...༻◩༺...
Sepasang tangan menyentuh pundak Luiz. Akibat hal itu, Luiz tersentak kaget.
"Hei!" geram Luiz reflek.
Orang yang sengaja mengagetkan Luiz tidak lain adalah Julio. Dia tergelak puas saat melihat sang kakak terkejut karena ulahnya. Meskipun begitu, Julio harus menerima pukulan di kepala dari Luiz.
"Ouch!" erang Luiz. "Kenapa kau memukulku sangat keras?" protesnya.
"Berhentilah berbuat jahil!" balas Luiz. Keributan yang terjadi di antaranya dan Julio, terdengar oleh Raquel. Perempuan itu lantas menoleh ke arah mereka.
Luiz sendiri tidak tahu kalau Raquel memperhatikannya. Dia sibuk berdebat dengan Julio.
"Lagi pula apa yang kau lakukan di sini? Memata-matai ibu tiri kita?" timpal Julio.
"Jaga mulutmu!" tukas Luiz. Dia segera menoleh ke tempat Raquel berada. Betapa terkejutnya Luiz, saat melihat perempuan tersebut melihat ke arahnya.
"Sial!" rutuk Luiz. Dia buru-buru pergi meninggalkan dapur. Wajahnya memerah padam. Luiz mengira Raquel memergokinya.
"Hei! Kau mau kemana?" tanya Julio heran. Namun Luiz tak menanggapi. Lelaki itu hanya terus melangkah cepat tanpa menoleh ke belakang.
Julio yang tertinggal, mendengus kasar. Lalu menatap Raquel.
"Hai, Mom!" Julio melambaikan tangan dan tersenyum lebar. Berbeda dengan Luiz, dia malah buru-buru menghampiri Raquel ke kolam renang.
"Mau bergabung?" tawar Raquel.
"Apakah boleh?" tanggap Julio.
"Tentu saja. Ini rumahmu kan?" Raquel tampak santai seraya memegang gelas berisi jus jeruk.
"Oke kalau begitu." Julio melepas pakaiannya. Hingga hanya menyisakan celana boxer sepangkal paha. Meski masih berusia 16 tahun, Julio memliki badan yang cukup atletis. Otot perutnya tampak mulai terbentuk.
Byur!
Tanpa pikir panjang, Julio langsung bercebur. Air lantas bercipratan ke wajah Raquel. Perempuan tersebut lantas tertawa kecil.
"Kakakku sepertinya tertarik kepadamu. Kau harus berhati-hati," ujar Julio yang memunculkan kepala di permukaan air.
"Aku rasa orang yang harus aku waspadai di sini itu justru kau," balas Raquel.
Julio terkekeh. "Ya. Aku tidak membantah. Aku mungkin yang termuda di sini. Tapi aku juga lelaki dewasa," ungkapnya sambil mengerlingkan mata.
"Maksudku bukan itu. Aku membicarakan tentang kejahilanmu." Raquel geleng-geleng kepala sambil tersenyum geli. Dia meletakkan gelas ke atas nampan.
"Aku benar-benar sudah cukup dewasa. Aku bahkan sudah tidak perjaka." Julio masih saja membicarakan kedewasaannya.
"Oh my god. Haruskah kau mengatakan itu?" balas Raquel. Mencoba memaklumi budaya remaja di Spanyol zaman sekarang.
"Aku hanya ingin membuktikan kalau aku bukan anak kecil," terang Julio sembari berenang ke hadapan Raquel. Dia terpaku menatap perempuan tersebut. "Perfecto," gumamnya. Mengomentari kecantikan Raquel.
"Apa kau sedang berusaha menggoda ibu tirimu secara terang-terangan?" tukas Raquel.
"Aku hanya mengungkapkan apa yang ada dibenakku." Julio masuk ke dalam air. Dia kembali berniat jahil. Julio diam-diam menarik kedua kaki Raquel yang terjuntai. Hingga perempuan tersebut tercebur ke air.
"Aaarkhh! Julio!" pekik Raquel. Tepat sebelum seluruh badannya masuk ke kolam renang. Dia dan Julio sekarang berada di dalam air.
Raquel yang kesal, langsung berenang mengejar Julio. Hendak memberi remaja itu pelajaran. Akan tetapi Julio dengan cepat berenang menjauhi Raquel.
Dari lantai tiga, Luiz memperhatikan dari balkon. Dia tertarik ingin melihat lagi saat mendengar teriakan Raquel tadi.
"Dasar anak itu," geram Luiz. Kesal pada sang adik yang tampak akrab dengan Raquel.
Julio terlihat tertawa ketika kena tangkapan Raquel. Perempuan itu melingkarkan tangan ke leher Julio. Bukannya kesakitan, Julio justru terkesan seperti menikmati hukuman Raquel.
"Lihat, Mom! Luiz menontonimu lagi!" seru Julio. Dia melihat keberadaan Luiz di balkon. Raquel lantas mendongak seraya melepaskan Julio.
Kali ini Luiz tidak kabur seperti sebelumnya. Dia menunjukkan raut wajah datar.
"Aku memperhatikanmu, Julio!" ucap Luiz berdalih.
"Benarkah?" sahut Julio.
