Setelah Tujuh Tahun Berpisah 1

"Kamu terus menghindari ku Adrian. Ini sudah tujuh tahun berlalu, mantan istri kamu juga mungkin sudah memiliki pasangan sendiri."

Adrian dan Ajeng kini berada ditahan bermain anak yang ada di pusat pembelajaan terbesar yang ada di ibu kota. Menuruti permintaan anak Ajeng, Alief Giffardi. Ajeng selalu memperkenalkan Adrian kepada Alief sebagai ayahnya.

"Itu bukan urusan mu." Adrian duduk dengan menyilangkan kaki sambil memperhatikan anak Ajeng yang bermain prosotan yang terdapat banyak bola berwarna biru dan putih.

"Menjadi urusan ku karena kamu yang memulai memperkenalkan diri pada Alief. Dia kehilangan sosok seperti mu, dia sudah menganggap kamu sebagai ayahnya."

"Apa sekolahnya baik?" Adrian mengalihkan pembicaraan tanpa mengalihkan perhatiannya pada anak Ajeng yang berusia kurang dari delapan tahun itu.

Ajeng membuang muka, tersenyum miris. "Kita sedang membahas peran kamu disini, Adrian."

"Kamu harus mendaftarkan anak itu les, dan kegiatan yang bermanfaat lainya."

Ajeng menarik nafas. "Kenapa tidak kamu biarkan kami mati saja waktu itu jika pada akhirnya kamu memberi harapan palsu seperti ini." Beranjak dari tempat berdirinya, Ajeng memanggil anaknya yang masih bermain.

"Ada apa, Mom?" Alief menghampiri sang mama.

"Kita pulang, sudah cukup bermainya." Mengulurkan tangan agar anaknya keluar dari area bermain.

"Tapi Alief belum puas." Bocah itu merengek.

"Lain kali kita kesini lagi." Alief menatap Adrian yang sedang memijit pelipisnya.

"Apa papa ganteng akan ikut dengan kita?"

"No, papa banyak pekerjaan." Alief menerima uluran tangan mamanya. Bukan naik ke gendongan sang mama, tapi Alief berlari kearah Adrian duduk.

"Papa, apa pekerjaan papa masih banyak? Kapan papa akan tinggal satu rumah dengan kita." Mendengar suara Alief, Adrian mengangkat pandangannya.

Adrian tersenyum, ingin dia meminta anak itu untuk memanggilnya om saja, tapi dia tak tega. "Iya, pekerjaan Papa sangat banyak."

"Alief berdoa semoga pekerjaan Papa cepat selesai, dan Papa bisa pulang kerumah."

Adrian masih memberikan senyumanya, mengusak rambut tebak Alief. "Papa ... Iya, nanti Papa akan main kerumah Alief dan Mama."

"Kok main sih, Pa? Kenapa tidak tinggal bersama seperti teman Alief yang lainnya?"

"Karena ada suatu hal yang membuat Papa dan mama nggak bisa tinggal bersama sayang."

"Apa yang bisa membuat Papa bisa tinggal bersama? Menikah seperti yang suka mama ceritakan?" Adrian langsung menatap Ajeng yang membuang muka, pura-pura tak mendengar.

Usia tujuh tahun lebih, bagi sebagian anak mungkin ada yang lebih cerdas dari Alief, tapi Alief masih begitu polos, karena Ajeng tak pernah mengajarinyadan mengajaknya berinteraksi yang bisa menumbuhkan kepintaran kognitifnya.

"Bukan, bukan itu. Nanti kalau Alief sudah besar, Alief akan mengerti sendiri. Sekarang sudah hampir malam, Alief pulang bersama Mama, ya." Mengambil uang didalam dompetnya beberapa lembar, memberikan pada Alief. "Belajar yang rajin, biar jadi anak pintar." Alief mengangguk, lalu berlari menghampiri Ajeng.

