Selesai pertemuanya dengan Jimmy, Adrian pulang kerumah, rumah yang dulu pernah ia tinggali bersama Sabillah. Dulu dia jarang pulang kerumah ini karena ada Sabillah, tapi kini keadaan berbalik, dia justru selalu pulang kerumah ini, karena menunggu Sabillah pulang.
Setiap Adrian pulang, pintu dan semua jendela rumahnya langsung dibuka lebar, Adrian berharap, Sabillah akan pulang kerumahnya, meski malam, Sabillah tak takut untuk pulang, karena rumah itu terbuka untuknya.
Dirumah itu, Adrian tinggal bersama dua orang art yang dulu bekerja pada mamanya, dan dua orang penjaga rumah. Setiap Adrian akan keluar rumah, atau bekerja, Adrian selalu berpesan pada para penjaganya untuk segera menghubunginya jika Sabillah pulang. Saking berharapnya Adrian pada Sabillah.
Penyesalan memang selalu datang belakangan.
Namun hingga tujuh tahun ini, Sabillah tak pernah kembali, bahkan kerumah orang tuanya.
"Mau Bibik siapkan makan tidak, Den?" tanya Bi Dija.
"Tidak usah Bi. Saya sudah makan," jawab Adrian seraya menaiki anak tangga.
Bibik menghembus nafas, kasihan melihat Adrian yang hidupnya masih terus mengharapkan kehadiran Sabillah.
"Semoga ada kesempatan kedua untuk mu, Den. Kamu laki-laki baik, dan setia." Doa Bi Dija untuk Adrian. Bi Dijah yang tahu kebaikan nyonya Ninawati dan keluarga, selalu mendoakan yang terbaik untuk Adrian.
Masuk ke kamar, Adrian langsung mandi, tak perlu lama-lama, dia sudah kembali dengan pakaian yang lengkap. Adrian lalu merebahkan diri di tempat tidur berukuran king size-nya, menatap figura pernikahanya dengan Sabillah yang ia cetak setengah dari dinding kamarnya.
Dimana di foto tersebut memperlihatkan Sabillah tersenyum sangat cantik, sedangkan dia, memasang muka masam tak sukanya.
Adrian menimang kembali tawaran Jimmy yang mengajaknya berlibur ke Pontianak, menghadiri tujuh bulanan kehamilan istri sahabat sekolah dasar mereka dulu. Apa iya ingin ikut atau tidak?
* * *
Ditempat lain.
Sepasang suami istri baru saja selesai olahraga malam. Sang suami baru keluar kamar mandi, dia langsung menuju lemari, mengambil pakaianya.
Lima menit berlalu, kini laki-laki itu sudah wangi, dan sudah memakai jaket kulit hitamnya. Sedang sang istri masih bergelung didalam selimut tebal berwarna putih yang menutupi tubuh polosnya. Wanita itu hendak bangun mengambil pakaianya yang teronggok dilantai, menjadi penonton kegiatan suami istri itu.
"Biar aku saja yang mengambilnya," kata Arjuna. Melihat istrinya yang kesusahan untuk bangun karena perut besarnya.
Arjuna mengambil pakaian istrinya, lalu memakaikanya pada tubuh sang istri. "Wajah kamu selalu terlihat berseri-seri kalau habis olahraga," ucapnya menggoda istrinya.
Sabillah yang malu, ingin memukul dada Arjuna, namun Arjuna sigap menangkap tanganya dan membawa tangan Sabillah ke dadanya. Lalu tangan yang satu lagi mengusap lembut pipi Sabillah yang halus seperti kulit bayi.
"Apa harus pergi malam ini?" tanya Sabillah dengan bibir mengerucut, namun terlihat lucu dimata Arjuna.
"Iya, ada target operasi yang sudah kami incar."
"Hati-hati," ucap Sabillah. Setiap kali suaminya mau melakukan tugasnya, hati Sabillah selalu cemas.
"Iya, terimakasih," ucap Arjuna. Dia menatap wajah cantik Sabillah, kadang dia tak menyangka bisa memiliki istri secantik Sabillah.
"Aku tidak menyangka kita sudah sejauh ini, Bill. Sudah tujuh tahun kamu menemani ku. Terima kasih sudah mau bersabar karena aku tidak selalu ada disaat-saat kamu akan melahirkan," ucap Arjuna tulus dari hati. "Aku berharap lahiran anak ketiga kita nanti aku ada disamping mu dan menemani mu."
Sabillah tersenyum, miris memang nasibnya memiliki suami dari satuan Satnarkoba yang masih berpangkat Aiptu, bukan pangkat tinggi. Kadang Arjuna harus pergi malam hari jika mendapat panggilan mendadak dari Komandan karena akan melakukan OTT, dan kembali setelah tugasnya selesai, kadang tak kenal waktu.
