"Ingin aku panggilkan wanita untuk menemani mu?" Jimmy bertanya, menuangkan lagi minuman kedalam cangkir Adrian. Adrian menggeleng sebagai penolakan.
Adrian melakukan pelarian dengan mabuk ke club bersama Jimmy.
Syok, mengetahui kenyataan Sabillah sudah menikah. Tak tanggung-tanggung, Adrian bahkan dibuat terkejut Sabill sudah memiliki tiga anak. Ia pikir awalnya itu anak sambung Sabillah dengan Arjuna, dan Sabill baru hamil anak pertama mereka, tapi Adrian ditampar oleh kenyataan.
Hanya menyapa sebentar, berpura-pura ada klien penting yang menghubungi, Adrian menyelamatkan jantungnya yang diambang kritis.
"Aku pikir dunia selebar daun kelor hanya pepatah belaka. Tapi itu terjadi padamu." Jimmy terkekeh. Ia berhasil mengorek alasan kenapa Adrian buru-buru pergi padahal dia ingin mereka reuni kecil jaman sekolah dulu. "Dia begitu cantik, kan?" Jimmy membubuhi bensin diapi yang menyala.
Adrian menghabiskan minuman yang dituang Jimmy dan memintanya menuangkan lagi. Terakhir dia minum alkohol, saat masih jadi mahasiswa, dan Ajeng berhasil menyadarkanya.
"Apa alasan yang membuat kalian berpisah?"
Jimmy masih penasaran, sebab Adrian hanya mengatakan jika istri Arjuna adalah mantan istrinya. Tak menceritakan jika Adrian sudah menunggu Sabillah hingga tujuh tahun lamanya, dan semua terjadi karena kebodohanya, dia begitu malu untuk mengatakan yang sesungguhnya.
"Tidak ada, hanya berbeda prinsip." Adrian mengernyit merasakan pahit ditenggorokanya. Alasan yang cukup umum.
"Kamu masih sangat mencintainya."
"Tidak." Berdusta.
"Lantas, kenapa menghindarinya? Atau jangan-jangan kamu malu karena Arjuna lebih tokcer dari mu?" Jimmy mentertawakan Adrian, semakin membuat api didada Adrian semakin berkobar.
"Kàmprèt, bukan itu. Sìalàn," Adrian memaki, "jangan pernah ucapkan itu, kalau kamu masih ingin hidup."
Hahahaha "Lantas apa?" Jimmy sungguh ingin tahu.
"Sudah aku bilang kami berbeda prinsip."
Sepertinya Adrian tak mau jujur, Jimmy menawari obat penawar sakit hati. Dilihatnya Adrian sudah mabuk parah. Jimmy memanggil salah satu wanita yang sejak tadi memperhatikan mereka. Hanya satu kali lambaian, wanita itu segera menghampiri.
"Ada yang bisa saya bantu, Bos?" Berucap manja, diiringi ******* halus disetiap ucapanya. Wanita itu berjalan berjalan kebelakang tubuh Jimmy, membelai lembut dada bidangnya.
"Kamu lihat teman ku ini sedang mabuk parah, dia butuh hiburan."
Wanita itu menatap Adrian yang membenamkan kepala diatas meja. Dilihat dari dekat Adrian jauh lebih tampan dan gagah dibanding Jimmy, meski hanya mengenakan kemeja hitam polos. Tak dibayar sekalipun, dia ingin memuaskan Adrian semalaman, tanpa perlu pengaman, dia ingin memiliki keturunan dari bibit unggul.
Wanita berpakaian seksi dengan dada yang membusung mendekati Adrian, belum juga menyentuh Adrian, tapi kewanitaanya langsung berkedut mencium parfum mahal Adrian.
"Aku suka pria wangi." Tersenyum pada Jimmy.
"Hibur dia malam ini." Jimmy meletakkan kartu namanya diatas meja.
"Dengan senang hati."
* * *
Sambil memegangi perutnya, Sabillah menyiapkan pakaian suaminya yang akan dikenakan dinas malam. Tak lama pintu kamar mandi terbuka, Arjuna keluar hanya mengenakan handuk putih yang dililitkan dipinggangnya.
"Au, tutup mata kamu ya, Nak. Bapak pòrnò."
Sabill membalikkan badan, mengusap perutnya.
Sengaja Sabillah menggoda Arjuna, mengalihkan hatinya yang begitu gugup setelah pertemuan tak sengaja dengan Adrian yang ternyata teman suaminya.
