Membuatnya Menderita

Pagi menyapa. Sabillah bangun, langsung menuju kamar mandi untuk menbersihkan diri, menjalankan ibadah wajibnya, kemudian turun membuat sarapan untuk diri sendiri. Segelas teh, dan semangkuk mi rebus. Sabillah pecinta pedas, meski masih pagi, ia makan mie rebus diberi lima cabe rawit dan banyak sayur.

Sambil mengunyah mie dengan bibir merah karena kepedasan, tak sengaja mata Sabillah melihat kearah kamar yang biasa ditempati Adrian. Pintu itu masih tertutup, entah suaminya pulang atau tidak semalam.

Sabillah tersenyum kecut, rumah tangga seperti apa yang ia jalani? Ini sudah memasuki lima pernikahan mereka. Jangankan membuatkan teh atau kopi ketika suami pulang bekerja seperti yang biasa rumah tangga normal lainnya. Bertegur sapa pun mereka tak pernah, kegiatan apa yang mereka lakukan diluar sana? Sehat atau sakit mereka tak saling perduli, mungkin jika salah satu diantara mereka ada yang meninggalpun, mereka tak akan perduli juga.

Terbesit rasa penasaran dalam hati Sabill, saat Adrian selalu menudingnya penyebab penderitaan kekasih Adrian. Bukankah kekasih Adrian seharusnya bahagia, karena Adrian lebih memilih menemaninya dari pada ia yang menjadi istri sahnya? Tapi entahlah, Sabill tak ingin mencari tahu, ia tak ingin ambil pusing.

Menyudahi sarapannya, Sabill mencuci bekas ia makan, naik keatas untuk mengambil tasnya, dan berangkat ke kantor. Ini sudah jam setengah tujuh, dia tak biasa terlambat.

"Apa begitu sifat seorang istri? Tak pernah melayani suaminya?" tangan Sabill yang sudah memutar handle pintu terhenti mendengar suara bariton itu. Sabill memutar tubuhnya kebelakang.

Mata Sabill mengerjap beberapa kali dengan pupil yang melebar. Ia tak salah lihat dan salah dengar? Makhluk itu menyapanya diambang pintu dengan rambut singa khas tidur, dengan wajah acak-acakan yang sayangnya, tetap terlihat tampan. Sabill merutuki kesempurnaan rupa yang dimiliki seorang Adrian Mangku Kusumo.

"Buatkan aku sarapan sebelum berangkat bekerja, kamu dengar?" ucapnya berjalan menuju kamar diatas.

"Kamu bicara dengan ku?" tanya Sabill sarkas.

Hoammm

Mulut Adrian terbuka lebar. "Aku rasa makhluk hidup yang ada dirumah ini hanya dua. Tapi aku tidak tahu jika ada yang diam-diam menyelundupkan laki-laki kerumah ini karena haus akan belaian, secara sejak pertama kali kami menikah, aku tak pernah menjamahnya," jawab Adrian yang benar-benar membuat Sabill terhina.

Dengan santai ia naik ke lantai dua untuk mengganti pakaian.

Sekuat tenaga Sabill tidak tepancing oleh ucapan Adrian yang sangat menghina harga dirinya. Dia tidak melakukan itu, untuk apa ia marah, meski dalam hati tak terima dituduh dan direndahkan harkat martabatnya sebagai seorang wanita oleh suaminya sendiri.

Sabill melanjutkan membuka pintu untuk pergi ke kantor daripada meladeni makhluk sinting macam Adrian tapi langkahnya kembali terhenti saat laki-laki itu kembali bersuara.

"Pergi dari rumah ini tanpa membuat sarapan untuk ku, aku pastikan orang tua mu akan tahu jika anak perempuannya tidak melayani suaminya."

Sabill menatap nyalang Adrian.

"Laporkan! Laporkan kalau kamu mau. Katakan pada mama sesuka hati mu. Berbutlah semau mu, lakukan jika itu membuatmu bahagia. Sebab akulah sumber kebahagiaan mu jika itu sampai terjadi." Tantang Sabill lantang, tak ada takut dimatanya.

Adrian tak mau kalah, ia turun menghampiri Sabillah. Tangan kananya mencengkeram erat dagu Sabill hingga kepala Sabill mendongak.

