Sabillah sedang menunggu anak pertamanya pulang dari sekolah, di halaman sekolah terdapat taman bermain anak-anak, jadi dia bisa mengajak Arial bermain disana. Arial terlihat begitu senang, anak itu berlarian kesana kemari tak mau diam.
Saking lincahnya bocah laki-laki itu, membuatnya tak menyadari jika didepanya terdapat batu dan membuatnya tersandung.
"Aduh." rintihnya menahan sakit, anak itu ingin menangis, tapi ditahan. Ingat pesan Bapaknya yang mengatakan jika laki-laki tak boleh cengeng.
Sabillah yang melihat anaknya jatuh ingin membantu, tapi langkahnya terhenti saat ada laki-laki tinggi menghampiri anaknya lebih dulu.
"Ayah." Panggil Arial.
Degh
Sabillah membeku, kenapa anaknya memanggil Adrian ayah?
Belum sadar dari keterkejutannya, Adrian malah menghampiri Sabillah dan menarik Sabillah dalam pelukanya.
"Mama, ayo kita pulang."
Sabillah yang bingung, coba menyadarkan dirinya dalam situasi yang membuatnya sesak. Mana anaknya Eka, mana suaminya Arjuna. Kenapa ada Adrian disini? Dan Arial yang memanggil Adrian dengan sebutan ayah?
Mata Sabillah terbuka lebar, dia langsung menegakkan tubuhnya, mengatur nafasnya yang tersengal.
Sabillah melihat kesamping, ada Arjuna yang masih terpejam dengan begitu damai. Sabillah menghela nafas lega, ternyata tadi dia bermimpi. Sabillah melihat jam dari ponsel, jam dua siang.
Sabillah menyugar rambut panjangnya, kenapa dia tiba-tiba memimpikan Adrian? Ini sudah tujuh tahun berlalu, selama ini, jangankan memimpikan Adrian, mengingat Adrian saja dia tak pernah.
Hanya saja mengetahui sebuah kenyataan beberapa hari lalu dari suaminya, jika wanita hamil yang pernah ia lihat bersama Adrian adalah korban pemerkosaan, Sabill jadi berpikir, apa ini alasan Adrian selalu marah dan menyalahkanya tentang kekasihnya yang menderita karenanya? Jika benar, apakah wanita itu hamil dari kejadian itu?
Sabill membuka ponsel, kemarin dia tak ingin tahu apapun tentang Adrian ataupun kekasihnya, gara-gara mimpi barusan, yang terasa amat nyata dan itu seperti membuat Sabillah seperti lari maraton, akhirnya ia membrowser, mencari tahu nama korban pemerkosaan itu. Sabillah menutup mulut tak percaya, dilihat dari hari dan tanggalnya, jika kejadian itu tepat dihari pernikahan dia dan Adrian.
Sabillah menghempaskan hapenya kesamping, mengusap kedua wajah dengan kedua telapak tanganya, ada rasa bersalah merasuki hati Sabillah. Wajar jika Adrian begitu marah dan menyalahkanya, karena memang dia yang merebut Adrian dalam hidup wanita itu hingga wanita itu harus mengalami yang tak seharusnya ia alami.
Sabillah terasa pusing sekarang, dia ingin ke kamar mandi saja, mencuci muka agar pikiranya yang tiba-tiba stress gara-gara memimpikan Adrian menjadi fresh kembali.
Pergerakan Sabillah yang ingin turun membuat kasur bergetar, dan itu membangunkan Arjuna.
"Sayang, kamu mau kemana?" Laki-laki yang hanya mengenakan kaos putih itu bangun, dan gegas turun untuk membantu sang istri meski kepalanya terasa kliyengan karena nyawanya belum terkumpul sempurna.
"Aku cuma mau pipis, mas." Tapi Arjuna yang sigap, membantu sang istri ke kamar mandi yang ada dikamar mereka. Padahal tadi Sabillah sudah mengatakan jika dia bisa sendiri.
Kalau begini, bagaimana Sabillah tidak takut kehilangan sosok suami yang pengertian dan perhatian seperti Arjuna? Berkali-kali dia mengatakan, meski Arjuna tak kaya, meski Arjuna tak setampan Adrian, dan meski hatinya belum sepenuhnya terpaut dengan laki-laki itu, tapi untuk hidup tanpa Arjuna, Sabillah tak bisa.