"Jika kamu terus memanjakanya seperti ini, jangan salahkan aku jika dia akan terus menganggap kamu papanya." Ajeng berucap tanpa didengar Alief.

* * *

Demi menghindari Ajeng, Adrian akhirnya pergi ke Kalimantan menyusul Jimmy yang sudah lebih dahulu terbang kesana. Adrian tak mengabari Ajeng atas kepergianya.

"Hei, katamu tidak mau kesini." Jimmy menyambut kedatangan Adrian. Dia mengajak Adrian di Executif club yang ada di hotel tempat mereka menginap.

"Karena ada urusan saja."

"Whatever, aku senang akhirnya kamu bisa bergabung. Aku tadi sudah mengabari si cungkring kalau kamu tidak jadi datang. Tapi akan jadi kejutan yang begitu spesial sebagai hadiah untuk anak ketiganya."

Jimmy membawa Adrian duduk di kursi bar, memesankan minum untuk Adrian.

"Aku sebenarnya sudah lama tidak minum. Aku marah jika kamu membuat ku mabuk malam ini."

Jimmy terkekeh. "Aku pastiin kamu yang bawa aku ke kamar ku nanti malam."

Jimmy memanggil wanita untuk menemaninya minum, wanita dengan dress hitam mini dan ketat itu menghampirinya dan duduk dipangkuanya. Adrian memalingkan wajah, tak ingin perduli apa yang dilakukan Jimmy dengan wanita bayaranya. Pantas saja temanya ini sampai dua kali menduda.

Pukul dua belas malam Adrian kembali ke kamarnya, setelah Jimmy dan wanita yang tadi menemani Jimmy masuk kedalam kamar yang ada di club untuk menghabiskan malam panjang mereka. Dia harus menghindari pertemanan dekat dengan Jimmy, karena Adrian tahu, virus seperti itu mudah sekali menyebar, dan ia benar-benar sudah insaf, ia hanya ingin fokus pada pencarianya terhadap Sabill.

* * *

Acara tujuh bulanan Sabill sudah dimulai sejak jam tujuh pagi. Dimulai dari acara pengajian yang berlangsung satu jam lebih, dan diakhiri ceramah agama darl pemuka agama setempat. Dan kini berlanjut acara adat yang diadakan dihalman belakang rumah mereka.

Sebagai pendatang, Arjuna tak ingin acara adat yang mulai ditinggalkan ini hilang, dan ia ingin memperkenalkan pada anak-anaknya.

Acara adat di Kalimantan, tidak jauh berbeda dengan adat yang ada ditanah Jawa. Hanya terdapat sedikit perbedaan.

Dimulai Arjuna yang hanya mengenakan kain bermotif yang menutupi tubuhnya dari dada kebagian bawah tubuhnya. Berjalan perlahan menuju tempat pemandian air tujuh macam yang terdapat bunga tujuh rupa dimana Sabillah sudah menunggunya disana dengan mengendong kelapa bertunas, yang bermakna, agar anak mereka berguna bagi masyarakat, agama dan negara, seperti halnya kelapa yang memiliki julukan pohon seribu guna.

Lalu memberikan kelapa bertunas itu pada Sabill. Dengan senyum cantiknya Sabillah menerima kelapa bertunas itu, dan memangkunya. Arjuna selalu terpesona dengan senyuman cantik istrinya.

Kemudian Arjuna duduk disamping sang istri, lalu keduanya ditutup dengan kain berwarna kuning. Arjuan ada Sabill dimandikan dengan air tadi, setelahnya mereka diminta meminum air yang sudah didoakan sebelumnya. Sabill sendiri, harus meminum air perasan dari rambutnya, yang bertujuan agar kelahirannya lancar seperti air yang mengalir dari rambut Sabill.

Seorang pemandu acara meletakkan satu telur ayam kampung didepan Sabill dan Arjuna untuk diinjak keduanya sampai pecah. Ini juga memiliki makna tersendiri, dalam masalah keluarga, harus diselesaikan bersama-sama.