"Jangan pernah membantah ku. Kamu pikir kamu siapa berani bicara keras seperti itu, hah?" ucap Adrian begitu marah. Tangan kirinya mengudara hendak mendarat dipipi Sabillah tapi ia tahan.

"Kenapa berhenti! Tampar! Ayo tampar kalau kamu berani," ucap Sabill menantang, semakin membuat Adrian marah karena Sabill selalu membantahnya.

"Maka jangan pernah membantah ku. Aku hanya meminta mu membuat sarapan, kenapa harus berkata kasar seperti itu?"

"Aku tidak akan begini jika kamu tidak menghinaku, Adrian." Sabill menghentak tangan Adrian didagunya. "Kamu pikir aku diam selama ini aku bisa kamu injak-injak sesuka mu, iya? Tidak! Aku bukan wanita lemah seperti yang kamu duga." Sabill menggelengkan kepalanya.

"Aku juga tidak akan bertindak seperti ini jika saja kamu tidak menikah dengan ku. Dan Ajeng akan baik-baik saja." Balas Adrian.

"Apa yang dirugikan dari kekasih mu itu? Bukankah dia harusnya bahagia karena setiap hari kamu menemaninya?" Teriak Sabill meluapkan segala emosinya.

Adrian mengepalkan tanganya kuat, mengingat kondisi Ajeng saat ini, bayangan wajah menyedihkan Ajeng, tangis wanita itu, begitu memilukan hatinya. Ajeng menderita karena kehadiran Sabill diantara mereka.

"Dan seharusnya aku tidak menemaninya dalam kondisi seperti ini, ini semua karena mu. Kamu penyebab semuanya," teriak Adrian tepat didepan wajah Sabil.

Adrian berbalik, dia takut sampai kelepasan jika ia terus melihat wajah Sabill yang begitu memuakkan.

"Buatkan sarapan untuk ku," ujarnya masih memerintah. Mengayunkan kaki menuju lantai dua.

Sabill menarik nafas panjang, mereka tak pernah berinteraksi, sekalinya mereka bertemu, maka perang dunia selalu terjadi. Sabill melihat jam dipergelangan tanganya, masih ada waktu untuk ia ke kantor.

Sabill pun menuruti permintaan Adrian yang memintanya untuk dibuatkan sarapan. Tak lama Adrian turun dengan setelan jas kerjanya, bertepatan dengan selesainya Sabill membuatkan sarapan.

Sepiring mi goreng dan telur ceplok. Hanya itu yang bisa Sabill buat, sebab yang ada didalam kulkas mereka hanya itu saja.

Sabill memilih undur diri setelah laki-laki itu duduk anteng dikursinya. Lagi-lagi saat tangan Sabill sudah memegang handle pintu, kembali terdengar suara keributan yang dibuat Adrian.

Pranggggggg

Sabill kembali membalikkan badan mendengar suara benda jatuh itu. Sabill terperangah saat mendapati ternyata Adrian membuang sarapan buatanya.

"Apa yang kamu lakukan, Adrian?" tanya Sabill tak percaya dengan yang dilihatnya.

"Aku hanya tidak mau makan-makanan yang banyak mengandung racun, yang akan membunuh ku," jawab Adrian. Dan dengan santainya Adrian menginjak pecahan kaca yang terdapat mi instan tersebut.

"Bersihkan, aku ingin ke kantor. Tak ada waktu untuk ku membersihkan itu," kata Adrian melewati Sabill begitu saja.

Astaga, sabar Sabill. Anggap saja ini ujian dalam hidup mu. Semua baik-baik saja, dan kamu akan melewati ini. Sabill menenangkan dirinya sendiri.

* * *

Sudah pasti Sabill sampai kantor terlambat akibat ulah Adrian. Dan ini berlangsung hingga sebulan lamanya, setiap pagi Adrian memintanya dibuatkan sarapan, setelah Sabillah selesai membuatkan yang Adrian mau, Adrian membuangnya, dan minta diganti yang baru. Dan setelah Sabillah membuatkan lagi, Adrian kembali membuangnya.

Ada saja yang Adrian lakukan untuk membuat Sabill terlambat sampai ke kantor, dan kelelahan karena hampir setia hari Sabill lembur, dan paginya harus meladeni drama yang dibuat Adrian.

"Bill, lo telat mulu sih?" tanya Vania dari balik kubikelnya. "Nggak pernah-pernah lo begini," komen Vania lagi.

