...༻◩༺...
Nafas Raquel dan Luiz mulai memburu. Mereka tenggelam dalam gairah yang menggebu-gebu. Tangan keduanya tak berhenti menjamah tubuh satu sama lain. Sampai berhenti ke titik paling sensitif. Yaitu alat vital.
"Ini salah..." desis Raquel. Saat ciumannya dan Luiz terhenti. Sebab mereka perlu mengambil nafas agar bisa terus lanjut.
"Justru karena ini salah, gairah kita berdua sama-sama menggila. Ini ciuman terpanas yang pernah kulakukan..." balas Luiz. Disela-sela helaan nafas yang naik turun dengan cepat. Dia kembali melahap bibir Raquel. Tak kuasa menghentikan kegiatan intim yang berlangsung. Jari-jemari Luiz bahkan sudah menyusup ke balik celana dallam Raquel.
Raquel tersudut ke ranjang. Dia dan Luiz menjatuhkan diri ke sana. Luiz dengan sigap melepas celana jeans.
"Luiz!" panggil Raquel yang tak mau menunggu. Dia menarik tangan Luiz. Padahal lelaki itu tengah sibuk melepas celana yang tersisa.
Raquel mendorong Luiz telentang. Mengambil posisi di atas badan lelaki tersebut. Dia kembali memadukan bibirnya dengan mulut Luiz. Bergumam nikmat bersama.
Perlahan tangan Luiz meraih pengait bra yang dikenakan Raquel. Dia berusaha melepas bra tersebut.
Bersamaan dengan itu, suara ketukan dari pintu terdengar.
"Nona Raquel?" orang yang datang adalah Romi. Raquel dan Luiz dapat mengenal jelas suaranya. Mereka sontak gelagapan. Langsung menghentikan kegiatan panas yang sempat terjadi.
Raquel buru-buru mengenakan dress. Sementara Luiz bergegas memakai celana jeansnya.
"Aku akan sembunyi!" seru Luiz. Dia segera masuk ke kamar mandi. Sedangkan Raquel berjalan ke arah pintu. Ia tak lupa merapikan rambutnya yang acak-acakan karena ulah Luiz.
Pintu dibuka oleh Raquel. Wajah lelah Romi langsung menyambut.
"Tuan Felipe menyuruhku untuk memeriksamu. Dia katanya tadi mendengarmu berteriak," ujar Romi.
"Ah, itu. Tadi ada kecoak di kamarku. Tapi sekarang sudah pergi karena bantuan Luiz," sahut Raquel. Jujur saja, dia berupaya keras menutupi nafas yang masih sulit dikontrol.
"Syukurlah kalau begitu." Romi merasa lega.
"Iya, kau bisa beristirahat sekarang. Aku juga ingin segera tidur. Aku nanti akan menjelaskannya pada Tuan Felipe. Apa dia terbangun karena teriakanku?" Raquel menatap penuh tanya.
"Mungkin. Akan lebih baik kau sendiri yang mengatakan langsung bahwa kau baik-baik saja," jawab Romi.
"Ya, kau benar. Aku akan menemuinya kalau begitu." Raquel menutup pintu. Ia segera pergi menemui Felipe ke kamar.
Di waktu yang sama, Luiz menghela nafas panjang. Dia perlahan menengok ke organ intimnya. Alat vital Luiz sedang dalam keadaan berdiri tegak.
"Sial!" rutuk Luiz. Dia tentu sangat ingin bercinta dengan Raquel. Namun logikanya terus menepis kalau itu adalah kesalahan besar. Terlebih sang ayah dalam keadaan sakit sekarang. Luiz tak mau menjadi anak kurang ajar.
"Aku tidak bisa melanjutkannya." Memang sempat terjadi pergolakan batin dalam diri Luiz. Tetapi di akhir dia memilih pergi dari kamar Raquel. Dia akan memanfaatkan keberadaan Agnese yang menunggu di kamarnya. Luiz merasa lebih normal bercinta dengan perempuan itu.
"Agnese!" panggi Luiz sembari masuk ke kamar.
"Luiz!" Agnese langsung merubah posisi menjadi duduk. Dia yang tadinya hampir tertidur, harus kembali terjaga karena kedatangan Luiz.
"Ayo kita lakukan!" ajak Luiz seraya menutup pintu. Lalu segera membuka seluruh celananya.
Agnese tersenyum lebar. Sambil menggigit bibir bawahnya, dia ikut menanggalkan seluruh kain yang menutupi badan.