Untuk menghilangkan sosok laki-laki yang mati-matian ia lupakan, Sabillah sampai rela memiliki banyak anak dari Arjuna, dan itu bukanlah perkara mudah untuk Sabillah, berharap, dia dengan cepat bisa melupakan sosok laki-laki yang dengan mudahnya singgah dihatinya, dan menetap lama disana, yang begitu sulit untuk Sabill usir, padahal tak ada kenangan indah untuk mereka berdua.
Tadi niat hati hanya ingin buang air kecil, nyatanya Sabillah merasa gerah, dan dia langsung mandi sekalian, tadinya Arjuna ingin ikut mandi, tapi tiba-tiba ponselnya berdering karena ada panggilan masuk. Saat Sabillah selesai mandi, dia keluar kamar, didapatinya Arjuna sedang teleponan dengan seseorang duduk di sofa ruang tamu.
"Aku harap besok kamu bisa datang, Jim. Sudah lama kita tidak ketemu." Arjuna tersenyum saat Sabillah menghampirinya, dia menepuk bagian kosong disebelahnya, meminta Sabillah duduk.
Sambil bicara, Arjuna menggenggam tangan sang istri, mengusap perut besar Sabill, dan mengelus rambut Sabillah penuh sayang. Bahagia sekali Arjuna memiliki istri cantik dan baik seperti Sabillah.
Saking lamanya Arjuna berbincang dengan teman lamanya, Sabillah sampai harus merebahkan kepalanya dipangkuan suaminya. Anak-anak mereka masih tidur, dan sekarang waktunya Sabillah bisa bermanja-manja pada suaminya.
"Udah selesai?" tanya Sabill saat benda pipih itu dijauhkan dari telinga Arjuna.
"Sudah," jawab laki-laki berbadan hitam manis dan tegap itu mengusap kepala Sabillah dengan begitu lembut. "Besok Jimmy mau datang, dia bilang mau memberi kejutan untuk ku."
Meski Sabillah belum dekat dengan teman Arjuna yang bernama Jimmy itu, tapi Sabillah tahu Jimmy, mereka pernah bertemu sekali.
"Kejutan apa? Kamu kelihatan senang?" Sabillah bisa melihat raut senang Arjuna dari bawah.
"Itu kejutan sayang, mana aku tahu?" Arjuna terkekeh, menunduk, menatap wajah caktik istrinya. "Ya aku senang saja, jika ada teman lama yang sudah lama juga tidak pernah ketemu ingin menyempatkan waktu datang keacara kita." Sabillah mengangguk paham.
Sedih memang, Arjuna seperti dirinya, anak tunggal, ada keluarga dari pihak almarhum ayah dan mamanya Arjuna, tapi mereka tinggal di pulau Jawa, jadi sulit untuk datang, karena terkendala ongkos yang lumayan. Mereka disini, benar-benar hidup mandiri, saudara mereka, ya tetangga mereka, serta teman sejawat Arjuna dikesatuan.
Sabillah memang memiliki orang tua yang utuh, tapi karena kesalahanya yang mengambil keputusan sepihak pergi dan meninggalkan Adrian tanpa mengkonfirmasi dulu siapa wanita hamil yang bersama Adrian, dia jadi jauh dari orangtuanya, baru-baru ini Sofyan mulai terbuka pada Sintya, sebab tak ingin Sintya mengganggu kebahagiaan Sabillah. Sekaligus memberi hukuman pada Adrian yang telah menyia-nyiakan putrinya.
Sabillah sendiri, dia tak memiliki teman akrab, cukup hanya sebatas say hallo saja saat ada acara ibu-ibu Bhayangkari. Tak ada yang begitu dekat dengannya, Sabillah memang membatasi diri, tak ada bestie yang sering nongkrong, dia tidak suka melakukan itu.
"Sayang, anak-anak kayaknya masih pada nyenyak. Aku mau jengukin dedek bayi boleh?" Selalu seperti itu, Arjuna selalu izin pada Sabillah jika ingin meminta haknya.
Sabillah mengangguk, jika ada kesempatan untuk Arjuna, dia pasti mengabulkan sebagai baktinya pada suami serta hadiah atas kebaikan Arjuna. Sebab malam-malam juga ada saja gangguanya, saa tiba-tiba Arjuna minta, Komandan meneleponya untuk melakukan penangkapan target incaran mereka.
