honeymoon
84 Vania Mencari Jodoh
85 Jalan-jalan Ke Menara
86 Abang Azam
87 Sinyal Jodoh
88 Vania Yang Baru
89 Drama Anniversary
90 Perhatian Azam
91 Undangan Pernikahan Edo
92 Batal Menikah?
93 Pengantin Pengganti
94 Sah
95 Hujan Ditengah Kemarau
96 Pacaran
97 Tidak Pulang
98 Terbongkar
99 Jadi Janda Dan Duda
100 Circle Janda Duda
101 Statusnya Lajang
102 Mau Langsung Lamar?
103 Makan Malam
104 Pencuri Handal
105 Perjodohan
106 Perjanjian Pranikah
107 Mertua Idaman
108 Rumah Baru
109 Sama-sama Pemalu
110 Ulang Tahun Arjuna
111 Wanita Asing
112 Dokter Itu Vanessa
113 Kebetulan Yang Sangat Kebetulan
114 Terbuka
115 Percakapan Ringan
116 Hamil
117 Kabar Bahagia
118 Azam Mulai Berbohong
119 Harus Bedresh
120 Perjuangan Imam Rumah Tangga
121 Tanganya Kasarr
122 Mencari Tau
123 Vania Hilang
124 Dijodohkan
125 Syarat Bertemu
126 Laki-laki Mirip Azam
127 Mengisi Energi Ala Azam
128 Ngumpul
129 Papa Tiri
130 Kenyataannya
131 Sisi Lain Eka
132 Berakhir Damai
133 Tanggal Cantik
134 Adriane Salsabillah Kusumo
135 Pengumuman Cerita Baru
Episodes

Updated 135 Episodes

1
Gara-gara Kamu
2
Bertanggung Jawab
3
Bulan Madu
4
Bagai Orang Asing
5
Membuatnya Menderita
6
Kekasih Adrian
7
SPIC
8
Tujuh Tahun Kemudian
9
Duda Perjaka
10
Arjuna Bratajaya
11
Ketahuan
12
Ajeng?
13
Setelah Tujuh Tahun Berpisah 1
14
Dua Laki-laki Bertolak Belakang
15
Apa Kabar Mantan Istri?
16
Bertemu Mantan Suami
17
Ikhlas
18
Kehilangan Yang Menyakitkan
19
Terkubur Tak Terkenang
20
Mencari Fakta
21
Kuman dan Virus Pengganggu
22
Permintaan Eka
23
Aku Ayah Dari Anaknya
24
Membuat Janji, Untuk Esok Dan Seterusnya.
25
Takdir
26
Rahasia Besar Ajeng
27
Semakin Nekat
28
Usaha Ajeng
29
Tidak sengaja
30
Draft
31
Perhatian
32
Akulah Pelindung Mu
33
Alam Bawah Sadar
34
Kehilangan Lagi?
35
Perdebatan Yang Menyenangkan
36
Keberuntungan Adrian.
37
Kembalikan Hati Ku Seperti Semula
38
Ingin Diperhatikan
39
Kenyataan Yang Terungkap
40
Janda Anak Banyak
41
Marah Tapi Manja
42
Isi Hati Eka
43
Tidak Lebih Dari Teman
44
Pengganggu
45
Kejutan Tak Terduga
46
Bertemu Mantan
47
Tarik Ulur
48
Mau Om Adlian
49
Bertengkar
50
Sakit
51
Laki-laki Yang Tulus
52
Mulai Membuka Diri
53
Hati Yang Kau Sakiti
54
Mencuri Kecupan
55
Menyerah?
56
Kembali Terluka
57
Memilih Pergi
58
Dua Laki-laki Yang Pergi
59
Frustasi
60
Menikahlah Dengan Om Adrian
61
Jatuh Sakit
62
Kabar Baik
63
Kamu mencintai ku? Jandaku?
64
Pacaran
65
Drama Yang Dibuat Ajeng
66
Tidak Mau Melepaskan
67
Apakah Ini Penebus Dosa?
68
Kepergian Arthur Dan Semua Rahasianya
69
Hebat Dimata Ku Dan Anak-anak Ku
70
Meluluhkan Hati Pak Sofyan
71
Surprise Untuk Sabillah
72
Menguji Adrian
73
Modus Adrian
74
Cobaan Apalagi Ini?
75
Keresahan Eka Yang Sesungguhnya
76
Ayah Yang Baik
77
Perasaan Vania
78
Menemui Ajeng
79
Mengutarakan Perasaan
80
Bimbang
81
Deep Talk
82
Keluarga Empat Sehat, Lima Bersama
83
Batal Honeymoon
84
Vania Mencari Jodoh
85
Jalan-jalan Ke Menara
86
Abang Azam
87
Sinyal Jodoh
88
Vania Yang Baru
89
Drama Anniversary
90
Perhatian Azam
91
Undangan Pernikahan Edo
92
Batal Menikah?
93
Pengantin Pengganti
94
Sah
95
Hujan Ditengah Kemarau
96
Pacaran
97
Tidak Pulang
98
Terbongkar
99
Jadi Janda Dan Duda
100
Circle Janda Duda
101
Statusnya Lajang
102
Mau Langsung Lamar?
103
Makan Malam
104
Pencuri Handal
105
Perjodohan
106
Perjanjian Pranikah
107
Mertua Idaman
108
Rumah Baru
109
Sama-sama Pemalu
110
Ulang Tahun Arjuna
111
Wanita Asing
112
Dokter Itu Vanessa
113
Kebetulan Yang Sangat Kebetulan
114
Terbuka
115
Percakapan Ringan
116
Hamil
117
Kabar Bahagia
118
Azam Mulai Berbohong
119
Harus Bedresh
120
Perjuangan Imam Rumah Tangga
121
Tanganya Kasarr
122
Mencari Tau
123
Vania Hilang
124
Dijodohkan
125
Syarat Bertemu
126
Laki-laki Mirip Azam
127
Mengisi Energi Ala Azam
128
Ngumpul
129
Papa Tiri
130
Kenyataannya
131
Sisi Lain Eka
132
Berakhir Damai
133
Tanggal Cantik
134
Adriane Salsabillah Kusumo
135
Pengumuman Cerita Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!