"Si Adrian itu sudah sebulan ini membuat drama sarapan, kayaknya dia sengaja ngelakuin ini," sahut Sabill apa adanya.

"Dan lo ngikutin apa yang dia mau?" Sabill tak menjawab. "Lo kenapa sih Bill? Lo bukan Sabill yang gue kenal, jangan bilang lo mulai ada rasa sama iblis berwujud manusia kayak Adrian itu."

Sabill kembali diam. "Dan lo selalu salah membuat laporan keuangan belakangan ini. Bikin bos besar marah terus." Marah Vania pada Sabillah, bukan ia tak sayang, justru ia tak ingin Sabillah menjadi lemah karena Adrian. Apalagi sampai Sabillah jatuh hati pada Adrian.

"Bill, bisa kamu keruangan saya?" panggil Pak Budiman atasan Sabillah.

"Iya, Pak."

"Dan bawa laporan keuangan yang saya minta." Sabillah mengangguk mengiyakan.

"Muka pak gendut nggak ngenakin, gue curiga, Bill." Bisik Vania saat Sabill menyiapkan dokumen yang akan ia bawa ke ruang pak Budiman.

"Santai aja, gue biasa diceramahin sama dia."

"Bill, semangat." Vania mengepalkan tanganya mengudara memberikan semangat untuk Sabillah.

Sabillah pun menuju keruangan pak Budiman. Setelah mengetuk pintu, dan mendapat sahutan dari dalam, Sabillah masuk.

Sabillah menyerahkan dokumen yang diminta pak Budiman.

"Kamu sudah mengganti kesalahan kamu, Bill?" tanya pak Budiman sambil melihat angka-angka didepanya.

"Sudah Pak. Maaf saya salah menekan angka, jadi membuat semuanya kacau."

Pak Budiman meletakkan dokumen keatas meja, menatap Sabillah.

"Kamu tahu, Bill. Karena kesalahan kamu ini, pihak PT. Royal Golden membatalkan hubungan kerja sama mereka."

"Apa Pak? Inikan masalah internal kita, kenapa pihak mereka sampai membatalkan hubungan kerja sama? Bukankah mereka cukup melihat jika perusahaan kita bisa diandalkan dan memberikan yang terbaik, dengan tim-tim terbaik dilapangan. Tim kita juga sudah terbukti menjadi tim terbaik. Kenapa sampai mengusik keuangan yang merupakan Internal perusahaan."

"Kamu tidak tahu? Jika seperti ini, saya mempertanyakan kerja kamu selama ini? Apa kamu benar-benar mengetahui apa pekerjaan kamu. Bidang apa yang kamu pegang? Jelas laporan keuangan sangat berpengaruh untuk investor terbesar PT Royal Golden. Jika laporan keuangan saja tidak bisa dipercaya, bagaimana yang lainnya?"

Sabillah sampai membuang muka dan mengbuang nafas.

"Bill, kesalahan kamu ini membuat perusahaan rugi besar. Mr Kim sangat marah atas kesalahan kamu."

"Saya akan bicara dengan mr Kim, Pak."

"Tidak perlu, sebab beliau sudah memutuskan untuk mengeluarkan kamu dari perusahaan."

"Apa? Maksudnya, saya dipecat Pak?" Tanpa sadar Sabillah berteriak kencang, hingga terdengar oleh Vania dan Edo.

Terpopuler

Comments

Anna

Anna

ih kok mau sih

2024-09-03

0

Femmy Femmy

Femmy Femmy

sombong sekali masih kamu tidak mau makan tapi jangan sekali kali kamu menginjak injak makanan Adrian 😠

