...༻◩༺...
Raquel langsung mendorong Julio. Hingga pelukan lelaki itu terlepas. Saat itulah Luiz memukul kepala Julio.
"Sama ibu sendiri kau masih sempat-sempatnya cabul!" kritik Luiz.
"Aku hanya bertanya! Kenapa kau memukulku? Ugh... Menyebalkan," protes Julio seraya memegangi kepalanya yang kena pukul.
"Ayo aku antar kau ke kamar." Luiz melingkarkan tangan ke leher Julio. Lalu menyeret sang adik untuk pergi ke kamar yang telah dipesan.
Sementara itu, Raquel mengikuti dari belakang. Dia langsung kembali ke kamar. Raquel mencoba menghubungi Romi. Mengingat Felipe tidak menanggapi panggilannya.
"Ada apa, Nona?" sambut Romi dari seberang telepon.
"Maaf mengganggu. Aku hanya ingin memberitahu kalau kami semua sampai dengan selamat di Meksiko," ujar Raquel.
"Baiklah. Aku akan memberitahukannya pada Tuan Felipe nanti," sahut Romi yang mengerti.
"Terimakasih," ungkap Raquel. Dia segera mematikan panggilan telepon.
Di sisi lain, Luiz terjebak dengan Julio. Dia harus menunggu adiknya tertidur jika ingin pergi ke kamar Raquel. Julio terlihat sangat asyik bermain ponsel.
"Bisakah kau berhenti dan tidur!" geram Luiz sembari mencoba mengambil ponsel milik Julio.
"Aku tidak bisa tidur sekarang. Ini masih jam sepuluh," sahut Julio.
"Sok keren," komentar Luiz seraya telentang membelakangi Julio. Bukannya menunggu sang adik tidur, justru dia yang memejamkan mata.
Tanpa sadar Luiz tertidur. Hal serupa juga dilakukan Raquel di kamarnya.
Satu hari berlalu. Setelah bermalam di hotel, Raquel, Luiz, dan Julio harus pergi ke kota Della Cruz. Mereka juga tidak lupa memberi kabar kepada Felipe. Kini ketiganya sedang ada di kereta. Dalam perjalanan menuju rumah mertua Felipe.
"Apa menurut kalian kedatanganku tidak akan membuat marah nenek kalian di Della Cruz?" celetuk Raquel. Sejak tadi dia gelisah memikirkan itu.
"Mungkin," sahut Julio. Tersenyum miring.
"Jangan percaya perkataan Julio. Keluarga mendiang ibu di Della Cruz sangat baik. Mereka juga tahu kalau ayahku menikah lagi," ujar Luiz. Mencoba menenangkan Raquel.
"Wah! Ada apa ini? Aku rasa rencanaku tadi malam berhasil. Kalian berdua jadi akur sekarang," komentar Julio seraya menatap Luiz dan Raquel secara bergantian.
"Ya, kami memang sangat akur sekarang. Jadi tutup saja mulutmu itu." Luiz mengacak-acak puncak kepala Julio. Keduanya kembali melakukan perdebatan tak berguna. Raquel hanya tergelak melihatnya.
Selang satu jam lamanya, kereta sampai di tempat tujuan. Raquel, Luiz, Julio disambut oleh Clara. Wanita yang tidak lain adalah mertuanya Felipe.
Tidak seperti dugaan Raquel. Clara menyapanya dengan ramah.
"Kau pasti Raquel. Felipe sudah bercerita banyak tentangmu." Clara berpelukan dengan Raquel. Perlahan mereka saling melepas pelukan. Clara memegangi wajah Raquel dan mengamatinya dengan serius. "Kau memang mirip dengan Imelda," imbuhnya.
"Itulah yang sering dikatakan Tuan Felipe kepadaku," sahut Raquel sembari tersenyum tipis.
"Aku harap kau bisa menjaga Felipe dengan baik. Dia lelaki yang sangat baik," tutur Clara.