Arjuna terkekeh menghampirinya.
"Umak bahkan senang melihat Bapak lebih pòrnò dari ini, Sayang." Mengecup puncak kepala istri. Arjuna segera mengenakan pakaianya.
"Berbaliklah, aku sudah selesai." Sabillah berbalik, tapi ia mendapati sang suami yang belum mengenakan apapun.
"Kau menggoda ku, yang mulia Arjuna. Bagaimana kalau aku Tidak hanya ingin melihat saja?"
"Bisa kau tahan sampai besok, wahai istriku. Aku juga tidak sabar."
"Hem, yap. Aku istri yang setia."
"Terima kasih." Arjuna mengecup bibir sang istri.
Sabillah mengantarkan Arjuna sampai didepan, Arjuna yang buru-buru, tak sempat lagi untuk mengobrol dengan mertuanya yang baru tiba tadi siang.
"Mama sama Papa belum tidur?" Setelah Arjuna berangkat dengan sepeda motornya, Sabillah mendapati kedua orangtuanya menunggunya di ruang tamu.
"Mama masih mau bicara sama kamu."
Sabillah menarik nafas, beruntung kedua anaknya sudah tidur, ia tahu apa yang ingin dibicarakan mamanya.
"Adrian semakin tampan bukan? Jauh lebih tampan dari suamimu?" Sintya membuka obrolan dengan kata-kata pedas.
"Ma!" pak Sofyan menyentak istrinya.
"Hem, iya." Mukanya kesal. "Mama yakin kalian masih berjodoh, nyatanya kalian dipertemukan meski kamu bersembunyi yang jauh, Sabill. Bahkan tujuh tahun lamanya," melirik Sabillah yang mengusap-usap perutnya. "Kamu tahu? Adrian bahkan masih menunggumu sampai kini. Dia menyesal atas yang dia lakukan padamu, dia bahkan mencari mu kemana-mana." Sintya membeberkan kenyataan.
Sabillah terkejut, tapi dia menutupinya? Benarkah Adrian demikian? Tapi Sabill sadar sia punya Arjuna yang tulus padanya.
"Ma, bukan itu tujuan kita bicara. Katakan tujuan mu sebenarnya." Ingin sekali pak Sofyan berkata kasar, tapi itu istrinya. Seorang wanita yang tak pernah salah dan kalah.
Sintya berdecak. "Mama minta maaf, walau seharusnya kamu yang meminta maaf pada Mama lebih dulu. Tapi jujur loh, Mama nggak tahu kalau Adrian sampai disini, kami bahkan menyembunyikan keberadaan kamu darinya."
"Sudah," Sofyan berdiri, "Mama kamu minta maaf Sabill, tapi Papa rasa kamu tidak perlu minta maaf pada Mama mu. Istirahatlah, kamu pasti kecapean seharian ini." Sofyan segera menyudahi, dia tak tahu bagaimana caranya membuat istrinya berubah.
"Tapi Sabill mau minta maaf sama Mama, Ma." Sabillah memeluk Sintya. "Maafkan kesalahan Sabill, terima mas Arjuna, Ma. Dia laki-laki yang baik."
Sintya menahan air yang ingin jatuh. "Hem, mau bagaimana lagi." Berat untuk mengakui kebaikan Arjuna. "Mama suka anak-anak kamu."
"Anak Sabill dan mas Arjuna," ralat Sabillah.
"Kb habis ini Sabill, wanita harus tetap menjaga tubuhnya. Mama yang akan membayarkan kb kalau suami mu tidak mampu."
Obrolan berakhir, tujuan Sintya sebenarnya ingin meminta maaf, tapi dia masih begitu gengsi melihat kebahagiaan anaknya.
* * *
Dikelamnya malam, lima pasang kaki berjalan mengendap tanpa suara mengelilingi sebuah gubuk di perkebunan. Sang Komandan memberi isyarat salah satu anak buahnya untuk maju.
Arjuna yang memimpin penggebrekan mengangguk, dengan senjata api legal miliknya ia berjalan menuju pintu yang terbuat dari bambu itu.
Bruakkk
"Jangan bergerak, kami sudah mengepung kalian." Sekali tendangan pintu yang hanya di tutup itu terbuka.
Dua orang laki-laki yang sedang tidur dalam kegelapan, dan bertelanjang dada itu terbangun. Mereka terlihat linglung, belum menyadari jika yang datang anggota polisi.