* * *
Ditempat lain, dikantor Adrian. Berbanding terbalik nasib Adrian dan Sabillah.
Adrian baru saja selesai dengan rapat-rapat kerjanya, dia duduk dikursi, menyenderkan kepalanya disandaran kursi, Adrian begitu lelah. Meski begitu Adrian begitu gila kerja untuk mengalihkan pikiranya tentang Sabillah dan rasa bersalahnya.
Arthur masuk setelah membawa berkas yang harus ditandatangani Adrian.
"Dari kerja sama Anda dengan pak Jimmy, Anda memiliki proyek ke Kalimantan, Tuan. Scedule disana cukup padat, mengingat adanya pembangunan Ibu Kota Nusantara yang dikejar dalam beberapa tahun ini."
Adrian hanya mengangguk, menandatangani berkas kerjasamanya dengan beberapa perusahaan perangkat telekomunikasi.
Melihat hanya respon itu yang diberikan Adrian, Arthur bicara lagi.
"Bukankah pak Jimmy pernah mengajak Anda untuk menghadiri acara teman lama Anda, Tuan?" Arthur mengingatkan.
"Aku tidak berminat," jawab Adrian malas.
"Saran saya, lebih baik Anda ikut kesana. Anda terlalu sibuk bekerja selama ini, tidak ada salahnya jika sekali-kali menghibur diri. Tubuh Anda juga butuh refreshing. Jika Anda terus sibuk bekerja, Anda akan terlihat lebih tua dari usia Anda, dan saya yakin mantan istri Anda sulit mengenali Anda jika bertemu nanti."
Adrian yang sedang sibuk mencoretkan tinta diatas materai itu seketika menatap tajam Arthur, tapi tak ada rasa takut pada asistenya itu.
"Kenapa kamu sekarang jadi banyak mengatur dan banyak bicara?" marahnya, "Apa tugas mu selesai? Aku memerintah mu untuk membuntuti orang tua Sabillah, apakah sudah ada hasilnya?"
"Tidak ada yang bisa dicurigakan dari mereka, mereka benar pergi ke panti, memberi hadiah untuk anak-anak yang membutuhkan disana," jawab Arthur memanipulasi yang dia ketahui.
"Teman-temanya?"
"Mereka juga sama. Selama lima tahun kita mengikutinya, kedua temannya itu tak pernah melakukan pertemuan dengan mantan istri Anda."
Laporan Arthur membuat Adrian menghela nafas panjang.
Kemudian Adrian kembali menyandarkan tubuhnya dikursi, Adrian memejamkan matanya, entah dosa apa uang ia perbuat, ia rasa dia tak terlalu kejam pada Sabillah dulu. Tapi kenapa semakin hari, dia semakin tersiksa merindukan Sabillah.
Arthur yang melihat wajah putus asa Adrian bertekad, sebisa mungkin dia merayu Adrian untuk bisa menghadiri acara temannya itu.
Ketukan pintu membuat Arthur memutar tubuh dan melangkah membuka pintu. Tamu mereka sore ini adalah mantan kekasih Adrian.
"Maaf mengganggu, aku mau bertemu Adrian." pandangan Arthur berpindah pada sosok anak kecil yang digandeng wanita tersebut.
"Hai Om. Boleh aku bertemu papa ganteng?" ucap anak kecil itu. Arthur menoleh kebelakang, melihat majikannya sepertinya sedang tidak ingin diganggu.
"Tapi sepertinya waktunya tidak tepat."
Tapi tamu mereka seperti tidak mau mendengar kata Arthur, dia menerobos masuk.
"Adrian, maaf. Tapi anakku sangat ingin bertemu dengan mu."
"Ajeng?" Adrian terperanjat mendengar suara Ajeng.
Dibelakangnya Arthur mengikuti dan coba menjelaskan pada Adrian jika dia sudah mencegah keduanya, tapi Adrian yang paham langsung mengangkat tanganya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 135 Episodes
Comments
Khairul Azam
baru ingat aku, aku udah pernah baca novel ini, klo gak salah nanti arjun meninggal dan salbila kembali sama adrian
2025-03-28
0
Anna
idih g sadar diri
2024-09-03
0
Anna
padahal udah di jahatin kok bisa jatuh cinta
2024-09-03
0