Sabill dan Arjuna saling melempar senyum saat berhasil melakukanya. Lalu secara tiba-tiba didepan keduanya jatuh kelapa tua yang sudah dipecahkan.

"Wahhh, anaknya laki-laki. Benar tidak, Ading Arjuna?" ucap salah satu sesepuh yang dipercaya memandu acara. "Kelapnya tengkurap."

"Benar, Buhan-nya," jawab Arjuna tersenyum malu.

Kok bisa pas ya? Arjuna menggumam dalam hati.

Acara siraman selesai, Arjuna dan Sabill diminta jalan berdua menuju kerumah. Kini gantian Sabill yang membawa kelapa tunas kerumah. Yang bermakna suami istri memiliki peranan masing-masing dimana tugas dan kewajiban harus ditaati.

Acara adat selesai, Sabill dan Arjuna telah memberikan jamuan bagi para tamu yang datang.

Sabill telah berganti baju muslim model kaftan berwarna merah maroon kesukaanya, begitu kontras dengan kulit Sabill yang putih bersih.

Sabill mengambil anaknya yang ia titipkan pada pengasuh yang juga merupakan tetangganya.

"Terima kasih, Julak. Arial tidak menangis kan?"

"Tidak, dia anteng sekali." Wanita yang Sabill dengan sebutan Julak itu mengusap rambut Arial. "Orang tua kamu tidak ada yang datang, Nak Sabill? Ini anak ketiga kalian, apa mama kamu belum bisa menerima Arjuna?"

"Kata Papa dia akan datang. Mungkin sedang dalam perjalanan." Sabillah menunduk, menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca. Dia melihat ponsel, tapi tak ada pesan dari pak Sofyan.

Namun sejurus kemudian, Arjuna mengirimnya foto. Mata Sabill terbelalak mendapati ada potret sang mama dan papanya diantara kerumunan tamu yang melihat acara adatnya.

Sabillah mencari keberadaan sang suami yang kini sedang mengobrol dengan Komandanya.

"Dimana mereka?" Bertanya tanpa suara. Arjuna menggeleng.

"Kaiiiii," suara cempreng anak sulung Sabill yang sudah kenal dengan kakeknya berteriak sambil berlari kearah pintu utama. Disana, berdiri pak Sofyan yang menyambut Eka dengan mengendongnya, disampingnya ada mama Sintya yang menatap haru pada Sabill yang memiliki perut besarnya.

* * *

Para tamu sudah pulang satu persatu. Kini tinggal Sabillah dan keluarga besarnya.

Berbeda dengan para ibu pada umumnya. Sabill dan Sintya merupakan ibu dan anak yang memiliki hubungan kaku. Apalagi dengan kepergian Sabillah selama tujuh tahun ini.

Tak ada pelukan dan tangisan haru untuk mengungkapkan perasaan rindu keduanya. Berbeda yang dilakukan pak Sofyan pada Sabillah dan Arjuna, dia memeluk kedua anaknya penuh haru.

"Selamat atas kehadiran anak ketiga kalian," ucap pak Sofyan memberi selamat pada Arjuna dan menepuk punggungnya. "Papa bangga sama kamu, terima kasih telah menjaga Sabillah dan membahagiakanya selama ini." Menyindir sang istri, tapi memang terlihat Sabillah lebih bahagia, wajahnya terlihat berseri dan lebih segar.

Sintya melengos. "Siapa nama anak petama kamu?" Bertanya mengalihkan, tapi jujur dalam hatinya ia langsung suka dengan anak pertama Sabill yang ceriwis dan langsung nemplok padanya.

Kini saja Eka duduk dipangkuan Sintya.

"Sayang, Nini tanya, siapa nama kamu?" Sabillah membelai rambut Eka.

Eka yang sedang memainkan tali tas mahal milik nini-nya menoleh kebelakang dan mendongak.

