Seorang laki-laki tampan, mapan, berusia matang, dan berstatus ... 'Duda' itu berdiri menghadap jendela, melihat pemandangan jalanan ibu kota dimalam hari yang dihiasi kerlap-kerlip lampu jalan dan lampu kendaraan. Tanganya anteng berada didalam saku.
Denting waktu berjalan, waktu menunjukkan pukul sepuluh malam, tapi dia masih betah berada di kantornya, padahal sudah tidak ada pekerjaan.
Ia menghela nafas panjang, sudah tujuh tahun berlalu, setelah dia resmi menyandang status yang sangat dihindari kaum lelaki, tapi status yang sangat digilai banyak kaum hawa. Kini dia hidup sendiri, mamanya, nyonya Ninawati sudah berpulang setelah ketuk palu perceraiannya dengan Sabill. Dan papanya menyusul setahun setelahnya.
Kini tak ada yang menjadi penyemangat hidupnya, tak ada yang menjadi tujuan alasan dia untuk pulang, ia bekerja keras sepanjang haripun, tak tahu untuk siapa? Kesuksesanya seperti tiada arti, wanita yang ia harapkan kepulanganya, hingga kini bahkan tak terdengar kabarnya sama sekali, walau hanya kabar burung sekalipun.
Adrian sudah mencarinya kemana-mana, sampai dia mendatangi setiap stasiun keberangkatan bis atau kereta, mencari data atas nama Sabillah. Setiap bandara, bahkan dermaga Adrian singgahi demi menemukan Sabillah. Tapi nihil, Sabillah bak hilang ditelan bumi.
Adrian mentertawakan dirinya yang tidak mengerti akan takdir yang seakan mempermainkanya saat ini. Saat Sabillah menjadi istrinya, dia begitu muak dengan wanita itu dan begitu membencinya, karena menjadi penyebab hidup Ajeng, kekasihnya menderita. Tapi setelah Sabillah meninggalkanya, Adrian sangat kehilangan Sabillah. Adrian sangat setia pada Sabillah hingga saat ini, karena dia masih berharap Tuhan berbaik hati mempertemukanya dengan Sabillah.
Ajeng yang ia pikir menjadi wanita yang sangat ia cintai, setelah Ajeng sembuh, nyatanya getaran rasa pada wanita itu telah hilang. Iapun tak bisa melanjutkan hubunganya dengan Ajeng, dan meninggalkan Ajeng bersama anaknya.
Suara ketukan pintu membuat Adrian menolehkan kepalanya sekilas tanpa ingin membuka suara. Namun meski begitu pintu ruanganya tetap dibuka, tanpa menunggu izin darinya, seseorang masuk. Siapa lagi pelakunya jika bukan Arthur, sekretaris yang merangkap menjadi orang kepercayaannya sekarang.
"Sudah malam, Tuan. Apa Tuan belum mau pulang?" tanya Arthur takut-takut.
Adrian tak menjawab pertanyaan sekretarisnya, yang sepertinya ingin pulang lebih dulu.
"Ini malam minggu Tuan. Apa boleh saya pulang lebih dulu?" kata Arthur lagi, sebab tak ada sahutan dari bosnya. Butuh keberanian yang besar sebenarnya untuk Arthur melakukan itu.
Ucapan sang sekretaris membuat Adrian menoleh. "Kamu ingin kemana?"
Hah? Kenapa dia bertanya seperti itu? Jangan bilang dia mau ikut, aku ingin mencari jodoh bos.
Arthur diam sejenak, berpikir, mencari alasan yang tepat.
"Bertemu teman di club malam, Tuan." Akhirnya alasan ini yang Arthur ambil. Agar sang bos tidak ikut, sebab ia tahu jika atasanya ini tidak suka datang ke tempat hiburan malam, karena memang dia akan kesana bersama para temanya.
Jika bosnya ini ikut bersamanya, otomatis para wanita incaranya pasti akan memilih bersama bosnya, dibanding menemaninya. Apalagi bosnya ini duda perjaka yang sangat hot.
"Tidak boleh." Larang Adrian tegas. "Kamu harus temani saya disini saja. Untuk apa menghabiskan waktu dan uang untuk hal yang tidak berguna."
Tubuh Arthur melemah, dia pikir malam ini bisa berkencan dengan wanita-wanita cantik dan seksi di club. Nyatanya dia harus menemani duda karat ini dikantor. Ingin Arthur mengumpat, tapi dia ingat dia baru mengambil cicilan mobil.
Akhirnya Arthur dengan terpaksa menemani duda perjaka ini bermain catur yang sangat membosankan bagi Arthur hingga pagi, dan demi menyenangkan hati si duda, selama permainan Arthur memilih banyak mengalah. Di hari libur kerjanya, seharusnya Arthur bisa menghabiskan waktu bersantainya dirumah, menonton film biru kesukaanya.
* * *
"Sabillah," panggil Adrian pada wanita yang berpapasan denganya barusan, mereka sedang berada di swalayan. Wanita cantik itu menghentikan langkahnya dan menoleh.
Mata Adrian berbinar, wanita itu begitu mirip dengan Sabillah.
"Sabill, ini benar kamu?" Adrian menghampiri Sabillah. Tanpa izin dia mengambil kedua tangan wanita yang wajahnya begitu mirip dengan Sabillah.
"Benar, ini tidak mimpi. Sabill ini benar kamu," ucap Adrian senang sebab ia bisa memegang tangan Sabillah dengan nyata. "Akhirnya aku menemukan kamu juga Sabill." Wanita yang dipanggil Sabillah itu hanya diam. Adrian hendak memeluk Sabillah tapi tiba-tiba tubuh Adrian didorong seseorang.
