Waktu bulan madu Sabillah dan Adrian sudah selesai. Edo, peran pengganti Adrian sudah kembali lebih dulu.
Sabillah menunggu Adrian di bandara Soeta, sudah setengah jam lebih dia menunggu laki-laki yang berstatus suaminya itu. Sabillah mentertawakan dirinya yang begitu sabar menunggu laki-laki yang tidak menghargainya sama sekali, padahal dia termasuk orang yang tidak mau ditunggu ataupun menunggu.
Kali ini dia membiarkan seorang Adrian Mangku Kusumo membuatnya menunggu selama ini. Sabillah menoleh saat merasa ada seseorang duduk disampingnya.
"Aku sudah buat status di semua media sosial ku sebagai bukti kepada orang tua mu, jika kita benar pergi kesana, dan sudah aku kirim semua ke nomor kamu," kata Sabillah memberi tahu pada lawan bicaranya. Kemudian dia berdiri, menarik kopernya. Tak ingin berlama-lama juga ngobrol dengan suaminya.
"Kamu cocok jadi model majalah dewasa, kenapa bukan kamu yang harus merasakan yang saat ini Ajeng rasakan?" ucap Adrian melihat foto Sabillah yang berpose seksi, Sabillah hanya mengenakan short, dan tangtop, sangat dekat dengan Edo. Membuat langkah Sabillah terhenti.
Hatinya sakit mendengar penuturan Adrian yang menghinanya. Sabillah menelan ludah kasar. Tapi kemudian dia melangkah menuju parkiran tempat mobil yang menjemputnya, tak ingin berdebat dengan Adrian yang tak menghargai usahanya yang bersusah payah menutupi kebohongannya.
Melihat jika nyonya Ninawati sudah menunggu mereka, terpaksa Sabillah memutar balik, menunggu Adrian.
"Bawa kopernya, ada mama kamu," perintahnya saat Adrian sudah dihadapanya.
Adrian menaikkan sebelah alisnya.
"Siapa kamu memerintah ku? Meski kamu sudah menutupi kebohongan ku, aku tidak mau melakukannya. Pernikahan kita terjadi karena kamu, aku tidak merasa berhutang budi padamu," sengit Adrian. "Jangan besar kepala," katanya lagi. Melewati Sabillah begitu saja.
Sabillah memejamkan matanya, menarik nafas. Dia tak tahu apa dia bisa bertahan dua tahun apa tidak jika sikap Adrian begini?
Sepanjang perjalanan pulang, Sabillah dengan sabar meladeni pertanyaan nyonya Ninawati, dan menyahuti ucapanya. Sabillah terenyuh, terlihat jika Mama Adrian begitu menyayanginya, rasa bersalah menyusup dihati Sabillah, apalagi mama Adrian sangat mengharapkan cucu darinya.
"Mama berharap, setelah honeymoon ini, ada cucu Mama yang tumbuh disini," ucapnya mengusap perut Sabillah. Kemudian nyonya Ninawati kembali melihat foto-foto honeymoon Sabillah yang Sabillah posting di sosial medianya. Sabillah hanya dapat menganggapi dengan senyuman tipis.
Maafkan kami, Ma. Kami tidak Alan bisa memenuhi keinginan Mama.
Sampai dirumah, Sabillah juga disambut oleh keduaorang tuanya. Sabillah makin merasa bersalah, melihat wajah bahagia kedua orangtuanya dan orang tua Adrian.
"Kamu sehat nak?" peluk Sintya yang tanpa ia sadari jika badan anaknya mulai terlihat lebih kuruh itu.
"Sehat, Ma. Mama sama Papa, gimana?" Sabillah melepaskan pelukannya, berpindah memeluk papanya.
"Kami sehat, Nak. Lebih sehat lagi kalau sudah mendengar suara bayi," ucap pak Sofyan, papa Sabillah. Seketika senyum Sabillah memudar, semua orang berharap bayi padanya. Hal yang mustahil terjadi.
Adrian tak perduli itu, setelah menyalami mertuanya, ia melengos naik ke kamarnya, tanpa memperdulikan kopernya dan Sabillah masih ter-onggok dilantai bawah.