Empat teman Arjuna masuk, mereka langsung mengelilingi dua orang yang masih terlihat kebingungan. Dua teman Arjuna maju untuk meringkus dua orang tersebut dengan borgol, Komandan Arjuna maju untuk mengambil tas yang dituduri dua orang tersebut.
"Ini BB-nya. Kita langsung bawa mereka ke markas."
* * *
Pagi hari Adrian bangun dengan kepala yang terasa berat dan pusing luar biasa.
"Selamat pagi, Tuan." Arthur menyapa atasanya. "Saya sudah menyiapkan obat pereda rasa nyeri, dan sarapan Anda, Tuan."
"Sejak kapan kamu mengetahui keberadaan Sabillah, Arthur?" Adrian menatap tajam sekretaris sekaligus asisten pribadinya.
"Hidup tanpa kejutan tidak menyenangkan, Taun."
"Kurang ajar, aku membayar mu untuk mengikuti perintah ku, bukan memberi kejutan, sialan." Adrian bangkit, menarik kerah Arthur.
Adrian masih dipengaruhi alkohol, hingga dia menghajar Arthur tanpa ampun.
"Kamu tahu kamu hampir membuat ku jantungan. Dia mengejutkan ku, dia sudah memiliki tiga anak." Adrian terus memukuli wajah Arthur.
"Jika Anda tetap melakukan ini pada saya, tidak akan ada yang melindungi Anda dari siapapun yang bisa menghancurkan hidup Anda, Tuan. Kita banyak agenda hari ini."
Bukan untuk menghentikan yang Adrian lakukan, tapi Arthur mengatakan itu mengingatkan Adrian jika Adrian harus fokus pada pekerjaan.
Dengan nafas memburu menahan amarah, Adrian melepaskan Arthur, ia menyugar rambutnya yang basah. Adrian ingat semalam ada seorang wanita yang membawanya ke kamar, tapi kemudian ia tak ingat apapun lagi.
"Apa aku menyentuh wanita murahan itu?" Adrian enggan menatap Arthur yang bangkit dengan wajah babak belur, Arthur menghapus bibirnya yang terasa perih.
"Tidak, Tuan. Beruntung saya datang tepat waktu."
"Siàlan bajingàn itu." Adrian mengumpat Jimmy.
* * *
"Kecil sekali rumah mu ini Sabill, Mama hampir susah bernafas." Sintya mengomentari rumah sederhana Sabillah. "Badan Mama sakit semua tidur di kasur murah itu."
"Jika sulit memuji, lebih baik Mama diam, Ma. Ada malaikat kecil mendengar ucapan mu." Sofyan menyuapi Arial.
"Kalau badan Nini sakit. Nini nanti panggil tukang urut seperti Bapak. Bapak kalau badanya sakit suka panggil tukang urut." Eka sang cucu pertama ikut masuk dalam pembicaraan.
"Bapak? Astaga Sabill, apa kamu nggak bisa ajarin anak kamu dengan panggilan daddy yang kerenan sedikit. Kuping Mama gatal dengarnya."
"Daddy pak guru Eka, Nini."
Pak Sofyan tertawa, apalagi melihat wajah kesal Sintya atas jawaban cucu kesayanganya.
"Huuu, cucu Oma lucu sekali. Kamu ikut Oma ya ke kota," Sintya mengusap rambut Eka. "Dirumah Oma kesepian."
"Oma, seperti panggilan keren artis?"
"Iya. Eka panggil Oma 'Oma'. Jangan Nini lagi."
"Boleh, Umak?"
Sabill mengangguk. "Iya."
"Kalau ikut ke kota?"
"Tanya, bapak."
"Tapi Eka tidak mau. Eka mau dekat bapak."
"Tapi Bapak nggak papa Eka ikut ke kota." Suara Arjuna membuat yang ada di meja makan menoleh.
"Bapakkkkk." Eka langsung turun dari kursi, berlari kearah Arjuna. Wajah Sintya langsung berubah kesal, seakan kebahagiaanya terganggu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 135 Episodes
Comments
Yuliana Purnomo
huuuh Bu Sintia dari orok rupanya tajir melintir,,, untung Sabila gak nurun sifatnya mama nya
2024-05-31
0
Femmy Femmy
kalau rumahnya Sabil kecil ya nginap dihotel saja Bu Cynthia...😀
2024-04-08
0
Femmy Femmy
astaghfirullah Al-adziim sadar Bu Syntia..sabil.harus dengan persetujuan suaminya kalau mau KB
2024-04-08
0