2024-04-08

0

Rachmawati 8281

Rachmawati 8281

jahat bgt ya c Adrian 😡😡😡😡

2023-04-10

1

lihat semua
Episodes
1 Gara-gara Kamu
2 Bertanggung Jawab
3 Bulan Madu
4 Bagai Orang Asing
5 Membuatnya Menderita
6 Kekasih Adrian
7 SPIC
8 Tujuh Tahun Kemudian
9 Duda Perjaka
10 Arjuna Bratajaya
11 Ketahuan
12 Ajeng?
13 Setelah Tujuh Tahun Berpisah 1
14 Dua Laki-laki Bertolak Belakang
15 Apa Kabar Mantan Istri?
16 Bertemu Mantan Suami
17 Ikhlas
18 Kehilangan Yang Menyakitkan
19 Terkubur Tak Terkenang
20 Mencari Fakta
21 Kuman dan Virus Pengganggu
22 Permintaan Eka
23 Aku Ayah Dari Anaknya
24 Membuat Janji, Untuk Esok Dan Seterusnya.
25 Takdir
26 Rahasia Besar Ajeng
27 Semakin Nekat
28 Usaha Ajeng
29 Tidak sengaja
30 Draft
31 Perhatian
32 Akulah Pelindung Mu
33 Alam Bawah Sadar
34 Kehilangan Lagi?
35 Perdebatan Yang Menyenangkan
36 Keberuntungan Adrian.
37 Kembalikan Hati Ku Seperti Semula
38 Ingin Diperhatikan
39 Kenyataan Yang Terungkap
40 Janda Anak Banyak
41 Marah Tapi Manja
42 Isi Hati Eka
43 Tidak Lebih Dari Teman
44 Pengganggu
45 Kejutan Tak Terduga
46 Bertemu Mantan
47 Tarik Ulur
48 Mau Om Adlian
49 Bertengkar
50 Sakit
51 Laki-laki Yang Tulus
52 Mulai Membuka Diri
53 Hati Yang Kau Sakiti
54 Mencuri Kecupan
55 Menyerah?
56 Kembali Terluka
57 Memilih Pergi
58 Dua Laki-laki Yang Pergi
59 Frustasi
60 Menikahlah Dengan Om Adrian
61 Jatuh Sakit
62 Kabar Baik
63 Kamu mencintai ku? Jandaku?
64 Pacaran
65 Drama Yang Dibuat Ajeng
66 Tidak Mau Melepaskan
67 Apakah Ini Penebus Dosa?
68 Kepergian Arthur Dan Semua Rahasianya
69 Hebat Dimata Ku Dan Anak-anak Ku
70 Meluluhkan Hati Pak Sofyan
71 Surprise Untuk Sabillah
72 Menguji Adrian
73 Modus Adrian
74 Cobaan Apalagi Ini?
75 Keresahan Eka Yang Sesungguhnya
76 Ayah Yang Baik
77 Perasaan Vania
78 Menemui Ajeng
79 Mengutarakan Perasaan
80 Bimbang
81 Deep Talk
82 Keluarga Empat Sehat, Lima Bersama
83 Batal Honeymoon
84 Vania Mencari Jodoh
85 Jalan-jalan Ke Menara
86 Abang Azam
87 Sinyal Jodoh
88 Vania Yang Baru
89 Drama Anniversary
90 Perhatian Azam
91 Undangan Pernikahan Edo
92 Batal Menikah?
93 Pengantin Pengganti
94 Sah
95 Hujan Ditengah Kemarau
96 Pacaran
97 Tidak Pulang
98 Terbongkar
99 Jadi Janda Dan Duda
100 Circle Janda Duda
101 Statusnya Lajang
102 Mau Langsung Lamar?
103 Makan Malam
104 Pencuri Handal
105 Perjodohan
106 Perjanjian Pranikah
107 Mertua Idaman
108 Rumah Baru
109 Sama-sama Pemalu
110 Ulang Tahun Arjuna
111 Wanita Asing
112 Dokter Itu Vanessa
113 Kebetulan Yang Sangat Kebetulan
114 Terbuka
115 Percakapan Ringan
116 Hamil
117 Kabar Bahagia
118 Azam Mulai Berbohong
119 Harus Bedresh
120 Perjuangan Imam Rumah Tangga
121 Tanganya Kasarr
122 Mencari Tau
123 Vania Hilang
124 Dijodohkan
125 Syarat Bertemu
126 Laki-laki Mirip Azam
127 Mengisi Energi Ala Azam
128 Ngumpul
129 Papa Tiri
130 Kenyataannya
131 Sisi Lain Eka
132 Berakhir Damai
133 Tanggal Cantik
134 Adriane Salsabillah Kusumo
135 Pengumuman Cerita Baru
Episodes