"Apa kau mau berenang juga?" tanya Raquel.
Luiz tidak menanggapi. Dia malah pergi dari balkon. Menghilang ditelan pintu.
"Dia berlagak sok tidak peduli," komentar Julio.
Tak lama kemudian, Luiz muncul. Dia mendekati kolam renang sambil melepas pakaian satu per satu.
Wajah Raquel memerah. Terutama saat bisa melihat badan Luiz yang atletis. Lelaki itu segera bercebur ke kolam renang setelah hanya menyisakan celana pendek.
Raquel menenggak salivanya sendiri. Dia tidak menyangka Luiz akan setuju untuk bergabung di kolam renang. Padahal dirinya tadi hanya berbasa-basi.
"Aku sudah kedinginan. Kalian silahkan nikmati berdua," ujar Raquel sembari berenang menuju tangga.
Untuk yang kesekian kalinya, Raquel kembali ditarik ke dalam air. Namun kali ini oleh orang yang berbeda. Yaitu Luiz.
Saat di dalam air, Raquel berhadapan langsung dengan wajah tampan Luiz. Jantungnya seketika berpacu lebih cepat. Raquel mematung. Bahkan membiarkan Luiz memegang tengkuknya. Lalu perlahan mendekat. Berniat mencium bibir Raquel.
Bertepatan dengan itu, Julio muncul. Luiz sontak mendorong Raquel. Punggung perempuan tersebut menghantam dinding kolam renang.
Julio yang cemas, bergegas membawa Raquel keluar dari air. "Apa kau baik-baik saja?" tanyanya. Saat dia dan Raquel keluar dari permukaan air.
"Hanya sakit sedikit," jawab Raquel sambil memegangi punggungnya.
"Biar kuperiksa," ujar Julio.
"Tidak! Ini bukan apa-apa," tolak Raquel yang langsung beranjak menaiki tangga. Apalagi ketika melihat Luiz baru keluar dari permukaan air.
"Apa-apaan! Kenapa kau mendorongnya sekeras itu!" omel Julio pada Luiz.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Luiz seraya mengikuti Raquel. Mengabaikan omelan dari sang adik.
"Raquel!" panggil Luiz sembari memegang pundak Raquel.
"Menjauhlah!" hardik Raquel cemberut. "Percuma aku baik padamu!" tukasnya. Lalu pergi sembari mengenakan bathrobe.
"Dasar penghancur suasana!" cibir Julio yang sudah kehilangan minat berenang. Dia juga pergi dengan membawa pakaiannya.
Luiz menghela nafas panjang. Dia terpaksa keluar dari kolam renang. Membersihkan diri dan mengenakan pakaian. Lalu mendatangi kamar Raquel. Ia memastikan keadaan punggung perempuan itu baik-baik saja.
Pintu dibuka oleh Raquel. Perempuan tersebut menyambut dengan ekspresi merengut.
"Apa kau mau menyerangku lagi?!" timpal Raquel.
"Aku minta maaf soal tadi. Punggungmu baik-baik saja kan?" balas Luiz.
"Ya, tidak terlalu buruk. Jika kepalaku yang terbentur, mungkin saja aku akan terluka." Raquel menyilangkan tangan di depan dada.
"Baguslah kalau kau baik-baik saja. Harusnya kau tadi tidak perlu mengajakku berenang bersama," tukas Luiz.
"Jadi kau menyalahkanku?!" Raquel tersungut.
"Ya. Kau selalu saja bersikap sok cantik dan membuat orang yang kau ajak tak bisa menolak!" sahut Luiz.
Raquel terperangah. "Kau tidak pernah berubah! Selalu saja egois!"
"Bukankah kau yang begitu?!" ucap Luiz dengan nada penuh penekanan. Dulu dia dan Raquel sering bertengkar. Itulah salah satu alasan kenapa mereka beberapa kali putus nyambung.
"Kau sangat menyebalkan! Aku harap tidak akan pernah bertemu denganmu lagi!" timpal Raquel.
"Justru kau yang selalu berusaha membuat pertemuan denganku. Padahal kemarin aku sudah memperingatkanmu untuk menjauh!"
"Hei! Bukankah tadi kau sendiri yang ingin masuk ke kolam renang?!" Raquel mendekat satu langkah ke hadapan Luiz. Matanya menyalang. "Kau bahkan hampir menciumku," cicitnya.
"Apa?! Kau bilang apa?! Aku? Ingin menciummu?" Luiz tercengang. "Aku yakin kau pasti berhalusinasi," sambungnya. Lalu beranjak dari hadapan Raquel.
"Luiz!" Raquel menggeram sambil menghentakkan salah satu kaki ke lantai. Luiz tidak hanya menjadi lelaki yang selalu membuat jantungnya berdebar, tetapi juga kesal bukan kepalang. Mungkin itulah kenapa seringkali cinta dan benci dianggap beda tipis.
..._____...
Catatan Kaki :
Perfecto : Sempurna dalam bahasa Spanyol.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments
Aini Chayankx Ahmad N
seru kak, tapi jangan sampai selingkuh dengan Luiz, terlalu baik bapak nya kak
2023-03-05
0
NatalieLaurentRenes
lanjutannya
2023-03-05
1