Sabill benar-benar tidak bisa menghindar dari Adrian, laki-laki itu kini malah mengajaknya ke restoran vip. Jika Sabill menolak Adrian mengancamnya memberi tahu Arjuna jika mereka sebenarnya mantan suami istri, Sabillah belum siap akan hal itu.
Berdua dengan laki-laki lain diruang tertutup membuat Sabillah merasa mengkhianati suaminya dan pernikahanya meski tidak terjadi apa-apa pada mereka. Sabillah sampai menolak tawaran makan Adrian karena dia ingin cepat pulang.
Sepuluh menit mereka hanya saling diam, baik Sabillah maupun Adrian sama-sama bingung harus memulai dari mana. Susah payah Adrian mengatur ritme jantungnya yang berdebar tak karuan.
"Aku tidak punya waktu banyak. Tolong cepat katakan apa yang ingin Anda katakan." Akhirnya Sabillah menecah keheningan.
Meski belum sepenuh hatinya mencintai Arjuna, Sabillah takut menyebut nama laki-laki lain. Beruntung Arial tidur, jadi anaknya tidak akan menceritakan pertemuanya dengan Adrian yang tidak sengaja ini pada Arjuna.
Sudut Adrian terangkat, Sabillah seperti tak sudi bertemu dengannya.
"Apa aku harus jadi pebinor agar aku punya waktu lama bicara berdua dengan mu, Sabill?"
Padahal dia juga bingung mengapa mengajak Sabillah bertemu, seperti mantan pacar yang lama tidak bertemu, sekali bertemu ingin menghabiskan waktu berdua cukup lama, menatap wajah sang pujaan hati hingga puas. Tapi sayangnya wanita yang ia ajak bertemu, bukan pacarnya, melainkan istri sahabat kecilnya.
"Tolong jaga bicara, Anda." Bentak Sabillah dengan tatapan tajam.
"Anak mu akan bangun, Sabill. Pelankan suara mu." Adrian menatap Arial dipangkuan Sabillah. "Apa kamu sampai lupa nama ku?" Kembali menatap Sabillah.
"Aku harus cepat sampai rumah. Tolong jangan terlalu banyak basa-basi." Sabillah tak tenang.
"Sudah lama tidak bertemu, aku pikir kamu sudah berubah jadi ramah. Apa memang sejak lahir kamu memiliki sifat jutek, Sabill? Tapi sayangnya aku suka sifat jutek mu itu." Adrian menatap Sabillah dengan tatapan dalam.
Dia merindukan istri orang.
Sabillah semakin tidak nyaman, apa maksud ucapan laki-laki ini?
"Apa kabar mu, Sabill?"
"Baik."
Adrian terkekeh.
"Iya, aku tahu. Kalau sakit mungkin kamu sudah berada dirumah sakit." Adrian terus menatap Sabillah yang enggan menatapnya.
Sabill menunduk, merapikan rambut Arial yang tidak berantakan. "Tidak lucu sama sekali." Bicara dalam hati.
Adrian berdehem, setelah mengatakan ucapan receh. Ia jadi malu pada Sabillah.
"Apa kalau kita tidak bercerai, kita akan memiliki tiga anak seperti ini, Sabill?" Pertanyaan itu muncul begitu saja.
Sabillah mengangkat pandangannya, menatap tajam Adrian. "Maaf, aku harus pulang. Suami ku pasti sudah pulang." Sabillah berdiri.
"Tuhan sudah menghukum ku, Sabill." Adrian berkata, Sabillah yang ingin beranjak tak jadi, dia diam masih sambil mengendong anaknya.
"Tujuh tahun aku mencari mu, Sabillah. Hampir seluruh negara aku kunjungi agar demi bisa menemukan kamu. Bahkan setiap hari aku menemui orang tuamu, meminta maaf atas segala kesalahan ku."
Sabillah menelan ludah, entah apa maksud Adrian mengatakan itu?
"Tapi setelah menemukan kamu disini, dan bertemu kedua orang tuamu, aku merasa seperti dibodoh-bodohi oleh orang tuamu." Adrian mentertawakan dirinya sendiri.
"Mereka hanya melindungi anak mereka dari laki-laki berhati kejam."
Adrian mengangguk, dia mengakui itu.
"Duduklah dulu, tangan mu akan sakit. Nanti anak mu jatuh." Adrian berdiri, menyentuh tangan Sabillah. "Kita luruskan kesalah pahaman kita." Bak dihipnotis, Sabillah menurut, memberikan Arial pada Adrian yang mengendongnya. Layaknya seorang ayah, dengan sangat perlahan Adrian membaringkan Arial di sofa empuk yang di dudukinya.