Raquel langsung saling melirik dengan Luiz. Kejadian yang mereka lakukan tadi malam, membuat perasaan bersalah seketika muncul.
"Aku akan berusaha," kata Raquel. Dia dan yang lain segera dibawa ke rumah Clara. Menelusuri kota kecil Della Cruz. Terlihat suasana Día de muertos menyelimuti kota. Ada banyak sekali bunga marigold yang menghiasi. Baik itu di dinding bahkan di meja-meja toko.
Melihat suasana kota yang begitu khas, Raquel segera menyalakan kamera. Dia merekam segala hal yang juga dilihatnya.
"Apa perlu sampai di rekam?" tanya Luiz.
"Aku dan teman-temanku punya projek film baru terkait día de muertos. Jadi aku memanfaatkan ini untuk membuat dokumentasi," jawab Raquel.
"Ide yang bagus," tanggap Luiz.
Sesampainya di rumah Clara, Raquel dan yang lain di antar ke kamar masing-masing. Mereka juga dipersilahkan melihat ruangan khusus sesaji untuk orang mati. Raquel masuk ke ruangan tersebut. Dia mengambil foto bagaimana tampilan ruangan itu dirias.
Usai mengambil foto, Raquel mendekati foto Imelda. Mendiang istrinya Felipe yang disebut mirip dengannya.
"Dia jelas lebih cantik dariku," puji Raquel sambil memandangi figura berisi foto Imelda.
"Bagiku kau lebih cantik," celetuk suara lelaki dari belakang.
Raquel lantas menoleh. Dia melihat Luiz bergabung dengannya.
"Jangan coba-coba menggodaku lagi," tukas Raquel sambil geleng-geleng kepala.
"Aku memang akan menggodamu," sahut Luiz. Dia berjalan lebih dekat ke hadapan Raquel. Hingga Raquel terpojok ke depan meja.
"Luiz, kau pasti sadar kalau apa yang kita lakukan tadi malam adalah kesalahan besar," ujar Raquel.
"Aku tahu. Tapi aku juga tahu kau bahagia dan menikmatinya..." kata Luiz. Perlahan ibu jarinya menyentuh bibir Raquel. Menekan bibir bawah berwarna merah muda alami itu sampai membuatnya menganga.
Raquel reflek memejamkan mata. Sebab apa yang disentuh Luiz merupakan salah satu titik paling sensitif di tubuhnya. Sebagai mantan kekasih, Luiz sangat mengetahuinya.
Senyuman nakal mengembang di wajah Luiz. Setelah ke bibir, jari-jemarinya turun menjamah leher dan berhenti ke dada. Dengan jemari yang merekah lebar, Luiz menyentuh ujung kedua buah dada Raquel sekaligus.
Raquel berjengit. Dia reflek menggigit bibir bawahnya. Raquel tak bisa menahan sentuhan Luiz.
"Lihat! Kau sangat menyukainya," ucap Luiz. Tangannya sekarang meluncur semakin ke bawah. Menyentuh perut Raquel yang langsing dan mulus. Sambil melakukan itu, Luiz menggigit kuping Raquel.
"Luiz..." Raquel mendongakkan kepala. Tubuhnya menggeliat sejenak karena sudah terpancing godaan Luiz.
"Kita sedang ada di depan foto mendiang ibumu sekarang..." lirih Raquel.
"Aku tahu... Justru itulah yang aku inginkan. Aku ingin tahu ibuku bahwa suaminya menikahi perempuan yang salah. Karena perempuan itu seharusnya menjadi milikku," bisik Luiz. Dia menatap lekat Raquel. Dalam keadaan jarak beberapa senti saja.
Waktu seolah berhenti. Raquel dan Luiz saling terdiam sembari bertukar pandang.
"Kumohon, izinkan aku menjalin hubungan lagi denganmu..." ungkap Luiz. "Cium aku jika kau setuju," tambahnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments
Aini Chayankx Ahmad N
ahhhhhh aku berteriak kesel kak
2023-03-17
1