Luiz langsung mengungkung Agnese ke ranjang. Memberikan pemanasan terlebih dahulu.
"Apa ini berarti kita resmi berpacaran?" tanya Agnese.
"Ya. Kita berpacaran sekarang!" jawab Luiz tanpa berpikir panjang. Dia dan Agnese bercinta malam itu.
Di sisi lain, Raquel baru saja memastikan Felipe tertidur. Dia segera kembali ke kamar. Berpikir Luiz menunggunya di sana. Tetapi lelaki tersebut sudah menghilang.
Raquel menggigit bibir bawahnya. Jujur saja, dia terbawa perasaan dengan sentuhan yang dirinya lakukan bersama Luiz. Alhasil Raquel memutuskan mendatangi kamar lelaki itu.
Bukannya mendapat apa yang diharapkan, Raquel justru mendengar lenguhan pengkhianatan. Semua kamar di mansion memang kedap suara. Namun jika berdiri di depan pintu, masih dapat terdengar suara sayup-sayup dari dalam kamar.
Raquel dapat mendengar suara desahaan Agnese. Wanita itu bahkan sesekali mengelu-elukan nama Luiz.
"Bajingan itu tak pernah berubah!" Raquel cemberut. Dia langsung pergi ke kamarnya sendiri.
...***...
Pagi telah tiba. Raquel sedang sarapan bersama Felipe. Kebetulan Felipe juga mendapat kunjungan dokter kala itu.
Dokter Miguel memberitahu bahwa kesehatan Felipe semakin memburuk. Makanan yang dikonsumsinya harus dijaga.
Sebagai orang yang selalu berada di sisi Felipe, Raquel berusaha mengingat makanan pantangan sang suami. Dia juga tidak lupa memberitahukan para pelayan di rumah.
"Aku kira kau akan semakin membaik. Mengingat kau selalu terlihat bahagia," ucap Raquel. Saat semua orang telah pergi dari kamar.
"Aku bahagia karenamu, Raquel. Mungkin aku divonis sakit sekarang, tapi bukan berarti aku tak percaya dengan keajaiban," tutur Felipe.
"Kau orang paling baik hati yang pernah kutemui," sahut Raquel.
Setelah mengetahui kalau Luiz tidak bersungguh-sungguh dengannya, Raquel berniat ingin membuat dia sendiri jatuh cinta pada Felipe. Dengan begitu dirinya akan melupakan Luiz.
Felipe tersenyum mendengar ucapan Raquel. Tanpa diduga, dia mendapat ciuman di bibir dari perempuan tersebut.
Mata Felipe terbelalak tak percaya. Dia memegang wajah Raquel dan memancarkan binar kekaguman.
"Apa sekarang aku boleh berharap?" tanya Felipe.
"Aku akan membuat diriku terbiasa dan jatuh cinta kepadamu. Tidak peduli dengan seberapa kemungkinan kau akan bertahan dengan penyakitmu. Aku harus yakin kau akan membaik," jawab Raquel.
"Terima kasih..." Felipe merasa terenyuh. Dia segera membiarkan Raquel pergi ke kampus.
Ketika Raquel pergi, maka pelayan yang akan bertugas menjaga Felipe. Tugas mereka tidak hanya mengurus perawatan, tetapi juga membersihkan buang air besar dan kecil Felipe.
Kini Raquel baru keluar dari mansion. Dia melihat Luiz berjalan menuju mobil bersama Agnese. Keduanya saling berangkulan mesra.
"Sepertinya Luiz punya pacar baru," celetuk Julio yang tiba-tiba muncul dari belakang. Raquel lantas menoleh ke arahnya.
"Ya, aku rasa juga begitu." Raquel menanggapi seadanya.
"Ck. Aku yakin paling setelah satu minggu mereka putus. Itu terjadi berulang kali setelah dia putus dengan pacar sutradaranya dulu," ucap Julio. Dia tahu Luiz pernah menjalin hubungan serius dengan seorang perempuan. Meskipun begitu, Julio tidak tahu kalau perempuan itu adalah Raquel. Ibu tiri sekaligus perempuan yang sekarang berdiri di depannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments
Aini Chayankx Ahmad N
makanya jangan terlalu berharap raquel,kamu sih terlalu gampang di ajak anu2
2023-03-08
1
Junifa
hampir saja 😄 selingkuh mereka berdua
2023-03-08
1