"Aku tidak akan minta maaf, karena semua sudah terjadi, dan tidak akan mengembalikan semua yang terjadi, segala yang aku lakukan memang sangat melukai hati mu, Sabill. Kamu sudah menikah, dan itu hukuman yang harus aku terima. Tapi banyak yang sudah aku lalui saat kamu meninggalkan ku."
Sabillah mendengarkan dengan baik sambil meremas tanganya.
Adrian ingin menceritakan jika orang tuanya sudah meninggal, tapi ia urungkan. Sabillah pasti akan sangat merasa bersalah, mantan istrinya ini sedang hamil besar.
"Selamat atas pernikahan mu," ucap Adrian tulus, "dan atas kehamilan ketiga mu."
"Terima kasih."
"Mungkin sudah terlambat, Sabill. Tapi aku ingin meluruskan kesalah pahaman antara kita, jika wanita hamil yang kamu lihat saat bersama ku itu bukan istriku. Ajeng memang hamil, tapi bukan hamil anak ku, dia diperkosa di hari pernikahan kita, itu sebabnya aku membenci mu saat itu."
"Maaf."
Sabillah meminta maaf telah meninggalkan Adrian dalam kesalah pahaman itu. Dan dia sudah tahu karena suaminya lah yang mengangkap laki-laki yang memperkosa Ajeng, karena kebetulan laki-laki itu juga merupakan pengedar obat terlarang dan sudah menjadi incaran polisi sejak lama, dan baru tertangkap setelah tujuh tahun.
"Kamu tidak perlu minta maaf, semua memang salah ku. Dan aku menyadari jika aku ... " Ingin mengakui jika dia sudah sangat mencintai Sabillah, tapi situasinya sudah berbeda, Sabillah sudah menjadi istri sahabatnya.
"Aku merasa kehilangan setelah kepergian mu."
Itu yang dapat Adrian akui. Adrian mencoba mengikhlaskan Sabillah, dulu dia sudah menyakiti hati Sabillah dengan tidak memperhatikan Sabillah saat menjadi istrinya, tidak mungkin dia menghancurkan kebahagiaan Sabillah jika memaksakan merebut Sabillah dari Arjuna, meski dengan sangat mudah baginya jika dia ingin memiliki Sabillah lagi.
* * *
Sabillah pulang terlambat, saat sampai dirumah, Arjuna dan Eka sudah pulang.
"Umak dari mana? Lama sekali keluarnya?" rengek Eka yang kesal menunggu kepulangan Sabillah. Anaknya itu sudah mandi.
"Maafkan Mama sayang, tadi Mama sekalian jalan-jalan sama Adek." Mengusak kepala Eka. "Kamu sudah makan, Mas?" Arjuna keluar dari kamar, suaminya itu sepertinya habis mandi, terlihat rambutnya yang masih basah.
"Sudah, kamu beli apa?" Melihat dua paperbag besar yang tergeletak didekat Sabillahm
"Belanja persediaan buah, dikulkas sudah habis."
"Maaf kalau aku tadi keluarnya lama, jadi nggak bisa antar kamu."
"Nggak papa, Mas." Sabill menyadari wajah suaminya, Arjuna seperti sedang banyak pikiran. "Ada masalah?"
"Nggak ada, sayang. Cuma kecapean aja, habis magrib nanti aku ada misi lagi, doakan semua lancar ya?"
Sabillah mengangguk, mengikuti langkah Arjuna menuju dapur, suaminya itu langsung mencuci buah yang dibelinya tadi. Melihat buah itu membuat Sabill ingat dengan pertemuanya tadi dengan Adrian, dan Adrian yang membayar buah itu.
Malam ini Sabillah masih ditemani Sintya dan pak Sofyan dirumahnya saat Arjuna sudah berangkat menjalankan tugasnya. Mereka sedang berkumpul di ruang tamu sambil menemani anak Sabillah yang sedang bermain di karpet.
Di luar hujan lebat, Sabillah teringat suaminya yang katanya tadi ada misi menangkap bandar narkoba yang berasal dari negeri singa yang akan menyelundupkan obat terlarang melalui pelabuhan yang sudah menjadi incaran mereka sejak lama.
"Kamu kelihatan gelisah, Nak." Pak Sofyan melihat kegelisahan di wajah Sabillah.