"Tidak apa-apa, kamu begitu kan karena tugas yang mulia, justru aku bangga punya suami seperti kamu," ucap Sabilla. Ini bentuk dukungannya pada sang suami, sekaligus menghibur dirinya sendiri.
"Oh ya, bagaimana untuk acara tujuh bulanan nanti, apa papa Sofyan mau datang?" tanya Arjuna.
"Belum tahu, papa sih katanya mau datang. Mudah-mudahan tidak ada halanganya."
"Amiin," sahut Arjuna. "Yasudah, aku berangkat. Panggil mbok Mira kalau kamu butuh apa-apa," pesanya. Sabillah mengangguk patuh, dan mencium punggung tangan suaminya. Lalu Arjuna beranjak, keluar kamar. Dia sempat melambaikan tangan sebelum menutup pintu.
Sabillah menatap pintu yang tertutup. Dia bersyukur mendapat suami bertanggung jawab seperti Arjuna, meski butuh waktu lama untuk dia mencintai Arjuna karena hati Sabillah sudah terpaut pada seseorang yang sangat membencinya.
Sabillah dan Arjuna tidak sengaja bertemu dibandara, kala itu Sabillah yang baru turun dari taksi hendak ke bandara mendapatkan kemalangan, ia kehilangan tasnya yang berisi dompet, atm, dan ponselnya. Dan Arjuna datang sebagai penolongnya.
Arjuna Bratajaya, nama laki-laki itu. Dengan ikhlas membantunya membelikan tiket untuk Sabillah, namun karena Sabillah tidak tahu tujuanya, dia ikut tujuan Arjuna. Arjuna kala itu baru pulang dari kampung halamannya di pulau jawa karena ibunya baru saja meninggal, dan kembali lagi ke tempat ia bertugas.
Laki-laki itu bersedia meminjamkan uang pada Sabillah untuk membeli tiket, dan setelah sampai ke Pontianak, Sabillah yang tak tahu tujuanya, akhirnya ia diberi tempat tinggal oleh Arjuna, sedang Arjuna menumpang ditempat temannya.
Arjuna yang jatuh cinta pada Sabillah sejak pandangan pertama, sebulan setelah pertemuan mereka, Arjuna langsung melamar Sabillah. Waktu itu Sabil menolak lamaran Arjuna, dan Sabillah menceritakan jika dia sedang dalam masa proses perceraian.
Arjuna, laki-laki baik hati itu dengan sabar menunggu Sabillah sampai ketuk palu, dan selesai masa iddahnya, kembali melamar Sabillah. Karena tak ingin terjadi fitnah, akhirnya lagi-lagi Sabillah harus terjebak oleh pernikahan terpaksa. Bedanya, Arjuna memperlakukannya dengan baik.
Sikap perhatian dan lembut Arjuna yang mencintainya dengan tulus, membuat Sabillah luluh dan tak tega. Hingga tepat setahun pernikahan mereka, Sabillah dan Arjuna dikaruniai anak pertama yang berjenis kelamin perempuan yang mereka beri nama, Nurlaeka Bratajaya.
Dua tahun kemudian, mereka kembali dikaruniai anak kedua yang berjenis kelamin laki-laki, yang bernama Arial Bratajaya. Dan kini, setelah anak kedua mereka sudah berusia memasuki lima tahun, mereka segera dikaruniai anak ketiga.
Pernikahan Sabillah dan Arjuna, bukanlah tidak diketahui oleh papa Sabillah. Sabillah yang mengingat nomor ponsel papanya mengabari keberadaannya, menanyakan proses cerainya, dan menceritakan jika ia telah dilamar oleh seorang laki-laki dari golongan pria berseragam coklat.
Pak Sofyan yang merestui hubungan mereka langsung terbang ke Pontianak, tanpa memberitahu Sintya, karena sudah dipastikan Sintya tidak akan merestui pernikahan Sabillah. Dan barulah di usia pernikahan Sabillah yang ke satu tahun, Sofyan memberi tahu Sintya jika mereka sudah mendapat cucu.
Terkejut, sudah pasti Sintya terkejut mendengar itu, dia sampai harus dirawat dirumah sakit selama tiga hari. Namun hingga kini, Sintya belum bisa memaafkan kesalahan Sabillah, meski sebentar lagi ia akan memiliki cucu ketiganya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 135 Episodes
Comments
Femmy Femmy
aku bersyukur kalau Nabilla sudah menikah lagi dan bahagia..dari pada hidup.satu atap tapi tidak dicintai dan dihargai sebagai istri
2024-04-08
0
kalea rizuky
wahh sBila uda nikah lagi
2024-03-07
0
Rachmawati 8281
lanjoot kak
2023-04-10
0