"Jangan terlalu dipikirkan, kami hanya bergurau Nak." Usap papa Sofyan bahu anaknya. Dia melihat Adrian yang melangkah menaiki anak tangga, kemudian pandanganya beralih pada koper yang masih berdiri di dekat tangga.
Pukul sembilan malam, kedua orang tua Adrian dan Sabillah sudah pulang.
Selama diperjalanan, pak Sofyan terus diam, ia terpikirkan sikap Adrian yang tidak mau membawakan koper milik anaknya. Sebagai seorang lelaki, ia tahu dan paham jika Adrian tidak menyukai Sabillah. Ditambah tak ada pembantu rumah tangga yang mengurusi rumah mereka.
"Papa kenapa? Dari tadi diem aja?" tanya Sintya, menatap suaminya yang menatap luar jendela, melihat pemandangan tenda-tenda kaki lima yang berjejer dipanggir jalan.
"Nggak papa. Papa cuma kepikiran sama anak kita, apa dia bahagia dengan pernikahannya?" ucapnya sambil mengusap wajahnya dengan kasar, hingga mukanya memerah.
"Papa percaya saja sama Adrian. Adrian pasti bisa membahagiakan Sabillah, meski awal-awal dia cuek dan dingin dengan Sabillah. Nanti juga dia bucin sama anak kita." Sintya mengusap bahu suaminya, lalu menggeser duduknya merapat pada sang suami, lalu menyandarkan kepalanya di pundak pak Sofyan.
"Kita nggak lama lagi pasti dapat cucu, Pa. Sabillah pasti kayak Mama, kosong sebulan langsung hamil," kata Sintya penuh keyakinan.
"Semoga yang Mama ucapkan benar,dan Adrian memperlakukan Sabillah dengan baik," ucap pak Sofyan penuh harap. Dalam hati, ada rasa sesal ia memaksakan Sabillah menikah dengan Adrian.
* * *
Setelah rumahnya sepi, Adrian bersiap akan pergi lagi, tanpa pamit pada Sabillah, dia keluar mengendarai mobil sedanya. Adrian selalu menyetir sendiri kemanapun, tak ada supir dirumahnya.
Sabillah juga tak bertanya, karena memang dari pertama perjanjian mereka, mereka tak boleh saling mengurusi urusan masing-masing. Untung Sabillah wanita karir, bukan wanita rumahan, jadi dia tak terlalu terpikirkan dan tersiksa perihal ini.
Esok harinya Sabillah sudah aktif lagi masuk ke kantor. Saat akan berangkat, dia tak melihat ada tanda-tanda Adrian pulang. Sabillah mencoba abai, diapun pergi bekerja seperti biasanya dengan mengendarai mobilnya sendiri.
Sabillah bekerja di perusahaan jaringan telekomunikasi, ia menjabat sebagai wakil keuangan, jabatan yang lumayan tinggi diusia Sabillah yang masih muda.
Keluar dari lift, Sabillah menuju keruangannya, yang berada dilantai lima bekas tower milik keluarga Mahardika, corp. Langkah Sabillah terhenti saat baru memasuki ruangannya, seketika ruangan itu riuh oleh tembakan confetty paper yang ditembakkan keudara hingga potongan kertas kecil warna-warni itu menghiasi kepala Sabillah. Tangan Sabillah terangkat menutupi kepalanya.
"Selamat datang pengantin baru," ucap teman-teman Sabillah. Mereka yang tak sempat menghadiri pernikahan Sabillah, menghampiri Sabillah dan memberi selamat, dan memberikan hadiah pernikahan untuk Sabillah.
Dikantor inilah Sabillah akan merasa sangat disayangi dan dihargai, dan di kantor ia akan melupakan segenap permasalahan rumah tangga yang dijalaninya. Tak perlu berlama-lama, setelah meletakkan kotak hadiah pernikahan, Sabillah langsung tenggelam oleh tumpukan tugas yang sudah menantinya, akibat cuti yang terlalu lama.