"Nurlaeka Bratajaya, Ni." Anak itu menjawab, tersenyum begitu manis, membuat hati Sintya bergetar.

"Sekolah kelas berapa sayang?"

"Bukan kelas berapa, tapi TK- B." Oh lucunya, Sintya begitu gemas. Dia terus mengajak Eka bercanda, sesekali juga mengajak Arial bermain.

Meski Sintya masih terlihat jutek padanya, tapi Sabill senang mamanya sudah mau datang, itu berarti Sintya sudah menerima Arjuna dan memaafkanya. Melihat pemandangan anaknya yang bercanda dengan neneknya, Sabill, Arjuna dan pak Sofyan ikut senang.

Arjuna dan pak Sofyan sudah begitu dekat, pak Sofyan menanyakan banyak hal tentang pekerjaan Arjuna.

"Cobaan ditempat mu bekerja sangat berat, Nak. Merupakan lahan basah, Papa harap kamu cukup kuat iman dengan lingkungan mu. Papa takut sekali membaca berita tentang seorang Irjen yang terlibat."

"Insyaallah, Pa. Doakan Arjuna selalu dijalan yang benar."

Obrolan Arjuna dan pak Sofyan harus terjeda saat ada suara salam.

Arjuna menjawab salam dan berdiri menyambut tamunya. Jimmy datang bersama seseorang yang tak Arjuna sangka-sangka.

"Maaf kami terlambat," ucap Jimmy, "kita nyasar sampai tiga kali cari alamat kamu, Kring. Astaga ternyata kita sudah melewati tempat ini tiga kali, ya gak, Adrian."

Adrian yang ikut masuk, langkahnya seketika terhenti saat matanya bersirobok dengan pak Sofyan, lalu berpindah pada Sintya yang menggendong Arial dan menggandeng Eka. Entah apa yang membuat Adrian jelalatan, hingga matanya menatap sosok wanita cantik yang ia tunggu selama tujuh tahun ini. Dan Adrian seolah terserang penyakit jantung akut saat matanya melihat perut besar wanita yang ia tunggu selama itu.

Terpopuler

Comments

Femmy Femmy

Femmy Femmy

kecewa🤭

2024-04-08

1

Rachmawati 8281

Rachmawati 8281

ketemu deh ...