"Nggak papa, Pa. Kepikiran sama mas Arjuna kalau lagi ada misi malam."
"Doakan yang terbaik untuknya, dia sedang menjalankan tugas yang mulia."
"Kamu sering ditinggal begini kalau malam, Bill?"
"Kalau lagi ada tugas malam aja, Ma."
"Kalau dia sering ninggalin kamu begini mending kamu ikut Mama pulang ke Jakarta aja, Bill. Ada pengasuh yang bantu kamu mengasuh anak kamu."
"Nggak bisa begitu, Ma. Sabillah harus selalu ikut suaminya kemanapun suaminya ditugaskan. Masalah pengasuh, Papa rasa kamu butuh tenaga pengasuh, Nak. Biar kamu tidak kecapean, nanti Papa yang akan bicarakan sama Arjuna."
"Iya, Pa. Nanti biar Sabillah sendiri yang bicarakan dengan mas Arjuna." Entah kenapa Sabillah merasakan gelisah malam ini, pikiranya selalu tertuju pada Arjuna.
"Apa gara-gara pertemuan aku dengan Adrian tadi ya, jadi kepikiran terus sama mas Arjuna?"
Beruntungnya kegelisahan Sabillah terjawab dengan pulangnya Arjuna pagi pagi itu.
"Mama sama Papa sudah berangkat sayang?" Arjuna mencium kening istrinya.
"Sudah, Mas."
"Maaf aku tidak mengantar Mama sama Papa kamu."
"Nggak papa, Papa ngerti kok sama tugas kamu."
"Semakin minus saja aku dimata Mama kamu." Sabillah yang sedang membantu melepaskan seragam suaminya menghentikan kegiatanya.
"Kok kamu ngomong begitu?"
"Jangan salah paham. Maksud ku, aku semakin buruk tidak bisa mengantar mereka pulang."
"Kamu tidak mengantar mereka pulang, tapi kamu membelikan tiket buat mereka. Aku nggak enak sama kamu."
"Itu sudah jadi tugas ku."
Hari ini, Sabillah masih menyiapkan sarapan untuk Adrian, membuatkan kopi dan pisang goreng kesukaan suaminya. Siangnya juga mereka masih sempat belanja kekurangan kebutuhan baby melalui online karena Sabillah tahu suaminya butuh waktu istirahat.
Hanya belanja kekuranganya saja, sebab pakaian lama anak mereka masih ada yang bisa di gunakan. Hingga siang hari Sabillah tidur bersama kedua anaknya.
Arjuna mendapat telepon seseorang, dia keluar kamar dan duduk di sofa.
"Kamu butuh uang banyak demi mertua mu bukan? Maka tutup mulut."
"Aku tidak butuh uang itu, Pak. Aku ingin hak kami, jabatan atas keberhasilan kami."
"Aku akan menukarnya dengan sejumlah uang yang besar. Semua teman mu sudah menyetujui itu."
"Tapi aku tidak?"
"Percuma, sebentar lagi akan press release. Kamu hanya tinggal sendiri, jangan keras kepala."
Arjuna mematikan panggilan. Dia menghubungi seorang temanya.
"Kita berdua yang akan melawan keadilan ini." Itulah yang dikatakan Arjuna sebelum dia mematikan panggilanya.
"Eka? Kamu belum tidur, Nak?" Eka kedapatan mengintip didepan pintu.
"Eka tidak bisa tidur." Rengek bocah cantik itu.
"Sini, bobok sama Bapak, ya?" Arjuna mengendong anaknya ke kamar, menemani anaknya itu hingga tertidur. Setelahnya Arjuna membangunkan Sabillah, dan berpamitan akan pergi sebentar.
"Kerumah siapa, Mas?"
"Kerumah Tio. Ada yang ingin kami bicarakan." Sabillah mengangguk, entah mengapa dia berat melepas Arjuna pergi.
Ya Tuhan, semoga tidak terjadi apa-apa sama suami ku.
Sabillah merasa ada yang Arjuna tutupi darinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 135 Episodes
Comments
Femmy Femmy
kasihan Arjuna..jangan sampai Arjuna end ceritanya😢
2024-04-08
2
Walid Cing
jangan dibikin end dong thooooooooor Juna nyaaa...🤧🤧
2023-05-08
0
Rachmawati 8281
semoga Arjuna ga kenapa", khawatir Arjuna dijahatin karena ga mau kerjasama, Arjuna baik bgt jadi Ayah dan suami ...
lanjoot kak
2023-05-08
0