"Cieee, yang habis bulan madu, mukanya berseri-seri," ledek Vania, teman Sabillah.
"Wus-wus, sana jauh-jauh. Jangan ganggu-ganggu dulu," usir Sabillah menggerakkan tanganya seperti mengusir ayam tanpa menoleh kearah Vania. Dia benar-benar sibuk.
"Cerita donk sedikit gimana rasanya hilang keperawanan," Vania masih terus menggoda Sabillah.
Sabillah tergelak, teman satunya ini memang rada-rada.
"Astaga, Van. Eling-eling, tar kalo lo pengen mau minta ama siapa, hayo?" tukas Sabill.
"Edo mau gak ya, kencan buta sama gue?"
"Lo tanya sendiri, gih." Sabillah fokus pada angka-angka didepanya dengan jemari yang terus menari di atas keyboard.
"Lo waktu ngajak dia honeymoon, nggak nyolong star duluan kan, Bill?" Sabillah seketika menghentikan ketikanya, dan merotasikan mata pada Vania.
"Ya kali, lo teman durjana yang suka makan pagar."
"Van, kamu di gaji buat kerja, apa buat ngerumpi?" Tegur pak Budiman, atasan Sabillah, kepala keuangan.
"Iya, ya Pak. Saya balik," sahut Vania mengerucutkan bibirnya.
Saking sibuknya, dikejar pekerjaan, Sabillah sampai melewatkan jam makan siangnya. Beruntung dia memiliki sahabat pengertian seperti Edo, dan Vania. Keduanya membawakan Sabillah makanan untuk makan siang Sabillah.
Sabillah pun menghabiskan makanan cepat saji itu sambil mengerjakan tugasnya. Benar-benar karyawan teladan yang penuh loyalitas.
"Bill, laporan bulan januari sudah selesai belum? Sebentar lagi, atasan PT. Royal Golden akan datang," ujar pak Budiman mengintruksi.
"Lima menit lagi, Pak."
"Saya tunggu di ruangan saya," ujar laki-laki berbobot seratus lima puluh kilo kurang lima ons itu, sambil berlalu menutup pintu ruangannya.
Sabillah bisa menyelesaikan tugasnya tepat waktu. Dia memutar tubuhnya ke kanan ke kiri, meregangkan otot-ototnya yang kaku akibat duduk seharian ini. Saat akan duduk dikursinya, Sabillah melihat Adrian datang bersama sekretarisnya, wanita itu berpakaian minim dan terlihat sangat seksi menuju ruangan atasan Sabillah.
Dia lupa jika pemimpin Royal Golden itu suaminya sendiri. Hati Sabillah berdenyut, sangat tak enak saat bertemu dengan suami tapi bagai orang asing yang tak saling mengenal.
"Lo yakin bakal bertahan dua tahun?" bisik Vania mendorong kursi berodanya menghampiri meja Sabillah. Melihat wajah Sabillah yang tak bisa menutupi rasa sakitnya.
Vania dan Edo adalah sahabat Sabillah yang tahu segalanya permasalahan Sabillah, mereka juga tahu rumah tangga yang dijalani Sabillah dan Adrian.
"Kita lihat aja nanti," sahut Sabillah sok cuek. Kembali fokus pada layar didepanya yang masih menyala.
"Ingat, lo harus bangun tembok tinggi, biar gak bisa dinaiki sama tuh laki-laki sok ganteng, empet gue liat mukanya," gerutu Vania yang sangat membenci Adrian. Mau setampan apapun itu Adrian, jika menyakiti sahabatnya, Vania tak terima.
Tak lama, pintu ruangan atasan Sabillah terbuka, Adrian keluar tanpa melihat kearah Sabillah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 135 Episodes
Comments
Mhyta
maaf br sempat koment.. izin mampir lg yah thor
2025-03-10
0
Rachmawati 8281
bikin dinding yang tinggi dan kokoh ya Bill biar ga gampang diruntuhkan ma c Adrian ga ada akhlak
lanjoot kak
2023-04-07
0
Almiraaa Nasution
Thor, kok belum up lagi? Penasaran sama kelanjutanya
2023-03-19
0