Bughhh
"Jangan coba dekati istri saya. Atau kamu bisa saya habisi saat ini juga, " ucap laki-laki itu marah. Dengan posesif ia langsung menarik Sabillah ke belakang tubuhnya.
"Apa Sabill? Kamu sudah menikah? Tidak mungkin Sabill. Kamu tidak mungkin menikah, kamu hanya milik aku, aku suami kamu Sabill. Kita belum resmi bercerai, Salsabillah Khairunnisa."
Tapi Sabillah tidak menghiraukan teriakan Adrian, laki-laki yang mengaku suami Sabillah itu membawa Sabillah pergi.
"Sabill, kamu jangan pergi Sabill. Aku menunggu kamu, bertahun-tahun aku mencari kamu kemana-mana Sabill." Teriak Adrian berlari, dia dapat menggapai tangan Sabillah.
"Lepaskan tangan istri ku, jangan pernah kamu berani menyentuhnya." Laki-laki itu menyentak tangan Adrian, tapi Adrian tak ingin melepaskan, Adrian semakin kuat memegangi tangan Sabillah. Dan tarik-tarikan tangan itu terjadi.
"Tuan, lepas Tuan."
"Aduhhhhh sakit sekali tangan saya Tuan."
Degh.
Adrian seketika membuka matanya mendengar suara jeritan kesakitan Arthur. Dan ia langsung melepaskan tanganya saat tahu ternyata itu tangan Arthur. Adrian bahkan terlihat begitu jijik pada Arthur.
"Kamu kenapa masih disini, hah? Bukanya pulang." Adrian malah menyalahkan Arthur dengan memarahinya, untuk menyembunyikan rasa malunya yang sampai ke ubun-ubun.
* * *
Hari berganti, Adrian kembali disibukkan dengan sederet rangkaian jadwal pekerjaannya yang sangat padat. Pertemuan demi pertemuan Adrian lakukan, dia sangat berharap, salah satu teman bisnisnya itu Sabillah, sebab Sabillah dulu bekerja di bidang yang sama dengan perusahaan yang ia pimpin saat ini.
Karena dunia telekomunikasi itu sangat sempit, sejauh apa kita melangkah, tetap akan dipertemukan kembali, tapi Adrian justru bertemu teman sekolah dasarnya dulu.
"Kamu Adrian Mangku Kusumo kan?" Klien Adrian itu bertanya. Kening Adrian saling bertaut mengingat siapa klienya kali ini, padahal seingat Adrian mereka baru bertemu. Adrian menoleh kesamping, bertanya pada Arthur melalui tatapan mata. Arthur mengangkat kedua bahunya, tak tahu.
"Kamu lupa, aku Jimmy, teman SD kamu dulu."
Adrian tak lantas langsung mengingat siapa klienya yang SKSD denganya kali ini. Tapi sejurus kemudian ia baru mengingatnya.
"Jimmy si mata empat?" tebak Adrian. Jimmy mengangguk.
"Wah, ternyata kamu sangat sukses sekarang, Adrian. Pantas saja kamu lupa dengan ku." Kata Jimmy.
Satu jam berlalu, urusan pekerjaan selesai. Jimmy yang memiliki karakter sok kenal, sok dekat ini mengajak Adrian mengobrol santai layaknya sahabat yang setiap hari bertemu. Dan Jimmy semakin sok akrab saja ketika mengetahui jika Adrian memiliki status yang sama denganya, yaitu seorang duda hot.
Namun tentu saja Adrian bukanlah duda sembarang duda, Adrian adalah duda perjaka ting-ting.
"Aku pikir kamu sudah punya anak tiga Adrian." Adrian mendelik atas ungkapan Jimmy, setua itu apa wajahnya hingga dibilang punya anak tiga? Sekuat tenaga Adrian menahan diri untuk tak marah.
"Aku saja dua kali menduda, dari satu istri, aku memiliki dua anak," ucap Jimmy membanggakan dirinya. "Tapi aku tidak lepas tanggung jawab meski kami sudah berpisah." Curhatnya jujur.
"Adrian, kamu ingat si cungkring?" tanya Jimmy pada Adrian. Adrian mengangguk, entah mengapa seorang pengusaha sukses dan super sibuk sepertinya mau mendengarkan cerita tak penting dari teman lama yang belum sepenuhnya ia ingat ini.
"Dia sekarang tinggal di Pontianak. Terakhir bertemu denganya dua hari yang lalu," ujarnya. "Tidak disangka jika dia menjadi satuan reserse disana." Jimmy menggelengkan kepala, "padahal dulu dia tubuhnya paling kecil dikelas, sekarang dia jadi polisi yang gagah." Jimmy mencebikkan bibir, "dan aku lebih terkesima lagi, ternyata dia memiliki seorang istri yang sangat cantik," puji Jimmy.
Adrian masih setia mendengarkan cerita Jimmy yang seperti mendongeng itu.
"Istrinya sedang hamil anak ketiganya. Gila sih si cungkring itu, tokcer juga, nasibnya juga begitu beruntung." Jimmy sedikit iri.
"Nasib orangkan tidak ada yang tahu?" Komen Adrian sedikit menyadarkan Jimmy.
Jimmypun mengangguk membenarkan.
"Oh ya Adrian. Si cungkring mengundang acara tujuh bulanan istrinya, mau tidak kamu datang bersama ku? Agar aku tidak menjadi duda keren satu-satunya nanti dia caranya si cungkring." Ajak Jimmy, lebih ke memaksa Adrian untuk ikut dengannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 135 Episodes
Comments
Anna
kenapa baru sadar
2024-09-03
1
Femmy Femmy
paling sabill kembali dengan pacarnya yang polisi dan sekarang dia bahagia..
2024-04-08
0
Femmy Femmy
🤣🤣🤣makanya jangan hanya menghayal
2024-04-08
0