Updated 135 Episodes

1
Gara-gara Kamu
2
Bertanggung Jawab
3
Bulan Madu
4
Bagai Orang Asing
5
Membuatnya Menderita
6
Kekasih Adrian
7
SPIC
8
Tujuh Tahun Kemudian
9
Duda Perjaka
10
Arjuna Bratajaya
11
Ketahuan
12
Ajeng?
13
Setelah Tujuh Tahun Berpisah 1
14
Dua Laki-laki Bertolak Belakang
15
Apa Kabar Mantan Istri?
16
Bertemu Mantan Suami
17
Ikhlas
18
Kehilangan Yang Menyakitkan
19
Terkubur Tak Terkenang
20
Mencari Fakta
21
Kuman dan Virus Pengganggu
22
Permintaan Eka
23
Aku Ayah Dari Anaknya
24
Membuat Janji, Untuk Esok Dan Seterusnya.
25
Takdir
26
Rahasia Besar Ajeng
27
Semakin Nekat
28
Usaha Ajeng
29
Tidak sengaja
30
Draft
31
Perhatian
32
Akulah Pelindung Mu
33
Alam Bawah Sadar
34
Kehilangan Lagi?
35
Perdebatan Yang Menyenangkan
36
Keberuntungan Adrian.
37
Kembalikan Hati Ku Seperti Semula
38
Ingin Diperhatikan
39
Kenyataan Yang Terungkap
40
Janda Anak Banyak
41
Marah Tapi Manja
42
Isi Hati Eka
43
Tidak Lebih Dari Teman
44
Pengganggu
45
Kejutan Tak Terduga
46
Bertemu Mantan
47
Tarik Ulur
48
Mau Om Adlian
49
Bertengkar
50
Sakit
51
Laki-laki Yang Tulus
52
Mulai Membuka Diri
53
Hati Yang Kau Sakiti
54
Mencuri Kecupan
55
Menyerah?
56
Kembali Terluka
57
Memilih Pergi
58
Dua Laki-laki Yang Pergi
59
Frustasi
60
Menikahlah Dengan Om Adrian
61
Jatuh Sakit
62
Kabar Baik
63
Kamu mencintai ku? Jandaku?
64
Pacaran
65
Drama Yang Dibuat Ajeng
66
Tidak Mau Melepaskan
67
Apakah Ini Penebus Dosa?
68
Kepergian Arthur Dan Semua Rahasianya
69
Hebat Dimata Ku Dan Anak-anak Ku
70
Meluluhkan Hati Pak Sofyan
71
Surprise Untuk Sabillah
72
Menguji Adrian
73
Modus Adrian
74
Cobaan Apalagi Ini?
75
Keresahan Eka Yang Sesungguhnya
76
Ayah Yang Baik
77
Perasaan Vania
78
Menemui Ajeng
79
Mengutarakan Perasaan
80
Bimbang
81
Deep Talk
82
Keluarga Empat Sehat, Lima Bersama
83
Batal Honeymoon
84
Vania Mencari Jodoh
85
Jalan-jalan Ke Menara
86
Abang Azam
87
Sinyal Jodoh
88
Vania Yang Baru
89
Drama Anniversary
90
Perhatian Azam
91
Undangan Pernikahan Edo
92
Batal Menikah?
93
Pengantin Pengganti
94
Sah
95
Hujan Ditengah Kemarau
96
Pacaran
97
Tidak Pulang
98
Terbongkar
99
Jadi Janda Dan Duda
100
Circle Janda Duda
101
Statusnya Lajang
102
Mau Langsung Lamar?
103
Makan Malam
104
Pencuri Handal
105
Perjodohan
106
Perjanjian Pranikah
107
Mertua Idaman
108
Rumah Baru
109
Sama-sama Pemalu
110
Ulang Tahun Arjuna
111
Wanita Asing
112
Dokter Itu Vanessa
113
Kebetulan Yang Sangat Kebetulan
114
Terbuka
115
Percakapan Ringan
116
Hamil
117
Kabar Bahagia
118
Azam Mulai Berbohong
119
Harus Bedresh
120
Perjuangan Imam Rumah Tangga
121
Tanganya Kasarr
122
Mencari Tau
123
Vania Hilang
124
Dijodohkan
125
Syarat Bertemu
126
Laki-laki Mirip Azam
127
Mengisi Energi Ala Azam
128
Ngumpul
129
Papa Tiri
130
Kenyataannya
131
Sisi Lain Eka
132
Berakhir Damai
133
Tanggal Cantik
134
Adriane Salsabillah Kusumo
135
Pengumuman Cerita Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!