2023-05-04

0

Erni Rahmah

Erni Rahmah

aku sampai hampir lupa dengan alur cerita novelmu Thor

2023-05-01

0

lihat semua
Episodes
1 Gara-gara Kamu
2 Bertanggung Jawab
3 Bulan Madu
4 Bagai Orang Asing
5 Membuatnya Menderita
6 Kekasih Adrian
7 SPIC
8 Tujuh Tahun Kemudian
9 Duda Perjaka
10 Arjuna Bratajaya
11 Ketahuan
12 Ajeng?
13 Setelah Tujuh Tahun Berpisah 1
14 Dua Laki-laki Bertolak Belakang
15 Apa Kabar Mantan Istri?
16 Bertemu Mantan Suami
17 Ikhlas
18 Kehilangan Yang Menyakitkan
19 Terkubur Tak Terkenang
20 Mencari Fakta
21 Kuman dan Virus Pengganggu
22 Permintaan Eka
23 Aku Ayah Dari Anaknya
24 Membuat Janji, Untuk Esok Dan Seterusnya.
25 Takdir
26 Rahasia Besar Ajeng
27 Semakin Nekat
28 Usaha Ajeng
29 Tidak sengaja
30 Draft
31 Perhatian
32 Akulah Pelindung Mu
33 Alam Bawah Sadar
34 Kehilangan Lagi?
35 Perdebatan Yang Menyenangkan
36 Keberuntungan Adrian.
37 Kembalikan Hati Ku Seperti Semula
38 Ingin Diperhatikan
39 Kenyataan Yang Terungkap
40 Janda Anak Banyak
41 Marah Tapi Manja
42 Isi Hati Eka
43 Tidak Lebih Dari Teman
44 Pengganggu
45 Kejutan Tak Terduga
46 Bertemu Mantan
47 Tarik Ulur
48 Mau Om Adlian
49 Bertengkar
50 Sakit
51 Laki-laki Yang Tulus
52 Mulai Membuka Diri
53 Hati Yang Kau Sakiti
54 Mencuri Kecupan
55 Menyerah?
56 Kembali Terluka
57 Memilih Pergi
58 Dua Laki-laki Yang Pergi
59 Frustasi
60 Menikahlah Dengan Om Adrian
61 Jatuh Sakit
62 Kabar Baik
63 Kamu mencintai ku? Jandaku?
64 Pacaran
65 Drama Yang Dibuat Ajeng
66 Tidak Mau Melepaskan
67 Apakah Ini Penebus Dosa?
68 Kepergian Arthur Dan Semua Rahasianya
69 Hebat Dimata Ku Dan Anak-anak Ku
70 Meluluhkan Hati Pak Sofyan
71 Surprise Untuk Sabillah
72 Menguji Adrian
73 Modus Adrian
74 Cobaan Apalagi Ini?
75 Keresahan Eka Yang Sesungguhnya
76 Ayah Yang Baik
77 Perasaan Vania
78 Menemui Ajeng
79 Mengutarakan Perasaan
80 Bimbang
81 Deep Talk
82 Keluarga Empat Sehat, Lima Bersama
83 Batal Honeymoon
84 Vania Mencari Jodoh
85 Jalan-jalan Ke Menara
86 Abang Azam
87 Sinyal Jodoh
88 Vania Yang Baru
89 Drama Anniversary
90 Perhatian Azam
91 Undangan Pernikahan Edo
92 Batal Menikah?
93 Pengantin Pengganti
94 Sah
95 Hujan Ditengah Kemarau
96 Pacaran
97 Tidak Pulang
98 Terbongkar
99 Jadi Janda Dan Duda
100 Circle Janda Duda
101 Statusnya Lajang
102 Mau Langsung Lamar?
103 Makan Malam
104 Pencuri Handal
105 Perjodohan
106 Perjanjian Pranikah
107 Mertua Idaman
108 Rumah Baru
109 Sama-sama Pemalu
110 Ulang Tahun Arjuna
111 Wanita Asing
112 Dokter Itu Vanessa
113 Kebetulan Yang Sangat Kebetulan
114 Terbuka
115 Percakapan Ringan
116 Hamil
117 Kabar Bahagia
118 Azam Mulai Berbohong
119 Harus Bedresh
120 Perjuangan Imam Rumah Tangga
121 Tanganya Kasarr
122 Mencari Tau
123 Vania Hilang
124 Dijodohkan
125 Syarat Bertemu
126 Laki-laki Mirip Azam
127 Mengisi Energi Ala Azam
128 Ngumpul
129 Papa Tiri
130 Kenyataannya
131 Sisi Lain Eka
132 Berakhir Damai
133 Tanggal Cantik
134 Adriane Salsabillah Kusumo
135 Pengumuman Cerita Baru
Episodes

Updated 135 Episodes

1
Gara-gara Kamu
2
Bertanggung Jawab
3
Bulan Madu
4
Bagai Orang Asing
5
Membuatnya Menderita
6
Kekasih Adrian
7
SPIC
8
Tujuh Tahun Kemudian
9
Duda Perjaka
10
Arjuna Bratajaya
11
Ketahuan
12
Ajeng?
13
Setelah Tujuh Tahun Berpisah 1
14
Dua Laki-laki Bertolak Belakang
15
Apa Kabar Mantan Istri?
16
Bertemu Mantan Suami
17
Ikhlas
18
Kehilangan Yang Menyakitkan
19
Terkubur Tak Terkenang
20
Mencari Fakta
21
Kuman dan Virus Pengganggu
22
Permintaan Eka
23
Aku Ayah Dari Anaknya
24
Membuat Janji, Untuk Esok Dan Seterusnya.
25
Takdir
26
Rahasia Besar Ajeng
27
Semakin Nekat
28
Usaha Ajeng
29
Tidak sengaja
30
Draft
31
Perhatian
32
Akulah Pelindung Mu
33
Alam Bawah Sadar
34
Kehilangan Lagi?
35
Perdebatan Yang Menyenangkan
36
Keberuntungan Adrian.
37
Kembalikan Hati Ku Seperti Semula
38
Ingin Diperhatikan
39
Kenyataan Yang Terungkap
40
Janda Anak Banyak
41
Marah Tapi Manja
42
Isi Hati Eka
43
Tidak Lebih Dari Teman
44
Pengganggu
45
Kejutan Tak Terduga
46
Bertemu Mantan
47
Tarik Ulur
48
Mau Om Adlian
49
Bertengkar
50
Sakit
51
Laki-laki Yang Tulus
52
Mulai Membuka Diri
53
Hati Yang Kau Sakiti
54
Mencuri Kecupan
55
Menyerah?
56
Kembali Terluka
57
Memilih Pergi
58
Dua Laki-laki Yang Pergi
59
Frustasi
60
Menikahlah Dengan Om Adrian
61
Jatuh Sakit
62
Kabar Baik
63
Kamu mencintai ku? Jandaku?
64
Pacaran
65
Drama Yang Dibuat Ajeng
66
Tidak Mau Melepaskan
67
Apakah Ini Penebus Dosa?
68
Kepergian Arthur Dan Semua Rahasianya
69
Hebat Dimata Ku Dan Anak-anak Ku
70
Meluluhkan Hati Pak Sofyan
71
Surprise Untuk Sabillah
72
Menguji Adrian
73
Modus Adrian
74
Cobaan Apalagi Ini?
75
Keresahan Eka Yang Sesungguhnya
76
Ayah Yang Baik
77
Perasaan Vania
78
Menemui Ajeng
79
Mengutarakan Perasaan
80
Bimbang
81
Deep Talk
82
Keluarga Empat Sehat, Lima Bersama
83
Batal Honeymoon
84
Vania Mencari Jodoh
85
Jalan-jalan Ke Menara
86
Abang Azam
87
Sinyal Jodoh
88
Vania Yang Baru
89
Drama Anniversary
90
Perhatian Azam
91
Undangan Pernikahan Edo
92
Batal Menikah?
93
Pengantin Pengganti
94
Sah
95
Hujan Ditengah Kemarau
96
Pacaran
97
Tidak Pulang
98
Terbongkar
99
Jadi Janda Dan Duda
100
Circle Janda Duda
101
Statusnya Lajang
102
Mau Langsung Lamar?
103
Makan Malam
104
Pencuri Handal
105
Perjodohan
106
Perjanjian Pranikah
107
Mertua Idaman
108
Rumah Baru
109
Sama-sama Pemalu
110
Ulang Tahun Arjuna
111
Wanita Asing
112
Dokter Itu Vanessa
113
Kebetulan Yang Sangat Kebetulan
114
Terbuka
115
Percakapan Ringan
116
Hamil
117
Kabar Bahagia
118
Azam Mulai Berbohong
119
Harus Bedresh
120
Perjuangan Imam Rumah Tangga
121
Tanganya Kasarr
122
Mencari Tau
123
Vania Hilang
124
Dijodohkan
125
Syarat Bertemu
126
Laki-laki Mirip Azam
127
Mengisi Energi Ala Azam
128
Ngumpul
129
Papa Tiri
130
Kenyataannya
131
Sisi Lain Eka
132
Berakhir Damai
133
Tanggal Cantik
134
Adriane Salsabillah Kusumo
135
Pengumuman Cerita Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!